
Deg deg deg ...
"Maafkan aku!" teriak Sherina dengan wajah merona. Dia langsung berbalik badan karena panik, bahkan juga meremas kain baju yang ada di depan dadanya.
Jantungku ini sudah gila, ya! Kenapa malah berdebar-debar di saat seperti ini?! Dan kenapa pula aku yang malu? Ini kan bukan salahku, aku sudah masuk dengan izinnya. Tapi, kenapa dia malah menyambutku dalam keadaan setengah telanjang begini?
"Maaf! Aku tidak bermaksud begini! Aku kira kau paman Will! Makanya aku membiarkanmu masuk! T-tunggu sebentar! Aku akan pakai baju dulu!" Vicky kalang kabut, dia segera mengambil baju dan berpakaian secepat mungkin yang dia bisa.
Di satu sisi, Sherina masih membelakangi Vicky. Dia semakin merasa malu ketika mendengar suara berisik berupa lemari yang pintunya dibanting, dibuka dan ditutup.
Astaga, aku harus bagaimana? Aku ingin sekali cepat-cepat pergi dari sini, suasana ini sangat aneh. Vicky sepertinya juga malu dengan yang barusan. Dia baru saja selesai mandi, aku benar-benar datang di waktu yang tidak tepat.
"Aku sudah selesai, kau bisa berbalik!" ucap Vicky dengan nada gugup.
"Ehmm ... oke," jawab Sherina dengan anggukan kepala. Perlahan berbalik, dia melihat Vicky yang saat ini sudah berpakaian piama. Akan tetapi, caranya memakai baju tidur itu terlihat salah, bahkan rambutnya yang habis keramas juga belum dikeringkan. Masih terdapat air yang menetes dari atas kepalanya.
"Anu ... Vicky, kau salah mengancingkan bajumu," ucap Sherina seraya menuding dengan jari telunjuknya.
"Eh?" Vicky menunduk, dan benar saja jika dia memang salah memasangkan kancing bajunya. Lagi-lagi dia merasa malu, melakukan kesalahan semacam ini karena terlalu terburu-buru. Secepat mungkin dia segera membetulkan kancing bajunya.
"Tidak usah buru-buru, kau santai saja, aku ke sini bukan karena hal mendesak. Kau juga bisa mengeringkan rambutmu dulu, baru setelah itu kita bisa bicara," ungkap Sherina dengan senyum canggung. Hatinya merasa tidak enak karena telah membuat Vicky jadi seperti ini karena kehadirannya.
"Baiklah, kalau begitu tunggulah sebentar! Emm ... kau bisa duduk dulu di sana!" pinta Vicky seraya menunjuk ke arah sofa yang berada di dekat televisi.
"Iya." Sherina mengangguk, lantas duduk di tempat seperti yang Vicky minta. Pandangan matanya tak luput untuk memperhatikan seluruh sudut kamar. Baru pertama kali ini dia menginjakkan kaki di kamar suami sahnya, dia terpukau oleh semua barang-barang serta dekorasi yang serasi. Kamar yang mewah dan serba lengkap ini bisa dikatakan sebanding dengan kamar presidential suite di hotel berbintang.
Jadi seperti ini selera Vicky, warna monokrom di kamar ini memberikan kesan elegan yang berkelas. Memang sesuai dengan kepribadiannya.
Di satu sisi, Vicky dengan cepat merapikan dirinya. Setelah selesai mengeringkan rambut, dia segera menyusul Sherina yang sudah duduk menunggu di sofa. Untuk beberapa saat, suasana di antara mereka hanya ada keheningan yang canggung. Baik Vicky ataupun Sherina, tak ada yang berniat mengawali perbincangan.
"Ehem! Jadi, sekarang jelaskan kenapa kau mencariku!" pinta Vicky tanpa memandang mata Sherina. Dia belum sanggup untuk menatap tatapan wanita yang tegas ini. Karena di pikirannya, masih terbayang-bayang soal kejadian memalukan tadi.
Astaga, kenapa aku begini? Status Sherina adalah istriku, jangankan melihatku yang hanya memakai handuk, sebenarnya dia berhak melihatku dalam keadaan telanjang sekalipun. Tapi, ini pertama kalinya bagiku memperlihatkan tubuh di depan wanita. Aku masih belum terbiasa dengan ini.
"Aku ... kemari karena ingin membahas soal Velix," ucap Sherina dengan nada sedikit ragu.
__ADS_1
"Velix? Ada apa soal dia?" tanya Vicky dengan tatapan bingung.
"Begini, aku belum menceritakan soal ini padamu saat di ruangan wali kelas tadi siang. Aku menemukan Velix sedang menyendiri di pinggir danau. Di sana, dia menceritakan sesuatu padaku. Soal kenapa dia sering membuat masalah, sebenarnya ... dia mengaku kalau dia memang sengaja mencari masalah."
