Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Perubahan


__ADS_3

"Selamat pagi Sherina!" sapa Ariana dengan senyuman dan nada bicara yang hangat.


"Y-ya, selamat pagi juga," jawab Sherina sedikit canggung. Dia sungguh terkejut ketika disambut dengan keramahan yang akrab dari Ibu mertuanya ini. Padahal, setiap kali dia hendak sarapan, dia pasti akan selalu mendapatkan tatapan tajam.


Sherina juga melirik ke arah Vicky, namun suaminya itu tak berkomentar apa-apa dan hanya mengangguk. Sherina lantas duduk di sebelahnya, kemudian berbisik, "Kau lihat, kan? Ibu baru saja menyapaku."


"Iya, aku tahu. Mungkin ibu memang ingin menepati kata-katanya semalam. Bukankah ini hal bagus?"


"Ehmm ... memang hal bagus, tapi aku tidak terbiasa," keluh Sherina sambil tetap memasang senyum canggung pada Ariana.


"Kalau begitu mulailah biasakan dirimu. Ibuku aslinya memang ramah pada orang yang cocok dengannya, tapi kau tidak perlu buru-buru untuk menyesuaikan diri. Sudahlah, jangan terlalu dipusingkan. Mari kita makan!" ajak Vicky dengan senyum lembut. Dia merasa senang ketika ibunya mulai menunjukkan sikap baik kepada Sherina. Pemandangan yang damai dan akur seperti ini yang dia impikan.


"Sherina!" panggil Ariana tiba-tiba.


"Ya?" jawab Sherina yang lagi-lagi terkejut. Entah apa yang kali ini akan ibu mertuanya ini katakan.


"Aku ingin bertanya, kau suka makan daging apa? Sapi, kambing, babi, ayam, kelinci, rusa, angsa, kalkun atau—"


"A-aku suka semuanya, aku makan semua kecuali daging babi," potong Sherina.


"Baiklah!"


PROK PROK!


Ariana bertepuk tangan dua kali, dia seperti memberikan kode isyarat. Lalu, datang beberapa koki kediaman sekaligus. Masing-masing dari mereka membawa tudung saji yang isinya berupa olahan makanan dari bermacam-macam daging yang disebutkan oleh Ariana tadi.


"Ini semua ...." Sherina melongo, begitu pula dengan Vicky. Mereka berdua benar-benar tidak habis pikir kalau Ariana akan bersikap sampai seperti ini.


"Kau bebas makan sesukamu, Sherina! Ayo nikmatilah, makan yang banyak biar tubuhmu sehat!" ucap Ariana dengan senyuman. Dia merasa telah melakukan hal yang benar, menunjukkan perhatian dengan cara yang spesial.


"Ah, ini ... terima kasih, akan aku makan," jawab Sherina canggung. Tentu saja mustahil baginya itu menghabiskan semua makanan ini. Pikirnya, apa ibu mertuanya ini mencoba memberinya makan banyak supaya jadi babi gemuk sebelum disembelih. Namun, dia memilih untuk mengabaikan hal itu. Dia berterima kasih lantaran berpikir lebih baik menghargai apa yang ibu mertuanya ini lakukan padanya.


"Ibu, sebaiknya jangan lakukan ini lagi!" Vicky menyela di saat Sherina hampir menyantap sarapannya, yang akhirnya membuat dia menaruh sendoknya kembali.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kau masih menganggap kalau sikapku ini salah? Aku mencoba berbuat baik pada Sherina seperti yang kau mau, apa kau masih ingin bilang aku tidak cukup baik?" tanya Ariana dengan tatapan kurang puas. Dia tidak suka saat Vicky mengomentari tindakannya.


"Bukan begitu, Ibu. Yang ibu lakukan ini sudah baik, peduli pada makanan yang Sherina suka itu tidak apa-apa. Hanya saja, yang Ibu lakukan ini sudah berlebihan. Tidak mungkin bagi Sherina memakan itu semua. Yang aku mau adalah sikap baik yang wajar saja, tidak perlu terlalu muluk-muluk seperti ini. Justru kasihan Sherina, dia jadi tidak nyaman!" ungkap Vicky tanpa ada keraguan di sorot matanya.


