Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Penolong tak Terduga


__ADS_3

Untuk sejenak Sherina masih terpaku, belum sepenuhnya mencerna dan memahami situasi. Pikirnya, sungguh suatu kebetulan jika orang yang datang menolongnya adalah Violet yang merupakan seorang jurnalis yang cukup terkenal di media massa maupun sosial.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Violet lagi.


Seketika Sherina tersadar dari lamunan. "Eh, a-aku baik-baik saja. Terima kasih banyak! Tapi, bagaimana bisa kau menolongku?"


"Ah, kebetulan apartemenku tidak jauh dari sini. Tadinya aku mau membeli sesuatu di mini market yang masih buka. Tapi di perjalanan pulang, aku tak sengaja melihat seseorang berlari dan dikejar. Lalu aku mengikutinya, dan siapa sangka orang itu ternyata kau. Aku langsung meninggalkan barang belanjaanku di depan gang sana dan mengambil kayu ini. Dan ... suatu kehormatan bagiku masih dikenali olehmu," ucap Violet dengan senyuman tipis.


"Ehmm ... jangan begitu. Pertemuan pertama kita di mall waktu itu memang kurang menyenangkan. Tapi, syukurlah kau peduli dan mau menolongku. Aku benar-benar berterima kasih, tidak tahu akan bagaimana jika kau tidak memukul pria brengsek ini," balas Sherina dengan canggung.


"Sama-sama, menolong sesama itu kewajiban kita sebagai manusia. Oh, ya. Jalanan ini memang sepi, tapi yang aku tahu selama ini jarang sekali terjadi kejahatan di sini. Dan lagi ... kau itu kan menantu keluarga Bashara. Aku rasa malam-malam begini seharusnya kau berada di rumah. Apa yang kau lakukan di sini sendirian, bahkan sampai ada penjahat yang mau mencelakaimu?" tanya Violet penasaran. Sifat alamiahnya sebagai seorang jurnalis dalam mengorek informasi sebanyak mungkin tiba-tiba terpanggil.


"Soal itu akan aku ceritakan nanti! Lebih baik kita pergi cari tempat yang aman dulu! Soalnya orang yang mengincarku tidak cuma satu!" ajak Sherina yang menyadari jika masih berada dalam situasi berbahaya.


"Apa?! Berapa orang yang mengincarmu?!" tanya Violet dengan mata membelalak kaget.


"Aku tidak tahu berapa tepatnya. Tapi yang jelas, tadi ada 3 orang yang mencegatku. 2 yang lain masih disibukkan oleh sopirku. Lebih jelasnya akan aku ceritakan nanti, sekarang ayo cari tempat yang aman dan telepon polisi!" imbau Sherina lagi.


"Baik, aku tahu tempat yang aman di dekat sini!" Violet mengangguk setuju, namun ketika mereka berdua hendak keluar dari gang sempit itu. Tiba-tiba saja datang seorang pria asing yang mencegat mereka.


"Sial!" umpat Sherina. Dia tahu betul jika pria yang berdiri di ujung gang itu adalah salah satu yang mengeroyok sopirnya, yaitu Roy. Mata Sherina kembali membulat sempurna ketika melihat sebuah belati berdarah yang berada di genggaman tangan kanan pria itu. Pikirnya, apakah noda darah itu milik Roy? Bagaimana keadaannya sekarang? Mungkinkah Roy tidak selamat? Lalu bagaimana dengan nasib dirinya sendiri, apakah akan bernasib sama seperti sopirnya yang belum jelas itu?


"Cih, dasar jal*ng! Ternyata kau sembunyi di sini!" gertak pria itu. Kemarahannya semakin bertambah saat menyadari rekannya telah tergeletak dan tak sadarkan diri.


"M-mundur!" ancam Violet sembari menodongkan sebatang kayu yang sejak tadi tak pernah lepas dari tangannya. Dia berpura-pura bersikap berani dan percaya diri dapat mengalahkan pria ini, meskipun sebenarnya dia merasa takut dan kurang yakin.


"...." Sherina tak bisa berkata-kata, otaknya seakan-akan berhenti bekerja karena terlalu gugup. Walaupun kini dia tidak sendirian lagi, dia masih gemetar ketakutan. Di belakangnya hanya ada jalan buntu, dia hanya bisa berdoa agar selamat dan bersembunyi di balik punggung Violet.


"Hei, pergilah! Ini tidak ada hubungannya denganmu! Targetku wanita di belakangmu itu! Jika kau pergi dengan baik-baik, aku janji tidak akan melukaimu!" ucapnya dengan seringai arogan. Pria ini sungguh merasa jika kedua wanita ini bukanlah tandingan baginya.


