
"Hahaha, tadi kak Vicky sangat lucu!" ucap Velix yang tawanya menggema di seluruh ruangan.
Saat ini mereka sudah pulang ke kediaman. Berjalan bersama dengan langkah kaki yang dipenuhi oleh perasaan riang bahagia. Namun, ada sesuatu yang sudah mencegat mereka. Ariana sudah menanti-nanti kedatangan mereka semua dengan duduk di sofa yang berada di ruangan utama.
"Wah-wah ... rupanya kalian sudah kembali, sepertinya bahagia sekali?" tanya Ariana dengan nada menyindir. Dia sungguh kesal karena melihat kebahagiaan yang dialami Sherina. Dan dia belum tahu soal apa saja peristiwa besar yang terjadi hari ini.
"Kami baru kembali dari makan malam di luar, Ibu," jawab Vicky dengan raut muka datar. Dia tak mau ibunya ini marah karena diabaikan, alhasil dia terpaksa meladeninya.
"Yaa ... tentu saja aku tahu itu. Makan malam di luar tanpa mengajakku, sepertinya kalian sengaja menjauhkan diri dariku," sungut Ariana sambil menatap tajam ke arah Velix. Karena dia yakin betul jika ini ulah dari putra kecilnya ini.
"Kenapa Ibu menatapku?" tanya Velix dengan sorot mata gugup. Padahal dia tidak salah apa-apa, namun dia tetap merasa ketakutan. Secara refleks dia bersembunyi di belakang punggung Sherina.
"Cukup, Ibu! Jangan salahkan Velix! Aku yang mengajak untuk makan malam di luar. Lagi pula yang kami makan juga tidak jauh berbeda dari hidangan yang dimasak koki kediaman, perlukah Ibu marah hanya karena hal sepele semacam ini?" tanya Vicky yang merasa tidak habis pikir dengan ibunya yang semakin lama terkesan suka mencari-cari kesalahan.
"Sepele katamu? Ini bukan soal makanan! Tapi sikap kurang ajar kalian! Padahal kalian berdua ini anak-anakku, aku yang selama ini merawat dan membesarkan kalian! Tapi sekarang, kalian justru seperti mengasingkan diri dariku! Dan malah selalu membela Sherina di atas segalanya!" bentak Ariana yang seakan mengalami ketidakadilan.
"Berhenti menyalahkan orang lain! Bukan kami yang mengasingkan diri dari Ibu! Tapi, Ibu sendiri yang menjauh dari kami! Haruskah gara-gara membela Cleo, Ibu jadi selalu bertentangan dengan kami? Kalau Ibu sangat suka padanya, jadikan saja Cleo sebagai anak angkat Ibu! Jangan paksa aku lagi untuk menikahinya!" balas Vicky dengan nada bicara yang tak kalah tinggi.
"Sherina, Velix, ayo pergi! Kita tak perlu meladeni Ibu lagi!" Vicky segera menggandeng istri dan adiknya untuk bergegas melewati ruang utama. Sungguh sebuah sambutan yang buruk dari ibu mereka.
Di satu sisi Ariana masih menahan amarah dalam diam. Sekarang, dia benar-benar merasa jika sudah kehilangan kendali pada kedua putranya itu. Semakin jauh, dan semakin menjadi pembangkang. Akan tetapi, dia masih berdiam diri di tempat dan berpikir. Sebuah kalimat yang Vicky ucapkan telah membuatnya tertegun.
"Ada apa ini?" gumam Ariana dengan dahi yang mengerut.
Aku dengar jelas kalau Vicky melarangku untuk memaksanya menikahi Cleo. Sebenarnya kenapa ini? Apa jangan-jangan Vicky sudah tidak tertarik pada Cleo lagi? Sial, tidak bisa begini. Kalau aku kehilangan Cleo sebagai bonekaku, aku harus cepat-cepat mencari boneka lain! Karena aku harus membuktikan bahwa kutukan itu benar! Aku harus melakukan cara apa pun supaya Sherina tewas tanpa menimbulkan kecurigaan yang mengarah padaku! Jika membiarkan Sherina hidup lebih lama lagi. Takutnya rahasia besarku akan terbongkar.
