
Sejak kejadian makan malam yang heboh itu, hubungan antara Velix dengan Ariana semakin renggang. Alasannya, tentu karena mereka berdua mempunyai pilihan masing-masing dalam hal pasangan paling ideal untuk Vicky.
Ariana memberikan dukungan penuh pada Cleo, karena menurutnya sosok super model seperti Cleo adalah yang paling cocok untuk menjadi menantunya. Sedangkan Velix, dia lebih memilih Sherina. Sebab baginya, kakak iparnya yang sah ini adalah seseorang yang paling pengertian padanya. Bahkan melebihi ibunya sendiri.
Hal itu membuat suasana kediaman Bashara tak pernah tenang lagi. Walaupun begitu, Vicky masih bisa menoleransi keributan kecil tak berarti ini. Karena menurut Vicky, sisi baik sejak dia membawa Velix kembali ke rumah lebih dominan daripada sisi buruknya. Sekarang, rumah tak terasa sepi lagi, kehadiran adik kecilnya memberikan kesan hidup di rumah yang besar nan megah ini. Dan terlebih lagi, dia tak pernah mendapatkan laporan tentang Velix yang berulah di sekolah.
Keadaan seperti ini tanpa terasa sudah berlangsung selama seminggu. Ariana merasa makin terganggu dengan kedekatan antara Velix dengan Sherina. Akan tetapi, kali ini dia tidak lagi menggunakan cara terang-terangan untuk memisahkan mereka. Ariana mengakali untuk menggunakan cara yang lebih halus, yaitu dengan cara mengatur dan membuat jadwal Velix menjadi lebih padat. Dia mengundang beberapa tutor yang ahli dalam beberapa bidang sekaligus untuk memberikan pelajaran tambahan bagi Velix.
Mendapatkan pelajaran tambahan bagaikan mimpi buruk bagi Velix, waktu yang dia punya untuk bermain jadi makin berkurang. Dan saat dia membujuk sang kakak, Vicky justru lebih memihak pada Ariana. Pikirnya, Velix memang memerlukan pelajaran tambahan untuk mendongkrak nilai akademisnya di sekolah.
Pada tahap ini, rencana Ariana menunjukkan keberhasilan, namun juga ada kegagalan. Dia berhasil mengurangi interaksi antara Velix dengan Sherina, tapi dia gagal dalam upaya memperkeruh hubungan mereka. Yang terjadi justru Velix semakin menampakkan sisi nakalnya, dia kerap mencuri-curi waktu demi terbebas dari pengawasan sang tutor.
Selama beberapa hari terakhir, Sherina merasa kalau keadaan cukup damai dan menenangkan untuknya. Di sore hari yang sejuk ini, dia duduk di sofa yang ada di balkon kamarnya, membaca sebuah buku novel yang selalu menjadi hobi untuk dilakukan di waktu luang.
DRRTT DRRTT
DRRTT DRRTT ...
Ponsel milik Sherina tiba-tiba berdering, dia segera menutup buku yang dia baca lalu meletakkannya di atas meja kecil yang ada di samping. Dia beralih memeriksa siapa yang saat ini meneleponnya. Akan tetapi, raut wajahnya seketika berubah cemas. Sherina merasa tak begitu siap ketika seseorang yang dia percaya di dalam perusahaan mendiang ibunya yang telah meneleponnya.
"Ada apa, ya? Semoga saja tidak ada masalah," gumam Sherina yang kemudian mengumpulkan keberanian untuk mengangkat telepon itu.
"Halo?" tanyanya lagi.
"Ah, syukurlah Nyonya Sherina menjawab telepon saya! Saya ingin mengabari sesuatu yang penting, ini soal pengalihan saham yang sempat Nyonya minta untuk saya urus!" ucap seseorang di telepon.
"Oh, rupanya soal itu. Bagaimana? Semuanya berjalan lancar, kan? Total saham yang ayahku berikan kepada para simpanannya itu sebanyak 5 persen, kau sudah mengurus pengalihan saham itu padaku dengan baik, kan?" tanya Sherina dengan harap-harap cemas.
"Maafkan saya, Nyonya. Saya harus mengatakan kabar buruk, tapi ada kabar baiknya juga."
"Apa?! Kalau begitu katakan kabar buruknya dulu!" pinta Sherina.
"Kabar buruknya, dana yang Nyonya berikan masih kurang. Dan kabar baiknya adalah, naiknya harga saham dari Dream Glow Cosmetics. Sebenarnya kedua masalah ini berhubungan erat, naiknya harga saham di pasaran adalah penyebab dana yang Nyonya berikan kurang. Karena Nyonya memerintahkan saya untuk mengurus masalah pengalihan saham ini sesuai prosedur yang berlaku, maka mau tidak mau Nyonya harus mencukupi kekurangan dana tersebut."