"Tidak! Aku tidak akan meninggalkan temanku!" teriak Violet tanpa keraguan.


"Vi-Violet ..." lirih Sherina. Sungguh mengejutkan saat dia mendengar bahwa Violet mengakui dirinya sebagai seorang teman. Padahal mereka baru bertemu sebanyak dua kali. Jauh di lubuk hati sana, Sherina merasa tersentuh. Dari sekian banyak orang yang membencinya, ternyata masih ada yang peduli dan mau melindunginya.


"Ck, ternyata benar. Wanita cantik itu kebanyakan tidak punya otak. Aku berikan pilihan bagus padamu, tapi tidak mau. Kalau begitu jangan salahkan aku bertindak kejam!"


Setelah berdecak kesal dan mengancam, pria ini langsung maju ke arah Violet yang menantang dirinya. Dengan belatinya yang tajam, dia tampak berniat menggunakan benda lancip itu untuk melukai Violet. Akan tetapi, di satu sisi Violet juga tidak berdiam diri. Berbekal sebatang kayu, dia melangkah maju dan menyambut serangan pria itu.


BAGH! BUGH!


Violet mengayunkan batangan kayu dengan asal. Meskipun begitu, serangan sembarangan ini juga berbahaya karena jangkauan yang lebih jauh serta kayunya yang keras. Pria ini cukup merasakan nyeri ketika beberapa ayunan kayu tersebut mengenai tubuhnya.


"Sialan!" Emosi pria ini terpancing, dia semakin kesal dengan setiap serangan yang dia terima. Kini, dia memegang erat-erat belati miliknya demi menyerang balik dengan cepat.


CRASH ...


Darah segar langsung mengucur keluar dari lengan sebelah kanan Violet. Walaupun dengan lincah berhasil menghindari serangan fatal yang dalam, tetap saja satu luka sayatan ini memberikan dampak rasa sakit yang lumayan.


"Violet!!!" teriak Sherina yang mulai panik.


"Sshhh ...." Violet mendesis pelan, luka yang dia terima mulai menimbulkan rasa perih yang serius. "Aku tidak apa-apa," lanjut Violet lagi demi menenangkan Sherina.


Karena luka itu, pergerakan Violet menjadi semakin lambat. Namun, dia belum menyerah. Meskipun pergerakannya menjadi makin terbatas, dia masih memaksakan diri untuk bertahan sekalipun terus dipukul melangkah mundur. Dia hanya bisa menangkis atau menghindar, tak ada celah baginya untuk memberikan serangan balik.

__ADS_1


"Haha, sekarang mati kau!" bentaknya penuh arogan begitu Violet dan Sherina benar-benar tersudut di jalan buntu.


WIOOOUUU .... WIIOOUUU....


Terdengar suara sirene mobil polisi yang berdengung dengan keras. Pria yang semula dipenuhi dengan niat membunuh ini tiba-tiba merasa panik. Dia kalang kabut, segera berlari keluar dari gang itu demi menyelamatkan diri dari polisi.


"Sial!" umpatnya.


Benar saja, selepas dia keluar dari gang itu, tidak jauh dari sana langsung disambut dengan 3 unit mobil polisi. Dia kelabakan, berlari secepat mungkin tak tentu arah supaya tak tertangkap.


Lantas, datanglah sebuah mobil hitam lain yang baru saja tiba di belakang. Orang yang mengendarai mobil itu turun, tampaklah Vicky yang berlarian dan berteriak panik.


"Sherina! Kau di mana?!" Vicky terus berteriak dan menoleh ke kanan kiri. Begitu dia melihat Sherina yang baru saja keluar dari gang. Dia segera berlari mendekat serta memeluk istrinya dengan erat.


"Syukurlah aku menemukanmu! Kau tak apa-apa?" tanya Vicky dengan nada sedikit gemetar. Dia amat senang karena hal buruk yang dia khawatirkan tidak terjadi.


"A-aku ...." Sherina terbata-bata. Air matanya mulai jatuh dengan sendirinya. Rasa takut yang sejak tadi dia tahan, akhirnya bisa dia luapkan begitu berada di pelukan suaminya yang memberikannya rasa aman.


"Tak apa, tenangkan dirimu dulu, oke?" bujuk Vicky dengan senyuman getir. Dia paham dan merasa turut prihatin dengan istrinya yang baru saja selamat dari ancaman pembunuhan.


"Pak, masih ada satu orang di dalam sana!" ucap Violet pada personel polisi. Dia lebih bisa membaca situasi dan tak masalah karena keberadaannya sempat diabaikan.


"Orang? Dia korban juga?!" tanya salah seorang polisi.


"Bukan, tapi dia adalah salah satu komplotan penjahat. Tadi aku beruntung bisa membuatnya pingsan. Cepat tangkap sebelum dia bangun!" jawab Violet sedikit kesal.