***
"Nona! Nona Cleopatra! Tolong buka pintunya!" ucap manajer baru Cleo yang belum lama ditunjuk oleh agensi untuk menggantikan Adam. Saat ini dia sedang berusaha sangat keras untuk membujuk Cleo keluar dari kamar. Sudah dua hari dia begini, terus mengurung diri di dalam kamar dan tak mau bertemu dengan siapa-siapa.
"Nona, keluar dan makanlah! Jika terus seperti ini maka Nona akan sakit!" teriaknya yang semakin khawatir. Melaporkan hal ini pada kedua orang tua Cleo pun percuma, karena mereka berdua saat ini sudah menetap sebagai warga negara asing. Akan susah jika memohon mereka untuk kemari, jika hanya demi membujuk anak keluar dari kamar.
Kedua orang tua Cleo tepatnya adalah warga negara Amerika, karena ayah kandung Cleo adalah orang asli sana. Hal ini menjadi salah satu sebab mengapa Cleo menjadi model yang populer, fisik dan darah campuran yang dia miliki menambah kecantikan yang unik pada dirinya..
"Ayolah, Nona! Tolong jangan mempersulit saya! Putus cinta bukan akhir dari segalanya!" teriaknya yang sudah hampir menyerah untuk membujuk Cleo.
Dia tak lagi berteriak. Sudah lelah mengeluarkan tenaganya demi membujuk model yang sudah terkenal sombong di seluruh agensi. Akan tetapi, tiba-tiba saja pintu kamar itu terbuka. Tampak Cleo yang melotot dengan wajahnya yang pucat pasi. Sungguh mirip dengan penampakan hantu di siang bolong, jika orang yang tidak tahu pasti akan lari.
"S-syukurlah Nona sudah keluar. Saya sudah siapkan makanan untuk Nona. Mari pulihkan diri lebih du—"
"Sebentar, kau tadi bilang apa? Sebelum ini, kau bilang apa?!" potong Cleo yang masih dalam keadaan dipenuhi amarah.
"Yang ... putus cinta bukan akhir dari segalanya?"
"Benar! Kau benar! Vicky hanya memutuskan hubungan denganku secara sepihak! Aku masih ada harapan! Masih ada mama Ariana yang akan membelaku! Aku harus ke sana sekarang juga!"
"Tunggu sebentar! Nona mau ke mana?!" tanya sang manajer seraya menahan tangan Cleo.
"Lepas! Aku mau pergi ke kediaman Bashara untuk mencari keadilan!" bentak Cleo dengan tatapan menusuk. Seketika manajer barunya ini melepaskan genggaman tangannya dan membiarkan Cleo pergi begitu saja.
Tanpa memedulikan penampilannya yang masih berantakan, Cleo mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk secepatnya tiba di kediaman Bashara. Sekarang masih siang, dia tahu betul kalau saat ini Vicky pasti tak berada di kediaman, dan sekarang Ariana yang jadi penguasa tempat ini. Situasi yang sangat tepat untuk dia mengadu atas rasa tidak adil dan kecewa yang dia alami.
"Mama! Mama Ariana!" teriak Cleo sekencang mungkin.
__ADS_1
"Eh? Cleo? Ada apa?" tanya Ariana kebingungan.
"Mama ...." Tangis Cleo pecah. Dia juga memeluk Ariana dengan erat. Mirip seperti anak kecil ketika mengadu ke ibunya.
"A-ada apa, Cleo? Jelaskan padaku ada apa? Apa yang terjadi padamu?" tanya Ariana yang semakin dibuat bingung.
"Mama, pokoknya Mama Ariana harus membantuku. Cuma Mama harapan terakhir yang aku punya. Vicky ... dia ... dia sudah memutuskan hubungan denganku! Dan semua ini ... Vicky bilang kalau semua ini karena Sherina! Dia sudah merebut Vicky dariku, Ma ... harusnya tidak boleh seperti ini! Sherina itu cuma penggantiku, kenapa dia harus merebut segalanya dariku ...." rengek Cleo dengan isak tangisnya.
"Apa?! Vicky putus darimu gara-gara Sherina?! Memang dasar kurang ajar!" Ariana tak menyangka jika apa yang dia takutkan benar-benar terjadi. Menantu yang dia benci itu ternyata telah meluluhkan hati putranya.
