Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Perpecahan


__ADS_3

"Huff ...." Satya menekan pangkal hidungnya sendiri, entah sudah kali ke berapa dia tak henti-hentinya menghela napas sebab merasa pening. Alasannya dia seperti ini, tidak lain karena laporan surat tagihan bulanan kartu kredit, dan perincian pengeluaran perusahaan yang dia terima minggu ini.


"Kak Satya Sayaaang~" Mendadak Sofia muncul, dia merangkul dari belakang punggung pria ini. Yang semula hanya selingkuhnya, namun kini sudah menjadi suaminya.


"Kakak sedang apa?" tanya Sofia dengan nada genit, dia juga bergelayut manja pada Satya yang tengah duduk di sofa.


"Tidak ada apa-apa, aku cuma sedang bersantai," jawab Satya sambil melipat kertas yang dia pegang. Dia tak ingin Sofia tahu kalau dirinya sedang memusingkan masalah keuangan.


"Ohh ... omong-omong, boleh tidak kalau hari ini aku keluar untuk berkumpul dengan teman-temanku?" tanya Sofia yang masih bersikap manja, jelas sekali kalau dia berharap Satya menyetujui keinginannya.


"Teman-teman?" Satya termenung sejenak, dia tahu apa yang akan istrinya ini lakukan saat dia bersama dengan teman-temannya. Perkumpulan ini bukan sesuatu yang sehat, masing-masing dari mereka akan saling memamerkan kelebihan yang dimiliki. Tak terkecuali Sofia, dia akan menonjolkan gaya hidupnya yang mewah, serta melebih-lebihkan kasih sayang yang Satya berikan untuknya. Bahkan, tak jarang bagi Sofia untuk mentraktir ataupun sekalian membayarkan tagihan milik teman-temannya, hanya demi mendapatkan pujian dari mereka.


"Apakah kau tidak bisa tetap di rumah dan temani aku saja?" tanya Satya yang terkesan tidak rela. Sebenarnya dia punya maksud tertentu, secara tidak langsung dia ingin Sofia tidak jadi jalan-jalan keluar dan menghamburkan uang.


"Aihh ... suamiku ini~ Apakah waktuku bersamamu masih kurang? Jika kau mengizinkan aku keluar rumah hari ini, nanti malam aku akan memberi kejutan spesial untukmu~ Aku jamin Satya-ku tersayang tidak akan pernah bosan denganku~" goda Sofia yang masih belum peka. Di pikirannya, hanya memberikan pelayanan yang memuaskan di ranjang saja sudah cukup bagi Satya.


"Aku sedang tak terlalu bergairah, Sofia." Satya menghela napas, lantas memegang tangan Sofia dengan sentuhan lembut. Bermaksud memberikan kesan jika dia hendak berbicara dan memberikan pengertian dengan cara baik-baik. "Duduklah Sofia, aku ingin berbicara serius denganmu."


"Tidak mau! Aku suka dalam posisi ini, kalau mau bicara maka tinggal bicara saja. Aku pasti akan mendengarkan dengan baik," jawab Sofia spontan, dia hanya mementingkan kenyamanan dirinya sendiri.


Lagi-lagi Satya menghela napas, dia paham jika mustahil untuk membuat Sofia menurut kalau dia sudah punya kemauan sendiri. "Baiklah, kalau begitu akan aku katakan. Aku hanya punya satu permintaan kecil padamu. Bisakah mulai sekarang kau sedikit berhemat?"


Sofia terperangah, baru pertama kali ini dirinya disuruh untuk berhemat. "Apa? Berhemat? Apa kau tidak mau membiayai aku lagi?"


"Bukan begitu, Sofia. Tolong jangan salah paham dulu, aku menyuruhmu berhemat bukan pada kebutuhan pokokmu, akan tetapi pada kebutuhanmu yang tak terlalu penting. Misalnya saja membeli tas, apakah penting membeli tas baru setiap kali kau membeli baju baru? Dan biaya perawatanmu ke salon itu termasuk mahal, sekali datang habis berjuta-juta. Kau itu sudah cantik dari lahir, apa perlu kalau sering-sering datang ke sana?"

