
"Uhmm ...?!" Vicky membelalak, dia tak siap dengan ciuman mendadak yang Sherina berikan. Namun, dia tak berkutik, tak mendorong Sherina ataupun menghindar, dia menerima sentuhan bibir yang saling beradu ini tanpa perlawanan.
Ciuman itu tak berlangsung lama seperti yang Vicky kira, Sherina mundur dan melepaskan tautan bibir itu secara sepihak. Dan setelahnya, dia tersenyum meringis sambil berkata, "Ayo Vicky, kita pulang!"
"Eh? Pulang?!" Akal sehat Vicky masih belum sepenuhnya kembali, ciuman tadi itu benar-benar seperti telah mengosongkan pikirannya.
"Iya, mari pulang. Aku sudah tidak apa-apa, tidak muncul efek dan gejala lain di tubuhku," jawab Sherina yang kemudian turun dari brankar lebih dulu.
"Ah, baguslah!" Sedetik kemudian Vicky kembali termenung, dia menyentuh bibirnya sendiri yang jadi bekas ciumannya. "Sherina ... soal yang tadi aku katakan padamu. Soal kesepakatan itu, bagaimana jawabanmu?"
Sherina tak langsung menjawab, dan malah tertawa kecil. Tanpa menoleh ke arah Vicky, dia pun berucap, "Astaga, kau ini bodoh, ya? Ciuman tadi itu jawabannya. Kau bilang mau menghilangkan batasan di antara kita. Jadi, itu jawabanku!"
"Apa ...?" Vicky terdiam lagi, dan setelahnya dia tersenyum karena sudah mengerti apa maksud Sherina.
Astaga, aku meminta pendapatnya soal membuang kesepakatan itu. Aku ingin batasan di antara kami hilang. Dan dia langsung menciumku, artinya dia setuju! Rupanya begini cara Sherina memberi jawaban.
"Ada apa? Apa kau masih bingung kenapa aku menciummu? Kalau begitu dengarkan ini, ya! Ciuman itu terserah pada siapa yang memberi! Jadi suka-suka aku! Kalau kau keberatan, silakan lap saja bibirmu. Beres, kan?" tanya Sherina dengan nada sedikit ketus. Dia mulai merasa kesal karena respons Vicky yang lamban.
Vicky merasa tertohok, dengan cepat turun dari brankar dan menyusul di samping Sherina. "Mana ada aku keberatan? Lagi pula ini bukan ciuman pertama kita!" bantah Vicky karena tak mau Sherina berprasangka buruk padanya.
"Oh? Benarkah? Tapi ... aku habis minum racun, loh. Kau tidak takut jika racun itu juga menular padamu? Bahaya kalau sampai Vicky Bashara tewas gara-gara ciuman~" Sherina terkekeh.
"Cih, tidak akan! Kau saja yang meminum racunnya masih sehat, jangan remehkan aku! Lagi pula dengan begini jadi adil. Kalau kau sakit, aku juga sakit, kalau kau sehat, aku juga sehat!"
"Haha, dasar kau ini ...." Sherina tertawa, dia merasa geli mendengar ucapan dari Vicky barusan. Meskipun begitu, ia tetap menyukainya.
Sepertinya Vicky ini tidak buruk juga. Aku merasa kalau dia benar-benar tulus padaku, jika tidak, mustahil dia akan sebaik ini. Sebelumnya aku sedikit takut dekat-dekat dengannya, aku tak mau kebodohanku di kehidupan sebelumnya terulang. Dulu, Satya juga baik padaku, tapi pada akhirnya dia jadi bajing*n juga.
__ADS_1
Lalu sekarang ... aku percaya kalau kebaikan Vicky ini tulus. Aku yakin jika dia tak punya niatan terselubung. Lagi pula, apa yang bisa dia manfaatkan dariku? Jelas-jelas dia sudah punya segalanya. Aku rasa ... percaya sekali lagi pada laki-laki tidak ada salahnya. Kali ini aku tidak akan sebodoh dulu lagi. Semoga saja keputusanku ini tidak pernah salah.
***
Vicky dan Sherina segera pulang ke kediaman Bashara. Sesampainya di sana, Vicky juga menuntun Sherina berjalan. Namun, lagi-lagi hal ini tidak disukai oleh Ariana yang kebetulan melihat mereka bersama. Matanya seakan-akan terasa perih saat memandang sesuatu yang tidak dia inginkan.
"Apa yang terjadi? Tidak bisakah kau jalan sendiri?!" hardik Ariana dengan tatapan sinis pada Sherina.
"Aku—"
"Cukup, Ibu!" sahut Vicky yang sudah mendahului perkataan Sherina. "Sebelum bertanya, lihatlah dulu bagaimana kondisi Sherina! Dia sakit, dan tubuhnya penuh luka! Dalam keadaan seperti ini, memangnya salah kalau aku membantunya berjalan?"
"Vicky, kau ...!" Ariana kehilangan kata-kata. Dia sungguh tak menyangka jika Vicky sekarang sudah berani membantahnya demi membela Sherina secara terang-terangan.
"Ayo Sherina, jangan pedulikan kata-kata ibuku barusan!" ajak Vicky yang kemudian lanjut membantu istrinya berjalan lagi. Namun, saat dia melewati Ariana, dia membisikkan sesuatu di telinga ibunya itu. "Sherina terluka karena dicelakai oleh keluarganya. Aku harap, jangan sampai hal ini ada kaitannya dengan ibu! Jangan kecewakan aku!"
Sebenarnya apa yang terjadi? Aku tidak masalah kalaupun Sherina disiksa sampai mati, tapi bagaimana bisa Vicky juga mencurigai keterlibatanku? Apa dia diam-diam menyelidikiku? Atau jangan-jangan Panji yang membocorkan hal ini?