"Mama Ariana sudah pernah berjanji padaku, kalau aku akan jadi menantu terbaik Mama ... tapi, Vicky malah seperti ini padaku. Aku mohon padamu, Ma ... tolong bujuk Vicky. Asalkan Sherina tidak ada di sini, Vicky pasti akan kembali padaku lagi! Sherina itu pengaruh buruk! Dia tidak boleh berada di keluarga Bashara lebih lama lagi! Jika Sherina terus berada di sini. Takutnya ... Vicky juga akan tidak menganggap Mama lagi. Sekarang saja Vicky sudah membuangku, jangan sampai hal yang sama terjadi pada Mama Ariana ...." ucap Cleo dengan wajah memelas. Benar-benar bersikap menyedihkan supaya Ariana menjadi simpati padanya.
"Kau benar, Cleo. Semakin lama Sherina itu menjadi ancaman bagiku! Aku tidak bisa membiarkan ini begitu saja!" sungut Ariana yang termakan oleh bujukan dan hasutan Cleo.
Secara kebetulan, saat ini juga Sherina pulang ke kediaman. Dia baru saja selesai pulang dari mengantar Velix yang mengikuti summer camp selama 2 minggu ke depan.
"Berhenti di sana! Kau datang di waktu yang tepat!" teriak Ariana sambil menuding ke arah Sherina.
"Hm?" Langkah kaki Sherina terhenti. Dia kaget karena mendadak diteriaki oleh ibu mertuanya ini. Sebelumnya dia bingung karena belum tahu apa kesalahannya. Namun, saat menyadari ada kehadiran Cleo di sana. Sherina akhirnya paham dengan sendirinya tentang alasan mengapa Ariana mengamuk tiba-tiba .
"Kenapa berteriak padaku? Apa Ibu sengaja mencari masalah denganku?" tanya Sherina dengan nada malas. Dia sungguh tidak berselera untuk memulai keributan di siang hari ini.
"Dasar tidak tahu sopan santun! Aku berteriak padamu karena ada hal penting yang ingin aku katakan! Tapi kau malah bersikap begini padaku!" bentak Ariana yang amarahnya hampir mencapai puncak.
"Hal penting seperti apa? Dan Ibu tidak perlu berteriak-teriak, aku ini tidak tuli," ucap Sherina penuh penekanan.
"K-kau ...." Tubuh Ariana gemetar karena kesal. Kini, dia sudah tidak mampu lagi untuk menahan diri. "Kau sudah melewati batas! Kau datang ke rumah ini untuk menjadi pengantin pengganti! Tapi sekarang kau sudah semakin tidak tahu diri! Kau menyingkirkan orang yang harusnya menempati posisimu! Dan kau bahkan tidak menghormatiku lagi sebagai nyonya besar kediaman ini maupun sebagai ibu mertuamu! Sekarang juga, aku mengusirmu dari kediaman ini! Kau tidak boleh menginjakkan kaki lagi di kediaman Bashara!"
Sherina diam seribu bahasa ketika mendengar Ariana yang statusnya sebagai Nyonya Besar mengusirnya keluar dari kediaman. Namun, hal ini sama sekali tidak mengguncangkan mental Sherina. Karena sejak awal, dia sudah mempersiapkan diri jika kemungkinan ini akan datang.
Tiba-tiba saja Sherina beralih menatap ke arah Cleo. "Kau bisa berpuas diri sekarang! Tapi kita lihat saja siapa yang akan tertawa di akhir nanti!"
Tanpa membuang waktu lebih banyak lagi, Sherina berbalik dan bergegas pergi melewati pintu utama. Dia sama sekali tidak menoleh ke belakang. Seolah-olah tak ada sedikit pun rasa keberatan untuk meninggalkan kediaman yang megah ini.
"Huh! Akhirnya dia pergi juga!" Ariana mendengus kesal, terus memelototi punggung Sherina hingga tak tampak lagi.
"Terima kasih, Mama Ariana! Aku tahu kalau Mama pasti berada di pihakku!" ucap Cleo dengan senyum kepuasan.
