Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Batasan di Antara Kita


__ADS_3

Karena begitu kaget, seketika Vicky memberhentikan mobilnya. Mobil para pengawal yang melaju di belakang pun juga ikut berhenti mendadak.


"Apa kau bilang?! Racun?!" tanya Vicky yang ingin memastikan jika telinganya tidak salah dengar.


"Iya, saat disekap di gudang tadi, aku dicekoki oleh racun oleh ibu tiriku. Sebagian sudah aku memuntahkan, tapi aku tidak begitu yakin sudah semuanya, mungkin saja ada beberapa tetes yang tertelan," jawab Sherina dengan nada gugup. Dia mulai mengkhawatirkan keselamatannya dan kondisi tubuhnya sendiri.


"Kau tidak bercanda, kan?!" tanya Vicky berusaha memastikan sekali lagi.


"Tidak Vicky, maaf karena baru mengatakannya sekarang. Tadi aku terlalu kaget saat kau menyelamatkanku, jadi sekilas melupakan hal ini," ucap Sherina dengan wajah menyesal.


"Baiklah, aku akan putar balik sekarang! Ibu tirimu itu pasti punya penawarnya!"


"Jangan! Sudah terlalu jauh kalau kita putar balik. Lagi pula, sekarang mereka pasti sudah marah sekali. Aku mengenal mereka, mereka pasti sudah mengamuk dan membuang penawar itu. Akan sia-sia saja kalau kita kembali ke sana!" cegah Sherina.


"Kalau begitu kita ke rumah sakit!" Vicky langsung menginjak gas dan melaju sekencang mungkin menuju ke rumah sakit terdekat. Nasib baik bahwa jarak ke rumah sakit pusat tak terlalu jauh dari tempatnya sekarang. Karena situasi yang sangat mendesak, Vicky juga menghubungi dokter yang kenalannya. Yaitu Aslan, dokter yang sebelumnya sudah pernah memeriksa kondisi Sherina.


Beruntung karena saat ini Aslan sedang tidak ada jadwal melakukan operasi. Begitu Vicky dan Sherina tiba di rumah sakit, mereka langsung dilayani secara khusus oleh Aslan. Dia segera menyuruh Sherina berbaring dan memeriksa keadaan tubuhnya.


Vicky yang saat ini melihat dari samping merasa harap-harap cemas. Dia berharap bahwa racun yang ada di tubuh istrinya bisa segera dinetralkan atau dikeluarkan. "Bagaimana? Apakah keadaannya buruk?" tanya Vicky begitu Aslan selesai memeriksa Sherina dengan stetoskop.


"Sebentar," jawab Aslan sambil membantu Sherina untuk duduk. "Vicky, satu hal yang harus kau tahu. Istrimu ini ... dia sangat sehat."


"Eh?! Kau bilang apa?! Tapi dia sudah menelan racun!" protes Vicky yang cukup terkejut dengan hasil yang Aslan katakan.


"Lihatlah dengan matamu sendiri, istrimu sekarang masih sadar. Apa dia terlihat sekarat seperti habis keracunan? Apa ada busa yang keluar dari mulutnya? Apa dia kejang-kejang? Tidak, kan?" tanya Aslan yang merasa sedikit kesal karena Vicky meragukan hasil pemeriksaannya.


"Tapi Dokter ... aku bersumpah kalau tadinya aku dicekoki oleh racun. Cairan yang aku rasakan juga sangat pahit dan sedikit berbau, aku mengalami siksaan yang buruk. Aku sungguh tidak mengada-ada, buktinya bekas memar di wajahku. Aku mendapatkan luka ini sebelum aku dicekoki oleh racun, orang yang melakukan ini padaku bilang kalau racun ini akan membunuhku perlahan-lahan," jelas Sherina yang tak mau dianggap sebagai penipu.


"Apa kau merasa ada yang salah pada tubuhmu? Misalnya nyeri, sakit kepala, merasa lemas, mual, sakit perut, atau menggigil?" tanya Aslan pada Sherina dengan tatapan serius.


"Ehmm ... tidak ada," jawab Sherina sambil menggeleng kepala. Dia sendiri pun juga merasa aneh karena tidak merasakan ada sesuatu yang salah pada tubuhnya.


"Aku juga sudah memeriksa kalau detak jantung dan pernapasanmu semuanya normal. Jika seperti ini, kau sama sekali tidak tampak seperti orang yang habis keracunan. Begini saja, saat kau dicekoki racun, orang itu bilang jenis racunnya padamu, tidak? Jika dia sempat mengatakannya, aku akan bisa memberikan antidot yang tepat."


"Dia tidak pernah mengatakan apa jenis racun itu," ucap Sherina dengan tatapan menunduk.


"Sherina," panggil Vicky tiba-tiba.

__ADS_1


"Ya?" Seketika Sherina kembali mendongak dan menatap Vicky.


"Aslan sudah berkata kalau tidak ada yang salah pada tubuhmu, mungkin saja kau benar-benar tidak keracunan. Lagi pula, tidak menutup kemungkinan kalau ibu tirimu itu hanya ingin menakut-nakutimu. Mungkin dia bertujuan supaya kau tidak bisa hidup dengan tenang dan terus gelisah."


