Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Black Card


__ADS_3

Malam harinya di kediaman utama keluarga Bashara. Saat ini di meja makan hanya ada Sherina dan Vicky. Meskipun hanya berdua, bermacam-macam hidangan di depan mereka tampak memenuhi meja makan. Sherina memakan makanan itu dengan lahap dan biasa saja. Tak seperti Vicky yang sejak tadi belum menyentuh makanannya.


"Hm? Kenapa kau tidak makan?" tanya Sherina dengan tatapan aneh. Dia merasa aneh lantaran sejak tadi Vicky hanya duduk dan menatap makanannya dengan tatapan kosong. Vicky adalah tuan rumah ini, seharusnya semua makanan ini sesuai dengan seleranya.


"Ah, bukan apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu," jawab Vicky yang kemudian langsung menyantap makanannya.


Ibu tidak ikut makan malam, biasanya dia begini karena sedang merajuk padaku. Tetapi, hari ini aku merasa tidak berbuat salah apa-apa padanya. Lebih baik nanti aku bertanya saja pada paman Will.


Makan malam yang hanya dilakukan oleh sepasang pengantin baru itu dengan cepat berakhir. Begitu selesai makan, Sherina langsung pergi ke kamarnya, dia tak berniat menceritakan pada Vicky soal apa saja yang telah dia alami hari ini. Sedangkan Vicky, saat ini dia berada di ruangan kerjanya. Dia juga meminta sang kepala pelayan datang untuk menemuinya.


"Ada keperluan apa Tuan memanggil saya?" tanya Paman Will dengan nada hormat.


"Paman, aku ingin tahu apa saja yang dilakukan oleh ibu selama aku pergi tadi? Apakah dia mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan? Soalnya tadi dia tidak menampakkan diri saat makan malam."


"Rupanya soal itu. Tadi tak lama setelah Tuan pergi untuk menghadiri acara pertemuan, nona Cleopatra datang kemari. Nyonya besar menyambutnya dengan baik dan senang dengan kehadirannya. Lalu, Nyonya besar mengajak Nyonya Sherina pergi berbelanja, bersama dengan nona Cleopatra juga. Dan setelah mereka pulang ke kediaman, saya melihat kalau raut wajah nyonya besar tidak terlalu baik," jelas Paman Will tanpa satu pun yang dia tutup-tutupi.


"...." Vicky terdiam, dia mengernyit dan memikirkan sesuatu. Setelahnya dia kembali berkata, "Bagaimana dengan Sherina?"


"Nyonya Sherina, sehabis dari berbelanja, beliau tampak biasa saja. Tidak ada hal aneh yang terjadi."


"...." Lagi-lagi Vicky terdiam.


Menurut penjelasan dari Paman Will, bisa disimpulkan jika ibu mengalami kejadian tidak mengenakkan selama berbelanja. Lebih baik aku bertanya langsung pada Sherina.


"Ya sudah, Paman Will bisa pergi. Tetapi, tolong nanti beritahu Sherina supaya dia ke sini!" pinta Vicky.


"Baik, Tuan. Saya permisi."


Selang beberapa detik setelah Paman Will pergi, tiba-tiba saja ponsel Vicky berdering. Dia mendapatkan telepon dari asistennya.


"Haiss ... Oliver," gerutu Vicky yang pada akhirnya mengangkat panggilan telepon tersebut dengan malas. "Ada apa?"


"Tuan! Ada artikel yang saat ini sedang jadi perbincangan hangat di internet! Artikel itu tentang nyonya Sherina! Link dari artikel itu sudah saya kirimkan pada Tuan!" ucap Oliver yang suaranya terdengar panik.

__ADS_1


"Sebentar, apa artikel itu sesuatu yang buruk?" tanya Vicky yang merasa sedikit keheranan.


"Ehmm ... sebenarnya, bisa baik dan bisa juga buruk. Silakan Tuan lihat dan menilainya sendiri."


