Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Sedikit Dihargai


__ADS_3

Pesta meriah yang membuat Sherina merasa terhina akhirnya selesai juga. Saat ini dia masih orang yang asing dengan kediaman utama keluarga Bashara ini. Karena itulah Vicky menyuruh kepala pelayan untuk mengantar Sherina ke kamarnya.


"Silakan, ini adalah kamar Nyonya Sherina," ucap Paman Will, sang kepala pelayan.


"Terima kasih, Paman Will," jawab Sherina dengan nada canggung, baru kali ini dia dipanggil nyonya oleh seseorang dengan begitu hormat.


"Jika Nyonya Sherina membutuhkan sesuatu, silakan panggil saya kapan saja. Saya permisi," ucap Paman Will yang lekas pergi.


Sedangkan Sherina, dia masih tampak ragu untuk membuka kamar itu. Begitu dia masuk ke kamar, dia sangat terkejut dengan keadaan kamarnya. Rangkaian bunga mawar merah memenuhi penjuru kamar, kelopak-kelopaknya bertebaran di atas kasur, juga lilin-lilin kecil yang memancarkan cahaya lembut kian menambah suasana menggairahkan. Kamar ini sudah disiapkan sedemikian rupa untuk menambah kesan malam pertama.


"Astaga ...." gumam Sherina yang tidak habis pikir dengan ini semua. "Kenapa repot-repot menyiapkan ini? Sungguh menggelikan, aku dan Vicky menikah bukan karena cinta. Ini terkesan seperti mengejekku."


Tiba-tiba saja Sherina tertegun, dia menyadari sesuatu dan teringat dengan rumor kutukan yang akan membuatnya mati tak lama setelah menikah.


"Sial, aku baru sadar kalau kamar yang romantis ini bisa jadi berbahaya!" Dengan cepat Sherina memadamkan api dari lilin-lilin kecil yang menghiasi penjuru kamar. Pikirnya, bisa saja api kecil ini akan menimbulkan kebakaran sehingga nyawanya terancam.


"Nah, aku tidak sebodoh yang orang-orang pikir! Pokoknya aku harus waspada dan memprioritaskan keselamatanku! Akan aku buktikan kalau kutukan itu tidak ada!"


Sherina masih belum puas, dia berkeliling dan memeriksa setiap sudut. Mengantisipasi jika seandainya ada hal kecil yang berpeluang membahayakan keselamatannya.


"Sepertinya sudah aman," ucap Sherina yang kemudian duduk di pinggir ranjang. Dia menatap ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan waktu pukul 11 malam.


Sungguh hari yang melelahkan baginya. Sejak pagi dia tak punya waktu untuk beristirahat. Melakukan upacara pemberkatan dan setelah itu pesta perayaan, energi Sherina benar-benar seperti terkuras habis. Ingin sekali rasanya istirahat, tetapi Sherina mendadak terpikirkan sesuatu ketika melihat kelopak-kelopak bunga yang berceceran di atas ranjang.


"Malam ini adalah malam pertama pernikahanku, tapi ... Vicky tidak mungkin akan datang ke sini, kan? Lagi pula aku kan cuma pengganti. Dia pasti sekarang masih bersama Cleo dan menemaninya."


"Hahh ... sudahlah, lebih baik aku segera ganti baju dan beristirahat! Aku harus menyimpan tenaga, karena aku tak tahu apa lagi yang besok harus aku hadapi!"


Sherina bangkit, dia melepaskan aksesoris dan perhiasan dari tubuhnya. Namun, ketika dia hendak melepaskan gaun, dia mendapati masalah kecil. Dia kesulitan untuk menurunkan ritsleting yang berada di punggungnya.


"Ck, susah sekali ... sepertinya macet! Aku tidak mungkin tidur dengan pakaian yang tidak nyaman seperti ini. Aku harus minta bantuan!"


Sherina kembali membuka pintu. Tak berselang lama kemudian dia melihat ada salah seorang pelayan laki-laki yang berjalan melewati lorong.


"Tunggu sebentar!" Sherina mencegat pelayan tersebut.


"Ya, Nyonya? Adakah yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu.


"Aku ada perlu sesuatu, bisakah kau panggilkan pelayan perempuan kemari? Siapa saja terserah, asal perempuan!" pinta Sherina.


"Baik Nyonya, saya permisi."

__ADS_1


Sherina langsung masuk ke kamarnya lagi. Dia duduk di depan meja rias, bermaksud ingin menghapus riasan yang mempercantik wajahnya. Bermacam-macam produk kecantikan berjejer di meja rias itu, hal ini bukan karena Sherina perempuan yang boros. Tetapi, sejak dulu Sherina memang menaruh perhatian lebih terhadap perawatan wajahnya.