Sejenak Sherina membisu, apa yang Vicky ucapkan memang pendapat yang masuk akal. "Mungkin kau benar, Vicky. Hanya saja ... tadi itu terkesan memaksa sekali, dia berusaha mati-matian supaya cairan aneh itu masuk ke mulutku. Bahkan, dia juga mengelap tangannya sendiri yang sempat terkena racun. Dia itu orang yang sejak dulu ingin aku tiada. Jadi aku pikir, yang aku minum itu benar-benar adalah racun."


"Ehem! Dari penjelasmu barusan, aku sudah bisa mengerti gambaran jelasnya." Aslan menyela.


"Apa kau ada solusi?" tanya Vicky dengan tatapan yang menunggu kepastian.


"Ya, aku sudah memikirkan sebuah solusi. Pertama, Sherina harus melepaskan baju!"


"Hei, apa maksudmu?!" bentak Vicky yang seketika melotot pada Aslan. Sherina pun juga syok dengan permintaan Aslan barusan.


"Astaga, ini bukan seperti yang kau pikirkan! Tidak mungkin aku macam-macam pada istri temanku sendiri, aku bukan orang serendah itu!" bantah Aslan yang tak mau kedua orang ini salah paham padanya.


"Lalu? Jelaskan mengapa kau ingin istriku melepas baju!"


"Kau lihatlah bagian di bawah kerahnya, baju istrimu terlihat basah. Aku menduga kalau itu disebabkan olah cairan racun yang tumpah saat Sherina memberontak. Apa dugaanku benar?" tanya Aslan pada Sherina. Dan kemudian Sherina membalas dengan anggukan kepala.


"Nah! Karena kita tidak tahu pasti jenis racun macam apa itu. Aku mau meneliti sisa racun yang tertinggal bajumu. Dan untuk bisa menelitinya di laboratorium, maka bajumu harus dilepas. Tapi ...," ucapan Aslan terhenti sejenak, dia melirik ke arah Vicky dengan tatapan mengejek. "Suamimu ini rupanya salah sangka, dia cemburu~"


"Ya sudah, kalau begitu aku akan melepas baju." Sherina menunduk, dia meraih kancing bajunya dan hendak melepaskan satu per satu. Namun, tiba-tiba saja Vicky melesat maju. Berdiri di antara Aslan dan Sherina.


"Hadap sana! Cepat balik badan! Jangan lihat-lihat istri orang!" titah Vicky dengan tatapan garangnya.


"Haiss ... baiklah." Aslan menghela napas, dia benar-benar malas berdebat dengan temannya yang satu ini. Dia berbalik badan dan menuruti kemauan Vicky. Padahal, dia yang sebenarnya adalah dokter spesialis bedah, sudah tak terhitung lagi melihat bagian-bagian tubuh pasiennya. Meskipun kali ini dia juga menganggap Sherina sebagai pasien, dia tetap mengalah demi menghindari kegaduhan yang Vicky perbuat.


"...." Diam-diam Sherina tersenyum, dia sedikit merasa lucu menyaksikan Vicky bertingkah sampai seperti ini untuknya. Dan setelah Sherina selesai melepaskan bajunya, Vicky langsung menyodorkan jas miliknya supaya dipakai oleh Sherina.


"Terima kasih," ucap Sherina dengan senyuman.


"Bukan apa-apa!" jawab Vicky dengan nada sedikit ketus, dia merasa malu pada dirinya sendiri karena sudah melakukan hal ini. "Ini, kau sudah bisa bawa baju Sherina ke laboratorium!"


"Hahaha ... baiklah." Aslan menerima baju itu sambil tertawa. Dia bisa tahu kalau temannya yang satu ini sepertinya masih polos, walaupun sekarang dia sudah cukup lama menikah.


"Apa yang kau tertawakan?!" bentak Vicky lagi.

__ADS_1


"Tidak ada," jawab Aslan yang masih tersenyum meringis. "Oh iya, sebelum aku pergi, aku perlu menjelaskan beberapa hal lagi. Untuk pencegahan, nanti aku akan memberikan Sherina obat karbon aktif, obat ini akan bekerja dengan menyerap zat beracun. Meskipun tak semua jenis racun bisa diserap, tapi tindakan ini sudah cukup untuk sekarang."


"Dan satu hal lagi, nanti akan ada perawat yang datang ke sini untuk mengobati luka memar di tubuhmu. Sekalian mengambil sampel darah dan urine untuk diperiksa juga di laboratorium. Berdiam dirilah di sini untuk sementara waktu, jika kau tidak merasakan efek atau gejala lain, kau diperbolehkan pulang."


"Dokter, kira-kira kapan hasil laboratorium akan keluar?" tanya Sherina penasaran.


"Akan aku usahakan secepatnya, nanti kalau hasilnya sudah keluar, aku akan menghubungi suamimu untuk mengambil hasil tesnya." Aslan lalu melangkah pergi, tetapi selangkah sebelum dia keluar, tiba-tiba saja dia menoleh ke belakang dan berkata, "Aku akan pergi~ Sekarang kau bisa menikmati waktu bersama istrimu~"


"Aslan! Kau ... dasar dokter kurang ajar!!" teriak Vicky yang wajahnya sudah semerah kepiting rebus.


