Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Pengorbanan


__ADS_3

Kini, bukti yang berada di tangan Vicky sudah menunjukkan kebenaran yang sangat jelas. Orang yang menyuruh dan menjadi atasan palaku adalah manajernya Cleo. Baik Vicky ataupun Sherina, mereka berdua sama-sama bisa menyimpulkan jika ini adalah rencana yang memiliki sangkut pautnya dengan Cleo.


Sherina tidak kaget lagi jika memang motifnya seperti ini. Karena dia tahu betul sebesar apa kebencian yang Cleo punya kepada dirinya. Berbeda halnya dengan Vicky, dia cukup syok. Selama 5 tahun lebih menjalin hubungan, tak pernah sekalipun dia mengira jika Cleo bisa sejahat ini.


"Jadi, Tuan dan Nyonya mengenal orang itu? Bisakah ceritakan lebih rinci lagi? Supaya kami bisa membuat surat perintah penangkapan dan penyelidikan untuknya!" ucap Polisi yang memecah kesunyian.


"B-baik Pak," ucap Vicky sedikit gugup. Mau tidak mau, Vicky harus memberikan penjelasan soal manajer beserta kekasihnya sendiri yang terduga terlibat.


Vicky adalah orang yang jujur dan patuh pada hukum, tentu saja dia lebih memilih untuk bekerja sama dengan polisi daripada melindungi Cleo. Dengan begini, dia juga bisa tahu bagaimana karakter asli kekasihnya itu. Musibah kali ini benar-benar termasuk tindakan kriminal, tentu saja Vicky bertekad untuk mengusut kasus ini sampai tuntas lewat jalur hukum.


Lalu, di tengah-tengah itu mendadak datanglah seseorang yang mengaku sebagai kuasa hukum Satya. Dia di sini untuk mengusut kasus dan menagih pertanggung jawaban untuk kliennya. Yakni Sofia yang menjadi korban utama. Kedatangannya tak memberikan kesan apa pun bagi Vicky atau Sherina.


"Bisakah Tuan Vicky menelepon tersangka dan menanyakan lokasinya? Supaya kami bisa mengurus mereka secepatnya!" pinta Polisi dengan nada sopan.


"Bisa, tolong tunggu sebentar," jawab Vicky. Dia segera beralih untuk menghubungi nomor kekasihnya. Karena dia tahu, di mana pun Cleo berada, pasti akan ditemani oleh manajernya.


Hanya butuh kurang dari 5 detik panggilan itu diangkat. Sepertinya Cleo memang sangat mengharapkan dihubungi olehnya. "Honey! Ada apa tiba-tiba menghubungiku? Apa kau rindu padaku?" tanya Cleo dengan nada manja.


"Ehmm ... ya, sedikit," jawab Vicky dengan suara pelan. Dia juga melirik ke arah Sherina yang memandangnya dengan tatapan masam. "Kau sekarang ada di mana?" lanjutnya lagi.


"Aku sedang berada di Blue Rose Hall, sebentar lagi aku mau melakukan fashion show. Apa kau mau ke sini untuk melihatku? Aku yakin kalau berangkat sekarang pasti masih sempat, soalnya aku masih berhias!" ucap Cleo yang suaranya terdengar sangat antusias. Sama sekali tak punya firasat bahwa hal buruk akan segera terjadi padanya.


"Oke, kalau begitu sampai jumpa nanti!" ucap Vicky buru-buru menutup telepon. Dia seperti ini karena merasa sungkan pada Sherina. Aneh saja rasanya menelepon dan bercakap mesra dengan orang lain ketika disaksikan oleh istrinya sendiri.


"Pak, dia dan manajernya sedang berada di Blue Rose Hall. Tapi, aku minta tolong jangan hancurkan acara fashion show itu. Kasihan desainernya yang sudah bekerja keras. Kalau bisa, tangkap saja saat mereka sudah berada di belakang panggung."


"Baik, Tuan! Saya beserta tim akan segera ke sana!" ucap Polisi yang menyanggupi.


