Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Sosok yang Lebih Baik


__ADS_3

"Kakak ipar di mana, ya?" tanya Velix pada bayangan dirinya sendiri yang ada di atas permukaan air danau.


Bocah kecil ini lagi-lagi berada di danau buatan yang ada di halaman belakang sekolah. Namun, kali ini tujuannya datang ke sini bukan untuk menyendiri. Melainkan untuk menunggu kedatangan Sherina yang kemarin sudah membuat janji dengannya.


"Huhh ... dia tidak akan mengingkari janjinya, kan?" tanya Velix sekali lagi. Hatinya mulai diselimuti oleh perasaan takut, dia takut jika Sherina akan membohongi dirinya seperti orang dewasa lain yang kerap melakukan hal itu padanya.


Velix semakin merasa gelisah dan ragu, sudah lama dia menunggu tetapi masih tak ada tanda-tanda kedatangan kakak iparnya. Padahal, sebentar lagi akan tiba batas waktunya berada di luar. Dia sudah berkali-kali dapat peringatan dari pengurus. Jika dia tidak ingin mendapat hukuman, kali ini dia tak boleh terlambat lagi kembali ke asrama.


SRAK SRAK ...


Terdengar suara langkah kaki yang melewati rerumputan. Velix seketika berbalik dan berdiri, dengan senyum riang berteriak, "Kakak ipar! E-eh ...?"


Pada detik berikutnya senyuman Velix menghilang, raut wajahnya berubah jadi kecewa. Karena orang itu bukan kakak ipar yang ditunggu-tunggu, melainkan teman laki-lakinya yang juga tinggal di asrama. "Rafael, ternyata kau."


"Tentu saja ini aku! Ayo, ikut bersamaku! Pengurus asrama mencarimu!" ajak bocah bernama Rafael ini seraya menarik tangan Velix.


"Kenapa mencariku? Aku tidak buat masalah apa pun, lagi pula masih ada waktu 10 menit lagi. Aku ingin tetap di sini dan menunggu kakak iparku! Aku yakin, hari ini dia akan datang dan menepati janjinya!" bantah Velix sambil menepis tangan Rafael.


"Ayolah Velix! Jangan mempersulitku! Aku diminta oleh pengurus untuk mencarimu, dan kau sekarang disuruh datang ke ruangannya! Aku juga tidak tahu alasan kenapa pengurus mencarimu!"


"T-tapi ...." Velix jatuh dalam dilema. Jauh di lubuk hatinya, dia merasa percaya sekaligus ragu pada waktu yang tipis ini. Padahal dia sudah menganggap jika Sherina adalah sosok kakak ipar yang baik baginya, dia masih enggan untuk mengakui jika janjinya hari ini batal. Dia ingin sekali menunggu 10 menit yang tersisa hingga akhir, tetapi dia sadar kalau pada saat ini dia sedang menghadapi situasi mendesak yang lain.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu kembali ke asrama," jawab Velix dengan nada terpaksa.


Kedua bocah laki-laki ini berjalan kembali ke asrama bersama-sama. Rafael hanya mengantar Velix sampai di depan ruangan pengurus asrama. Setelah berpisah dengan teman akrabnya, dengan perasaan sedikit gugup, dia mengetuk pintu tersebut.


"Bu pengurus, ini Velix."


"Ya, masuklah!" jawab seseorang wanita yang suaranya nyaring.


Velix langsung membuka pintu kayu tersebut. Alangkah kagetnya ketika dia melihat keberadaan kakak bersama dengan kakak iparnya di ruangan itu. "Kalian ...?" Velix melongo, dia sungguh bingung dengan alasan macam apa yang sampai membuat Vicky dan Sherina datang bersama-sama lagi.


"Velix, kemarilah!" pinta ibu pengurus. Dan setelah Velix mendekat padanya, dia mengusap kepala anak kecil ini seraya berkata, "Velix, kakakmu datang kemari untuk menjemputmu."


"Menjemputku?" tanya Velix yang masih belum sepenuhnya mengerti keadaan.


"Iya, Velix. Kami datang ke sini untuk membawamu pulang, mulai hari ini kau tak perlu tinggal di asrama lagi," jawab Vicky dengan senyuman kecil.


"Sungguh? Kak Vicky tidak bohong, kan?!"

__ADS_1


"Haha, mana mungkin aku bohong. Kalau kau tidak percaya, tanya saja pada kakak iparmu."


"Benar, Velix, kami ke sini untuk menjemputmu. Ayo, segera kemasi barang-barangmu! Atau, kau mau aku bantu?" sahut Sherina yang juga dengan senyuman.


