
Dream Glow Cosmetics, perusahaan kosmetik ini adalah sebuah perusahaan semimayor yang sudah berdiri selama hampir 40 tahun. Namanya sudah tidak asing lagi di telinga orang-orang. Belakangan ini performa perusahaan telah meningkat, harga sahamnya pun juga naik pesat. Namun, itu adalah kisah kemarin. Hari ini, perusahaan Dream Glow Cosmetics terancam mengalami kebangkrutan.
Satu per satu masalah terjadi pada perusahaan ini. Semua investor menarik dana investasi, para eksekutif perusahaan mengundurkan diri secara massal, pendanaan semua proyek seketika terputus, para pegawai beramai-ramai menagih upah dan pesangon, semua ini terjadi dalam satu hari. Alasannya, pimpinan perusahaan yang sudah berdiri lama ini telah menyinggung seseorang yang salah, yaitu Vicky Bashara.
Kebangkrutan sudah ada di depan mata, Panji yang selaku menyandang jabatan sebagai pemimpin perusahaan ini hanya bisa menyesali perbuatannya. Dia hampir dibuat gila, satu-satunya sumber pendapatnya selama bertahun-tahun kini telah lenyap. Hanya ada kerugian besar yang sudah menantinya.
Dalam masa-masa kritis ini, sekali lagi Vicky melakukan sebuah gerakan yang besar. Dia memutuskan untuk mengakuisisi perusahaan yang lumpuh ini dengan harga yang murah. Kini, Dream Glow Cosmetics telah sepenuhnya berada di bawah naungan Vicky Bashara. Cuma ini satu-satunya hal yang bisa Panji lakukan, dia terpaksa menjual perusahaannya agar setidaknya dia mendapatkan sedikit uang.
Jagat bisnis dibuat heboh dengan berita ini, kabar soal Vicky yang mengakuisisi Dream Glow Cosmetics, yang merupakan perusahaan turun-temurun milik keluarga Dharmawangsa, kini kabar tersebut telah tersebar ke berbagai media massa. Akan tetapi, tidak sedikit yang merasa heran dengan hal ini. Yang membuat mereka merasa keheranan, tentu saja adalah alasan di balik Vicky rela berbuat ini semua.
"A-apa ini?!" Sherina terkejut, terus bertanya-tanya di dalam benaknya.
Seharian ini dia terus berada di dalam kamar, karena Vicky berpesan padanya untuk beristirahat dan melakukan pemulihan. Akan tetapi, saat dia memeriksa ponselnya, secara tak sengaja dia melihat artikel tentang berita suaminya yang telah mengakuisisi perusahaan milik mendiang ibunya.
"Apa ini sungguhan?" gumam Sherina lagi. Dia benar-benar tidak menyangka hal ini terjadi, dan Vicky sendiri pun juga tak pernah membahas ataupun mendiskusikan hal ini padanya.
"Kenapa Vicky melakukan ini?" Semakin Sherina berpikir, semakin dia bingung. Dia sungguh tak tahu tentang kepastian hal ini. Apakah dia harus mempercayainya ataukah tidak.
Saat diselamatkan Vicky kemarin, ayah sepertinya mendapatkan serangan mental sampai terkejut dan berlutut di lantai. Jangan-jangan yang membuat ayah jadi begitu adalah hal ini! Dalam sehari, Vicky menghancurkan dan mengambil alih perusahaan! Sial, ini terlalu mendadak. Meskipun aku senang kalau ayahku menderita, tapi aku juga punya andil dalam perusahaan itu!
"Tidak bisa begini, aku harus menemui Vicky sekarang juga!" Sherina langsung beranjak dari ranjangnya, lalu bertanya pada paman Will di manakah Vicky sekarang. Kebetulan sekali hari ini Vicky tak berangkat ke kantor, jadi dia bisa menemui suaminya di ruang baca pribadinya.
TOK TOK TOK TOK!
Sherina mengetuk pintu dengan cepat, dia sudah tak sabar lagi untuk meminta penjelasan dari Vicky. Dan tak berselang lama kemudian, ada suara Vicky yang mempersilakan dirinya untuk masuk.
__ADS_1
"Sherina, ada apa kemari? Apa kau perlu sesuatu? Bukannya aku sudah bilang padamu, kalau ada perlu apa-apa kau bisa meminta pada pelayan," sambut Vicky dengan senyuman dan nada bicara yang hangat.
