Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Perlakuan Tidak Adil


__ADS_3

Anak kecil yang berhasil mengagetkan semua orang ini bernama Velix Bashara, usianya baru 7 tahun, adik kandung Vicky yang terpaut jauh darinya. Vicky merasa kaget dengan kemunculan adiknya bukan tanpa sebab, alasannya adalah seharusnya saat ini Velix berada di asrama.


"Velix, kenapa kau di sini? Kau menyelinap keluar dari asrama lagi?" tanya Vicky dengan tatapan tajam. Dia tidak suka ketika adiknya melanggar aturan.


Bocah kecil ini tak takut, dia berkacak pinggang lalu dengan lantang dia berkata, "Memang apa salahnya aku menyelinap keluar? Aku cuma mau melihat seperti apa kakak iparku!"


Seketika para tamu melongo, begitu pula dengan Sherina. Kaget lantaran bocah ini menyebut kakak ipar, yang artinya sudah jelas kalau dia adalah adik Vicky. Banyak dari mereka yang belum tahu soal keberadaan Velix yang merupakan adik kandung Vicky. Karena sejak awal keberadaan Velix memang cukup dirahasiakan dari muka publik.


"Kakak harusnya membela istri Kakak! Aku lihat sendiri kalau wanita menor ini hendak menampar kakak ipar, lalu dia pura-pura jatuh dan menuduh kakak ipar!" seru Velix seraya menuding ke arah Sofia.


Sofia seketika merasa gugup, dia yang masih enggan menanggung malu lantas berteriak, "S-semuanya, jangan percaya pada bocah tidak jelas ini!"


"Beraninya bicara padaku begitu! Aku pemilik rumah ini, tahu!" Velix menjulurkan lidahnya, mengejek Sofia dan tiba-tiba saja berlari bersembunyi di balik Vicky.


"Kakak harus memberi keadilan! Wanita itu sudah memfitnah kakak ipar! Bahkan juga mengataiku bocah tidak jelas! Padahal aku ini kan adik Kakak yang paling manis!" pintanya dengan nada manja pada Vicky.


"Haiss ...." Vicky menekan pangkal hidungnya, dia merasa pening kenapa harus terjadi masalah seperti ini di pesta pernikahannya. "Aku mohon demi kenyamanan semua orang. Nona Sofia, minta maaflah pada Sherina atas apa yang sudah kau lakukan!"


"Aku tidak sudi! Atas dasar apa mempercayai perkataan bocah kecil itu?! Apa kalian tidak lihat kalau aku benar-benar kesakitan! Sherina jelas-jelas sudah mendorongku!" bantah Sofia yang masih berusaha mencari pembelaan.


"Sofia, jika kau masih peduli pada harga dirimu maka minta maaflah! Jangan berkelit lagi! Memangnya kau tidak malu menjadi tontonan bodoh bagi semua orang?" tanya Sherina dengan tatapan menusuk.


"Kalau begitu periksa saja rekaman CCTV! Nenek sihir berani atau tidak?" tanya Velix.


"CCTV ...." Mendadak Sofia menjadi gugup, dia melirik ke atas dan memang benar jika ada sebuah kamera pengawas yang terpasang di sana. Tubuh Sofia gemetar, membayangkan betapa rendah dan malunya nanti jika dia harus meminta maaf pada Sherina.

__ADS_1


"Kita pergi saja! Sepertinya keberadaan kita di sini tidak dihargai!" ucap Sofia yang langsung menyeret Satya pergi.


Tingkah Sofia barusan membuktikan bahwa tuduhannya itu salah. Dan semua ini berkat Velix yang memberanikan diri untuk membela Sherina. Para tamu yang menyaksikan ini semua langsung kembali bergosip. Membicarakan tentang hubungan kakak adik antara Sherina dan Sofia yang buruk.


"Sebagai tuan rumah, saya meminta maaf atas kejadian barusan. Silakan para tamu kembali melanjutkan menikmati pesta!" ucap Vicky dengan suara lantang. Menegaskan supaya para tamu itu tak lagi berkerumun dan berbicara sembarangan yang mempengaruhi jalannya pesta.


"Hm?" Velix kembali mengerlingkan pandangan ke arah Sherina. Dia lantas mendekatinya dan berjalan memutari Sherina.


"Kau sedang apa?" tanya Sherina dengan perasaan aneh sekaligus heran dengan tingkah Velix.


"Hmm ... boleh juga, dilihat dari dekat ternyata lumayan. Oh ya, lain kali kakak ipar jangan risau! Selama ada aku, tak ada seorang pun yang boleh menindas kakak ipar!" seru Velix dengan tatapan yang mengharapkan pujian.


