
"Syukurlah! Akhirnya berhasil juga!" seru Sherina dengan senyum girang. Hatinya teramat berbunga-bunga, karena sesuatu yang selama ini dia perjuangkan akhirnya berbuah manis juga.
"5 persen saham yang ayah berikan pada empat orang sugar baby-nya, kini telah berada di tanganku. Semula saham yang ayah punya adalah 40 persen, sedangkan aku 30 persen. Dengan adanya 5 persen yang aku dapatkan, wewenangku dengan ayah jadi setara! Dengan begini, ayah tak akan lagi bisa semena-mena karena aku punya saham yang sama besarnya!"
"Sekarang ... aku tidak boleh terlalu senang dulu, ini baru langkah awal dalam perjalananku merebut kembali perusahaan milik ibu! Dan sebaiknya, aku rahasiakan dulu soal pengalihan saham ini dari ayah. Aku ingin mengungkapkan hal ini saat mendesak saja, yaitu saat aku membongkar kelakuan bejat ayah yang punya banyak simpanan, sekaligus perbuatannya yang mengorupsi dana perusahaan! Aku yakin, pada saat itu, ini semua akan jadi pukulan besar baginya!"
Untuk sejenak Sherina terdiam. Dia tersenyum, lalu menyentuh dadanya, merasakan kalau saat ini jantungnya berdebar-debar dengan cepat. "Ternyata begini, ya ... rasanya balas dendam itu mendebarkan seperti ini."
Sherina beralih masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya setiap kali sebelum tidur. Malam ini jadi malam paling membahagiakan baginya, membayangkan orang yang pernah menyakitinya akan segera mendapatkan balasan, membuat Sherina tidur dengan teramat nyenyak.
Keesokan paginya dia bangun dengan perasaan riang. Bahkan, dia masih tetap tersenyum ketika berada di meja yang sama dengan Ariana saat sarapan. Karena baginya, tidak ada siapa pun yang boleh merusak suasana bahagia hatinya.
"Hm? Kakak ipar sejak tadi tersenyum, apa ada hal baik yang terjadi?" tanya Velix penasaran.
"Iya, memang ada hal baik yang terjadi!" jawab Sherina dengan senyuman.
"Apa itu?" tanya Velix lagi.
"Haha, anak kecil tidak perlu tahu. Yang berhak tahu soal ini hanya aku dan kakakmu!"
"Eh?!" Vicky terkesiap, lantas menatap Sherina dengan tatapan heran.
Apa? Kenapa bawa-bawa aku? Yang aku tahu, semalam yang terjadi cuma soal meminjamkan uang. Aneh sekali, Sherina sangat bahagia hanya karena uang itu. Padahal, benda-benda yang aku berikan padanya sebagai mahar nilainya jauh lebih banyak. Akan tetapi, dia tidak terlihat sebahagia ini.
"Hmph, Kak Vicky! Sebenarnya hal apa yang membuat kakak ipar bahagia? Ayo beritahu aku!" pinta Velix dengan nada memaksa.
"Ehmm ... itu, kau tidak boleh tahu!" jawab Vicky yang kemudian membuang muka.
Sherina tidak mengatakannya, artinya juga tidak boleh aku katakan pada orang lain. Lagi pula, itu termasuk perilaku tidak sopan kalau membeberkan orang lain punya hutang.
"Kalian berdua kenapa, sih? Kenapa main rahasia denganku?" keluh Velix dengan wajah cemberut.
"Velix, itu bukan sesuatu yang penting. Ayo, cepat habiskan sarapanmu, jangan sampai kau terlambat berangkat sekolah!" bujuk Sherina pada adik iparnya yang usil ini.
Velix tak lagi murung setelah dibujuk oleh Sherina. Namun, di sisi lain ada satu orang lagi yang salah paham. Ariana merasa curiga sekaligus tidak senang dengan tingkah yang diperlihatkan oleh Sherina maupun Vicky.
__ADS_1
"...." Ariana menggenggam sendoknya erat-erat, juga masih melirik dan memperhatikan Sherina yang terus-terusan menampakkan senyuman.