"Bukan! Aku ke sini karena ingin membicarakan hal serius denganmu!" Sherina lantas menyodorkan ponselnya ke atas meja kerja Vicky. Layar ponsel itu masih menyala, bahkan juga memperlihatkan artikel yang memuat tentang berita Vicky yang mengakuisisi perusahaan Dream Glow Cosmetics.
"Hm?" Vicky melihat sekilas, dia tampak kaget begitu membaca headline dari berita tersebut.
"Aku kemari karena alasan ini! Kenapa kau melakukan ini, Vicky? Jelaskan semuanya padaku!" pinta Sherina dengan nada memaksa.
Vicky tak langsung menjawab. Dan setelah mengambil beberapa napas, dia tersenyum kecil seraya berkata, "Tadinya aku mau memberitahumu secara pribadi, tapi ternyata kau sudah mengetahui hal ini sendiri. Semua yang tertulis di artikel berita ini adalah benar, aku mengakuinya. Dan aku melakukan ini demi memberi kejutan untukmu! Kau senang, kan?"
"Kejutan macam apa yang kau maksud?! Aku akui kalau aku terkejut, tapi aku sama sekali tidak senang! Bagaimana bisa kau berpikir kalau hal ini akan mampu membuatku senang? Kau mengakuisisi perusahaan peninggalan mendiang ibuku, tanpa sepengetahuanku! Kau pikir aku akan senang?" tanya Sherina yang tidak begitu mengerti dengan jalan pikir Vicky.
"Kau benar-benar tidak suka?" Vicky bertanya balik, reaksi yang diberikan oleh Sherina sangat bertentangan dengan ekspektasi yang dia harapkan.
"T-tidak, Sherina. Bukan begitu, kau salah paham dengan maksudku ..." jawab Vicky gelagapan. Dia tak habis pikir jika Sherina akan protes padanya hingga seperti ini.
"Lantas apa maksudmu?! Jelaskan Vicky, aku minta jelaskan semuanya sekarang juga!" tuntut Sherina lagi yang sudah hampir kehilangan kesabaran.
Vicky menghela napas, lalu tiba-tiba mengambil sebuah dokumen dari laci mejanya. Dia juga membuka dokumen itu dan menyodorkannya ke arah Sherina. "Ini adalah bukti kepemilikan Dream Glow Cosmetics yang sekarang. Aku ingin mengalihkan ini padamu. Sebenarnya inilah kejutan yang aku maksud."
"A-apa?!" Sherina melongo, dia makin bingung dengan situasi sekarang. Masih tak mengerti dengan maksud suaminya yang sebenarnya.
"Begini, Sherina ... aku menempatkan perusahaan Dream Glow Cosmetics dalam masa krisis bukan tanpa alasan. Aku tahu kalau sebelumnya perusahaan itu sepenuhnya berada di bawah kendali ayahmu. Aku melakukan ini demi memberi ayahmu pelajaran, karena saat itu dia berani mengurung dan menyiksamu."
"Setelah keadaan perusahaan berada di ambang kebangkrutan, aku mengakuisisinya dengan harga murah. Akan tetapi, aku melakukan ini atas dasar peduli padamu! Sekarang juga kau hanya perlu tanda tangan di dokumen ini, maka perusahaan Dream Glow Cosmetics akan sepenuhnya jadi milikmu! Jadi, kau jangan salah paham padaku lagi, ya?" bujuk Vicky supaya istrinya ini tak marah lagi padanya.
__ADS_1
"Vicky ... k-kau ...." Sherina terbata-bata, kedua tangannya ikut gemetaran. Bukannya merasa senang dengan tindakan yang sudah Vicky lakukan demi dirinya, dia justru semakin merasa marah. "Kenapa Vicky?! Kenapa kau berbuat seenaknya seperti ini?!"
Vicky tersentak, dia masih tak tahu di mana letak kesalahannya. "Sherina ... aku hanya bermaksud untuk menolongmu, kenapa kau malah marah?"
"Menolong katamu?! Tapi aku tak pernah memintamu untuk menolongku dalam hal ini! Kau tak tahu apa-apa! Kau tak tahu bagaimana perjuanganku selama ini! Kau tak akan paham betapa susahnya aku mendapatkan perusahaan itu dengan usahaku sendiri! Aku tak butuh bantuanmu, Vicky!"
