Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Dasar Playboy!


__ADS_3

"Terima kasih, Oliver. Berkat bantuanmu, aku jadinya bisa masuk ke sini. Maaf sudah menelepon tiba-tiba dan merepotkanmu," ucap Sherina dengan senyuman. Kini dia sedang menaiki lift khusus eksekutif bersama asisten suaminya ini.


"Tidak perlu berterima kasih, Nyonya Sherina. Sudah menjadi tugas saya untuk memastikan Nyonya diperlakukan baik di sini. Oh ya, tumben sekali Nyonya datang tanpa mengabari, tahu-tahu sudah ada di depan kantor dan menelepon saya kalau ada masalah. Saya sungguh kaget," ucap Oliver.


Sherina tertawa kecil. "Haha, maaf aku mengagetkanmu. Aku datang mendadak karena ada sesuatu hal yang mendesak dan penting sekali. Aku harus bertemu langsung dengan Vicky untuk membahasnya."


"Oh, saya kira Nyonya Sherina datang karena merindukan Tuan Vicky."


"T-tidak kok! Siapa juga yang merindukan dia?!" bantah Sherina yang langsung membuang muka.


"Haha, saya hanya bercanda. Lagi pula wajar saja kalau suami istri saling merindukan, Nyonya Sherina tidak perlu malu," imbuh Oliver lagi.


"Aku bilang tidak!" bantah Sherina dengan suara yang lebih keras dibanding sebelumnya. Dia seperti ini karena tidak lain demi menutupi rasa gugup bercampur malu. Dia malu mengakui kalau sebenarnya hari ini dia memang punya keinginan untuk bertemu dengan suaminya yang tampan itu. Tapi di saat yang sama, dia gugup karena menyadari kalau inilah kali pertama kedatangannya ke kantor ini.


TING!


Pintu lift terbuka, Oliver seketika menunjukkan Sherina jalan untuk ke ruangan Vicky. Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan yang jauh dari suara keramaian, begitu hening dan nyaman untuk melakukan pekerjaan.


"Jadi ini ruangan Vicky?" gumam Sherina sambil menatap pintu berwarna hitam dan besar di depannya.


"Iya, Nyonya. Ini ruangan kerja milik Tuan. Silakan masuk saja, saat ini jamnya sudah masuk jam istirahat makan siang, Tuan Vicky pasti senggang. Tidak perlu bantuan saya lagi, kan?"


"Iya, terima kasih sudah mengantarku sampai sini. Kau bisa pergi dan lanjutkan tugasmu."


"Baik Nyonya, saya undur diri ..." ucap Oliver sedikit membungkuk. Dia segera berlalu untuk kembali ke ruangannya sendiri.


"Hehe, mungkin tidak ada salahnya kalau aku langsung masuk, aku mau mengejutkan Vicky!" gumam Sherina yang merasa antusias sendiri. Dia tanpa ragu memegang gagang pintu itu, lalu membukanya dengan cepat.


"Vicky! Aku da—" Perkataan Sherina mendadak terhenti. Dia terkejut karena saat ini suaminya ini sedang berduaan dengan Cleo.


"Sherina?!" Vicky juga terkejut, dia belum menerima kabar dari Oliver yang harusnya menginformasikan kedatangan Sherina kemari. Alhasil dia segera meletakkan sendoknya dengan refleks. Entah kenapa dia tidak ingin istrinya ini salah paham kepadanya.


"Wah-wah ... kita kedatangan tamu tak diundang~" ucap Cleo yang terkesan mengejek. Dia merasa seperti dirinyalah istri dari CEO BSH Enterprise yang sah.


"Kenapa kau di sini?" tanya Sherina yang masih mematung di tempatnya berdiri saat ini.


"Tentu saja aku di sini. Sudah sejak lama setiap kali aku ada waktu, aku akan datang kemari mengantarkan makan siang untuk Vicky! Aku ini pacar yang perhatian, kalau aku sudah jadi istrinya Vicky nanti, aku akan lebih perhatian padanya lagi~" jawab Cleo dengan nada angkuh dan menyindir.


"...." Sherina terdiam, untuk kali ini dia tidak bisa membantah. Mungkin secara status sebagai istri sah dari Vicky, dia berhak untuk marah saat memergoki Vicky berduaan dengan wanita lain. Namun, sejak awal dia sudah tahu dengan keberadaan Cleo yang merupakan kekasih hati dari suaminya ini. Dia cemburu, dia marah, tapi dia tidak punya hak untuk mengungkapkan itu semua.


"Sherina, kenapa kau tiba-tiba datang? Kau juga tidak bawa apa-apa? Apa urusanmu datang kemari?" tanya Cleo lagi yang bermaksud untuk mempermalukan Sherina di depan Vicky.