TUT TUT ...


Panggilan telepon itu diakhiri oleh Oliver. Vicky lantas beralih melihat artikel macam apa yang asistennya itu kirimkan. Kedua mata Vicky seketika membulat ketika membaca isi dari artikel tersebut. Karena isi dari artikel itu tidak lain adalah tentang Sherina yang berbelanja barang-barang serba mewah.


"Astaga, rupanya ini soal Sherina yang mengatakan jika dia belanja banyak barang karena aku royal dan mencintainya. Pantas saja Oliver bilang ini bisa berita buruk dan baik. Sherina memang menjaga nama baikku, tapi pada saat yang sama, orang-orang akan salah paham pada hubunganku dengan Cleo."


TOK TOK TOK!


"Vicky, kau memanggilku?" tanya Sherina dari balik pintu.


"Ya, masuklah!"


Tepat pada waktunya, aku bisa tanyakan langsung pada Sherina.


Sherina segera masuk setelah dipersilakan. Dia hanya berdiri di hadapan Vicky, tanpa bicara sepatah kata pun. Meskipun dia penasaran alasan mengapa dia dipanggil, dia tidak menanyakannya.


"Artikel?" Sherina menerima ponsel itu, lantas membacanya dengan saksama. Yang tidak dia inginkan benar-benar terjadi. Rupanya pertemuannya dengan Violet yang mengaku sebagai jurnalis telah menghasilkan artikel ini. Dan di sana juga benar-benar tercantum jika Violet yang menulisnya.


"Nah, aku menunggu penjelasanmu!" tuntut Vicky sambil bersedekap.


"...." Untuk sejenak Sherina terdiam, dia lantas mengembalikan ponsel Vicky ke atas meja. "Iya, benar. Aku memang tidak bilang padamu, hari ini aku diajak pergi berbelanja oleh ibu. Kekasihmu Cleo juga ikut. Artikel itu bisa ditulis, karena aku berpapasan dengan Violet, penulis artikel itu sendiri."


"Lalu kau mengatakan padanya jika aku mencintaimu?" tanya Vicky.


"Benar. Tetapi, aku mengatakannya cuma demi menjaga nama baikmu. Aku sama sekali tidak berharap kau punya perasaan padaku. Dan selain itu, aku juga berbohong satu hal lagi. Barang-barang yang aku bawa, yang dikira Violet adalah barangku, sebenarnya semua itu bukan milikku sama sekali," jawab Sherina lagi.


"Eh? Lalu barang siapa?" Vicky menatap heran.


"Milik ibumu dan Cleo. Ibu bilang, dia kesusahan membawa barang belanjaannya, jadi dia memintaku untuk membantunya. Tapi, hal itu malah disalahartikan oleh seorang jurnalis. Karena aku bawa banyak barang, dikiranya semua itu milikku. Dia mengira kau memanjakanku, aku tak punya pilihan lain selain mengiyakan. Lagi pula, nama baikmu akan tercemar jika orang-orang mengira kau menelantarkan istrimu. Dan nama baik keluarga Bashara akan jadi buruk jika ketahuan bahwa ibumu menindasku," ucap Sherina dengan senyum tipis.

__ADS_1


Sontak saja Vicky terdiam begitu melihat senyuman Sherina. Meskipun tidak secara frontal dan terang-terangan, dia paham jika saat ini Sherina sedang mengadu keadilan pada dirinya.


"Ehmm ... sepertinya kau sedikit salah paham," ucap Vicky dengan nada canggung.


"Salah paham soal apa?" tanya Sherina yang tidak mengerti.


"Soal kau yang merasa bahwa ibuku menindasmu. Aku rasa ibuku tidak mungkin berniat begitu. Aku paham sifatnya, dia memintamu membawakan barang-barang karena ingin jadi lebih akrab denganmu. Soalnya jarang sekali ibuku mempercayakan barang miliknya di tangan orang lain."