Apa-apaan ini? Sherina si menantu tidak tahu diri ini terlihat sangat senang. Dia bilang kalau hal yang membuatnya senang hanya diketahui olehnya sendiri dan Vicky. Aku lihat tingkah Vicky juga aneh, bahkan dia tidak membantah omongan Sherina. Terlebih lagi, Sherina bilang hal ini tidak pantas untuk diketahui anak kecil. Apa jangan-jangan ... semalam mereka telah menghabiskan malam bersama?
Tunggu sebentar, ini tidak mungkin! Aku tahu betul kalau Vicky selama ini tidak mudah digoda, bahkan Cleo sendiri yang bilang padaku. Selama ini selain berpelukan atau berciuman yang wajar, dia tidak melakukan apa-apa dengan Vicky. Tapi sekarang, yang aku lihat ini apa?
Sial, ini pasti ulah Sherina! Wanita jal*ng ini pasti yang menggoda Vicky lebih dulu! Ini mungkin saja terjadi, mengingat jika dia adalah seorang janda, dia pasti sudah punya pengalaman! Benar-benar kurang ajar, berani-beraninya dia menggoda putraku dengan tubuh kotornya!
Selera makan Ariana sepenuhnya menghilang. Dia terbakar api amarah karena dugaan yang dia buat sendiri. Dia sangat yakin jika telah terjadi percintaan antara Vicky dan Sherina. Tentu saja dia sangat tidak senang, dia merasa seperti telah kecolongan sesuatu yang besar. Dia tidak rela putranya ini melakukan hubungan semacam itu dengan Sherina. Meskipun sebenarnya mereka berhak melakukannya, karena status mereka sebagai suami istri yang sah.
DRRTT DRRTT
DRRTT DRRTT
Terdengar suara nada dering ponsel yang tak asing. Seketika Sherina mengecek ponselnya, dan kali ini lagi-lagi yang menelepon dirinya adalah orang kepercayaannya.
"Maaf, aku permisi sebentar, ini telepon yang penting!" ucap Sherina seraya memandang ke arah Vicky, karena dia tahu bahwa yang paling berkuasa di rumah ini adalah dia.
"Ya, angkat saja," jawab Vicky dengan anggukan kepala.
Ariana juga meninggalkan ruang makan. Akan tetapi, dia berbohong soal dia yang ingin pergi ke toilet. Yang dia lakukan adalah diam-diam membuntuti dan mencoba menguping pembicaraan Sherina dengan seseorang di telepon itu. Dari sisi lain, dia juga mengintip di balik tembok.
"Ya, baguslah! Aku setuju dengan saranmu! Pokoknya, asalkan ayahku tak mengetahuinya, cara apa pun yang kau pakai tidak masalah! Lakukanlah yang terbaik, bantu aku mendapatkan kembali perusahaan mendiang ibuku! Dream Glow Cosmetics, pokoknya harus jatuh ke tanganku!"
"...?!" Ariana membungkam mulutnya sendiri karena kaget. Dia tidak menyangka dengan percakapan yang baru saja dia dengar.
Astaga, ternyata Sherina berencana untuk merebut perusahaan milik mendiang ibunya yang saat ini dikelola oleh ayahnya. Ini berita besar, aku harus cepat pergi dari sini sebelum ketahuan!
Ariana memutuskan untuk segera pergi karena merasa informasi yang dia dapatkan sudah cukup. Dia kembali ke meja makan mendahului Sherina untuk menghindari kecurigaan dari semua orang. Entah rencana macam apa yang saat ini terlintas di pikirannya.
Di satu sisi Sherina sudah menyelesaikan teleponnya, dia kembali ke ruang makan tanpa menyadari bahwa seseorang telah menguping pembicaraannya. Tak lama kemudian sarapan selesai, Vicky berangkat ke kantor sekalian mengantar Velix ke sekolah. Sherina pun juga ikut bersama mereka, karena dia mengatakan jika hari ini dia ingin mengunjungi yayasan yang kebetulan satu arah.
Lagi-lagi Ariana di kediaman sendirian. Akan tetapi, berbeda dari biasanya di mana dia menganggur, kali ini dia punya sesuatu yang penting untuk dilakukan. Di dalam kamarnya, dia tampak sedang berusaha menghubungi seseorang.
"Billy, akhirnya kau angkat telepon juga!" seru Ariana pada Billy, orang kepercayaannya yang saat ini menjabat sebagai salah satu manajer departemen administrasi di perusahaan BSH Enterprise.
