Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Pria Tetaplah Pria


__ADS_3

Ditunjuk sebagai Direktur Utama di perusahaan Dream Glow Cosmetics. Permintaan ini sungguh tidak pernah terbesit di pikiran Vicky. Selama ini dia mengira, permintaan yang akan Sherina katakan adalah yang seputar tentang hubungan mereka. Misalnya saja, Vicky harus memutuskan hubungan dengan Cleo. Atau bahkan mulai hidup terpisah dengan Ariana. Namun, sekali lagi dugaannya telah salah.


"Kau sungguh menginginkan itu?" tanya Vicky dengan tatapan kurang yakin.


"Iya, aku ingin kau menunjukku sebagai Direktur Utama!" jawab Sherina tanpa keraguan sedikit pun di matanya.


"Alasannya? Maksudku, kenapa harus repot-repot jadi Direktur Utama? Padahal kau bisa saja meminta jabatan yang lebih tinggi dari itu," tanya Vicky lagi yang masih belum sepenuhnya mengerti.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menjelaskan alasanku menginginkan jabatan itu. Pertama, karena aku tidak suka dengan jalan yang instan, aku tidak mau kau langsung menyerahkan perusahaan yang sudah kau akuisisi ke tanganku dengan mudah. Aku tak akan dapat pengakuan dari orang-orang jika pakai cara itu, tidak akan ada yang tahu kalau selama ini aku telah berusaha keras. Jadi, dengan menjadi bawahanmu, yang kemudian pelan-pelan mendapatkan kepercayaanmu sepenuhnya untuk memiliki perusahaan. Cara itu lebih mempunyai kesan kalau aku memiliki nilai kontribusi yang pantas."


"Alasan kedua, karena aku tidak ingin terlalu merepotkanmu ataupun terlalu bergantung padamu. Kau cukup fokus saja pada BSH Enterprise dan anak perusahaanmu yang lain. Dream Glow Cosmetics yang belum lama diakuisisi, dan tak membawa keuntungan signifikan bagimu, lebih baik percayakan padaku saja!"


"Alasan ketiga, sebenarnya ini bagian dari balas dendamku. Aku butuh wewenang lebih, untuk mengawasi dan membuat kebijakan baru! Aku ingin menyempurnakan visi, misi, dan nilai perusahaan yang sempat diubah oleh ayahku! Intinya, aku ingin memimpin perusahaan itu dan merombaknya kembali seperti sedia kala! Aku ingin mengembalikan masa kejayaan Dream Glow Cosmetics!"


"Dan alasan terakhirku, aku ingin memenuhi janji terakhir yang aku buat dengan mendiang ibuku. Sebelum ibuku meninggal, dia berpesan padaku supaya aku belajar dengan sungguh-sungguh, agar nantinya aku bisa mewarisi perusahaan keluarga dengan baik. Tapi, karena saat itu aku masih belum cukup umur untuk memahami segalanya, akhirnya ibuku menuliskan wasiat untuk menitipkan perusahaan pada ayahku. Karena itulah jumlah saham milik ayah lebih besar dibanding saham yang aku punya. Tapi siapa sangka ... ayahku rupanya seorang bajing*n. Satu kejahatan yang dia perbuat, gara-gara dia berani selingkuh, dia menghancurkan segalanya."


"Ternyata begitu ...." ucap Vicky dengan senyum tipis. Dia sungguh terpukau oleh kemandirian dan kerja keras yang selama ini diam-diam istrinya lakukan. Dia semakin kagum pada Sherina, sungguh sesuatu yang luar biasa dia mampu bertahan sampai sekarang. Terlebih lagi, Vicky akhirnya menyadari bahwa dia tidak salah menikahi seorang wanita yang kuat.


"Baiklah, aku setuju. Nanti aku akan minta Oliver untuk mengurus surat-suratnya! Kapan kau mau mulai bekerja?"


"Eh?! Kau tidak menipuku, kan?! Ini sungguhan?!" tanya Sherina dengan tatapan berbinar. Dia begitu bahagia sampai sulit untuk percaya, ini seperti mimpi yang pada akhirnya menjadi nyata.