"Oh, baiklah. Aku paham," jawab Sherina dengan senyum yang dipaksakan.


Rupanya aku menilai Vicky terlalu tinggi. Sebenarnya juga tidak ada salahnya, tentu saja dia akan lebih memihak pada ibunya dibanding dengan istri pengganti sepertiku. Meskipun aku mengungkit Cleo, pasti Vicky juga akan membelanya.


Tiba-tiba saja Vicky mengambil sesuatu dari dalam dompetnya, lalu meletakkannya di atas meja dan menyodorkannya ke arah Sherina. Dilihat sekilas saja Sherina sudah tahu jika benda itu bukanlah sembarang. Black card, sebuah kartu kredit yang dibuat terbatas yang hanya dimiliki oleh kalangan atas. "Ambillah!"


"Eh? Apa?" Sherina melongo.


"Ambillah kartu ini. Aku minta maaf karena telah melupakan salah satu kewajibanku. Kau bisa gunakan kartu ini jika kau ingin membeli sesuatu. Jadi, jika di lain hari kau diajak berbelanja oleh ibuku lagi, kau juga belilah sesuatu untuk dirimu sendiri."


Sherina masih tertegun, biarpun dia tahu jika Vicky memiliki banyak uang, dia masih tak menyangka jika Vicky mempercayakan black card ini padanya. "Terima kasih," jawab Sherina yang kemudian menerima kartu kredit itu dengan senang hati.


Lebih baik aku terima saja. Sepertinya Vicky ini merasa sedikit bersalah, jadinya dia memberiku kartu ini supaya aku tidak menyimpan dendam pada ibunya. Seperti ini saja tidak apa-apa, lagi pula aku orang yang simpel. Walaupun aku tidak gila uang, tapi jika aku punya uang maka tak akan ada yang meremehkanku.


"Dan satu hal lagi, jika di lain hari kau bertemu dengan Violet, sebaiknya abaikan saja dia. Dia itu jurnalis yang sangat kritis, aktif di dunia politik. Baru kali ini dia ikut campur soal masalah seperti ini, hal ini sedikit mencurigakan. Jadi, demi kebaikan keluarga Bashara dan juga kebaikanmu sendiri. Sebisa mungkin menjauhlah darinya!" ucap Vicky penuh penekanan.


"Baik, aku mengerti. Sebelum aku pergi, apa ada hal lain yang ingin kau bicarakan?"


"Tidak ada, kau bisa kembali ke kamarmu dan istirahat."


"Baiklah." Sherina langsung berbalik dan bergegas keluar. Namun, tepat selangkah sebelum dia keluar, tiba-tiba dia berbalik dan menatap Vicky. "Kau juga istirahatlah, ini sudah malam. Sesibuk apa pun kau, jangan lupa jaga kesehatan tubuhmu!"


Sherina lantas berjalan keluar, meskipun dia kurang suka pada Vicky karena memihak ibunya yang salah, dia tetap puas karena mendapatkan sebuah black card yang punya saldo tak terbatas. Sedangkan Vicky, dia terpaku sejenak karena mendengar kalimat Sherina yang menyuruhnya untuk beristirahat.


"Haha, baru kali ini ada orang yang menyuruhku istirahat. Rupanya dia peduli pada kesehatan tubuhku." Vicky tertawa kecil, entah kenapa hal ini terasa lucu baginya.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba saja dia teringat pada Cleo. Sekali lagi dia mengambil ponselnya dan mencoba menelepon kekasihnya itu. Berulang kali Vicky mencoba, tulisannya berdering tetapi sengaja tak diangkat.


"Huft ... sepertinya Cleo sudah baca artikel dan komentar-komentar yang mengatakan jika aku lebih mencintai Sherina. Dia pasti sudah terlanjur merajuk, jika sudah begini maka aku hanya bisa membujuknya. Lebih baik aku hubungi saja Oliver supaya secepatnya menghapus artikel itu."


__ADS_2