__ADS_1
"Maaf, Nyonya Besar. Ada perlu apa Nyonya menelepon saya?"
"Begini, aku ada sebuah tugas penting untukmu! Aku mau kau menggali seluruh informasi dari perusahaan Dream Glow Cosmetics!" pinta Ariana.
"Eh? Jika boleh tahu, apa tujuan Nyonya? Soalnya, perusahaan BSH Enterprise adalah perusahaan yang bergerak di bidang IT, apa hubungannya dengan perusahaan kosmetik?"
"Sudahlah, jangan banyak tanya! Lakukan saja apa yang aku minta! Aku mau informasi itu sudah kau kumpulkan padaku sebelum sore ini!"
"Baik, Nyonya Besar ..." jawab Billy dengan nada pasrah.
Panggilan telepon dengan Billy berakhir. Ariana menyeringai sinis, sudah membayangkan langkah selanjutnya dari rencana yang dia buat untuk menghancurkan Sherina.
"Hehe, Sherina-Sherina ... dasar ceroboh! Jangan kira semuanya akan berjalan mulus seperti yang kau mau! Tentu saja aku tidak akan membiarkanmu! Habiskan saja waktumu di yayasan bersama anak-anak penyakitan itu! Syukur-syukur ... kau tertular penyakit mereka dan mati saja! Sedangkan aku, diam-diam akan aku rebut perusahaan milik ibumu tersayang itu!"
***
4 hari kemudian, Panji dan Fina beserta beberapa pelayan di rumah bersama-sama berdiri di teras depan rumah mereka. Fina kelihatannya tak begitu nyaman, berkali-kali dia mengeluh karena terlalu lama berdiri di sana.
"Ck, lama sekali! Kakiku sampai pegal karena menunggunya! Dan ini juga sudah lewat 1 jam dari waktu yang dia janjikan!" omel Fina yang lagi-lagi memijit kakinya.
"Bersabarlah, memang begini kalau kau mau uang, kau harus berusaha keras untuk mendapatkannya! Nyonya Ariana membuat tawaran yang menggiurkan bagi kita! Jika dia setuju dengan syarat kita, kita akan untung banyak!" ucap Panji penuh penekanan, dia sudah muak mendengar keluhan dari istrinya ini.
"Cih, aku yakin kalau dia memang sengaja membuat kita menunggu lama! Hanya karena dia lebih kaya, dia berbuat seenaknya pada kita!" sungut Fina lagi. Dan kali ini Panji tak berusaha menenangkan dirinya, karena dia pun juga merasakan hal yang sama.
Tiba-tiba saja datanglah sebuah mobil Rolls Royce berwarna silver yang memasuki halaman rumah mereka. Seorang sopir membukakan pintu, lalu turunlah Ariana dari mobil itu sambil menenteng tas branded miliknya yang belum lama dia beli.
"Selamat datang, Nyonya! Silakan masuk ke dalam gubuk sederhana kami!" sambut Fina dengan nada merendahkan diri. Dia merasa tergiur dan ingin memiliki tas yang sama dengan yang Ariana bawa saat ini.
"Selamat datang, Nyonya Ariana!" sambut Panji. Dia sedikit menghela napas ketika melihat kelakuan istrinya.
"Ayo, aku tak mau buang-buang waktu!" ucap Ariana seraya melepaskan kacamata hitamnya.
Di dalam rumah yang sebenarnya juga megah ini, Ariana mendapatkan jamuan yang spesial. Namun, tetap saja jamuan apa pun tidak akan bisa memuat dirinya terkesan, karena memang sejak dulu hal seperti ini menjadi makanan sehari-hari baginya.
"Ini Nyonya, silakan diperiksa," ucap Panji sambil menyerahkan sebuah dokumen pada Ariana.
__ADS_1
Ariana membaca poin-poin penting yang terdapat di dalam dokumen itu. Setelahnya, matanya membulat seketika, bahkan juga melemparkan dokumen itu ke atas meja dengan kasar. "Apa-apaan ini?! Padahal saham yang kau punya cuma 40 persen! Kenapa mahal sekali?! Harga yang kau berikan ini sama saja dengan membeli seluruh perusahaan! Kau mau menipuku?!"