Jantung Velix berdebar-debar, dia teramat bahagia karena saat-saat yang selalu dia impikan akhirnya tiba juga. Yang dia tahu, seharusnya dia melakukan pertemuan dengan Sherina di tepi danau. Akan tetapi, biarpun kakak iparnya mengingkari janji, sedikit pun dia tak merasa sedih. Dia sangat senang karena Sherina datang dengan membawa kejutan yang lebih besar.


"Baik, aku akan segera mengemasi barang-barangku! Tidak banyak, kok! Aku bisa melakukannya sendiri!" Velix berlari secepat mungkin dengan langkah riang. Dia bergegas pergi ke kamarnya, lalu menata semua barang-barang yang hendak dibawa pulang ke dalam kopernya.


Penjemputan Velix yang tiba-tiba ini mampu mengagetkan seluruh penghuni asrama. Padahal selama ini Velix terkenal dengan sebutan anak yang kurang diperhatikan, tapi sekarang, mereka tahu bahwa penilaian mereka salah. Setelah Velix berpamitan pada teman-temannya, dia sudah tak sabar lagi untuk segera naik ke mobil kakaknya dan pulang ke rumah yang selalu dia rindukan.


"Kak Vicky! Sebelum kita pulang, kita mampir dulu ke kios di ujung jalan sebelah sana, ya! Aku dengar dari teman-temanku kalau kios baru itu menjual minuman yang enak! Aku ingin mampir ke sana!" pinta Velix yang sangat antusias.


"Baiklah, ayo ke sana. Jangan lupa kencangkan sabuk pengamanmu!" jawab Vicky sambil menghela napas. Dia tak menyangka jika reaksi Velix akan sesenang ini.


Vicky mengabulkan permintaan adik kecilnya, dia merasa jika inilah yang sepantasnya dia lakukan. Selama dia mampu dan mempunyai cukup waktu, dia harus menemani dan mendampingi adiknya yang ekspresif ini. Semua ini tak luput dari campur tangan Sherina, karena berkat dia, Vicky akhirnya menyadari dan memperbaiki kesalahannya.


Setelah Velix merasa cukup puas, mereka bertiga langsung pulang. Namun, bukannya mencari dan memeluk sang ibu begitu sampai di rumah, Velix justru menarik tangan Sherina supaya ikut ke kamarnya.


"Kakak ipar! Ayo sini!" seru Velix dengan semangat yang menggebu-gebu.


"Haha, pelan-pelan." Sherina tertawa, entah kenapa dia tidak bisa menolak setiap permintaan yang Velix ajukan padanya.


"Nah, ini kamarku! Aku sangat rindu kasurku!" Velix melepaskan tangan Sherina begitu saja. Lalu beralih merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Dan sejurus kemudian dia beranjak lagi. Tiba-tiba membuka koper miliknya, dia mencari-cari sesuatu di antara tumpukan baju-baju itu.


"Hm? Apa ini sungguh untukku?" tanya Sherina dengan tatapan tidak begitu yakin. Karena benda yang berada di hadapannya tampak begitu indah. Sebuah kalung dengan liontin terbuat dari resin yang di dalamnya ada bunga dandelion.


"Iya, ini kerajinan tangan yang aku buat sendiri. Aku berikan ini pada Kakak ipar! Sebagai bentuk ucapan terima kasihku!"


"Ucapan terima kasih untuk apa?" tanya Sherina yang makin dibuat bingung.


"Terima kasih untuk semuanya! Terutama karena sudah membujuk kak Vicky supaya menjemputku pulang!"


"Eh, bagaimana kau tahu soal itu?"


"Tentu saja aku tahu. Karena kakak ipar yang menemani kakakku saat menjemputku! Jika Kak Vicky datang bersama ibu, maka lain ceritanya. Aku benar 'kan, Kak?" tanya Velix sambil tersenyum nakal. Namun, senyuman itu bukan ditujukan pada Sherina.


"Apa?!" Sontak saja Sherina menengok ke belakang, dia kaget karena rupanya Vicky sudah berada di depan pintu kamar Velix. Pikirnya, sejak kapan Vicky berdiri di sana? Bagaimana bisa dia tidak menyadari kedatangannya?


"Haisshh ... aku ketahuan." Vicky lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Sebenarnya sudah sejak tadi dia mengikuti Velix dan Sherina secara diam-diam. Karena dia ingin tahu hal macam apa yang akan adiknya ini lakukan. Dan setelah mengamati tingkah adiknya, dia tersenyum puas karena menyadari bahwa keputusan yang dia ambil tidak salah.

__ADS_1


"Sherina, ambil saja kalung itu. Jarang sekali Velix mau berbagi," ucap Vicky dengan nada sedikit menyindir. Bermaksud untuk menggoda adik kecilnya.