__ADS_1


"Aku kemari karena ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan Vicky," jawab Sherina yang bersikap biasa saja. Dia justru ikut duduk di sofa yang berhadapan dengan Cleo dan Vicky.


Sial, kalau tahu ada Cleo di sini. Lebih baik aku tunggu Vicky pulang saja. Malas sekali aku melihat kemesraan mereka. Dan apa pula Vicky ini? Dia masih berhubungan mesra dengan Cleo, tapi di satu sisi juga ingin dekat denganku. Dasar Playboy!


"Ehem! Aku sudah selesai makan," ucap Vicky yang ingin lepas dari situasi canggung. Dia sungguh bingung harus memihak siapa, Sherina ini istrinya, tapi Cleo adalah kekasih yang sudah berhubungan selama lebih dari 5 tahun dengannya. Akhirnya dia memutuskan untuk menengahi mereka supaya tidak terjadi keributan.


"Eh? Sudah selesai? Tapi makananmu belum habis, Honey. Pokoknya ayo habiskan! Aku akan menyuapimu!" Cleo mengambil sendok lalu menyodorkannya ke arah mulut Vicky. Namun, yang terjadi Vicky justru menghindar dengan memalingkan wajahnya.


"Cukup, Cleo! Aku bukan anak kecil! Aku tak perlu kau suapi!" tolak Vicky dengan nada tegas.


"Ayolah ... sedikit saja, ini makanan kesukaanmu~ Aku sudah masak ini untukmu dengan sepenuh hati!" bujuk Cleo lagi.


Tidak akan aku biarkan! Pokoknya aku harus memamerkan kemesraanku dengan Vicky di hadapan Sherina! Biar si pengganti ini sadar! Kalau tetap akulah yang nomor satu di hati Vicky!


"Aku bilang kalau aku sudah selesai! Aku sudah kenyang! Jangan memaksaku!" berontak Vicky sambil mendorong tangan Cleo menjauh dari mulutnya, namun sayang sendok itu malah terjatuh. Kini, lantai kantor yang semula bersih itu jadi berantakan.


"Cleo! Ini gara-gara kau!" teriak Vicky yang dengan spontan menyalahkan Cleo.


Bukannya merasa bersalah, Cleo justru marah. "Kenapa kau menyalahkanku?! Kau yang mendorong tanganku!"


"Kau saja yang keras kepala! Aku sudah berulang kali bilang kalau aku sudah cukup makan! Tapi kau yang terus memaksaku!" balas Vicky yang kali ini tak mau mengalah dari kekasih lamanya ini.


"Cleo! Jangan salahkan Sherina! Dia sejak tadi diam saja! Sudahlah, aku tidak mau berdebat denganmu lagi! Jam istirahat juga sudah selesai! Lebih baik kau pergi!" sahut Vicky yang membuat Cleo semakin marah.


"Kau mengusirku?! Demi Sherina?! Jadi, kau lebih membela dia daripada aku?!" protes Cleo yang sangat tidak terima dirinya diusir.


"Aku tidak membela siapa pun! Aku juga tidak akan mengusirmu kalau kau tidak membuat keributan! Pergilah Cleo, aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu!" tegas Vicky sekali lagi.


"Oke, fine! Aku pergi! Selamat bersenang-senang dengan istrimu!" Cleo segera mencangklong tasnya, dia pergi dengan langkah kaki yang terburu-buru. Suasana hatinya benar-benar buruk. Jika diingat-ingat, baru kali ini Vicky mengusirnya saat jam makan siang, padahal biasanya justru Cleo yang akan izin pergi lebih dulu. 


"Hahh ..." Vicky menghela napas berat. Pertengkaran singkat baru saja terjadi rasanya sudah hampir menguras seluruh energinya, padahal baru saja dia isi dengan makan siang. Kotak bekal yang dibawa Cleo pun juga masih tampak berserakan di atas meja. Sungguh sebuah jam istirahat yang cukup menambah kelelahan.


"Mungkin seharusnya aku tidak kemari," ucap Sherina yang sangat paham kalau suaminya itu sedang merasa frustrasi.


"Eh?" Seketika Vicky mendongak dan menatap Sherina dengan tatapan canggung. "Maaf, harusnya kau yang tak perlu melihat pertengkaran barusan. Cleo itu ... sejak dulu memang begitu. Aku bahkan juga tak begitu paham dengan yang sebenarnya dia mau. Dia sendiri yang menyuruh kita menikah, tapi sekarang dia selalu menyudutkanmu. Kau tidak salah apa-apa, aku tahu itu. Jadi, kau tak perlu merasa sungkan."


"Yahh ... aku paham. Aku cuma sedikit kaget. Omong-omong ... aku baru tahu kalau kau suka memakan masakan rumahan seperti ini. Aku kira kau hanya makan makanan berkelas seperti yang koki kediaman masakkan setiap hari."