"Ah, b-baik! Tapi luka di tanganmu itu sebaiknya cepat diobati!" Polisi ini lantas mengajak seorang rekannya lagi untuk memeriksa kondisi di dalam gang.


Beberapa menit kemudian Sherina sudah lumayan tenang. Dia juga sudah mendapat kabar bahwa sopirnya tidak mengalami luka parah yang mengancam nyawa, namun Roy tetap harus dibawa ke rumah sakit untuk dirawat karena menerima beberapa memar dan luka sayatan.


"Minumlah dulu," ucap Vicky seraya menyodorkan sebotol air mineral. Sherina mengangguk lalu meminumnya seteguk.


"Apa Nyonya sudah bisa memberikan keterangan pada kami?" tanya salah seorang polisi yang sudah menyiapkan kertas dan pulpen untuk mencatat.


"Bisa ... aku akan jelaskan seadanya." Sherina lalu menceritakan semuanya yang dia alami. Mulai dari diserang tiba-tiba hingga saat dia akan dilecehkan dan kemudian ditolong oleh Violet.


"Terima kasih atas penjelasan yang Nyonya berikan, kami akan menyelidiki kasus ini lebih jauh. Kami undur diri untuk segera melaporkan ke pusat."


"Baik, terima kasih banyak untuk malam ini," ucap Vicky.


"Haha, ini memang sudah kewajiban kami sebagai aparat penegak hukum. Kapan saja Tuan Vicky butuh silakan hubungi kami!"


Sekelompok polisi itu pun pergi. Meninggalkan mereka yang sudah dijaga oleh 3 orang pengawal pribadi yang Vicky bawa dari kediaman.


"Cih, apanya kewajiban? Padahal langsung bertindak cepat hanya karena diminta oleh konglomerat! Coba saja kalau warga biasa, sudah pasti terlambat! Dasar penjilat!" omel Violet dengan tatapan sinis. Sebagai seorang jurnalis tentu saja dia sangat kritis dengan hal-hal semacam ini.


"Vicky, bagaimana kau bisa tahu kalau aku di sini?" tanya Sherina penasaran.


"Ah, aku belum bilang. Sebenarnya aku tadi meneleponmu, lalu tumben kau cepat menjawabnya. Tapi saat aku ingin bicara, malah aku mendengar suara pria aneh yang seperti sedang mengancammu. Firasatku langsung buruk, aku segera melacak GPS ponselmu dan meminta bantuan ke polisi. Dan selanjutnya kau tahu sendiri kejadiannya ..." jelas Vicky.


"Eh, jadi yang meneleponku tadi itu kau?!" Sherina langsung merogoh saku untuk mengambil ponselnya, dia memeriksa riwayat panggilan dan ternyata benar bahwa Vicky-lah yang menelepon dirinya.


"Astaga Vicky ... saat kau meneleponku sebenarnya aku sedang sembunyi. Karena nada dering ponselku bunyi, aku jadi ketahuan! Dan aku sempat mau diperkosa! Tapi untungnya ada Violet yang menolongku tepat waktu!" keluh Sherina dengan pipi menggembung.

__ADS_1


"Mana aku tahu ... tapi aku juga datang dengan bawa bantuan tepat waktu!" Vicky berkelit, dia tiba-tiba melihat ke arah Violet untuk mengubah topik pembicaraan. "Oh ya! Aku belum berterima kasih padamu! Terima kasih banyak sudah menolong istriku!"


"Ya, sama-sama. Jadikan ini pelajaran juga untukmu, jangan biarkan istrimu keluar malam-malam sendirian," balas Violet dengan tatapan meremehkan.


"...." Vicky bungkam, perkataan Violet benar-benar terasa menusuk baginya. Dia tidak bisa membantah kalau ini juga kesalahannya karena lalai pada keselamatan istrinya.


Tiba-tiba Sherina berdiri dan menggenggam kedua tangan Violet. "Sekali lagi aku berterima kasih padamu! Kau tinggal di mana? Biar aku antar kau pulang!"


Violet terdiam sejenak, dia tersenyum tipis dan melepaskan genggaman tangannya dari Sherina. "Tidak perlu, apartemenku hanya ada di depan sana. Aku bisa pulang sendiri. Sampai jumpa di lain hari, jika ada kesempatan pastinya!" lanjutnya yang kemudian pergi sambil melambaikan tangan.


"Ah ... oke ...." Sherina menatap kepergian Violet dengan tatapan sedikit tidak rela.


"Sherina, kenapa kau sangat peduli padanya? Apa kau sama sekali tidak curiga? Aneh saja dia bisa menolongmu tepat waktu," ucap Vicky yang sontak saja membuat Sherina menatap kebingungan.