"Iya, aku sungguh-sungguh, istriku ..." jawab Vicky dengan tawa kecil.


"Ka-kalau begitu aku mau bekerja mulai besok! Ah, tidak! Waktu untuk persiapannya tidak akan cukup! Lusa saja! Aku mau bekerja mulai lusa!" Sherina kalang kabut, dia sangat bersemangat saat membayangkan dirinya akan menjadi seorang direktur dari perusahaan yang selama ini dia impikan.


"Haha, baiklah. Kapan pun bisa asal kau siap."


"Terima kasih banyak, Vicky! Kau benar-benar orang yang baik! Aku beruntung bisa mengenalmu!" ungkap Sherina yang di ujung pelupuk matanya sudah berair. Dia benar-benar bahagia sampai ingin menangis.


"Hei, sudahlah ... jangan menangis. Orang-orang akan mengira kalau aku menyakitimu. Atau bahkan yang lebih buruk, akan ada yang mengira kalau kau menangis karena Cleo," ucap Vicky seraya mengusap air mata yang jatuh di pipi Sherina.


"Amit-amit! Jangan sampai itu terjadi!" bantah Sherina yang kemudian juga mengusap air matanya sendiri. "A-aku mau pulang dulu! Banyak yang harus aku persiapkan! Oh ya, omong-omong ... kau suka warna apa?"


"Eh? Tiba-tiba ... mungkin hitam atau biru tua," jawab Vicky sedikit bingung. Dia merasa heran karena Sherina tiba-tiba mengungkit soal warna.


"Hitam atau biru tua, akan aku ingat! Nanti malam datanglah ke kamarku! Aku ingin menunjukkan sesuatu sebagai rasa terima kasih!" ucap Sherina yang dengan cepat melesat keluar dari ruangan.


"Sher ... tunggu!" teriak Vicky, namun istrinya ini sudah terlanjur keluar dari ruangannya.


"Nanti malam ke kamar Sherina. Sebentar, apa jangan-jangan ...." Vicky seketika terdiam, pikirannya juga sudah terbang keluar hingga menembus ke luar galaksi.


Sherina bilang ingin menunjukkan rasa terima kasih, dia juga bertanya soal warna kesukaanku. Jangan-jangan ... dia ingin menunjukkan pakaian tidur miliknya yang seksi seperti waktu itu! Dan selanjutnya, kami berdua akan melakukan itu ...


Tidak-tidak! Ini tidak benar! Sherina bukan orang yang seperti itu! Dia tidak mungkin menggunakan tubuhnya sebagai bayaran rasa terima kasih! Tapi ... kami ini kan suami istri, sebenarnya wajar saja melakukan hal itu.


"Sial, apa yang aku pikirkan?!" umpat Vicky pada dirinya sendiri.


Wajah Vicky sudah semerah tomat, terus membayangkan soal fantasi liar yang berkeliaran di pikirannya. Konsentrasinya pada pekerjaan seketika menjadi buyar, dia tidak bisa berpikir dengan jernih. Karena baik pikiran maupun hatinya, saat ini hanya mengingat soal Sherina.


***


Pukul 21:30 waktu setempat. Malam sudah semakin larut, Namun Vicky masih belum keluar dari kamarnya. Sejak dia selesai makan malam, dia terus berjalan mondar-mandir di dalam kamar dan masih memikirkan soal Sherina.

__ADS_1


"Sherina berpesan padaku datang ke kamarnya, tapi sebenarnya untuk apa? Gara-gara ini pikiranku sejak tadi tidak tenang! Bahkan dia juga tidak ikut makan malam. Sebenarnya apa yang dia siapkan? Apa dia sungguh akan menghadiahkan tubuhnya padaku?" gumam Vicky yang sedari tadi belum berhenti memusingkan hal ini.


"Sial, aku tidak bisa memikirkan hal lain! Jika aku tidak datang ke kamarnya, dia pasti akan marah lagi padaku! Pasti aku dianggap telah melupakan kata-katanya. Tapi, kalau aku datang ke kamarnya ... artinya aku harus bersiap-siap dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi!"


