
"Iya, aku bersedia melakukan apa saja!" ucap Kayla sekali lagi. Dia terpaksa mengatakan itu karena takut dengan ancaman dari Sherina.
"Baiklah, kalau begitu kau harus bekerja sama denganku jika tidak ingin dilaporkan!" jawab Sherina dengan nada menuntut.
"O-oke, aku akan mematuhi semua yang Kakak minta."
"Pertama, kau harus merahasiakan soal pertemuan kita ini. Dan kedua, aku minta kau sebutkan apa saja yang sudah diberikan ayahku! Karena aku ingin bukti konkret dan akurat soal aliran dana yang dikorupsi oleh ayahku!" Sherina tiba-tiba mengambil ponselnya, lantas membuka menu untuk fitur perekam suara.
"Nah, aku ingin kau memperkenalkan dirimu sendiri dengan rinci, setelah itu kau bisa sebutkan satu per satu apa saja barang-barang pemberian ayahku!"
Kayla mengangguk, kemudian mengambil napas dalam-dalam dan mengatakan persis seperti yang Sherina minta. Dia memperkenalkan dirinya sendiri dengan baik, lalu menyebutkan semua barang-barang yang telah dia dapatkan dari Panji. Mulai dari perhiasan, pakaian serta beberapa benda-benda mahal yang lain.
TIT!
Dengan spontan Sherina langsung memberhentikan rekaman suara ketika Kayla menyebutkan barang yang terakhir. Satu barang ini sungguh di luar bayangan Sherina. "Tunggu sebentar, apa kau sungguhan?! Ayahku memberikan 2 persen saham kepadamu?!"
"Benar, om Panji memberikan 2 persen saham miliknya padaku. Sebenarnya aku tak begitu paham mengenai persoalan saham. Yang aku tahu saham itu adalah hal yang sangat berharga. Karena itulah aku pikir om Panji benar-benar menyayangiku dan serius padaku. Tapi, kalau Kakak mau, aku bisa memberikan saham itu pada Kakak!"
"...." Sherina terdiam, untuk sekarang dia tak mau terburu-buru mengambil keputusan.
__ADS_1
Ayah benar-benar sudah keterlaluan! Bisa-bisanya memberikan saham pada orang asing, biarpun jumlahnya sedikit, tetap saja itu tindakan sembrono! Dan lagi, peralihan kepemilikan saham ini juga lebih rumit. Ada prosedur tersendiri yang harus melalui pencatatan dokumen dalam buku khusus daftar pemegang saham.
Ibu memberikan 40 persen pada ayah, 30 persen padaku, 20 persen dimiliki oleh para dewan direksi, lalu 10 persen sisanya beredar di pasar saham. Artinya 40 persen saham ayah kini sudah berkurang, aku tidak bisa membuang kesempatan emas ini! Aku harus merebut 2 persen saham yang berada di tangan Kayla.
Namun, tetap saja prosedur peralihan itu rumit. Jika Kayla memberikan saham begitu saja padaku, aku bisa dicurigai telah mendapatkan saham dengan cara yang tidak benar. Dan jika aku melakukan itu, maka aku tidak ada bedanya dengan ayah. Demi memiliki saham itu secara sah, aku harus membelinya dengan harga wajar.
Tapi, untuk sekarang aku tak punya cukup uang. Nilai dari 2 persen saham itu hampir setara 1,5 miliar, itu pun jika nilai saham masih stabil dengan yang terakhir kali aku periksa, entah sekarang nilainya sudah naik atau justru turun. Aku harus mengatur rencana baru supaya saham itu bisa jatuh ke tanganku. Karena ini bisa jadi langkah awalku untuk merebut kembali perusahaan ibu!
"Kayla!" panggil Sherina dengan tatapan tajam, membuat Kayla kembali tegang.
"Ya?" tanya Kayla dengan nada hormat.
"Aku akan menyebutkan syarat yang ketiga. Aku ingin kau pegang baik-baik saham itu, jangan sampai kau berikan pada siapa pun kecuali aku! Bahkan jika ayahku memintanya kembali, jangan pernah berikan! Dan yang terakhir, aku mau kau laporkan padaku setiap kali kau bertemu dengan ayahku! Apa kau paham?" tanya Sherina penuh penekanan.
"Baguslah kalau kau paham. Kau bisa pergi, kembalilah ke kafe itu dan temui ayahku sepertiĀ biasa. Aku tak mau dia merasa curiga karena kau menghilang terlalu lama."
"Baiklah, terima kasih karena Kakak mau memaklumi aku." Kayla segera pergi dari bakery itu. Sekarang dia merasa lega karena tak lagi berhadapan dengan Sherina. Secepat mungkin dia berjalan kembali ke kafe yang tadi untuk menemui Panji.
Sedangkan Sherina, dia masih duduk di tempat dan menghela napas berat. "Haahh ... gadis yang tak mengerti apa-apa dihadiahi saham. Dasar ayah brengs*k, dia pasti juga memberikan secuil saham pada simpanannya yang lain. Benar-benar tidak menghargai ibu! Kalau begini, aku juga harus melabrak sugar baby ayah yang lain!"
__ADS_1
***
Pada saat yang sama di kediaman utama keluarga Bashara. Saat ini Ariana tampak kurang antusias ketika membaca majalah langganannya. Perhatiannya tiba-tiba berubah tertuju pada kepala pelayan yang lewat.
"Paman Will! Kemari!" panggil Ariana.
Paman Will menoleh, dia segera mendekat karena berpikir jika Ariana membutuhkan dirinya untuk melakukan sesuatu. "Apakah teh milik Nyonya sudah dingin?"
"Tidak, aku memanggilmu bukan untuk mengganti tehku. Aku cuma ingin tahu tentang apa yang saat ini kau bawa!"
"Eh?" Paman Will langsung tersadar dan berhenti menyembunyikan sebuah benda yang dia bawa di tangan kirinya. "Ini, hanya sebuah surat undangan, Nyonya."
"Berikan padaku!" pinta Ariana dengan nada memaksa.
Paman Will pun hanya bisa pasrah dan menyerahkan surat undangan tersebut. Begitu surat sudah di tangan Ariana, dia langsung membacanya dengan saksama. Lalu, reaksi yang pertama kali dia perlihatkan adalah sebuah seringai sinis.
"Wah-wah ... undangan untuk menghadiri pesta pernikahan Satya dan Sofia. Ambil kembali, taruh saja di meja kerja Vicky supaya dia melihatnya. Dan satu hal lagi, pastikan Sherina juga mengetahuinya! Aku ingin mereka berdua menghadiri pesta ini sebagai perwakilan keluarga Bashara!"
"Baik, Nyonya ..." jawab Paman Will seraya menerima surat undangan itu. Dia juga bergegas undur diri dan segera melakukan apa yang Ariana suruh.
__ADS_1
"Haha, sudah diundang maka tidak sopan jika tidak datang. Hanya saja bukan aku, tentu saja aku tidak sudi menghadiri pesta rendahan macam ini!" gumam Ariana dengan senyum jahatnya.
Huh, akhirnya tiba juga kesempatan untuk membuat Sherina si menantu tidak tahu diri itu menderita! Dengan membuatnya menghadiri pesta pernikahan mantan suami tercintanya, dia pasti akan merasa hancur. Kasihan sekali, entah suami lama maupun suami baru, Sherina tidak mendapatkan cinta yang tulus dari keduanya!