"Huh? Jika aku curiga padanya itu berarti aku manusia tidak tahu diri. Jarang sekali bisa bertemu dengan orang yang rela mempertaruhkan nyawa demi menolong orang lain. Sedangkan, saudara sendiri bahkan tega saling membunuh .... Aku yakin kalau pelaku yang merencanakan hal ini adalah orang lain. Lagi pula tidak ada dendam apa pun di antara aku dengan Violet. Kita percayakan saja hasilnya pada penyelidikan polisi. Sekarang ayo ke rumah sakit, kita lihat dulu bagaimana keadaan Roy!"


"Oke." Vicky tersenyum tipis, dia lantas merangkul Sherina untuk masuk ke dalam mobil bersama-sama.


Setelah sampai di rumah sakit dan memastikan kondisi Roy baik-baik saja, mereka lantas pulang ke kediaman. Di sana, Ariana tampak menunggu dengan harap-harap cemas. Sedangkan Velix, karena masih kecil dan dia sudah tidur lebih awal, kejadian malam ini dirahasiakan darinya.


Semuanya masih terasa segar di ingatan Sherina. Biarpun dia sekarang sudah sepenuhnya aman, dia masih kesulitan untuk memejamkan matanya. Sedari tadi dia terus membolak-balikkan badan di atas kasur. Terlihat jelas kalau dia seperti orang yang gelisah.


"Kau belum mengantuk? Ini sudah hampir jam setengah dua," tanya Vicky seraya mengusap kepala istrinya itu dengan lembut.


Dengan sedikit lemas, Sherina pun mengangguk seraya berkata, "Iya ... aku masih memikirkan satu hal. Tapi bukan soal dalang di balik kejadian ini, soal itu sudah pasti kalau pelakunya adalah orang yang benci padaku."


"Lalu kau memikirkan apa?" tanya Vicky lagi.


"Soal Violet."


"Kenapa dia?"


"Aku merasa berhutang budi kepadanya, tapi aku bingung bagaimana aku harus membalas kebaikannya ini," jelas Sherina dengan pandangan lesu.


"Astaga, rupanya soal itu. Kau tak perlu terlalu memikirkannya, lagi pula kau juga tidak terlalu mengenalnya. Kau tak tahu apa yang dia suka, bukan hal tepat jika kau ingin membalas dia dengan hadiah. Tapi ... mungkin kau bisa mengundangnya untuk makan malam bersama di kediaman, lagi pula tidak akan ada orang yang tidak butuh makan, sekaligus kau bisa mengucapkan rasa terima kasih dengan benar."


"Eh? Memangnya boleh? Bagaimana kalau nanti ibu merasa keberatan?" tanya Sherina dengan ragu.


"Jangan khawatir, apa kau lupa kalau ibu sudah banyak berubah? Aku yakin dia pasti tidak akan keberatan. Lagi pula hanya mengundang satu orang saja," jawab Vicky dengan senyuman.


Seketika Sherina tersenyum semringah. "Baiklah! Karena aku tidak punya nomornya, kalau begitu nanti aku akan menghubungi Violet lewat email! Terima kasih atas idemu, Vicky!"


"Iya, sama-sama. Lagi pula ini bukan apa-apa. Nah, karena solusi untuk masalah yang kau pikirkan sudah ada. Sekarang kau bisa tidur!"


"Hehe, baiklah ... selamat malam!" Sherina memejamkan matanya dengan nyaman. Hatinya terasa berbunga-bunga, entah mengapa di lubuk hatinya sana mulai berharap untuk menjalin pertemanan dengan Violet.


***


"Huff ... baiklah, sekarang saatnya bekerja!" ucap Violet yang baru saja selesai mengganti perban di tangan kanannya yang terluka semalam. Dia menyimpan kotak obat dan kemudian bergegas ke meja kerja, menyalakan laptop untuk bersiap menulis artikel menarik untuk dia unggah.


"Eh?! Apa ini?" Kedua mata Violet membelalak saat melihat adanya notifikasi email masuk yang tidak biasa. Dan setelah dia mencerna setiap kalimat, dia tampak terkejut saat menyadari niat dari sang pengirim email yang mengundangnya untuk jamuan makan malam di kediaman Bashara.


"Wah-wah ... sungguh tidak terduga. Rupanya benar, ya, tidak ada kebaikan yang sia-sia. Sherina yang berhati murni itu dengan tulusnya mengundangku. Tentu saja akan aku terima! Lagi pula ... ini jadi mempermudah jalanku untuk balas dendam pada Ariana! Waktu kehancuran si wanita serakah itu akan segera tiba!" gumam Violet dengan seringai sinis.

__ADS_1


__ADS_2