"...." Sherina terdiam, dia sungguh kaget sekaligus terkesan karena Vicky begitu memahami dirinya. Apa yang tidak mampu dia katakan, rupanya telah diutarakan oleh suaminya dengan lantang.


"Apakah yang dibilang Vicky benar?" tanya Ariana sambil menatap menantunya.


"Ehmm ... iya, kira-kira begitu. Aku berterima kasih karena Ibu peduli padaku. Tapi, tolong jangan berlebihan seperti ini. Bukannya aku tidak mau menerima kebaikan Ibu. Jujur saja, kalau seperti ini aku merasa kurang nyaman, aku tidak mau terlalu merepotkan," jawab Sherina dengan kepala tertunduk.


Sejenak Ariana terdiam. Lalu, dia menghela napas. "Baiklah, tidak apa-apa. Aku paham. Tapi, tolong jangan ragukan niat baikku padamu. Aku benar-benar menyesali semuanya dan ingin mengubah sikapku. Jika kau merasa apa yang aku lakukan kurang tepat, kau bisa menegurku. Kau tak perlu sungkan, aku tidak akan marah."


Sherina mendongak, dia sedikit senang karena respons Ariana ternyata cukup baik. "Terima kasih atas pengertian Ibu."


"Haha, ini bukan apa-apa. Yang sudah berlalu biar berlalu, mari kita perbaiki hubungan kita untuk ke depannya. Aku ingin suasana di kediaman ini berubah. Oh ya, tapi aku serius soal aku ingin tubuhmu sehat. Supaya kau bisa cepat-cepat memberikan aku cucu!" ujar Ariana dengan senyum ramahnya.


"Ah, i-ini ...." Sherina tiba-tiba tersipu malu. Dia dan Vicky sama-sama dibuat bungkam dan salah tingkah ketika Ariana menyinggung soal cucu. Pikir mereka, mungkin Ariana benar-benar sudah berubah. Bahkan sampai-sampai menginginkan cucu dari menantu yang sebelumnya pernah dia benci.


Pagi ini adalah pertama kalinya sarapan pagi yang damai untuk Sherina selama dia berada di kediaman Bashara. Perubahan sikap Ariana sungguh membawa dampak besar baginya. Bahkan, setiap kali dia akan pergi, pasti akan selalu ditanya akan pergi ke mana dan kapan akan kembali.


Ada pun bagi Vicky, dia tak lagi marah ataupun kecewa pada ibunya. Ariana sudah menjadi sosok ibu dan mertua yang baik, hal ini cukup untuk membuatnya terus betah berada di kediaman. Satu hal yang paling membuatnya semakin betah, Ariana tak lagi membatasi kedekatannya dengan Sherina. Dia tidak perlu tidur pisah kamar dengan istrinya tercinta. Terkadang Vicky akan tidur di kamar Sherina, atau dia yang mengajak Sherina untuk tidur di kamarnya. Di mana saja tidak masalah asalkan mereka bersama.


Tak cuma mengubah sikap pada Sherina. Ariana juga mulai menampakkan sosok keibuannya yang penyayang kepada Velix. Bahkan, dia juga ikut bersama Sherina ketika hendak menjemput Velix sepulang dari acara summer camp yang telah berlangsung selama 2 minggu.


"Kakak ipar!!!" teriak Velix penuh semangat. Akan tetapi, langkah kakinya menjadi pelan begitu menyadari kehadiran ibunya di samping Sherina.


"Ibu di sini?" tanya Velix dengan tatapan heran.


"Tentu saja ibu di sini! Ibu ingin melihatmu. Astaga, lihat ini, kulitmu jadi kecoklatan, apa kau dijemur setiap hari?" tanya Ariana dengan nada akrab. Dia juga berjongkok untuk membenarkan topi miring yang dipakai oleh putra kecilnya ini.


"Ini kan summer camp, sudah pasti cuacanya panas. Ada banyak kegiatan yang aku lakukan di luar, jadi wajar kalau kulitku jadi kecoklatan," jawab Velix seraya menggembungkan pipinya. Jika tidak sekarang, kapan lagi dia bisa bersikap manja pada ibunya.