Tiba-tiba saja Vicky berhenti mondar-mandir. Lantas beralih menempelkan telapak tangannya di tembok, dia juga menundukkan kepalanya. Benar-benar menyedihkan berada di situasi dilema.


Astaga, Vicky! Berapa usiamu? Kau ini pria yang sudah berumur 28 tahun, kau seorang pria dewasa yang sudah matang! Kenapa pusing hanya karena diminta datang malam-malam ke kamar istrimu sendiri? Kau harusnya malu! Ayo tunjukkan kalau kau benar-benar seorang pria!


"Benar, aku ini pria dewasa! Masa bodoh dengan apa yang terjadi nanti!" ucap Vicky setelah berhasil memberikan sugesti pada dirinya sendiri. Kini, dia memantapkan diri untuk keluar dari kamar, berjalan menuju ke kamar Sherina yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan penuh percaya diri.


Namun, saat hendak mengetuk pintu kamar Sherina, tiba-tiba rasa gugup Vicky kembali. "Sial, aku ini payah sekali. Pokoknya seperti apa pun penampilan Sherina nanti saat dia menyambutku masuk, aku tidak boleh salah tingkah karena kaget! "


TOK TOK TOK!


"Sherina, ini aku! Bolehkah aku masuk?" tanya Vicky dengan jantung yang berdebar-debar.


"Ya, masuk saja! Aku sudah menunggumu!" Sherina menyahut dari dalam.


Vicky memantapkan diri, dia perlahan membuka pintu yang tak terkunci itu. Dia sedikit tenang karena tidak langsung disambut oleh Sherina, namun, saat dia melangkah lebih dalam lagi, dia melihat Sherina yang saat ini duduk di atas ranjang dengan kertas-kertas yang berserakan di sekelilingnya. Piama yang dipakai oleh Sherina juga tidak seperti yang dia bayangkan. Malam ini Sherina sangat tertutup.


"Aku sudah di sini," ucap Vicky yang diam-diam merasa kecewa. Percuma saja sejak siang tadi dia gugup sendiri, rupanya yang dia bayangkan tidak terjadi.


Sherina menoleh dan tersenyum. "Ah, baguslah! Tunggu sebentar, ya!" Mendadak dia turun dari ranjang, lalu beralih mengambil sesuatu dari dalam lemari. Dia mengambil sebuah kotak kado berukuran kecil. Lalu dia menyodorkan kotak itu pada Vicky.


"Ini untukmu, bukalah!" ucap Sherina dengan antusias. Dia tidak sabar melihat reaksi Vicky saat mengetahui hadiah yang dia berikan.


"Oke." Vicky mengangguk, kemudian perlahan membuka tutup dari kotak kado itu. Dia terkejut dan bertanya-tanya setelah melihat apa isinya. Ternyata isinya adalah dasi yang jumlahnya dua buah, yang satu berwarna hitam dan satunya lagi biru tua. "Astaga ... tadi siang kau bertanya soal warna, ternyata untuk ini!"


"B-bukan apa-apa!" jawab Vicky dengan wajah sedikit merona. Sungguh konyol karena dia telah membayangkan hal yang macam-macam.


"Emm ... Vicky, coba lihatlah di bagian belakang dasi itu!" pinta Sherina.


"Hm?" Vicky mengambil dari berwarna hitam, lalu membaliknya seperti yang istrinya minta. Dia sedikit terkejut saat melihat ada sebuah jahitan yang bertuliskan, 'Sherina' di sana. "Di sini ada namamu."


"Yahh ... aku sengaja membuatnya. Aku sendiri yang menjahit namaku di dasimu. Supaya ketika kau pakai dasi itu, namaku ada di dekat hatimu. T-tapi, kalau kau tidak mau pakai juga tidak apa-apa!" ucap Sherina malu-malu.


"Ini bagus, akan aku pakai! Warnanya juga warna kesukaanku, terima kasih Sherina. Aku menyukai hadiahmu," ucap Vicky dengan senyuman. Baru pertama kali ini dia mendapatkan hadiah yang romantis dan unik seperti ini.


"Syukurlah kalau kau suka ... Aku pikir kau pasti sudah punya banyak dasi dengan warna yang sama, jadi aku berikan namaku biar ada kesan berbeda," ucap Sherina dengan kedua pipi yang merona, dia sungguh tersipu saat Vicky berkata menyukai hadiahnya.


