
Dengan langkah kaki yang angkuh, Sherina mendekati Kayla, sugar baby simpanan ayahnya yang saat ini masih duduk sendirian. Tanpa mengucapkan salam ataupun permisi, Sheina langsung berkata, "Rupanya di sini kau! Ayo ikut kakak pulang!"
"A-apa?!" Gadis ini melongo, dia tidak paham kenapa wanita asing ini berteriak padanya. Dan tatapan para pengunjung kafe yang lain sontak saja tertuju pada mereka.
"Kau bolos sekolah dan hanya tahu bermain! Sekarang ayo pulang! Ibu sudah menunggumu di rumah!" bentak Sherina sekali lagi.
BRAKK!
Kayla menggebrak meja dengan keras, berdiri dengan pose menantang kepada Sherina. Dia teramat marah karena yang baru saja dia dengar sungguh tidak masuk akal. "Apa maumu, hah?! Aku sama sekali tidak mengenalmu! Jadi, berhentilah menuduhku!"
"Oh, tidak kenal rupanya ...." Sherina menyeringai, tiba-tiba saja mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga gadis itu. "Namamu Kayla, 18 tahun, sekarang masih duduk di bangku kelas 3 SMA Mekar Jaya. Aku tahu jika kau adalah simpanan dari seorang pria tua. Orang itu akrab kau sebut sebagai Om Panji, dia adalah ayahku! Ikuti aku jika kau tidak ingin celaka!"
"...." Sontak saja Kayla mematung, dia teramat kaget dengan identitas wanita ini yang ternyata adalah anak dari sugar daddy-nya. Tentu saja dia takut, benar-benar takut jika identitasnya sebagai simpanan terbongkar di depan umum.
"B-baiklah, aku ikut Kakak ..." jawab Kayla dengan suara serta tubuh yang gemetar.
"Nah, begitu baru anak baik!" Mendadak Sherina menggandeng tangan kurus Kayla dan segera menyeretnya untuk keluar dari kafe. Sedangkan para pengunjung kafe yang lain, mereka yang tidak tahu kebenarannya hanya bisa berspekulasi sendiri. Mereka menganggap jika yang baru saja terjadi adalah pertengkaran biasa antar kakak adik.
__ADS_1
Sherina menyeret Kayla untuk pergi ke sebuah tempat. Tempat itu adalah bakery yang sudah ditargetkan oleh Sherina. Dia secara khusus telah memesan beberapa meja di sekitar dirinya. Supaya ketika berbicara dengan Kayla nanti, tidak akan ada orang lain yang mendengar perbincangan mereka.
"Ayo, duduk!" titah Sherina dengan mata yang melotot.
"B-baik," jawab Kayla yang buru-buru duduk. Dia begitu gugup, bahkan rasa gugupnya melebihi ketika dia berhadapan dengan guru bimbingan konseling.
Sherina juga duduk berhadapan dengan gadis ini. Tiba-tiba dia merogoh tasnya, mengeluarkan benda yang tidak lain adalah beberapa lembar foto cetak. Di foto-foto tersebut memperlihatkan gambar Panji ketika bersama dengan Kayla. Bahkan, foto Panji dengan sugar baby yang lain juga diperlihatkan.
"I-ini semua ...." gumam Kayla yang pada akhirnya hanya ternganga. Dia sangat terkejut hingga tak bisa berkata-kata. Padahal selama ini Panji, sugar daddy-nya itu selalu berkata bahwa dia adalah kesayangannya. Kayla tak pernah menyangka jika Panji mempunyai sugar baby lain selain dirinya.
"Haha, tidak usah terkejut begitu. Wajar saja tukang selingkuh punya simpanan lebih dari satu," lanjut Sherina lagi.
"...." Kayla dipenuhi oleh rasa ketidakadilan dan ketakutan. Dia mulai takut dengan tujuan tersembunyi dari wanita yang datang untuk melabrak dirinya ini.
"Apa tujuan Kakak memperlihatkan semua ini padaku? Apakah untuk memintaku mengembalikan semua barang yang sudah diberikan oleh om Panji?"
Sherina menyeringai, lalu berkata, "Heh! Kau bisa menebak tujuanku kemari, rupanya kau punya otak juga. Tetapi, sayang sekali kau membuang otakmu dan malah mencari uang dengan cara rendahan. Dengan mudahnya membuka kedua kakimu dan merayu pria yang sudah beristri. Padahal kau ini masih pelajar, tapi bukannya belajar dan sekolah dengan benar, sekarang kau malah menjadi simpanan. Di usia segini, kau sudah jadi gadis yang rusak."
__ADS_1
"Humph! Jangan sok menilaiku! Lagi pula perasaanku ke om Panji itu nyata!" bantah Kayla yang merasa tak terima dengan hinaan Sherina.
Sherina terdiam, sejurus kemudian dia malah tertawa cekikikan. "Pfftt ... perasaan? Haha, jangan begitu naif, semua pelaku perselingkuhan membenarkan tindakannya atas nama cinta. Tapi kau itu masih muda, kau tak tahu jika cinta itu juga sesuatu yang beracun, bisa membunuhmu tanpa kau sadari!"
"Ck, terserah! Tapi satu hal yang perlu Kakak tahu! Aku tak sudi mengembalikan apa yang sudah jadi milikku!" celetuk Kayla lagi.
"Oh, tidak mau, ya? Baiklah jika itu maumu. Hanya saja ... jangan salahkan aku kalau aku melaporkanmu. Umurmu itu sudah 18 tahun, dan secara hukum, kau sudah tidak bisa mendapatkan hak perlindungan anak di bawah umur lagi. Jadi, semua perbuatanmu harus kau pertanggungjawabkan sendiri. Dan asal kau tahu, semua barang-barang yang ayahku berikan padamu itu, semuanya dibeli dengan uang perusahaan, bukan uang pribadinya. Aku berencana untuk melaporkan ayahku atas tindakan korupsinya, tetapi, sungguh manis sekali karena kau mencintainya sampai rela ikut masuk ke penjara!"
"P-penjara?!" Kayla kembali terkejut, dia tidak habis pikir jika dia akan berurusan dengan hal yang serius semacam ini. Masuk penjara di usia muda tentu saja bukan sesuatu yang dia inginkan. Dia lebih takut lagi ketika membayangkan namanya akan hancur di muka publik dan berakhir jadi sampah masyarakat.
"Kak, a-aku rasa Kakak salah mengartikan perkataanku sebelumnya. A-aku bersedia, akan aku kembalikan semua barang-barang pemberian om Panji pada Kakak!"
"Oh, kau berubah pikiran secepat ini? Tetapi ... bagaimana ya, aku juga sudah berubah pikiran. Aku sudah tak mau lagi mengambil barang-barangmu. Lebih baik aku laporkan kau supaya jadi pelajaran berharga bagimu."
"T-tidak! Aku mohon jangan! Tolong jangan laporkan aku, Kak! Aku bersedia, bersedia melakukan apa saja yang Kakak mau!"
"Apa saja ...?" tanya Sherina dengan senyum sinis, akhirnya kesempatan yang dia tunggu-tunggu tiba juga.
__ADS_1