Kini, Vicky terus menghindari bertatapan mata secara langsung dengan Sherina. Akibat ulah Aslan, kini dia merasa canggung untuk melakukan segala hal. Untung saja tak lama kemudian datang 2 orang perawat yang memecah suasana canggung ini, kedua perawat ini melakukan seperti apa yang sudah Aslan sampaikan tadi.


Setelah kedua perawat itu pergi, tiba-tiba saja Vicky ikut duduk di atas brankar bersebelahan dengan Sherina. Dengan ekspresi sedikit gugup, dia pun berkata, "Ehmm ... bagaimana perasaanmu sekarang?"


"Aku baik-baik saja. Untunglah racun yang aku minum bukan racun berbahaya seperti sianida. Dan ... aku ingin meminta maaf. Sebelumnya aku panik berlebihan, maaf sudah menyusahkanmu ..." ucap Sherina dengan suara lirih. Dia merasa malu karena sudah bersikap seperti ini, dan rupanya tak terjadi hal serius padanya. Jauh di lubuk hatinya juga ada rasa bersalah, karena menurutnya dia sudah membuang-buang waktu Vicky yang sangat berharga.


Sejenak Vicky tertegun, lalu tiba-tiba menggenggam sebelah tangan Sherina dengan lembut. "Sudahlah, kau tak perlu meminta maaf. Kau itu istriku, jadi kau tak perlu merasa telah menyusahkan aku. Aku ini suamimu, Sherina. Sudah jadi tugasku untuk menjagamu."


"Tugas?" Mendadak Sherina menarik tangannya yang digenggam oleh Vicky. Dia juga memalingkan muka ke samping. "Vicky, jangan seperti ini ... melanggar batasan, itu tidak baik. Sebelum menikah, kita sudah membuat kesepakatan untuk saling tidak ikut campur urusan masing-masing, juga tak perlu menjalankan tugas dan kewajiban kita sebagai suami istri."


"A-aku berkata seperti ini bukan karena tidak menghargaimu. Aku cuma berusaha tetap sadar diri. Tujuan pernikahan kita itu semata-mata demi menghindari kutukan, aku menikah denganmu sekadar untuk menggantikan Cleo. Semua orang sudah tahu soal ini, aku masuk ke kehidupanmu hanya sebatas sebagai seorang tumbal. Akan tetapi, kau sudah terlalu baik pada tumbal ini ... hutang budiku padamu sudah terlalu banyak."


"Cukup, Sherina!" bentak Vicky yang seketika membuat Sherina kaget sampai menoleh ke arahnya. Dia memegang kedua pundak wanita ini dengan kuat, juga menatap lekat-lekat manik mata berwarna amber yang indah ini.


"Mari kita akhiri kesepakatan itu sekarang juga! Aku sudah muak dengan semua batasan ini!"


"Vi-Vicky ... apa yang—"


"Ssttt ...! Diam! Biarkan aku bicara!" potong Vicky seraya menempel jarinya di bibir Sherina.


"Sherina, terserah kalau kau mau menganggapku orang yang egois atau bersikap seenaknya. Aku akui kalau aku sendiri yang membuat kesepakatan itu, awalnya aku pikir kalau kesepakatan itu akan membuatku merasa lebih nyaman. Akan tetapi, sekarang aku merasa terkekang olehnya."


"Aku membuat kesepakatan itu sebelum aku mengenalmu, dan sekarang ... setelah aku mengenalmu, aku merasa ingin mengenalmu lebih dalam lagi. Akan tetapi, setiap kali aku mendekat padamu, kau selalu mundur karena kesepakatan itu. Kau tidak salah, Sherina. Akulah yang salah. Jadi, aku ingin meniadakan kesepakatan itu."


"Aku ingin kita tak jadi orang asing lagi. Aku tak mau kau menganggap rasa peduliku sebagai hutang budi. Aku menyesal sudah membuat kesepakatan itu. Gara-gara itu, kau jadi membatasi diri dan selalu merahasiakan setiap urusanmu dariku. Aku bukannya ingin sok mencampuri urusanmu, tentu saja kau berhak mempunyai rahasia. Hanya saja ... aku ingin kau lebih terbuka padaku. Aku ingin membantumu selagi aku bisa membantu."


"Sherina, izinkan aku masuk ke dalam kehidupanmu. Maka aku juga akan menyambutmu masuk ke kehidupanku. Mulai sekarang, jangan lagi ada batasan di antara kita. Kesepakatan ini, kita akhiri saja, ya?"

__ADS_1


"...." Sherina diam seribu bahasa. Dia masih tak menyangka bahwa semua kata-kata itu keluar dari mulut Vicky, terlebih lagi diucapkan dengan penuh kesungguhan. Mendadak dia tersenyum, menyingkirkan jari Vicky dari bibirnya dan bergeser maju.


CUP!


__ADS_2