Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Penyerangan


__ADS_3

PLUK!


Cleo melemparkan sebuah amplop berwarna cokelat ke atas meja. Kemudian, seorang pria berperawakan besar namun agak pendek mengambil amplop itu. Dengan jari-jari tangannya yang dipenuhi oleh cincin emas dan bekas luka, dia membuka amplop pemberian dari Cleo sambil menampakkan sebuah senyuman mengerikan di sudut bibirnya.


"Itu 75 juta sebagai uang muka. Apa itu cukup?" tanya Cleo dengan suara yang sengaja dibuat serak. Dia juga memakai jaket dan masker hitam untuk menyembunyikan penampilan identitasnya.


"Hahaha, cukup, ini cukup! Perjanjian kita tetap sama seperti di awal. Kami ini orang profesional. Aku berani jamin orang-orangku akan membereskan target tanpa meninggalkan barang bukti, dan kau akan membayar 250 juta lagi sebagai kekurangannya!" jawab pria sangar ini dengan tawa jahatnya. Dia tampak suka sekali menikmati dan menciumi aroma uang yang ada di tangannya.


"Baiklah, jangan khawatir! Aku punya cukup uang untuk membayar asal orangmu berhasil membunuhnya! Dan akan aku tambah 100 juta lagi jika kau bisa memenuhi permintaan khususku! Buat dia sekarat, dan saat dia tidak berdaya, bawa dia padaku! Aku ingin melihatnya tersiksa di ambang kematian! Biar dia tahu kalau dia sudah memilih lawan yang salah!" seru Cleo tanpa ragu. Mencoba mempengaruhi bos gangster ini supaya melakukan pekerjaan lebih cepat.


"Baik, kita sepakat! Tiga hari lagi aku pastikan kau akan menerima kabar baik! Kau juga boleh kalau mau membunuhnya dengan tanganmu sendiri!" sahutnya penuh semangat. Tentu saja penjahat sepertinya akan senang karena mendapatkan uang tambahan.


"Huh, aku harap kau menepati kata-katamu!" ketus Cleo. Dia sudah muak melihat wajah pria gendut yang menurutnya menjijikkan ini. Dia segera keluar dengan langkah terburu-buru dan pergi dari ruangan seorang bos gangster itu.


Cleo ingin segera pergi meninggalkan sebuah pabrik terbengkalai yang menjadi titik pertemuan rahasianya dengan seorang bos gangster barusan. Dia lantas melepaskan maskernya begitu berada di dalam mobil. Melaju dengan kecepatan tinggi menembus keheningan malam daerah pinggiran kota.


"Mati kau Sherina! Kau hadir hanya untuk jadi penggantiku, tapi kau justru merebut segalanya dariku! Hanya kematian yang patas kau dapatkan untuk menebus semuanya!" cecarnya penuh kebencian.


Sama sekali tidak ada rasa takut ataupun penyesalan yang Cleo rasakan. Dia rela mengeluarkan uang berapa pun, juga tidak peduli lagi apakah yang dia lakukan ini benar atau salah, melanggar hukum ataukah tidak. Karena dibutakan oleh kebencian, dia akan melakukan apa saja asal Sherina yang dianggap sebagai pengganggu itu lenyap.


***


3 hari kemudian di tengah sepinya malam. Sebuah mobil sedan berwarna hitam terparkir di tepi jalan. Mobil itu sejak sore tak kunjung pergi, terus berada di dekat sebuah bangunan gedung hotel berbintang. Di dalamnya terdapat 5 orang yang sudah menanti-nanti kapan waktunya target mereka untuk keluar. Sudah dari hari-hari sebelumnya mereka mengintai Sherina. Dan mereka sama sekali belum menemukan kesempatan yang bagus. Tugas para pembunuh bayaran ini hanya satu, yaitu mencelakai dan menculik Sherina tanpa meninggalkan jejak satu pun.


Pintu utama hotel itu terbuka, lantas tampaklah Sherina yang berjalan keluar bersama seorang pria yang tidak lain adalah sopirnya.


"Kau benar-benar belum mengantuk, kan?" tanya Sherina dengan nada sedikit bersalah. Dia merasa tidak enak hati karena mengajak pulang di saat jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


"Saya belum mengantuk, Nyonya," jawab sang sopir dengan nada hormat.


"Maaf, ya. Harusnya kita menginap di sini setelah rapatku dengan investor asing selesai. Tapi Vicky itu terus meminta aku pulang, dia bilang tidak bisa tidur kalau tidak ada aku. Benar-benar seperti anak kecil," keluh Sherina.


"Haha, mungkin Tuan Vicky sedang kasmaran."


"Haiss ... ya sudah, karena sudah malam, nanti kau tidak perlu buru-buru mengemudi."