"Haha, terima kasih," ucap Sherina dengan senyuman canggung.


Vicky menepuk jidatnya sendiri, dia merasa sedikit malu dengan tingkah adik kecilnya ini. "Sebelumnya maafkan aku, aku lupa menceritakan kalau aku sebetulnya punya adik yang nakal."


"Hei-hei-hei ... aku belum buat perhitungan denganmu soal kau yang kabur dari asrama! Sini, ikut aku! Akan aku laporkan pada ibu!" Vicky lantas menarik tangan Velix dan kemudian menyeretnya pergi.


"Kakak ipar! Tolong aku!" teriak Velix namun tak ditanggapi oleh Sherina.


"Haha, dasar Velix ...." Cleo tertawa. Dia sejak tadi hanya diam dan mengamati, tiba-tiba dia beralih mendekati Sherina serta mengulurkan tangan padanya. "Hai, aku Cleopatra Camellia. Maaf karena baru sempat berkenalan denganmu secara pribadi."


"Tak apa," jawab Sherina yang kemudian berjabat tangan dengan Cleo secara canggung.


"Haha, pasti sedikit membingungkan bagimu, ya! Tak apa kok, Velix memang pada dasarnya begitu. Dan maafkan juga Vicky, sepertinya dia memang lupa menceritakan soal adiknya. Tolong jangan salah paham, Vicky pasti tidak bermaksud untuk ... tak perlu menceritakan Velix karena kau sebentar lagi akan mati. Aku yakin maksudnya pasti tidak begitu!"

__ADS_1


"Ya, aku mengerti," jawab Sherina singkat dengan senyuman yang dipaksakan.


Haha, bisa-biasanya ada orang semacam ini. Dengan mudahnya tersenyum sambil mengucapkan kata-kata yang beracun. Dia sepertinya benar-benar berharap supaya aku cepat mati terkena kutukan.


"Oh iya, aku juga ingin mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas kemauanmu untuk menikah dengan Vicky. Jujur saja, meskipun aku mencintainya, aku takut jika kutukan itu nyata. Jika terjadi sesuatu padamu nanti, kau tidak akan menyalahkan aku, kan?" tanya Cleo lagi.


"Tidak," jawab Sherina yang bibirnya mulai berkedut.


Sungguh mengesankan, bilang saja jika kau ingin aku mati dengan tenang! Tidak perlu berbelit-belit. Aku merasa mual dan ingin muntah, pesta ini isinya orang-orang yang munafik.


"Oh, dan ... harusnya kau sudah paham posisiku di hati Vicky. Jika sewaktu-waktu kau melihat kedekatan kami, tolong jangan cemburu atau keberatan ya? Soalnya kami memang tidak bisa dipisahkan."


"Ya, silakan saja. Kalian bebas ... aku tidak akan pernah memisahkan kalian."


"Terima kasih, Sherina! Kau sungguh orang yang pengertian!" ucap Cleo dengan girang. Bahkan dia juga menggenggam kedua tangan Sherina dengan erat. Bertingkah seolah ingin menjalin kedekatan dengannya.


"Cleo!" teriak seseorang dari kejauhan.


"Ah, sepertinya temanku memanggil. Maaf ya, aku pergi sebentar!" Cleo melepaskan genggaman tangannya dari Sherina dan segera pergi begitu saja tanpa menoleh ke belakang.


Kini, Sherina sendirian lagi. Dia hanya menghela napas sambil memandangi punggung Cleo yang semakin menjauh darinya.


"Aku tak tahu lagi sebutan apa yang pantas untuknya," gumam Sherina dengan tatapan sinis.


Aku pikir, setelah meninggalkan keluarga yang buruk itu, maka aku tak perlu lagi mendapatkan perlakuan tidak adil. Tapi nyatanya, di sini pun juga sama saja. Aku masih diperlakukan dengan tidak adil.

__ADS_1


Menjadi pengantin pengganti penolak kutukan, itu saja sudah cukup membuatku terhina. Dan sekarang, seseorang yang mengaku mencintai pria yang telah aku nikahi, dia dengan berani meminta hal-hal yang tidak masuk akal padaku, seperti harus merestui dan membiarkan aku diselingkuhi. Biarpun aku tak sakit hati ataupun cemburu, tetapi aku merasa harga diriku diinjak-injak, padahal aku ini jelas-jelas istri sah. Sedangkan dia yang statusnya hanya orang luar, dia merebut semua perhatian yang harusnya aku dapatkan.


Biarpun ini pesta perayaan pernikahanku, tetapi tak ada satu pun orang yang mengucapkan selamat padaku. Aku justru diasingkan, karena keberadaanku cuma dianggap sebagai tumbal.


__ADS_2