"Ini bukan apa-apa, Cleo. Sherina pergi dari rumah ini hanya langkah awal saja. Untuk selanjutnya, kau berusahalah untuk mendapatkan hati Vicky lagi. Buatlah dia jatuh cinta padamu sekali lagi. Buktikan pada putraku itu bahwa kaulah yang terbaik untuknya!"
"Baik, aku pasti akan membuat Vicky mencintaiku lagi," ucap Cleo lagi yang hatinya semakin bahagia.
Baguslah sekarang Sherina sudah pergi. Jika saja aku tahu akan begini mudah, harusnya sejak awal aku meminta Mama Ariana untuk mengusir Sherina. Dengan perginya Sherina, maka tidak akan ada lagi yang menghalangi Vicky bersamaku! Aku akan lebih leluasa untuk mendekati Vicky lagi!
***
KLAP!
Vicky menutup pintu mobilnya. Seperti biasanya rasa lelah melanda selepas dari bekerja. Sama dengan hari-hari sebelumnya, dia selalu sibuk dan berharap untuk secepatnya melepas penat begitu sampai di rumah.
Begitu melangkah masuk ke dalam kediaman. Vicky merasakan ada sebuah keanehan. Yang mana semua pelayan yang berpapasan dengannya langsung bersikap gugup. Padahal dia sama sekali tidak melakukan apa-apa kepada mereka. Namun, karena rasa lelahnya, dia mengabaikan itu semua.
Beristirahat sejenak lalu membersihkan diri, hal itu sudah menjadi rutinitas Vicky setiap harinya. Dia masih menganggap keheningan ini wajar. Pikirnya, Velix tidak ada, rumah menjadi hening adalah hal yang sudah lumrah. Hingga tibalah saatnya makan malam, belum sempat dia duduk, dia sangat terkejut karena di meja makan itu sudah ada Cleo yang turut hadir bersama dengan Ariana.
__ADS_1
"Cleo?! Kenapa kau di sini?! Bukannya aku sudah mengatakan dengan jelas kalau sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi di antara kita?!" tanya Vicky dengan sorot mata yang menusuk.
"Ibu yang mengundang Cleo kemari," sahut Ariana yang mewakili Cleo menjawab.
"Apa?! Ibu ini yang benar saja! Untuk apa mengundang Cleo kemari?!" protes Vicky yang sungguh tidak terima ketika ibunya lagi-lagi berbuat seenaknya.
"Untuk apa? Tentu saja untuk membuatmu sadar. Kau itu sudah terlalu sering bergaul dengan Sherina, jadi matamu dibutakan oleh dia. Cleo ini jelas-jelas wanita yang paling cocok untukmu. Bahkan sebelum ayahmu meninggal, dia juga merestui hubungan kalian," jawab Ariana dengan enteng.
"Jangan bawa-bawa ayah yang sudah lama tiada! Ayah merestui kami karena ayah belum tahu yang sebenarnya. Dan aku tidak buta karena Sherina, justru dia yang membuka mataku! Selama ini aku baru sadar kalau orang yang sebelumnya aku cintai ternyata punya hati yang busuk!"
Cleo tersentak, kata-kata Vicky barusan sungguh menyayat perasaannya. "Vicky ... hatiku sepenuhnya mencintaimu, bagaimana kau bisa mengatakan kalau hatiku busuk?"
"Huh! Berhenti bilang kalau kau mencintaiku! Ini bukan cinta, tapi obsesi! Kau tak harus menikah denganku! Masih ada banyak pria lain di luar sana! Aku sama sekali tidak melarangmu jika kau punya pacar baru! Kita bisa hidup sendiri-sendiri!" Vicky melengos, dia sudah tak punya selera lagi untuk makan.
"Ibu yang mengundang Cleo untuk makan malam di sini, kan? Kalau begitu nikmati saja semuanya bersama dia! Aku tidak sudi kalau harus makan sambil melihat wajahnya! Bisa-bisa aku muntah!"
"Vicky! Tunggu!" teriak Ariana sambil menggebrak meja makan. Akan tetapi, tekad Vicky sudah bulat untuk segera pergi dari sana.
Suasana hati Vicky dipenuhi oleh kekesalan. Di saat seperti ini dia beralih untuk mencari Sherina di kamarnya. Namun, setelah berulang kali Vicky mengetuk pintu tetap tidak ada jawaban dari Sherina.
