Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Sherina Adalah Istriku!


__ADS_3

BRRUUMMM ...


Vicky melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, berusaha secepat mungkin untuk tiba di Hotel Regal demi menyusul Sherina.


"Sial, bodohnya aku! Semoga saja aku belum terlambat!" gerutu Vicky yang makin menambah kecepatan mobil.


Jarak yang harusnya dia tempuh selama 30 menit, kini hanya perlu ditempuh selama 15 menit saja. Bukan hanya karena Vicky mengebut, tetapi dia juga melewati jalan alternatif untuk tiba lebih cepat. Begitu sampai di Hotel Regal, dia langsung bertanya pada petugas mengenai lokasi pesta resepsi diadakan.


Vicky bergegas dan berharap dia belum terlambat. Begitu sampai di tempat pesta, dia terdiam sejenak ketika melihat Sherina seperti sedang dikerubungi oleh keluarganya yang kejam. Vicky sadar jika posisi Sherina saat ini sangat tidak menguntungkan. Seakan-akan Sherina sedang dikeroyok oleh mereka.


"Maaf, Sherina. Aku sedikit terlambat, tapi aku akan menepati janjiku!" Vicky merapikan dasinya, lantas berjalan menghampiri Sherina dengan langkah kaki yang cepat.


"Sayang! Ternyata kau di sini!" ucap Vicky dengan suara lantang seraya merangkul pundak Sherina dengan mesra.


"Eh?!" Sherina melongo, menatap Vicky dengan tatapan tidak percaya. Dia kaget dengan kemunculan Vicky yang tiba-tiba, terlebih lagi dia yakin kalau telinganya tidak salah mendengar jika Vicky baru saja menyebutnya 'Sayang'.


Kenapa Vicky di sini? Apakah Cleo cuma mengalami luka ringan? Tapi baguslah, untung saja Vicky sudah ada di sini. Ini semakin memudahkanku untuk membalikkan keadaan.


Bukan hanya Sherina yang merasa kaget. Kedua orang tua Sherina beserta Satya dan Sofia lebih kaget lagi, kemunculan Vicky seolah-olah telah membantah semua yang telah mereka tuduhkan pada Sherina. Sedangkan untuk para tamu yang hadir, mereka semakin penasaran dengan apa yang selanjutnya akan terjadi. Para tamu ini merasa antusias, merekalah yang menjadi saksi atas berlangsungnya perselisihan ini.


"Sial," umpat Sofia dengan lirih. Dia benar-benar tidak habis pikir jika Vicky akan datang ke pestanya.


Sial, sebenarnya ada apa ini? Bukannya Vicky Bashara sudah punya pacar? Kenapa dia justru datang ke sini dan peduli pada Sherina? Sialan, sekarang aku tidak bisa sembarangan menjelekkan Sherina di hadapan para tamu jika ada Vicky yang membelanya.


Sherina yang menyadari adanya kesempatan seketika tersenyum sinis. Dia membalas rangkulan tangan Vicky dan berdempetan mesra dengannya. "Kau dari mana saja, Sayang? Kukira kau tidak akan datang."


"Maaf, aku ada urusan bisnis yang sangat penting. Jadi, aku sedikit terlambat datang kemari. Tidak apa-apa, kan?" tanya Vicky dengan senyuman tipis, dia mulai mendalami peran berakting mesra dengan Sherina.

__ADS_1


"Haha, datang sedikit terlambat juga tidak apa-apa. Lagi pula pesta semacam ini sebenarnya juga tidak termasuk penting untuk kau hadiri. Kau itu sudah terkenal sebagai pebisnis hebat, sudah pasti kau sibuk. Tapi, orang-orang ini tidak mau mengerti. Mereka justru salah paham padamu~" Sherina mengadu dengan nada manjanya.


"Salah paham? Memangnya salah paham bagaimana?" tanya Vicky dengan ekspresi pura-pura tampak marah.


"Karena aku datang lebih dulu, aku disangka datang sendirian karena kau mengabaikan aku. Padahal, kau itu kan jelas-jelas menyayangiku," ucap Sherina sambil mencuri pandang pada Satya. Dia penasaran dengan reaksi macam apa yang akan mantan suaminya berikan.


"Tentu saja aku menyayangimu! Mana mungkin aku mengabaikanmu! Siapa yang bilang begitu padamu?"


"Siapa lagi, orang-orang di depanmu inilah yang berkata buruk seperti itu. Mereka menjelekkan hubungan kita tanpa tahu kebenarannya," jawab Sherina yang sekali lagi tersenyum sinis pada Sofia. Dia puas sekali karena melihat tubuh Sofia yang sudah bergetar ketakutan.


"Oh ...." Vicky menatap sinis pada orang-orang ini satu per satu. Seolah-olah memberikan peringatan pada mereka supaya tak bicara macam-macam lagi. Lalu, dengan tatapan tajam ke arah Panji, dia berkata, "Tak aku sangka, rupanya kau pilih kasih pada putrimu."