"Ishhh ... Kak Vicky! Jangan menyindirku! Aku mau menghadiahkan apa pada kakak ipar, itu terserah aku!" celetuk Velix dengan wajah usilnya.


"Haha, oke. Kalau begitu aku akan menerimanya," jawab Sherina seraya menerima kalung yang cantik itu.


"Bagus! Dan sekarang, giliran tugas Kak Vicky untuk memakaikan kalung itu pada Kakak ipar!"


"A-apa?!" Vicky dan Sherina tersentak.


"Ayolah ... masa melakukan itu saja tidak bisa?" tanya Velix sambil mengerucutkan bibirnya.


"Iya-iya, akan aku lakukan! Dasar Velix, ada-ada saja maunya!" Vicky merampas kalung itu dari tangan Sherina. Sedangkan Sherina, dia merasa canggung dengan situasi ini. Padahal Vicky hanya akan memasangkan kalung di lehernya, entah kenapa dia merasa gugup dibuatnya.


"Tolong hadap ke sana!" pinta Vicky yang sudah siap untuk memasangkan kalung.


"Oke." Sherina mengangguk pelan, lalu berbalik serta menyibakkan rambutnya yang terurai itu ke sisi depan, untuk memudahkan Vicky saat memasangkan kalung.


"Glup ...." Vicky menelan ludah. Saat melihat leher Sherina yang jenjang, putih dan mulus itu, dia berusaha semaksimal mungkin untuk menyembunyikan rasa gugupnya.


Rupanya ada tahi lalat kecil di belakang telinga Sherina, dan lehernya halus juga. Tunggu sebentar ... apa aku sudah gila?! Kenapa aku bisa punya pikiran semacam ini?! Sejak kapan aku jadi pria mesum?!


Wajah Vicky tiba-tiba merona, lalu secepat mungkin memasangkan kalung itu di leher Sherina. "Sudah selesai!" ucapnya sambil membuang muka, dia tak mau wajahnya saat ini dilihat oleh istrinya.


"S-sudah? Terima kasih," jawab Sherina dengan nada canggung. Dia menyibakkan kembali rambutnya ke belakang, lalu melihat kalung yang sudah terpasang di lehernya. Benar-benar kalung yang cantik, hasil kerajinan tangan Velix rupanya bisa seindah ini.


"Hehehe, sangat cocok dipakai kakak ipar!" seru Velix yang mendadak merangkul Sherina. "Aku sangat suka Kak Sherina! Andai saja Kak Vicky menikah denganmu lebih awal! Sudah pasti aku akan merestui kalian!"


"V-Velix!" pungkas Sherina.


"Kenapa? Aku berkata apa adanya, kok. Aku lebih suka Kak Sherina daripada si Ratu Mesir yang galak itu!" ucap Velix lagi tanpa rasa sungkan. Sejak dulu dia memang tidak begitu suka pada Cleo, bahkan selalu menyebut Cleo dengan julukan yang tidak sopan semacam itu.


"Uhh ..." racau Sherina yang diam-diam memperhatikan raut wajah Vicky.


Bagaimana ini? Vicky diam saja, apakah dia tersinggung dengan ucapan Velix barusan? Tapi, aku sendiri pun juga tidak mengira kalau Velix akan berkata demikian. Aku justru merasa bersalah, seakan-akan aku seperti merenggut posisi Cleo. Padahal, mereka yang membeliku untuk berada di posisi ini.


Hening, suasana yang tadinya begitu hangat tiba-tiba menjadi dingin. Velix yang tak tahu apa-apa hanya diam dengan tatapan polosnya. Sedangkan Sherina, dia tidak berbicara karena takut hanya akan mengeluarkan kata-kata yang tidak tepat.


Di satu sisi Vicky masih diam. Dia tak memberikan komentar apa-apa soal adiknya yang membandingkan Sherina dengan kekasihnya. Di tengah keheningan ini, dia termenung dengan tatapan mata yang kosong. "...."

__ADS_1


Kenapa Velix sampai berkata seperti itu? Aku tahu kalau selama ini dia susah akrab dengan Cleo. Dan sekarang dia terang-terangan bilang kalau dia lebih menyukai Sherina. Selama ini aku pun sadar kalau mereka berdua memiliki banyak perbedaan, tapi aku tak tahu mana yang lebih baik di antara mereka.


Aku sudah lama mengenal Cleo, aku sudah tahu baik dan buruk sikapnya. Sedangkan Sherina, aku belum lama mengenalnya, sekarang aku masih berusaha untuk mencari tahu lebih banyak soal dirinya. Tapi, jika Velix yang pikirannya masih polos berkata seperti ini, apa benar kalau Sherina itu sosok yang lebih baik dari Cleo?


__ADS_2