"Kenapa Sherina? Bukannya akan lebih mudah bila aku membantumu?" tanya Vicky lagi.
"Ya, mudah! Sangat mudah! Tapi aku tak puas dengan kemudahan ini! Sejak perusahaan itu jatuh ke tangan ayahku! Aku terus berusaha untuk merebutnya dengan tanganku sendiri! Kau mungkin menganggap jika bantuanmu ini sudah benar! Tapi kau tak pernah berpikir bagaimana akibatnya nanti! Semua orang akan berpikir kalau aku mendapatkan perusahaan itu berkat mengandalkan dirimu! Tapi, tak akan pernah ada yang tahu bagaimana usahaku untuk mendapatkannya sendiri!"
"Kau keterlaluan Vicky! Kau menghancurkan kerja kerasku selama ini! Selama bertahun-tahun aku berusaha merebut perusahaan itu dengan kemampuanku sendiri! Tapi dalam sehari, kau mendapatkan segalanya dengan alasan demi membantuku! Lantas mau ditaruh di mana harga diriku? Aku perlu kepercayaan dari orang-orang, supaya aku bisa memimpin perusahaan peninggalan mendiang ibuku dengan baik! Aku ingin diakui sebagai pemimpin yang pantas! Aku tak mau dianggap kalau aku mendapatkan semuanya hanya atas bantuan darimu! Aku butuh pengakuan!"
Bibir Sherina gemetar, wajahnya sudah merah padam karena emosinya yang bercampur aduk. Marah, kecewa, sedih dan jengkel semuanya menjadi satu. Dia menyambar ponselnya yang masih berada di atas meja Vicky. Dan sebelum dia berpaling badan, dia kembali berteriak, "Aku mengerti kenapa kau melakukan ini! Kau menganggap perjanjian kita itu sudah lenyap. Jadi, kau ingin menjadi suami yang membantu istrimu. Biarpun niatmu itu baik, jika kau memang menganggapku sebagai istrimu, harusnya kau juga menghormati pendapatku! Tapi, ini bukan membantu lagi namanya. Kau sudah terlalu ikut campur!"
"Harusnya kau minta pendapatku lebih dulu! Jangan pikir, dengan kau yang punya kekuasaan, kau yang punya kekayaan mutlak, dan kau yang lebih unggul di segala bidang dariku, bisa bebas memutuskan hidupku seenaknya! Yang kau pikir itu baik, belum tentu aku akan menganggapnya baik juga! Kita tidak sama!" pekik Sherina hingga urat lehernya sampai terlihat.
Vicky terus membisu dan tak mencegah kepergian Sherina dari ruangannya. Dia terpaku, menatap dokumen yang hendak dia gunakan untuk peralihan itu dengan tatapan kosong. "Jadi ... aku salah?"
Aku sama sekali tidak mengira jika bantuanku kali ini akan ditolak oleh Sherina. Aku kira dia seperti orang lain, aku kira semua wanita itu sama. Baik ibu ataupun Cleo, mereka berdua sama-sama akan senang jika aku memberikan bantuan pada mereka. Bahkan, Cleo justru memintaku untuk menyokong dan mendukung kariernya sebagai model. Sampai dia jadi bintang besar seperti sekarang, sama sekali tidak ada masalah.
Sherina sepertinya sangat marah padaku. Bahkan sampai bilang kalau aku telah menghancurkan kerja kerasnya selama bertahun-tahun. Sepertinya bagi sebagian orang, mendapatkan jalan instan atau kemudahan itu tidak memuaskan. Rupanya ini yang diinginkan oleh Sherina. Aku memang telah salah perhitungan, ternyata Sherina itu memang wanita yang mandiri. Aku ceroboh karena menyamakan dirinya dengan wanita lain.
"Haiss ... jika dihitung, ini pertengkaran pertamaku dengan Sherina. Apa dia juga akan merajuk beberapa hari padaku? Seperti halnya saat Cleo marah denganku?"
Tiba-tiba Vicky menggeleng kepala. "Ck, tidak bisa begini! Aku harus minta maaf lebih dulu! Lagi pula ini salahku, seharusnya aku memang perlu menanyakan pendapatnya sebelum bertindak. Tapi sekarang ... sebaiknya aku memberi sedikit waktu untuk Sherina, sepertinya dia butuh waktu untuk menyendiri."
__ADS_1