"Katakan, kurang berapa?" tanya Sherina dengan kening yang mengerut.
__ADS_1
"Tidak begitu banyak, setelah saya memperkirakan dan memprediksi pergerakan nilai saham, saya rasa dana sekitar 250 juta itu sudah lebih dari cukup."
"A-apa?!" Untuk sesaat Sherina masih terperangah, namun setelahnya dia kembali berkata, "Baiklah, akan aku pikirkan! Nanti aku akan menghubungimu lagi! Oh ya, jika terjadi perubahan besar pada perusahaan, secepatnya kabari aku!"
"Baik Nyonya."
TUT TUT ...
Panggilan telepon itu berakhir, Sherina meletakkan ponselnya ke atas meja lagi. Kabar yang dia terima barusan benar-benar telah membuat kepalanya pening. Dia memegangi kepalanya dan berpikir keras, soal bagaimana dia akan mencari jalan keluar dari masalah ini.
"Sial! Kenapa bisa begini?" umpat Sherina yang merasa frustrasi.
Aku tidak tahu harus merasa senang atau marah. Naiknya harga saham perusahaan itu sangat bagus, artinya perusahaan dalam keadaan baik-baik saja, bahkan bisa dikatakan performanya semakin bagus. Sialnya, karena harga saham yang naik ini, dana yang aku siapkan jadi kurang. Sungguh di luar dugaan, di satu sisi ternyata ayah mampu menjalankan bisnis perusahaan dengan baik, tapi di sisi lain dia juga menghamburkan uang perusahaan untuk kesenangan pribadinya.
250 juta, dari mana aku bisa mendapatkan uang itu? Sementara, waktunya sudah sangat mepet, aku ingin 5 persen saham itu secepatnya jatuh ke tanganku. Dan lagi, aset yang memungkinkan untuk aku jual semuanya juga sudah aku jual. Mobil pemberian Vicky sebagai mahar semuanya sudah terjual, beberapa set perhiasan berlian yang dia berikan juga tinggal 1 set yang tersisa. Masa aku juga harus menjual apartemen?
Menjual apartemen itu ide yang buruk. Vicky saja sudah curiga saat tahu aku menjual mobil yang dia berikan. Saat itu aku masih bisa berdalih, dengan alasan kalau aku tidak bisa menyetir mobil. Sejak saat itu aku jadi lebih hati-hati, bahkan aku menjual perhiasan-perhiasan itu secara diam-diam tanpa sepengetahuan Vicky. Jika aku menjual apartemen, itu bisa membuat Vicky menaruh curiga padaku lagi. Aku tak mau itu terjadi, karena aku ingin merebut perusahaan ibuku dengan tanganku sendiri. Aku tidak boleh membiarkan siapa pun ikut campur.
Walaupun aku memegang kartu black card miliknya yang punya saldo tak terbatas, tetap saja pembelian saham tidak memungkinkan pakai kartu kredit. Dan jika aku mencari uang dengan menyewakan apartemen, itu akan membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk mencari orang yang mau menyewa.
***
Malam harinya, Sherina datang ke ruang baca Vicky. Dia juga berinisiatif menggantikan pelayan mengantarkan teh untuk diberikan pada Vicky.
"Ah, ternyata kau! Taruh saja tehnya di sana. Apa kau datang untuk membantuku?" tanya Vicky dengan senyum lembut. Pikirnya, Sherina datang ke ruangannya untuk memberikan bantuan seperti biasa.
Sherina tak langsung menjawab. Setelah dia menaruh nampan dan cangkir teh itu di atas meja, dia lalu menunduk dengan ekspresinya yang ragu. "Ehmm ... sebenarnya aku datang kemari untuk meminta bantuanmu."
"Pasti akan aku lakukan kalau aku mampu. Katakan, bantuan macam apa yang kau butuh?" tanya Vicky yang masih tak merasa curiga, dia juga mengambil secangkir teh itu dan menyeruputnya dengan santai.
"Aku ingin meminjam uang padamu, 250 juta saja ..."
"Uhuk-uhuk ...?!" Vicky terkejut hingga tersedak. "250 juta? Serius kau meminjam uang padaku?"
"Iya, tapi jika kau keberatan juga tidak usah. Aku tidak apa-apa," jawab Sherina yang kemudian membuang muka.
__ADS_1
"Tidak Sherina, aku tidak bermaksud keberatan membantumu. Uang 250 juta tidak terlalu berarti bagiku. Hanya saja, kau mau apakan uang itu? Black card milikku sudah ada di tanganmu. Jika kau ingin sesuatu, kau bisa pakai kartu itu saja dan beli apa pun yang kau suka," jelas Vicky yang tak mau Sherina salah paham padanya.