***


Pada saat yang sama di dalam gedung Blue Rose Hall. Cleo sudah selesai bersiap-siap, dia menjadi bintang di acara fashion kali ini. Baju yang dia pakai pun adalah rancangan spesial dari desainer ternama yang menggelar acara peragaan busana ini. Jantungnya berdegup kencang, bukan cuma karena menaiki panggung, tapi karena membanggakan bahwa kekasihnya akan duduk di salah satu kursi penonton untuk menyaksikan dirinya bersinar.


Sebagai model pembuka acara fashion show, Cleo berjalan dengan langkah kaki andalannya. Dengan ekspresi bak model profesional, dia melangkah dengan percaya diri di atas panggung catwalk tersebut. Namun sayang, ketika dia berjalan hingga ke ujung catwalk, dia masih belum melihat keberadaan Vicky di antara kursi para penonton. Pikirnya, di mana kekasihnya itu? Padahal dia sudah berkata akan datang. Dia sama sekali tidak pernah mengingkari janji. Cleo diam-diam merasa cemas karena ini kali pertamanya Vicky tidak memenuhi kata-katanya.


Hingga di akhir acara, di saat tiba giliran sang desainer naik ke atas panggung catwalk untuk menampilkan diri di depan publik. Masih belum tampak juga kehadiran Vicky. Cleo semakin merasa waswas, apakah mungkin kekasihnya itu berbohong. Dan sampai akhir, rupanya benar bahwa Vicky tidak hadir.


"Ck, dasar pembohong!" gerutu Cleo dengan nada kesal. Dia kembali ke belakang panggung dengan suasana hati yang buruk.


"Berhenti di situ!" teriak seseorang yang berseragam polisi. Dia membentangkan surat perintah penangkapan tepat di hadapan Cleo. Lalu, di belakangnya sudah ada rekan-rekannya yang lain yang sedang memegangi manajernya Cleo.


"A-apa ini?!" tanya Cleo yang masih belum sepenuhnya mampu mencerna keadaan.


"Nona akan kami tangkap atas tuduhan kasus penyiraman air keras!" ucap polisi itu lagi yang kemudian memberikan aba-aba untuk menangkap Cleo.


"Lepaskan aku! Aku sama sekali tidak bersalah!" teriak Cleo sambil meronta untuk lepas. Namun, tenaganya sama sekali tidak cukup untuk melawan dua personel polisi yang sudah terlatih.

__ADS_1


Seketika semuanya menjadi gaduh, para model yang lain turut merasa panik dengan kejadian tidak terduga ini. Akan tetapi, beberapa dari mereka langsung merekam dan mengabadikan momen ini. Wajar saja persaingan di dunia kerja, memanfaatkan kesempatan langka ini untuk membuat karier Cleo sebagai model jatuh.


"Cepat jalan!" seru polisi yang bertugas untuk menjadi ketua tim dalam penangkapan kali ini. Dia menyuruh rekan-rekannya yang lain untuk keluar lebih dulu. Sedangkan dia keluar lebih lambat untuk memberikan penjelasan yang cukup kepada desainer yang menggelar acara.


Memang dibutuhkan sebuah pengertian, Cleo sang bintang terpaksa diangkut sebelum dia mengganti bajunya. Karena menurut peraturan, baju yang dipakai oleh model dilarang untuk dibawa pulang. Sebab baju itu masih diperlukan untuk keperluan lain, misalnya saja kegiatan promosi penjualan, proses produksi atau untuk foto editorial. Akhirnya, demi bekerja sama dengan aparat penegak hukum, sang desainer dengan berat hati menyetujui baju rancangannya untuk dibawa sampai ke kantor polisi.


"Sialan!!!" teriak Cleo yang masih memberontak. Kedua tangannya diborgol oleh polisi supaya dia tidak bisa lagi memberikan perlawanan.


Kacau, semuanya kacau. Rencana untuk mencelakai Sherina malah berbalik mencelakai dirinya sendiri. Biarpun Adam yang menjadi tersangka utama, Cleo juga ditangkap karena dianggap memiliki keterlibatan. Dengan tatapan yang menusuk dan penuh amarah, Cleo menyalahkan manajernya yang saat ini sama-sama duduk di dalam mobil polisi.