Bukan tanpa sebab, dia adalah seorang anak dari pemilik perusahaan Dream Glow Cosmetics, tentu saja Sherina memiliki minat yang sungguh-sungguh di bidang ini. Dengan telaten dia membersihkan make up di wajahnya. Dan ketika Sherina sedang membersihkan riasan mata dengan kapas, tiba-tiba saja terdengar suara pintu terbuka.


"Kemarilah, aku sudah menunggumu. Bantu aku untuk melepas ritsleting yang macet ini!" pinta Sherina tanpa melihat siapa yang baru saja membuka pintu. Dia pikir itu adalah pelayan perempuan yang sudah dia tunggu. Masih sibuk untuk menutup mata dan membersihkan sisa eyeshadow yang menempel.


"...." Vicky yang baru saja memasuki kamar hanya bisa membisu. Dia sedikit salah paham pada maksud istri barunya yang sudah menunggunya hanya untuk membantu melepaskan ritsleting yang macet. Pada akhirnya Vicky mendekat, berpikir jika tidak ada salahnya dia membantu Sherina.


SREETTT ...


Ritsleting yang tadinya macet langsung diturunkan oleh Vicky tanpa kesusahan. Wajah Vicky seketika merona ketika tampak punggung Sherina yang kurus, berkulit putih dan mulus.


"Terima kasih banyak sudah membantu, sekarang kau bisa pergi."


"Kau mengusirku?" tanya Vicky dengan nada dinginnya.


"Eh?!" Sherina tersentak, suara ini tidak asing baginya. Dia langsung menyingkirkan kapas dari matanya dan membuka mata dengan jelas.


"V-Vicky?!" Kedua mata Sherina membulat ketika melihat bayangan Vicky yang terpantul di cermin meja rias.


"Tentu saja ini aku, memangnya kau kira siapa?" tanya Vicky lagi.


"M-maaf, aku kira kau pelayan wanita yang aku minta kemari untuk membantuku. Aku benar-benar tidak tahu kalau itu kau," ucap Sherina dengan kepala tertunduk. Merasa malu karena sudah dibantu Vicky untuk masalah seperti ini.


"Anu ... aku kira kau tidak akan menemuiku. Ada perlu apa kau kemari?" tanya Sherina yang masih tertunduk malu.


"Bukan apa-apa, aku cuma ingin melihat keadaanmu. Sekaligus ... ingin meminta maaf," ucap Vicky malu-malu.


"Minta maaf untuk apa?" tanya Sherina penasaran.


"Ini soal yang terjadi di pesta tadi. Maafkan aku yang sempat terhasut oleh omongan adik tirimu. Aku minta maaf karena tadi sudah menyuruhmu meminta maaf pada orang yang salah."


"Oh, ternyata soal itu ...." Sherina tersenyum tipis, lantas kembali berkata, "Tidak masalah, lagi pula itu cuma trik kotor kecil yang dimainkan oleh Sofia. Aku tidak akan menyalahkanmu karena sempat salah paham padaku. Dan mungkin, kau harus belajar dari adikmu yang manis itu."


"Ah, soal itu ... aku juga ingin meminta maaf. Aku benar-benar lupa untuk menceritakan Velix kepadamu. Dan aku tadi juga melihatnya, sepertinya Velix menyukaimu. Padahal biasanya dia tidak mudah akrab dengan sembarang orang."


"Begitu ya ..." jawab Sherina singkat. Dia kembali tersenyum tipis dan berkata, "Ehmm ... bisakah kau lihat punggungku lebih cermat?"


"E-eh, apa?! Kenapa kau menyuruhku melakukan itu? Dengar ya, meskipun aku sekarang adalah suamimu. Aku tidak akan berlaku mesum padamu! Kau harus ingat pada perjanjian kita di restoran saat itu!" ucap Vicky penuh penekanan. Dia salah paham dan menganggap jika Sherina sedang berusaha menggodanya.


"Maaf, aku sama sekali tidak punya maksud begitu. Aku hanya ingin kau memeriksa apakah ada tulang yang geser atau tidak. Tapi jika kau keberatan tidak apa-apa," ucap Sherina yang hendak membetulkan pakaiannya.

__ADS_1


"Tunggu sebentar!" Cegah Vicky seraya menahan tangan Sherina. "Tulang geser? Apa maksudmu? Memangnya sebelumnya kau kenapa?!"