"Ck, tidak bisa begini terus. Aku tidak boleh membiarkan mereka semakin dekat. Cepat atau lambat, aku harus memisahkan mereka. Sepertinya aku harus menghasut Cleo lagi, agar aku tak perlu mengotori tanganku sendiri!" gerutu Ariana.
Di sisi lain Vicky sudah mengantarkan Sherina hingga ke dalam kamarnya. Dia juga meminta Sherina untuk duduk dan istirahat di atas ranjang. Tak berselang lama datang 3 orang pelayan wanita yang sudah diutus oleh paman Will. Ketiga pelayan ini bertugas untuk membantu Sherina berganti pakaian serta membawakan air es untuk mengompres luka memarnya.
"Cukup, kalian bisa pergi!" pinta Vicky.
"Permisi, Tuan ..." ucap ketiga-tiganya bersamaan. Mereka lantas undur diri dan meninggalkan Vicky bersama dengan Sherina yang telah selesai berganti pakaian.
Vicky menghela napas, lantas duduk di pinggir ranjang. Dia meraih kain kompres yang berada di dekat wadah berisi air es. Mencelupkan kain itu dan kemudian memerasnya. Namun, saat Vicky hendak menempelkan kain kompres itu, tiba-tiba saja Sherina bergeser menjauh.
__ADS_1
"Vicky, aku bisa melakukan ini sendiri. Hal kecil seperti ini tak perlu menyusahkan dirimu," ucap Sherina seraya berusaha merebut kain kompres tersebut. Akan tetapi, Vicky lebih cepat menjauhkannya dari jangkauan tangan Sherina.
"Hei, diam dan menurut saja! Apa kau sudah lupa tentang di rumah sakit tadi?"
"Ah ..." Sherina termangu, dia teringat kembali bahwa mereka telah sepakat untuk menghapuskan perjanjian sebelum pernikahan. Hal ini sama saja dengan langkah awal mereka untuk saling beradaptasi, beradaptasi dalam ikatan pernikahan dan status suami istri yang sebenarnya.
Kini, Sherina tak melawan lagi. Dia diam dan patuh, membiarkan Vicky turun tangan sendiri untuk mengompres luka memar di pipinya. Biarpun tadinya di rumah sakit sudah mendapatkan perawatan, namun rasa nyeri dari memar bekas tamparan tangan Fina belum sepenuhnya hilang. Memang rasa sakit yang wajar, karena Sherina pun sampai tak begitu yakin berapa banyak jumlah tamparan keras yang dia terima. Nasib baik bibirnya tak sampai sobek atau berdarah.
"KAKAK ...!!!" teriak Velix yang mendadak muncul. Di belakangnya tampak sang asisten Oliver yang mengikuti.
Velix secepat mungkin berlari mendekat ke arah ranjang. Dia ingin sekali memastikan langsung bagaimana kondisi kakak iparnya tersayang. Dengan mata yang berkaca-kaca dan tangan yang sedikit gemetar, dia meraih tangan Sherina. Dia semakin merasa bersalah saat mengetahui jika Sherina terluka.
"Kak Sherina, maafkan aku ... jika saja aku lebih cepat mengabari kak Vicky, kakak ipar tidak perlu terluka seperti ini. Ini salahku karena terlambat menyadari kalau kakak ipar dalam bahaya."
Sherina tersenyum tipis, dia memberikan isyarat tangan pada Vicky supaya menghentikan pengompresannya sejenak. Kedua tangan Sherina meraih pipi Velix, lalu mengusap setitik air mata yang sudah jatuh dengan ibu jari. "Velix ... ini bukan salahmu, kau sudah melakukan yang terbaik untuk menolongku. Aku baik-baik saja, ini cuma luka kecil, besok juga sudah sembuh. Terima kasih, ya. Berkat bantuanmu, aku bisa selamat. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak membantuku. Kau hebat, Velix ...."
"Hik ... hikk ...." Tangis Velix pecah, air matanya kian mengalir deras. Dia juga memeluk Sherina dengan tangan kecilnya. "Po-pokoknya, lain kali kakak ipar tidak boleh pergi sendirian lagi! Aku tidak mau kakak ipar kenapa-kenapa ...."
"Iya, aku akan menuruti perintah si keren Velix~" ucap Sherina sambil menepuk-nepuk pelan punggung Velix.
"Huaaa ... jangan menggodaku!"
"Haha, maaf." Sherina tertawa, dia senang sekali karena ini pertama kalinya ada seseorang yang mengkhawatirkan dirinya sampai seperti ini. Dia sangat bersyukur karena mempunyai adik ipar yang peduli, manis dan cerdik seperti Velix.
Di satu sisi, Vicky ikut tersenyum. Baru kali ini dia melihat Velix mengkhawatirkan seseorang dan menangis sejadi-jadinya di pelukan orang lain. Yang membuatnya tidak menyangka, orang itu tidak lain adalah Sherina. Pikirnya, hubungan di antara kedua orang ini lebih erat dibandingkan dengan Ariana sang ibu. Sedangkan di sisi lain, Oliver yang menyaksikan ini semua dari kejauhan turut tersenyum. Sejak hari pertama dia bekerja sampai sekarang untuk Vicky, tak pernah dia melihat momen yang menyentuh seperti ini.
"...."
__ADS_1
Astaga, jika orang yang tidak tahu apa-apa melihat situasi ini. Mungkin saja akan menganggap kalau Velix itu adalah anak dari Tuan Vicky dengan Nyonya Sherina. Benar-benar seperti pemandangan keluarga kecil yang bahagia. Walaupun sayangnya status mereka bukan itu, tetap saja kehangatan ini nyata. Aku harap, keputusan Tuan Vicky untuk menikahi Nyonya Sherina tidak pernah salah.