"Haha, tidak apa-apa. Ibu tidak mempermasalahkan warna kulitmu. Kau itu aslinya berkulit putih, berdiam diri di rumah beberapa hari juga akan pulih kembali. Ayo pulang, ibu sudah suruh koki kediaman untuk menyiapkan makanan kesukaanmu!" ajak Ariana sambil menggandeng tangan kecil Velix.

__ADS_1


"Oke! Ayo pulang!" Velix mengangguk antusias.


"Sini, tasmu biar aku bawa! Kau pasti lelah," sahut Sherina.


"Terima kasih kakak ipar!" Velix menyerahkan tas ranselnya yang penuh dan berat itu pada Sherina. Lalu, di situasi ini tiba-tiba saja dia mendekat dan berbisik. "Kak Sherina, sebenarnya apa yang terjadi saat aku tidak ada? Kenapa ibu tiba-tiba jadi sayang lagi padaku?"


"Eh?" Sherina terdiam sejenak, tidak mungkin baginya untuk menceritakan segalanya soal masalah yang terjadi selama Velix pergi. "Begini, kau sudah tahu kalau Vicky sudah putus dengan Cleo. Itulah alasannya! Cleo tidak ada lagi, sebab itu ibu jadi berubah baik!"


"Waahhh ... itu bagus!"


"Ehem, apa yang sedang kalian bicarakan? Apa kalian membicarakan aku?" tanya Ariana seakan tersinggung.


"Haha, ibu ... anu ... sebenarnya ada cabai yang menempel di gigi ibu ..." jawab Velix sambil meringis canggung.


"B-benarkah?!" Ariana tersentak, dia kelabakan membuka tasnya untuk mencari wadah bedak yang ada cermin di dalamnya


"Aku bercanda! Tidak ada apa-apa di gigi ibu! Ayo cepat kita pulang! Aku sudah lapar!" seru Velix sambil memeluk Ariana.


"Haiss ... kau ini, mengagetkan ibu saja." Ariana bernapas lega, dia tidak bisa membayangkan betapa malunya dia kalau benar-benar ada cabai yang menempel di giginya.


Mereka bertiga pulang bersama, Velix sungguh dibuat senang karena dia dijemput oleh kakak ipar beserta ibunya. Dia berjalan di tengah dan menggandeng tangan mereka dengan riang. Kini, dia tidak perlu khawatir diejek lagi oleh teman-temannya. Karena sekarang, dia bisa membuktikan kalau ibunya menyayangi dirinya.


***


PRAANG! PRAANNGG!


Barang-barang pecah dan berserakan di mana-mana. Cleo mengamuk di dalam villa pribadinya. Tak peduli barang impor ataupun mahal, semuanya akan dia banting demi melampiaskan amarahnya. Sudah lebih dari setengah bulan dia diabaikan oleh Ariana. Tentu saja itu akan terjadi ketika dia sudah tidak berguna lagi untuknya.


Vicky sudah berpindah hati, Cleo jelas-jelas dicampakkan karena kekasihnya itu telah jatuh cinta pada Sherina. Hubungan mereka sudah kandas, mau meminta bantuan pada Ariana pun kini sudah tidak memungkinkan lagi. Dia sudah tidak punya peluang untuk bersama dan memiliki Vicky kembali.


"Ahhh!! Sialan!!!" teriak Cleo sekencang yang dia bisa. Amarahnya belum hilang, tapi dia sudah kehabisan barang untuk dihancurkan. Kedua matanya tampak merah, sembab, dan lingkar hitam yang gelap. Namun, di mata yang sedih itu terdapat niat membunuh yang sangat besar.


"Sudah tidak mungkin bagiku bersama Vicky lagi! Vicky adalah segalanya bagiku! Tapi dia direbut oleh Sherina si wanita jal*ng tidak tahu diri itu!"

__ADS_1


"Tidak boleh! Aku tidak boleh membiarkan Sherina menang! Jika aku tidak bisa memiliki Vicky, maka orang lain juga tidak boleh! Sherina harus mati! Dia harus mati!"


__ADS_2