Panji tersentak karena dialah yang pertama kali disinggung oleh Vicky. Dengan ekspresi canggung, dia pun mendekat dan berusaha memberikan penjelasan untuk membela diri. "Tuan Vicky salah paham ... saya, m-maksudku kami, kami tak pernah berbicara seperti itu tentang Sherina."


"Jadi Ayah mau bilang kalau aku yang berbohong?" tanya Sherina dengan nada ketus.


"Ck, sudahlah Ayah ... tak perlu berkelit lagi. Apakah Ayah sebegitu rendahnya? Selalu bermuka dua dan jadi penjilat pada orang yang lebih berkuasa?" tanya Sherina dengan tatapan jijik.


"Cukup!" sahut Satya yang mulai merasa terganggu dan muak dengan ini semua. Dia benar-benar tidak suka saat acara pesta pernikahannya bertambah kacau.


"Sherina, silakan pergi! Sudah cukup kau membuat keributan di sini!" pinta Satya dengan nada memaksa. Bahkan juga memelototi Sherina.


"Heh!" Sherina menyeringai sinis.


"Oh, sekarang menyuruhku pergi. Lucu sekali, kau langsung bertindak menjadi penengah begitu Vicky datang. Tapi, kau tadi diam saja dan pura-pura tak melihat ataupun mendengar saat aku dihina! Sebenarnya kenapa kau mengundangku datang, hah? Ah, aku tahu ... kau ingin membuatku dipermalukan, tapi begitu gagal kau langsung mengusirku. Apa kau tidak tahu malu pada yang kau lakukan? Tebal sekali mukamu," cecar Sherina yang tak mau kalah.


"Sherina! Jaga kata-katamu! Ini adalah pesta pernikahan kami! Dan kami tak pernah bermaksud mengundangmu, sekali lagi aku katakan kalau yang kami undang adalah keluarga Bashara!" celetuk Sofia yang juga sudah muak. Dia tidak mau direndahkan di acara pesta pernikahannya.

__ADS_1


Vicky mendadak tertawa keras, merasa geli dengan perkataan Sofia barusan. "Hahaha, percaya diri sekali kau mau mengundang keluarga Bashara! Dengar ya, aku mau datang ke pesta murahan ini hanya demi menemani Sherina! Jika bukan karena dia, surat undanganmu sudah aku buang ke tepat sampah!"


"Dan aku peringatkan sekali lagi! Sherina adalah istriku! Jika kau ataupun keluargamu masih berani mengusiknya, artinya kalian menyinggungku!" ucap Vicky penuh penekanan. Tak ada satu pun dari mereka yang membantah, karena mereka sadar jika Vicky memang sosok yang tidak bisa mereka singgung sembarangan.


"Ayo Sherina, kita pergi!" ajak Vicky seraya menggandeng sebelah tangan Sherina.


"Baiklah," jawab Sherina sambil mengangguk. Setelah dia berbalik dan berjalan melewati para tamu, dengan lantang Sherina bersuara, "Sekali lagi aku ucapkan selamat pada kalian berdua! Sungguh pasangan yang serasi! Dan untuk adik tiriku tersayang, nikmatilah barang bekasku!"


"K-kau ...!!" gertak Sofia dengan kedua tangan yang mengepal sekuat mungkin. Dia merasa terhina saat Sherina berkata jika dia mendapatkan Satya sebagai barang bekas.


"Biarkan saja, jangan membalasnya lagi! Jangan buat pesta kita semakin kacau!" ucap Satya sambil mencengkeram erat tangan Sofia.


"T-tapi ... apa Kak Satya rela dipermalukan begini saja?" protes Sofia.


"Tentu saja aku tidak rela, karena itu kita balas lain kali! Untuk saat ini kita biarkan saja dulu!"


Sialan, aku tidak mengira jika Sherina akan hidup nyaman dan jadi bahagia setelah berpisah dariku. Aku tidak rela, aku tidak bisa membiarkan dia bahagia terlalu lama.


Sofia tersenyum kecil, dia senang lantaran Satya juga punya pemikiran yang sama seperti dirinya. "Baguslah, aku senang karena Kak Satya bukan orang yang mudah ditindas!"


Keributan telah usai, pesta pernikahan kembali dilanjutkan. Namun, tak lama kemudian terjadi sesuatu yang di luar perkiraan. Angin bertiup kencang, cuaca cerah mendadak gelap, air hujan turun dari langit begitu derasnya.


"Lari! Ayo minggir!" teriak para tamu yang berlarian mencari tempat yang teduh. Tim wedding organizer juga panik, perubahan cuaca yang mendadak ini sungguh membuat mereka kerepotan untuk menyiapkan payung.


Pesta outdoor makin kacau karena hujan, baju pengantin putih Satya dan Sofia telah basah, bahkan riasan wajah Sofia juga luntur.


"Sherina!!! Sialan kau! Dasar jal*ng!!!" teriak Sofia sekeras mungkin, pesta pernikahan impiannya telah hancur. Tapi, dia justru melampiaskan kekesalannya dengan memaki Sherina yang bahkan sudah pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2