Sherina tersadar akan sesuatu, dia lantas menyeringai sinis. "Heh, rupanya keluargaku tidak menceritakan ini padamu."


"Keluargamu? Apa mereka melakukan kekerasan atau memukulimu sampai serius?" tanya Vicky lagi.


"Tidak, tapi sebelumnya aku pernah tertabrak truk. Aku dinyatakan mati oleh dokter, dan aku hidup kembali. Ternyata hal ini tidak diceritakan oleh mereka padamu."


"Hidup kembali?! Kau tidak sedang bercanda, kan?!" tanya Vicky seakan tak percaya.


"Astaga, untuk apa aku bercanda? Lagi pula itu bukan sesuatu yang lucu untuk dijadikan candaan."


Vicky yang merasa syok lantas memeriksa punggung Sherina dengan saksama. Dia memperhatikan apakah ada yang salah dengan punggung itu. Dan hasilnya, Vicky tak menemukan keanehan apa pun, tak ada satu pun tulang punggung atau tulang bahu yang bergeser. Semuanya tampak normal. "Tidak ada yang aneh, punggungmu normal seperti orang lain. Memangnya kapan kau tertabrak truk?"


"Belum terlalu lama, sekitar 3 minggu yang lalu. Aku sendiri pun juga merasa aneh, jelas-jelas waktu itu aku merasa seluruh badanku remuk, tapi setelah aku terbangun di kamar mayat, aku merasa baik-baik saja."


"A-apa?!" Vicky makin syok, bahkan tanpa sadar dia juga melangkah mundur dan menjauh dari Sherina.


Sherina menoleh ke belakang, dia paham mengapa Vicky menjauh darinya. "Haha, tenang saja ... kau tidak menikahi hantu. Aku tetaplah aku, aku manusia normal, Vicky."


"Kau tidak sedang mempermainkan aku, kan?" tanya Vicky lagi yang ingin memastikan. Dia juga melihat Sherina dari atas sampai bawah, dia benar-benar tidak melihat kejanggalan apa pun ditubuh Sherina.


"Kenapa bertanya begitu? Apa kau takut padaku?"


"...." Vicky membisu.


Sherina sepertinya memang tidak main-main. Tetapi, ini tidak bisa dijelaskan secara logika. Jika dokter sudah menyatakan dia mati akibat tertabrak truk, terlalu janggal dia bisa hidup kembali tanpa luka apa pun. Ini benar-benar tidak masuk akal, apa jangan-jangan ... kutukan itu ada benarnya juga?


Tidak boleh, aku tidak boleh merasa ragu seperti ini. Aku juga sudah muak dengan keluargaku yang mempercayai kutukan. Akan aku buktikan kalau hal-hal tidak masuk akal ini tidak nyata. Dan akan aku buktikan jika Sherina memang cuma manusia normal.


Tiba-tiba saja Vicky melangkah mendekat, lalu menyentuh kepala Sherina dengan lembut. Sentuhan ini membuatnya yakin jika Sherina memang manusia biasa.


"Ada apa? Kenapa mendadak begini padaku?" tanya Sherina kebingungan.


"Ah, bukan apa-apa!" ucap Vicky seraya menarik tangannya kembali. "Kau ... beristirahatlah, kau pasti sudah lelah. Aku akan tidur di tempat lain." Vicky seketika berjalan keluar dari kamar dengan cepat tanpa berkata sepatah kata pun lagi.


"Huff ...." Sherina menghela napas, lalu menyentuh kepalanya sendiri tepat di bagian Vicky menyentuhnya tadi.


Entah apa yang dipikirkan Vicky. Aku memang sengaja menceritakan ini semua karena ingin tahu bagaimana pandangannya padaku nanti. Apakah dia akan menganggapku pembawa sial seperti keluargaku, atau dia akan bersikap masa bodoh.


Tapi ... entah kenapa aku merasa sedikit lega saat Vicky bilang dia akan tidur di tempat lain. Dia tidak bilang akan pergi menemani Cleo. Dia juga meminta maaf atas sikapnya tadi. Dengan begini setidaknya ... untuk saat ini aku merasa sedikit dihargai.

__ADS_1


Omong-omong ... tadi kenapa Vicky menyentuh kepalaku, ya? Apa jangan-jangan dia terpengaruh oleh film horor, lalu dia menganggapku hantu kuntilanak yang ditusuk kepalanya menggunakan paku supaya bisa menjadi manusia. Haha, lucu sekali jika Vicky memang berpikir begitu. Sepertinya Vicky ini orang yang menarik.


__ADS_2