"Apa?! Sengaja mencari masalah! Sudah aku duga kalau dia benar-benar nakal!" omel Vicky dengan wajah kesal.
"Bukan! Tolong dengarkan dulu ceritaku sampai habis!" bantah Sherina. Dia tak mau Vicky menjadi semakin salah paham pada adiknya.
"Oke, kalau begitu jelaskan padaku! Dengan alasan yang masuk akal!" tuntut Vicky yang kemudian bersedekap. Seolah sedang menunggu penjelasan yang bagus dari Sherina.
"Seperti yang selama ini kau tahu, kau dan ibumu sama-sama selalu mengeluh kalau Velix adalah anak yang nakal. Tapi, Vicky ... tetap saja dia masih anak-anak, dia pasti punya alasan mengapa dia sengaja berbuat seperti itu. Dan Velix bilang padaku, dia membuat masalah karena menginginkan kau atau ibumu sesekali datang mengunjungi dirinya di asrama. Sederhana saja, yang Velix butuhkan adalah perhatian yang cukup dari keluarganya."
"...." Vicky tak berkata sepatah kata pun. Mulutnya terasa kelu, dia mulai merenungkan apa yang telah Sherina katakan. Hingga sekarang, inilah pertama kalinya dia menyadari kesalahan yang fatal. Membiarkan adik kecilnya merasa kurang diperhatikan, yang malah berujung menciptakan masalah.
"Aku ... tidak bermaksud untuk mengabaikan Velix, tapi aku punya kesibukan sendiri. Bahkan jika aku ada waktu senggang, aku tak tahu harus melakukan apa untuk menghabiskan waktu dengannya. Mungkin karena jarak usia kami yang terpaut jauh, jadinya aku tak cukup memahami apa yang dia butuhkan," ucap Vicky dengan pandangan tertunduk. Dia sudah berintrospeksi diri tentang kekurangan yang ada pada dirinya.
Tiba-tiba saja Vicky mendongak, lalu menatap kedua mata Sherina lekat-lekat. "Sherina, apa kau punya solusi yang tepat untuk Velix?"
"Eh? Kau serius bertanya padaku?" tanya Sherina seakan tidak percaya.
"Emm ... jika kau bertanya bagaimana pendapatku, maka akan aku katakan. Aku merasa kalau inti dari masalah Velix adalah sifatnya, dia itu anak yang periang dan suka kebebasan. Tetapi, selama ini dia tinggal di asrama. Jadi, aku rasa ada baiknya kalau kau keluarkan saja Velix dari asrama! Biarkan Velix pulang ke kediaman ini!"
"Itu solusimu?" tanya Vicky seakan tak puas.
"I-iya, itu solusiku. Mungkin ... kau kurang cocok, karena tinggal di asrama juga punya manfaat tersendiri bagi Velix. Dia bisa lebih fokus belajar, menjadi mandiri, serta melakukan lebih banyak interaksi dengan teman-temannya. Hanya saja, waktu bermain untuk anak-anak itu juga tak kalah penting. Bayangkan saja dia pagi-pagi sudah harus belajar di sekolah, sore harinya baru selesai, dan setelah itu dia harus segera kembali ke asrama untuk belajar atau mengikuti kegiatan lain."
"Vicky, aku mohon pertimbangkan ini. Aku tahu kalau aku hanya orang luar, aku tak berhak untuk ikut campur soal bagaimana keluargamu dalam mendidik Velix. Tapi, aku ingin Velix tak lagi selalu murung. Dia sudah bilang sendiri kalau dia tak terlalu suka tinggal di asrama. Dan, sebenarnya ada satu hal lagi ...." Sherina terdiam sejenak, dia sedikit ragu untuk melanjutkan perkataannya.
Setelah mengambil napas dalam-dalam, dia kembali berkata, "Velix kehilangan ayahnya sejak kecil. Artinya, dia tak cukup mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah. Yang tersisa hanya ibunya dan kau, kakaknya. Dan sekarang, dia dipaksa untuk tinggal di asrama, yang semakin membuatnya kehilangan suasana kehangatan keluarga. Velix itu, dia sebenarnya ... merindukan rumah."
Sherina tak lagi berbicara, dia merasa miris karena mengatakan itu semua. Rasa-rasanya apa yang dialami oleh Velix tak jauh berbeda dengannya. Memang benar jika Sherina melewati masa kecil yang bahagia. Namun, ketika ibunya tiada, semua kebahagiaan itu lenyap. Dia hidup di dalam lingkungan keluarga yang kejam, yang bahkan sampai sekarang terus menghantui dirinya.