"Haha," Vicky tertawa kecil, akhirnya dia paham kenapa tadi istrinya ini tidak ikut makan malam. Rupanya sedang sibuk mempersiapkan kejutan untuknya. "Omong-omong ... kertas-kertas yang berserakan di kasurmu itu apa?"


"Ah, itu semua informasi yang berkaitan dengan Dream Glow Cosmetics. Aku mempelajari semua hal penting yang terjadi dalam satu tahun terakhir. Ada proyek yang macet, perubahan jabatan para eksekutif, juga—"


"Tunggu sebentar!" potong Vicky. "Kau mempelajarinya semuanya sejak tadi siang sampai larut seperti ini?" lanjutnya lagi.


"Emm ... iya, karena aku mau jadi pemimpin perusahaan yang baik."


"Haishh ...." Vicky menghela napas, mendadak dia mendekati kasur dan merapikan seluruh kertas-kertas itu. "Kau sendiri pernah bilang padaku. Kalau sudah malam itu istirahat, jangan lupa untuk juga kesehatan dengan istirahat yang cukup. Ini sudah malam, jadi lanjutkan saja besok! Aku yakin kalau kemampuanmu sudah cukup baik, hal semacam ini bisa dipahami secara bertahap."


Vicky lantas menaruh tumpukan kertas itu di atas nakas. Lalu dia kembali mendekat ke arah Sherina. "Istirahat, oke?"


"Iya," jawab Sherina dengan anggukan kepala. Dia senang karena Vicky juga memedulikan kesehatannya.

__ADS_1


"Bagus! Aku pergi dulu kalau begitu!" Vicky berbalik, namun tanpa sadar tiba-tiba saja dia berucap, "Aku kira malam ini aku akan tidur di sini."


"Eh? Barusan kau bilang ingin tidur di sini?" tanya Sherina yang samar-samar mendengar ucapan suaminya ini yang pelan.


Langkah kaki Vicky mendadak berhenti. Dia tersenyum canggung, merasa bodoh saat menyadari ucapannya tidak bisa dikendalikan. Jika dia mengelak dengan mengatakan Sherina salah dengar, dia takut justru akan menyinggung Sherina memiliki pendengaran yang buruk. "Ehmm ... kau mendengarnya, ya?"


"Iya, jadi kau sungguh mau tidur di kamarku?" tanya Sherina yang hampir salah tingkah.


"Begini, sebenarnya ... AC kamarku rusak! Malam ini cuacanya agak panas, jadi aku pikir aku bisa tidur di kamar lain. Kamarmu misalnya, haha ... kalau kau keberatan juga tidak apa-apa. Aku bisa tidur di kamar Velix," jawab Vicky dengan alasan palsu. Dia sungguh tidak mau jika Sherina salah paham padanya.


"O-ohh ... boleh, kok! Silakan saja kalau kau mau tidur di kamarku! Lagi pula ... ini kan rumahmu! Kau berhak tidur di mana pun!" Sherina kelabakan, dia lalu merapikan seprai dengan gerakan yang kaku. "Nah, silakan ... kau tidur saja di sini! Aku bisa tidur di sofa!"


"Jangan! Aku saja yang tidur di sofa, ini kan kamarmu! Jadi lebih baik kau saja yang tidur di kasur!"


"Tapi ini kan rumahmu! Aku mana mungkin bersikap kurang ajar ..." protes Sherina lagi.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita sama-sama tidur di kasur. Lagi pula kasurmu luas!"


"Eh?!"


Canggung, satu kata itu cukup untuk menggambarkan suasana saat ini. Pada akhirnya, Vicky dan Sherina sama-sama berbaring di atas kasur yang sama, namun dengan selimut yang berbeda. Mereka berdua saling memunggungi, sungguh situasi tidak wajar bila mengingat jika mereka ada pasangan suami istri.


"...." Vicky sungguh gugup. Sebenarnya dia ingin tahu apakah Sherina sudah tidur atau belum, akan tetapi dia tidak punya cukup keberanian untuk bertanya. Setelah dipikir-pikir, ini pertama kalinya dia tidur di ranjang yang sama dengan seorang wanita.