__ADS_1


"Itu semua jelas penting, Kak! Aku beli tas baru supaya juga terlihat serasi dengan baju baruku! Aku melakukan ini demi menjaga image kita di depan orang-orang. Aku tidak mau ada orang yang merendahkan kita karena penampilan kita yang tidak sesuai! Jika aku pakai pakaian yang sama, nanti mereka akan menganggapku miskin karena tak punya baju ganti! Rutin pergi ke salon itu juga penting buatku! Meskipun aku sudah cantik dari lahir, aku tetap harus merawat tubuhku demi menjaga kecantikanku ini! Lagi pula aku cantik juga demi untukmu, aku tidak tampil cantik demi menyenangkan orang lain!" bantah Sofia.


Satya terdiam, dia tak bisa mengelak soal apa yang dikatakan oleh istri barunya ini. Sedangkan Sofia, dia justru salah mengartikan diamnya Satya. Dia berpikir tentang sesuatu yang buruk pada suaminya ini. Seketika juga melepaskan rangkulan tangannya dari Satya.


"Ohh ... sekarang aku tahu alasan di balik kau mempermasalahkan hal ini. Di saat kau masih jadi suaminya Sherina, kau irit sekali padanya. Akan tetapi, pada saat itu kau malah mau memanjakan aku yang statusnya sebagai selingkuhanmu. Dan sekarang, kau tiba-tiba mau membatasi keperluanku, jangan-jangan kau menyuruhku berhemat demi memelihara selingkuhanmu yang ada di luar sana!" tuduh Sofia dengan nada menusuk.


"Tidak, Sofia!" teriak Satya yang langsung berdiri, dia mulai emosi karena istrinya ini telah menuduhnya melakukan sesuatu yang sama sekali tidak pernah dia perbuat. "Jaga kata-katamu! Aku tidak punya selingkuhan lain! Selama ini aku sibuk bekerja, hanya kau satu-satunya wanita di hidupku sekarang!"


"Lalu kenapa sikapmu mulai berubah padaku? Apa kau sudah tidak menyayangiku lagi?" tanya Sofia dengan wajah memelas. Dia mengeluarkan jurus andalannya, bertingkah seolah-olah rapuh dan terluka.


"Kau ...." Emosi Satya tiba-tiba menghilang, entah kenapa dia mulai merasa bersalah karena membentak Sofia. "Maafkan aku, aku melakukannya bukan karena sudah tidak sayang padamu lagi. Hanya saja ... belakangan ini bisnisku sedang tidak berjalan lancar. Ada beberapa kendala yang menyebabkan pikiranku terlalu penuh."


"Bisnis Kakak tidak berjalan lancar?" tanya Sofia yang diam-diam merasa khawatir. Dia sungguh takut jika suaminya yang dia rebut dengan susah payah sebentar lagi akan bangkrut.


"Yaa ... penghasilan sedang menurun, mungkin ini karena pengaruh tren. Kau tahu sendiri kalau aku mewarisi bisnis restoran masakan khas China. Dan sekarang musimnya sedang tren makanan ala Korea, minat pelanggan pada masakan China sebagian besar berganti. Itulah sebabnya laba bulan ini lebih sedikit dibanding sebelumnya. Sekarang kau sudah tahu alasanku menyuruhmu berhemat, kan?" tanya Satya dengan nada bicara rendah. Berusaha memberikan penjelasan pada istrinya yang keras kepala ini secara baik-baik.


Tanpa berkata sepatah kata pun lagi, Sofia melangkah pergi meninggalkan Satya seorang diri. Baginya, jika suaminya tidak terancam mengalami kebangkrutan, dan asalkan dia masih bisa hidup senang, hal itu tak patut untuk dipusingkan.


"Astaga ..." gumam Satya dengan raut wajah kecewa. Dia tak menyangka jika Sofia akan pergi tanpa memedulikan dirinya. Kemudian, dia beralih memandang lipatan kertas tagihan yang sebelumnya dia taruh di atas sofa.


Egois sekali, aku merasa kalau Sofia selalu tidak peduli pada urusanku. Bahkan, dia tetap tidak mau berhemat setelah aku memberitahunya tentang masalah sebenarnya. Berbeda sekali dengan Sherina, jika dia ... pasti akan membantuku memikirkan solusi, dia selalu bersedia jika aku mengajaknya untuk menghadapi masalah bersama-sama.


"Mungkin karena alasan ini pernikahanku dengan Sherina mampu bertahan selama 2 tahun. Jika saja tidak ada Sofia ...." Satya mendadak berhenti bergumam. Lantas menggeleng kepala secepat mungkin.