"Maafkan saya ..." ucap Adam dengan suara lirih dan kepala yang tertunduk. Pikirnya, dia sudah melakukan segalanya dengan hati-hati, bahkan merelakan membuang ponselnya yang tidak murah demi menghilangkan jejak. Dia bingung bagaimana bisa dirinya masih tertangkap.


"...." Cleo tak menjawab apa-apa. Dia sendiri juga bingung memikirkan cara supaya selamat dari jeratan hukum yang siap menantinya.


Mobil polisi yang mereka tumpangi segera melaju cepat dan menyalakan sirene yang bising. Dan pada akhirnya, di masa-masa krisis ini Cleo terpikirkan cara untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


"Adam," bisik Cleo dengan hati-hati. Dia sungguh tidak mau interaksi kecil ini disadari oleh polisi yang menyetir ataupun yang duduk di kursi depan.


"Y-ya?" tanya Adam dengan suara gemetar. Tubuhnya juga ikut gemetar hebat, dia sungguh takut karena baru kali ini melakukan tindakan kriminal dan ketahuan. Dia takut sekali saat membayangkan jika dirinya akan masuk penjara.


"Biarpun sebenarnya aku yang menyuruhmu, kau tidak boleh mengatakan ini pada polisi! Kau harus berbohong demi aku!" pinta Cleo dengan nada menuntut.


"Tapi ... saya tidak bersalah, semua ini saya lakukan atas perintah Nona ...." jawab Adam yang masih tertunduk. Sebenarnya dia ingin mengamuk, sangat tidak terima dengan perlakuan tidak adil yang Cleo perbuat padanya.


"Lakukan saja! Pokoknya aku tidak mau dipenjara! Berikan kesaksian pada polisi kalau kau melakukan ini atas keinginanmu sendiri! Awas saja jika kau menolak! Aku akan menghentikan bayaranmu! Dan alat-alat penopang hidup ibumu akan aku cabut, supaya ibumu itu mati!" ancam Cleo tanpa ragu-ragu.


"Kalau begitu lakukan apa yang aku minta! Jika kau bersaksi seperti yang aku ingin. Aku janji akan terus membiayai pengobatan ibumu di rumah sakit sampai dia sembuh! Awas saja kalau kau sampai berani bilang jika aku mengancammu, akan aku pastikan ada orang suruhanku lainnya yang siap untuk mencelakai ibumu!" ancam Cleo sekali lagi.


"S-saya ... baiklah, akan saya lakukan," ucap Adam dengan nada pasrah. Dia tak punya pilihan lain selain setuju. Karena dia tak mau pengobatan ibunya tersayang itu dihentikan sehingga nyawanya terancam. Dia lebih rela masuk penjara, asalkan keadaan sang ibunda terjamin. Sungguh pengorbanan yang besar dari Adam sebagai seorang anak.


"Bagus!" Cleo tersenyum puas. Kini dia sama sekali tidak gugup lagi. Adam telah menyetujui keinginannya, kini dia bertingkah seolah-olah jika dia tidak bersalah.


"...." Mulut Adam terasa kelu, ingin sekali dia berteriak dan menceritakan segalanya sekarang juga. Namun, apalah daya, keselamatan ibunya berada di tangan atasannya ini yang berlaku semena-mena kepadanya.


Tak berselang lama kemudian mereka tiba di kantor polisi. Di sana, sudah ada banyak orang yang menunggu kehadiran Cleo dan Adam. Dengan pengawasan yang ketat dari polisi, Cleo dan Adam sama-sama didudukkan di kursi untuk memudahkan mereka memberikan kesaksian. Sedangkan Vicky dan Sherina, mereka berdua diam dan mengamati. Sama-sama tidak sabar untuk segera mengetahui fakta di balik semuanya ini.