Ada apa ini? Aneh sekali Sherina tiba-tiba meminta uang dalam jumlah yang cukup besar padaku. Ini sedikit berbeda dengan dirinya yang biasanya. Padahal, selama ini dia tak pernah boros atau membeli sesuatu yang tidak penting. Aku hanya khawatir, takutnya dia menggunakan uang itu untuk sesuatu yang salah.
"Maaf Vicky, tapi untuk keperluanku yang satu ini ... tidak bisa aku dapatkan dengan kartu kredit. Aku butuh uang itu secepatnya, aku akan sangat berterima kasih jika kau mau meminjamkannya. Aku pasti akan mengembalikannya secepat mungkin!" pinta Sherina yang semakin membuat Vicky menatap curiga padanya.
"Sherina, mengeluarkan uang 250 juta bagiku itu mudah. Aku akan memberikannya padamu, kau tak perlu berhutang ataupun menggantinya kelak. Akan tetapi, bisakah kau jelaskan padaku untuk apa uang itu?"
"...." Lagi-lagi Sherina tak langsung menjawab. Dengan wajah tertunduk, dia lalu berkata, "Vicky, apakah kau sudah melupakan kesepakatan kita sebelum menikah?"
"Hah? Kenapa kau tiba-tiba membahas soal itu?" tanya Vicky dengan wajah bingung.
"Saat di restoran waktu itu, kau sendiri yang membuat kesepakatan di antara kita. Kau bilang, kita tak perlu menjalankan kewajiban sebagai suami istri, ataupun saling mencampuri urusan pribadi masing-masing. Jadi, aku minta tepatilah kata-katamu!"
"Sherina ... kau ...?" Vicky terdiam, baru kali ini dia merasa kalau Sherina terkesan berbeda dari biasanya.
"Aku tidak mau berbelit-belit, Vicky. Aku akan jujur saja, uang itu akan aku gunakan untuk kepentingan pribadiku. Kau tenang saja, aku tak akan menggunakan uang itu untuk sesuatu yang salah, misalnya membeli obat-obatan terlarang. Tapi, aku tetap tidak bisa memberitahumu, aku mohon hargailah pilihanku ini."
"...." Vicky masih terdiam. Dia bukan mempersalahkan soal besarnya jumlah uang yang diminta oleh Sherina. Namun, yang dia permasalahkan adalah hal yang Sherina coba sembunyikan darinya.
Di satu sisi Sherina mulai merasa pesimis. Pikirnya, Vicky diam saja karena tak mau meminjamkan uang padanya. "Ya sudah, tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksamu. Maaf karena sudah mengganggu waktumu ...." Sherina tersenyum pahit, dia hendak berbalik untuk segera keluar dari ruang baca Vicky.
"Tunggu sebentar! Akan aku berikan uang itu padamu! Tuliskan nomor rekeningmu, nanti akan aku transfer."
"Benarkah?!" Seketika Sherina berbalik, lalu menatap Vicky dengan tatapan berharap, berharap bahwa dia tidak salah dengar.
"Iya, aku akan berikan uang itu padamu."
Sebuah senyuman langsung mengembang di bibir Sherina, dia lalu menuliskan nomor rekening miliknya di sebuah kertas kosong yang Vicky sediakan. "Terima kasih banyak, Vicky! Nanti uangmu tetap akan aku ganti! Terima kasih sudah mau memberi pinjaman padaku! Jangan lupa segera transfer, ya!"
Tanpa basa-basi lagi Sherina langsung berjalan keluar dari ruangan Vicky dengan langkah riang. Dia ingin segera menghubungi orang kepercayaannya supaya kembali melanjutkan urusan yang sempat tertunda gara-gara kekurangan dana.
Di sisi lain, Vicky masih menatap punggung Sherina hingga bayang-bayangnya tak lagi terlihat. Tertinggal rasa kekecewaan yang tampak di wajahnya. Namun, bukan kecewa pada Sherina, melainkan kecewa pada dirinya sendiri. "Astaga, bodohnya aku ... kenapa pula aku harus membuat kesepakatan macam itu?"
Sherina terlihat bahagia sekali saat aku meminjamkan uang yang tidak banyak itu. Sebenarnya keperluan macam apa yang dia punya? Dia benar-benar tidak mau bilang padaku, sepertinya urusan kali ini adalah masalah pribadinya.
__ADS_1
Haiss ... ini gara-gara kesepakatan bodoh yang aku buat sebelum menikah. Aku kira kesepakatan ini akan membawa keuntungan, ternyata sekarang malah aku sendiri yang dirugikan. Aku terpaksa diam dan tak bertanya lebih jauh lagi, ini gara-gara aku yang membangun tembok pembatas lebih dulu. Sherina hanya menuruti aturanku, ini sepenuhnya kesalahan dari kebodohanku sendiri.