"Baik, Nyonya."


Sopir itu membukakan pintu untuk Sherina. Dan ketika dia melajukan kendaraan itu, pada saat yang sama mobil sedan itu juga melaju lebih dulu dan mendahuluinya. Mereka telah memastikan dan yakin betul soal rute mana yang akan Sherina lewati. Oleh karena itu, para pembunuh bayaran ini berencana mencegatnya begitu sampai di tempat yang sepi.


Mobil yang Sherina tumpangi melaju dengan kecepatan lumayan tinggi. Namun, entah kenapa kecepatan mobil itu semakin melambat.


"Hei, target berhenti!" ucap salah seorang pembunuh bayaran yang duduk di kursi belakang. Dia memang bertugas untuk mengawasi pergerakan mobil yang dinaiki oleh Sherina.


"Apa?!" Si pengemudi kaget dengan ucapan rekannya. Seketika dia juga mengerem mobil secara mendadak.

__ADS_1


"Di mana target berhenti?!"


"Sepertinya dia berhenti di apotek yang buka 24 jam itu. Bagaimana? Apa kita serang saja dia sekarang?"


"Kau gila! Tempat ini masih belum cukup aman! Biarpun sepi, ini masih di tengah jalanan kota! Bisa saja kita gagal! Mau membidik dari dalam mobil pun juga mustahil! Posisi kita tidak memungkinkan untuk melakukannya!"


"Tapi jika tidak sekarang, kapan lagi kita mendapatkan kesempatan ini? Bos sudah menekankan kalau malam ini adalah batas akhir dari waktu yang klien minta! Kalau kita ingin menjalankan tugas, maka sekaranglah saatnya!"


"Ini ...." Kelima orang itu saling memandang. Meskipun hanya dengan bertukar tatapan, mereka sudah bisa membuat kesepakatan untuk menyetujui usulan salah satu rekan mereka itu.


Inilah saatnya mereka beraksi. Masing-masing dari mereka segera memosisikan diri dan mengambil peralatan masing-masing. Ini bukan kali pertama bagi para kriminal ini menjalankan tugas mereka. Mereka berlima sudah hafal betul bagian dari tugas yang harus mereka kerjakan. 1 orang bertugas mengamankan mobil, 1 orang lagi bertugas mengawasi keadaan dari luar. Lantas, sisa 3 orang lainnya bersama-sama turun dari mobil untuk menangani Sherina.


Tiga orang pria itu berjalan seperti pejalan kaki yang normal. Lalu, mereka menunggu dan mencegat jalannya Sherina begitu berada di area parkir depan bangunan apotek.


"Permisi, aku mau lewat," ucap Sherina sambil membawa sebuah kantong plastik yang berisi suplemen.


Sherina semakin menatap bingung saat ketiga pria ini tak kunjung minggir dan memberikan jalan. Pikirnya, masalah apa yang dia punya, padahal dia sudah bicara baik-baik dan bahkan sama sekali tidak kenal dengan mereka.


Namun, ketika Sherina hendak mengambil jalan samping, tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh salah satu pria kekar ini. "Wanita ini kecil, ini akan mudah."


"Hei, apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!" teriak Sherina sambil meronta. Dia mulai merasakan firasat buruk dengan tingkah aneh pria asing ini.


Teriakan Sherina terdengar oleh telinga sang sopir. Dia dengan tanggap segera turun dan mobil dan menghampiri majikannya yang kelihatan sedang dalam kesusahan.


"Tolong lepas!" pinta si sopir. Namun, bukannya didengarkan, dia justru mendapatkan tinju di wajahnya sebagai sambutan.


"Saya tidak apa-apa, Nyonya!" Sopir yang bernama Roy ini mulai menatap tajam. Salah besar jika dia diremehkan hanya karena pekerjaannya sebagai sopir. Pukulan ini tak meninggalkan kesan serius baginya. Karena Roy adalah seseorang yang juga mengusai bela diri. Memang pada dasarnya keluarga Bashara tidak akan sembarangan dalam merekrut orang.


BHUAK!!


Roy mengembalikan pukulan tersebut. Bahkan lebih keras sampai membuat terhuyung.


"Kepar*t!" Salah satu rekan tidak terima. Dia segera maju dan membantu temannya untuk menghadapi Roy.


"Tidak! Lepaskan aku!!" Sherina meronta sekuat tenaga, namun dia tak kuasa melawan ketika diseret pergi. Bahkan obat yang baru saja dia beli sampai terjatuh dan terinjak.


"Nyonya!" Roy seolah merasa terbakar, dia mengabaikan kedua pria yang sedang bertarung dengannya untuk mengejar Sherina yang hendak dibawa pergi.