"Semua barang bukti sudah ada di depan kalian! Adam Sanjaya, selaku manajer dari selebriti Cleopatra Camellia, menyuruh orang melalui via pesan untuk melakukan penyerangan air keras kepada Nyonya Sherina. Namun, pelaku salah sasaran dan mengenai Nyonya Sofia yang kini sedang dirawat di rumah sakit. Kronologi kejadiannya kira-kira seperti ini. Apakah ada pembelaan dari kedua tersangka?" tanya polisi dengan tatapan tajam.


"Aku sama sekali tidak bersalah! Ini sungguh tidak ada hubungannya denganku! Aku bahkan tidak tahu kalau manajerku ini berbuat demikian!" ucap Cleo dengan nada lantang. Dengan mudahnya dia berbohong dalam satu tarikan napas.


Pihak polisi sama sekali tidak memberikan respons selain ragu. Begitu pula dengan Vicky dan Sherina. Mereka tidak percaya jika Cleo tidak ada sangkut pautnya dengan ini semua. Padahal jelas-jelas Cleo memiliki kebencian yang besar pada Sherina yang menjadi pengantin penggantinya ini.


"Apakah ada pembelaan?" tanya polisi sekali lagi. Kali ini dia menekankan kepada Adam untuk memberikan kesaksian.


"Tidak ada, Pak. Ini memang salah saya ..." ucap Adam tak bertenaga.

__ADS_1


"Apa?! Tapi kenapa kau mau mencelakai aku?! Aku punya salah apa padamu?! Katakan, kau pasti diancam oleh Cleo, kan?!" protes Sherina yang sungguh dibuat terkejut oleh pernyataan Adam.


Apa yang dikatakan oleh Sherina bisa diterima di akal semua orang. Namun, lagi-lagi Adam masih tak membantah. "Saya sama sekali tidak diancam ataupun dipaksa. Dan saya melakukan ini karena kesal. Cleopatra Camellia selalu mengeluh kepada saya tentang Sherina. Saya sudah bosan mendengar keluhan itu setiap hari. Jadi, saya berinisiatif untuk mencelakai Sherina supaya model saya tidak lagi gelisah. Perkerjaan saya sebagai manajernya pun juga akan jadi lebih mudah."


"A-apa?!" Sherina terperangah, dia dan semuanya sulit untuk mempercayai ataupun menerima kesaksian semacam ini.


"Nah, kalian semua sudah dengar sendiri! Aku sama sekali tidak bersalah! Jadi, lepaskan borgol ini dari tanganku! Gara-gara kalian yang asal menangkapku, baju ini jadi rusak! Harga baju ini setara dengan gaji dan tunjanganmu sebulan!" bentak Cleo yang justru menyalahkan polisi.


"Ehem! Kami hanya menjalankan prosedur penagkapan yang tidak bisa ditunda. Karena kedua tersangka sudah memberikan kesaksian demikian. Maka, Adam Sanjaya akan kami tahan untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. Dan untuk Cleopatra Camellia, untuk saat ini bebas dari status tersangka."


Cleo tersenyum semringah saat dinyatakan tidak bersalah dan borgolnya dilepas. Namun, tiba-tiba saja kuasa hukum Satya angkat bicara. "Tunggu sebentar! Saya menuntut keadilan bagi korban! Meskipun Nyonya Sherina yang jadi target, tapi Nyonya Sofia yang terkena cairan asam dan terluka parah. Separuh wajahnya dipenuhi oleh luka bakar."


"Cih, itu mudah! Aku ini bukan orang miskin! Aku yang akan menggantikan manajerku bertanggung jawab! Biaya rumah sakit Sofia akan aku bayar! Dia mau melakukan operasi plastik di Korea pun akan aku penuhi!" tukas Cleo dengan nada angkuh. Dia ingin dianggap baik hati karena mau ganti rugi menggantikan kewajiban manajernya.


"Baiklah, kata-kata Nona Cleopatra Camellia akan saya pegang!" Dia tidak lagi bicara ataupun menuntut apa-apa. Karena permintaan dari Satya yang cuma berpesan untuk mendapatkan ganti rugi yang sepadan.