Sherina sudah tidur atau masih terjaga? Sejak tadi dia tidak bergerak. Sial, mana bisa aku tidur kalau terus gugup begini. Ini semua gara-gara mulut bodohku ini! Jika saja aku tidak mengungkap isi hatiku, tidak mungkin aku akan berada dalam situasi ini.


"...." Di satu sisi Sherina juga masih terjaga. Dia terus menatap ke arah jam weker yang menunjukkan waktu hampir 11 malam. Dia sama sekali belum mengantuk, merasa gugup dan waspada kepada suaminya ini.


Ini berbeda dari bayanganku. Aku kira setiap pria itu sama, akan bergerak kalau ada kesempatan. Tapi, sejak tadi Vicky hanya diam. Apa sebenarnya dia sudah tidur? Atau jangan-jangan ... dia tidak tertarik padaku? Tidak bisa begini terus! Aku harus memastikan! Aku punya sebuah cara untuk mengetes Vicky kalau dia ini pria atau bukan!


Tiba-tiba saja Sherina mendapatkan sebuah ide. Dia lalu berbalik, terdiam sejenak saat menatap punggung suaminya yang kokoh ini. Dia menelan ludah, memberanikan diri untuk bergeser mendekat dan melakukan aksinya.


"Eh?!" Vicky terkesiap, dia kaget karena tangan Sherina tiba-tiba melingkar di pinggangnya. "Sherina?" panggil Vicky, namun tak ada jawaban dari Sherina. Sepertinya Sherina sudah tidur, itulah yang ada di pikiran Vicky saat ini.


Jantungnya mendadak berdegup lebih cepat, dia sungguh merasakan gejolak aneh saat tangan Sherina menyentuh tubuhnya. Lalu, tiba-tiba saja dia berinisiatif untuk menyentuh tangan Sherina yang ada di perutnya. Tangan yang kurus dan kulit yang lembut.


"....?!" Sherina terkejut, namun secepat mungkin dia menutup matanya kembali dan lanjut pura-pura tidur. Dia melakukan apa pun demi membuat Vicky tertipu dengan aktingnya.


"Sepertinya Sherina benar-benar sudah tidur," gumam Vicky dengan sebuah senyuman kecil.


Benar-benar ceroboh sekali, seharusnya kau lebih berhati-hati Sherina! Pria tetaplah pria! Salahmu karena sudah berani memancingku!


Mendadak Vicky berbalik, dia melihat Sherina yang saat ini memejamkan mata. Sungguh penampilan tidur yang menggoda dan tanpa penjagaan. Perlahan tapi pasti, tangan Vicky meraih pipi Sherina. Dia mengusapnya dengan lembut, juga menyelipkan rambut yang terurai itu ke telinga. Dia ingin melihat wajah tidur Sherina yang polos, masih tetap cantik walaupun tanpa memakai make up. Semua dilakukan dengan hati-hati, bermaksud untuk tidak membangunkan istrinya yang sudah tertidur. Lalu, tanpa peringatan apa pun ...


CUP!


Sebuah ciuman tiba-tiba mendarat di kening Sherina. Sudah pasti Sherina kaget, dia sungguh tidak menyangka kalau Vicky akan menciumnya. Akan tetapi, dia masih kuat untuk memejamkan mata demi menyempurnakan akting pura-pura tidurnya.


"Kau beruntung karena ini aku. Jika pria lain, mungkin kau sudah habis. Untuk saat ini aku akan menahan diri, tapi aku tak yakin untuk lain kali." Vicky tersenyum, dia lantas membalas pelukan Sherina dan juga menutup matanya dengan nyaman.


"...." Sherina mengintip sedikit, dia merasa gugup sekaligus bahagia saat Vicky mendekapnya. Sungguh dekat, dia bahkan bisa merasakan debaran jantung milik suaminya ini.


Sial, aku hampir dibuat gila gara-gara ulahku sendiri! Ternyata benar, tidak baik bermain api. Sekarang justru aku yang terbakar!

__ADS_1


__ADS_2