"Singkirkan tangan kotormu darinya!" teriak Roy seraya melepaskan tinju hingga mengenai bahu si pembunuh bayaran.


"Sial, kita bereskan dulu bajing*n mengganggu ini!"


Seketika saat itu juga Sherina terlepas. Mereka bertiga beralih mengeroyok Roy dengan bermacam-macam serangan beruntun.


"Roy!" teriak Sherina lagi. Dia khawatir jika sampai terjadi apa-apa pada sopirnya yang setia ini.

__ADS_1


"Jangan hiraukan saya! Pergilah, Nyonya! Cepat kabur! Cari bantuan jika bisa!"


"T-tapi ...." ucap Sherina ragu-ragu.


"Cepat!!!" gertak Roy sekali lagi.


"Maaf ... jagalah dirimu, Roy!" Sherina berlari ke arah lain secepat mungkin, dia juga berteriak meminta pertolongan.


"Sial, aku akan kejar dia!" ucap salah seorang yang menyadari kepergian Sherina. Dia berhenti menyerang Roy dan langsung beralih mengejar Sherina.


Jantung Sherina berdegup kencang, perasaannya saat ini begitu gugup seakan-akan berada di posisi antara hidup dan mati. Sebisa mungkin dia tidak ingin tertangkap. Bahkan dia sampai melepas sepatunya agar bisa berlari lebih cepat.


Akan tetapi, stamina Sherina tetap ada batasnya. Dia sudah lelah berlari, teriakan meminta tolong tak berhasil menarik perhatian orang satu pun. Jika dia berhenti, maka dia akan tertangkap. Saat ini yang ada di pikiran Sherina hanyalah bersembunyi, begitu ada kesempatan, dia berbelok masuk ke sebuah gang kecil. Lantas berjongkok dan bersembunyi di balik bak sampah besar.


"Sial, ke mana larinya?!" umpat si pembunuh bayaran dengan kesal. Dia berdiri di pintu masuk gang, celingak-celinguk untuk menemukan jejak menghilangnya Sherina.


"Huff ... huff ...." Napas Sherina tersengal-sengal, dia juga membungkam mulutnya sendiri supaya dia tidak menimbulkan suara. Sangat takut akan ketahuan, sesekali dia mengintip untuk memeriksa apakah penjahat yang mengincarnya sudah pergi dari sana ataukah belum.


BUZZ BUZZ


BUZZ BUZZ


Sherina panik. Dia segera merogoh sakunya untuk mematikan ponselnya yang mendadak berdering.


"Haha, di sini kau rupanya!" ucapnya dengan seringai mengerikan.


"Sial," umpat Sherina lirih. Kini dia telah ketahuan dan tertangkap gara-gara suara keras nada dering ponselnya. Batinnya juga terus mengumpat pada orang yang entah siapa meneleponnya di saat-saat krisis seperti ini.


"Siapa yang menyuruhmu?!" berontak Sherina.


"Banyak omong!" Pria ini kehilangan kesabaran, dia mendorong tubuh Sherina hingga punggungnya terantuk dinding. Juga membekap mulut Sherina dengan tangannya supaya dia tidak lagi bicara ataupun berteriak.


"Dengar, ya! Kau sedang tidak dalam posisi berhak untuk bertanya. Yang perlu kau tahu, nasibmu kini ada di tanganku. Tugasku adalah membereskanmu. Tapi sebelum itu ...." Mendadak tatapannya berubah. Dia melihat tubuh Sherina dari atas sampai bawah.


"Menikmati tubuhmu dulu juga tidak ada salahnya," lanjutnya lagi. Dengan lancang dia mulai menyentuh paha mulus Sherina.


"Huummm!!" Sherina meronta sekuat tenaga, dia sungguh tidak terima dilecehkan pria mesum ini. Tapi, lagi-lagi tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan seorang pembunuh bayaran yang sudah terlatih.


"Hahaha, ayo memohon dan menangislah! Aku suka wanita yang lemah seperti ini!"


"Hummm! Huumm!!" Sherina terus meronta, mau menggigit tangan pria ini juga kesulitan karena mulutnya dibekap dengan kuat.  Tubuhnya mulai gemetaran, dan dia hanya bisa menutup mata karena takut.


BUAKKK!!


Terdengar suara pukulan yang keras. Seketika Sherina membuka matanya. Dia terkejut karena pria yang hendak memerkosa dirinya ternyata telah dilumpuhkan. Ada seorang wanita yang diam-diam menyerang, memukul dengan batangan kayu tepat di bagian belakang kepala pria itu. Dan lagi, Sherina mengenali wanita yang menolong dirinya.

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa?" tanya wanita itu.


"K-kau ... Violet?" Sherina terperangah.


__ADS_2