Pada akhirnya, masalah ini untuk sekarang hanya sampai sini. Cleo terbebas tadi tuduhan karena sama sekali tidak ada barang bukti yang menyatakan jika dirinya bersalah. Untuk Vicky dan Sherina, mereka akan dikabari jika ada perkembangan. Semua orang bersama-sama keluar dari kantor polisi.


"Vicky, aku mau kembali ke kantor. Harusnya tadi pagi aku ada rapat dengan dewan direksi. Tapi karena musibah mendadak itu, sekarang rapatnya ditunda jadi sore," ucap Sherina dengan ekspresi datar. Dia sendiri tidak ingin masalah ini berlarut-larut, meskipun sebenarnya dia juga kurang puas dengan hasil semacam ini.


"Eh? Apa kau baik-baik saja? Kalau kau lelah atau merasa tidak enak badan setelah semua kejadian barusan, sebaiknya kau pulang saja ke kediaman," bujuk Vicky dengan ekspresi khawatir.


"Aku tidak apa-apa, aku cuma kaget saja. Aku masih bisa kalau hanya memimpin rapat," jawab Sherina sambil menepuk bahu suaminya.


"Baiklah kalau begitu. Dan maaf, aku tidak bisa mengantarmu. Aku masih ada sedikit urusan," ucap Vicky seraya melirik ke arah Cleo yang berdiri tidak jauh darinya.


Sherina menghela napas lalu tersenyum tipis. "Iya, lakukan saja apa yang jadi urusanmu. Terima kasih sudah datang ke kantor polisi untukku." Sherina lantas melambaikan tangannya dan berjalan ke arah Pasha yang sudah menunggunya di dalam mobil.


Pengacara yang Vicky bawa memakai kendaraan miliknya sendiri untuk pulang. Kuasa hukum milik Satya juga sudah pergi. Dan kini, hanya tinggal Vicky berdua saja dengan Cleo.


"Ayo jalan!" ucap Vicky dengan nada dingin.


"Baiklah," jawab Cleo sambil mengangguk. Kali ini dia tidak banyak bertanya. Karena dia sudah paham dengan sendirinya mengapa Vicky tidak datang ke acara fashion show sebelumnya. Dia tahu jika kekasihnya ini taat dengan hukum, dia meneleponnya sudah pasti karena bekerja sama dengan pihak polisi.


Vicky mengajak Cleo untuk naik ke mobil pribadinya. Dengan kecepatan yang tinggi, dia melaju ke sebuah tempat yang tidak asing. Yakni, villa mewah pribadi milik Cleo. Dan sepanjang perjalanan kemari, tak ada percakapan yang terjadi di antara mereka.


"Terima kasih sudah mengantarku pulang," ucap Cleo dengan malu-malu. Dia masih bisa tersipu setelah semua yang baru saja terjadi.


"Ya," jawab Vicky singkat. Dia langsung berbalik karena hendak pergi. Namun, tiba-tiba saja Cleo merangkul dan menahan tubuhnya dari belakang.


"Vicky ... kau sudah sampai di depan pintu masuk rumahku. Kenapa kau buru-buru pergi? Bagaimana jika kau masuk dan istirahat sebentar di dalam. Aku akan buatkan teh spesial untukmu~"


"...." Vicky membisu.


"Ayolah, Honey~ Ini pertama kalinya kita berjumpa setelah aku pulang dari luar negeri. Aku sangat merindukanmu, kau pun pasti begitu. Mampirlah dan temani aku sebentar saja ...." pinta Cleo dengan nada manja.

__ADS_1


Vicky sudah tak tahan lagi. Dia melepaskan tangan Cleo yang memeluknya. Lalu berbalik, mencengkeram pundak Cleo erat-erat dan menatap matanya lekat-lekat. "Dengar, sebenarnya aku mencari waktu yang tepat untuk mengatakan ini. Tapi, kau yang sudah membuatku tidak tahan lagi! Cleo, ayo akhiri saja hubungan kita! Sekarang juga, aku mau kita putus!"


"P-putus ....?!"


__ADS_2