"Lupakan! Tidak ada gunanya aku mulai membandingkan mereka, sejak awal mereka itu orang yang berbeda! Sofia juga punya kelebihan tersendiri, asalkan aku bersabar sedikit lagi, dia pasti juga akan luluh."

__ADS_1


Satya hanya bisa menanamkan sugesti pada dirinya sendiri. Terus menjejali pemahaman palsu untuk mencuci otaknya sendiri, berusaha meyakini kalau keputusannya mencampakkan Sherina demi Sofia tak pernah salah. Dia melakukan semua ini, sebab dia tidak mau dihantui rasa penyesalan karena terlanjur melepaskan Sherina.


***


Di sisi lain pada saat yang sama, di dalam rumah yang ditempati oleh Panji. Sejak tadi dia hanya duduk di depan televisi, membiarkan televisi tetap menyala sekalipun dia sebenarnya sedang sibuk membaca koran. Akan tetapi, dia tidak bisa fokus untuk mencermati apa yang dibaca, karena istrinya saat ini terus mengomel dan mondar-mandir tidak jelas.


"Ck, tidak bisakah kau tenang sedikit? Sebenarnya kau ini kenapa?" tanya Panji dengan tatapan kesal.


"Diam kau! Aku sedang pusing! Harusnya sekarang aku bertemu untuk menghadiri acara arisan bersama teman-temanku!" jawab Fina dengan nada tinggi, sepertinya dia teramat frustrasi. Bagaimana tidak? Karena teman-teman yang jadi perkumpulannya ini adalah wanita-wanita sosialita yang berasal dari kalangan atas.


"Kenapa kau malah marah? Pergi saja temui mereka, daripada kau meraung-raung seperti singa kelaparan!" jawab Panji dengan nada yang tak kalah tinggi.


"Aku tidak bisa keluar gara-gara kau, tahu! Gara-gara perusahaanmu diambil alih, aku jadi kehilangan muka di depan teman-temanku! Dari kemarin hingga sekarang saja sudah banyak yang meneleponku untuk bertanya! Jika aku datang ke klub arisan, mereka pasti akan mengorek semuanya sampai tuntas! Aku tidak mau menanggapi mereka! Meskipun aku harus rugi karena aku belum dapat arisan! Sialan, ini semua gara-gara aku punya suami tidak berguna sepertimu!"


"Apa?! Kau bilang aku tidak berguna?!" bentak Panji seraya membanting koran miliknya.


"Ya, karena kau itu sekarang pengangguran! Sebelumnya kau pun juga bukan pemimpin perusahaan yang kompeten! Bahkan sampai menggadaikan rumah ini demi menutup kekurangan dana! Benar-benar pria menyedihkan! Ini semua karena kegagalan rencanamu! Kau yang sembarangan mengusik Sherina dan membuat Vicky Bashara marah! Lihatlah aku, aku terkena imbas dari kebodohanmu!" hardik Fina tanpa rasa takut.


"Kau ...! Berani-beraninya menyebutku bodoh!" pekik Panji seakan tak terima.


"Memang fakta kalau kau itu bodoh! Kalau kau tidak bodoh coba lakukan sesuatu yang berguna dan hasilkan uang! Jangan pikir dengan sisa uang yang kau punya, lalu kau bisa bermalas-malasan seumur hidup di rumah!"


"Uang-uang-uang! Apa otakmu isinya hanya itu? Sisa uang kita itu masih cukup, cobalah berhemat dan hidup sederhana saja! Dan kenapa pula cuma aku yang harus bekerja keras? Lalu kau yang seenaknya menghamburkan uang! Istri macam apa kau ini?!" balas Panji karena sudah tak tahan dengan Fina.


"K-kau ...!" tubuh Fina bergetar karena marah. Dia sangat tidak terima ketika Panji menghina dirinya. "Ya, di otakku memang hanya ada uang! Dan sedari awal harusnya kau sudah tahu itu! Aku mau menikah denganmu karena kau dulunya punya banyak uang, dasar bodoh!"

__ADS_1


Fina langsung pergi dengan langkah kaki yang terburu-buru. Dia sudah muak untuk berdebat dengan suaminya ini. Panji pun juga sama, dia juga sudah lelah dan jenuh untuk menanggapi istrinya. Dulu, dengan uang yang jadi alasan, mereka yang sama-sama berhati jahat selalu kompak dan sejalan. Akan tetapi, sekarang sudah banyak yang berubah. Karena harta yang pelan-pelan meninggalkan, hal yang siap menanti mereka hanyalah perpecahan.


__ADS_2