Vicky tersenyum tipis, lalu menunduk dan menatap sisa makanan yang tersisa di kotak bekal. "Jujur saja, aku lebih suka dengan makanan di kediaman. Aku menyukai masakan seperti ini cuma demi menghargai Cleo. Dia mau belajar memasak untukku, jadi aku rasa aku harus memakan makanan buatannya supaya dia tidak kecewa. Dan kemudian ... jadi kebiasaan dia saat senggang untuk mengantar makan siang kemari."


"Oh, jadi intinya kau pura-pura menyukai masakannya?" tanya Sherina lagi. Dia ingin mengorek isi hati Vicky.

__ADS_1


"Haha, secara kasarnya bisa dibilang begitu. Seperti yang aku bilang tadi, lagi pula sekarang masakan Cleo sudah ada peningkatan," jawab Vicky dengan senyum canggung.


"Misalnya saja, di depanmu ada makanan yang dibuat olehku dan makanan yang dibuat Cleo. Makanan mana yang akan kau makan pertama kali?"


"Eh, ini ...." Sontak saja Vicky merasa gugup. Dia paham betul apa maksud terselubung dari pertanyaan Sherina. Ini sama saja dia dihadapkan dengan pilihan yang sulit, harus memilih antara kekasih atau istrinya.


"Masakan buatanmu yang lebih dulu akan aku makan," jawab Vicky dengan keringat dingin.


"Sungguh? Bisa beritahu aku apa alasannya? Kau tidak menjawab begitu, karena aku yang ada di sini, kan?" tanya Sherina dengan senyuman, senyum kematian.


"Haha ... tentu tidak. Alasannya, aku sudah terlalu sering makan masakan Cleo. Jadi ... kalau makan punyamu lebih dulu, aku rasa lebih menarik," jawab Vicky tanpa berani menatap mata Sherina.


Sherina terdiam sejenak. Lalu, tiba-tiba saja dia malah tertawa cekikikan. "Pfftt ... tidak usah tegang begitu. Aku cuma mengajukan pertanyaan iseng. Untuk menghiburmu sedikit setelah kau mengeluarkan banyak tenaga di pertengkaran tadi."


"Oh, ahaha ... cuma pertanyaan iseng, ya ...."


Omong kosong, pertanyaan ini bahkan lebih sulit untuk aku jawab dibanding dari soal ujian. Pasti Sherina sengaja, lebih baik aku jangan cari gara-gara lagi dengannya.


"Oh ya, tadi kenapa kau datang kemari?" tanya Vicky yang bermaksud untuk mengubah topik pembicaraan.


"Aku datang kemari untuk mem—"


"Tunggu sebentar! Kita pindah saja ke tempat yang lebih bersih!" potong Vicky yang kemudian direspons dengan anggukan kepala oleh Sherina. Dia lantas mengajak Sherina untuk duduk di kursi yang berada di dekat meja kerjanya.


"Nah, sekarang kau bisa bicara lebih nyaman."


"Baiklah, aku ke sini untuk membicarakan sesuatu yang penting. Tapi sebelum itu, apa kau masih ingat saat kita berjanji dengan Velix hari itu?" tanya Sherina.


"Sebentar," ucap Vicky yang berusaha mengingat-ingat. Namun, setelahnya dia sedikit tersipu karena mengingat kejadian janji romantis yang dipaksa Velix waktu itu. "Jika yang kau maksud adalah janji yang Velix—"


"Tidak, bukan yang itu! Tapi kata-kata yang kau disanggupi sebelum Velix datang, tepat sesudah temanmu, Dokter Aslan bersama Ketua Asosiasi Kedokteran itu pulang." Sherina menyela, dia berusaha membuat Vicky mengingat kata-katanya.


"Ohh ... aku ingat. Saat itu kau marah, lalu aku membujukmu. Aku akan melakukan apa saja asalkan kau tidak marah lagi padaku. Tapi, saat itu kau tidak langsung bilang apa keinginanmu, karena kau mau memikirkannya baik-baik. Dan kau datang ke sini, apa sekarang kau sudah tahu apa yang kau minta?"


"Iya, aku sudah memutuskan apa yang sangat aku inginkan! Kau sungguh akan menepati kata-katamu, kan?" tanya Sherina dengan tatapan berharap.


"Tentu saja, silakan katakan apa yang kau mau aku lakukan," jawab Vicky dengan wajah datar. Sebenarnya dia gugup, serta penasaran dengan apa yang akan istrinya ini minta.


"Baiklah, kalau begitu aku tidak akan basa-basi. Aku mau kau menunjukku jadi Direktur Utama dari Dream Glow Cosmetics!"


"Hah?" Vicky terperangah.

__ADS_1


__ADS_2