"Ini belum terlalu malam, tidak mungkin kalau Sherina sudah tidur!" gumam Vicky yang mulai sedikit cemas. Dia memutuskan untuk membuka pintu itu, dan ternyata benar kalau pintunya tidak terkunci.
Vicky segera berlari masuk, dia berteriak-teriak memanggil nama Sherina, dan hasilnya masih saja sama. Vicky tak bisa menemukan keberadaan Sherina di kamarnya, dia lantas bertanya kepada setiap pelayan kediaman yang dia temui. Akan tetapi semuanya tak menjawab, hanya tertunduk dan tak memberikan penjelasan yang berarti bagi Vicky.
Terpaksa Vicky beralih mencari Paman Will, karena dia tahu bahwa kepala pelayan tidak akan mungkin berani menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Saat hendak mendatangi paviliun yang jadi tempat tinggal para pelayan, di tengah jalan Vicky terhenti. Dia melihat Paman Will yang saat ini sedang berdiri melakukan sesuatu yang tidak jelas di samping tumbuhan pagar.
"Apa yang Paman Will lakukan di sini?" tanya Vicky yang membuat Paman Will terperanjat.
"T-Tuan Vicky?! Saya ... sedang menghitung daun," jawab Paman Will tidak bertenaga.
"Apa?! Hal konyol macam apa itu?! Pasti ibuku yang menyuruhmu, kan?!" tanya Vicky, dan Paman Will menjawabnya dengan anggukan kepala. "Ini pasti karena ibuku tidak mau Paman Will menyampaikan hal penting padaku. Aku sudah bertanya pada pelayan yang lain, tapi semuanya tidak tahu dengan apa yang terjadi pada Sherina. Padahal jelas-jelas hari ini Sherina tidak datang ke kantornya. Paman Will tahu sesuatu, kan?"
"Iya, Tuan. Saya memang tahu. Nyonya Sherina tidak ada di kediaman karena beliau angkat kaki dari kediaman ini. Tadi siang, nyonya besar mengusirnya setelah perdebatan yang melibatkan Nona Cleo," jawab Paman Will dengan suaranya yang terdengar serak.
Seketika kedua mata Vicky membulat sempurna. "Ibu mengusir Sherina?! Sial, ibu benar-benar sudah kelewatan!"
"Benar, Tuan. Itu semua yang saya tahu ...."
"Terima kasih informasinya, dan sebaiknya Paman Will istirahat saja lebih awal. Jangan sampai terkena flu karena terlalu lama kena angin malam."
Dengan langkah yang terburu-buru, Vicky kembali menuju ke ruang makan tempat di mana ibunya berada. Dia sungguh tidak bisa menahan emosinya saat mengetahui bahwa istrinya telah diusir dari kediaman.
"Ibu! Apa benar Ibu mengusir Sherina?!"
"Ya, terus kenapa?" tanya Ariana tanpa rasa bersalah.
"Kenapa Ibu melakukannya?! Memangnya Sherina sudah berbuat salah apa?!" protes Vicky lagi.
"Dia tidak berbuat salah, ibu cuma merasa kalau dia tidak pantas berada di kediaman Bashara lagi. Kehadirannya itu mengotori tempat ini."
"A-apa?!" Vicky terperangah, dia sungguh tidak terima dengan jawaban ibunya barusan. "Baiklah! Kalau Sherina tidak pantas berada di sini, maka aku juga! Jika ibu tidak bisa menerima kehadiran istriku, maka aku juga akan pergi dari sini! Selamat tinggal!" teriak Vicky yang kemudian segera menjauh.
"Vicky! Jangan pergi! Kau ini anak ibu! Kau tidak boleh meninggalkan ibu hanya demi mengejar wanita itu!" cegah Ariana yang percuma saja. Tak peduli sekeras apa pun dia mencoba menghalangi Vicky, dia tidak mampu melakukannya.
__ADS_1
"Vicky!!!" Ariana semakin menggila. Rupanya sudah terlambat, dia sudah terlalu jauh untuk mengejar mobil Vicky yang melaju kencang meninggalkan kediaman.