Hanya satu alasan yang Sherina punya, dia tak ingin Velix mengalami kenangan buruk sama seperti yang dia alami. Menjalani hari-hari tanpa adanya kehangatan dan keharmonisan keluarga, itu akan menjadi luka paling dalam yang sangat berbekas. Itulah mengapa dia sampai berbicara panjang lebar di hadapan Vicky. Berharap dengan apa yang dia lakukan ini, mungkin saja akan mendatangkan sesuatu yang baik bagi adik iparnya yang manis.
"Hahh ...." Vicky menghela napas berat. Dengan tanpa memandang wajah Sherina, dia berkata, "Saran darimu akan aku pertimbangkan. Jika tidak ada hal lain lagi yang ingin kau katakan, kau bisa pergi sekarang."
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk mendengarkan aku." Sherina tersenyum tipis, lantas beranjak dari sofa dan segera keluar dari kamar Vicky.
Sedangkan Vicky, dia yang kini sendirian hanya bisa menyandarkan tubuhnya yang terasa penat di sofa. Sambil menatap langit-langit kamar yang berwarna putih, dia pun bergumam, "Merindukan rumah ... rupanya itu yang dirasakan Velix."
***
Malam dengan cepat berlalu, matahari bersinar dan hari berganti. Seperti biasa, maka di kediaman Bashara dilakukan sarapan bersama. Hanya saja, ada satu hal yang sedikit berbeda. Sherina tampak tak berselera, dia merasa sedikit pening. Karena banyak sekali yang dia pikirkan, akhirnya dia permisi untuk kembali ke kamarnya.
Lalu, ketika Ariana dan Vicky sama-sama telah menyelesaikannya sarapannya. Tiba-tiba saja Ariana memecah keheningan dengan berkata, "Vicky, bagaimana pekerjaanmu?"
"Ah, biasa saja. Semuanya masih dalam kendaliku. Perusahaan belakangan ini juga dalam keadaan baik-baik saja. Ibu tak perlu mencemaskan apa pun," jawab Vicky yang kemudian meneguk sedikit air minumnya.
"Baguslah, kau memang mirip ayahmu. Benar-benar seseorang yang bisa diandalkan!" Ariana tersenyum puas. Karena dia tahu, seberapa banyak keuntungan yang akan didapat jika perusahaan keluarganya dalam keadaan baik-baik saja.
"Oh ya, apakah hari ini Ibu senggang?"
"Hm? Ya, cukup senggang, hari ini ibu tidak ada acara berkumpul bersama dengan teman-teman. Memangnya kenapa?"
"Siang nanti, aku berencana mengajak Ibu untuk ke sekolahnya Velix."
"Ck, kukira apa. Kemarin kau habis dari sana, untuk apa hari ini ke sana lagi? Velix itu sudah besar, dia bukan anak TK yang mudah rewel. Kau tak perlu sering-sering datang ke sana demi memanjakan adikmu," ucap Ariana dengan nada malas.
"Aku ke sana untuk menjemput Velix pulang, karena aku merasa sebaiknya Velix tinggal di rumah saja," jawab Vicky dengan wajah datar.
"Apa?! Kenapa kau buat keputusan semacam itu?! Kau dan ibu sudah sepakat untuk membiarkan Velix tinggal di asrama. Ini semua juga demi kebaikannya! Kenapa sekarang kau tiba-tiba berubah pikiran?!" tanya Ariana yang merasa kaget sekaligus tidak cocok dengan keputusan Vicky.
"Aku berubah pikiran karena aku sadar apa yang saat ini paling dibutuhkan Velix. Kemarin aku dan Sherina sama-sama berkunjung ke sekolah, dan aku menyadari kalau Velix itu sangat merindukan suasana rumah!" jawab Vicky lagi dengan penuh penekanan.
"Cih, Sherina lagi, Sherina lagi! Gara-gara dia, sekarang kau jadi berani melawan ibu! Kau berubah, Vicky! Dengarkan ibu baik-baik, Sherina datang ke rumah ini sebagai tumbal penerima kutukan! Kau jangan mudah terpengaruh olehnya!"
"Aku tidak peduli Ibu mau berkata apa! Yang jelas, keputusanku untuk membawa Velix pulang tidak akan berubah!" tegas Vicky yang kemudian langsung pergi meninggalkan ruang makan.
"Sialan ...!" umpat Ariana yang teramat kesal, bahkan tubuhnya sampai ikut gemetaran. Padahal ini masih pagi, tapi suasana hatinya sudah dibuat berantakan.
Tidak bisa, tidak bisa begini terus! Semakin lama posisiku jadi terancam, Vicky sudah termakan oleh hasutan Sherina. Dia tidak mau mendengarkan aku lagi. Aku tidak boleh membiarkan ini terus berlanjut! Aku harus menyusun rencana supaya mereka berdua saling menjauh!
__ADS_1