Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Karma Itu Nyata!


__ADS_3

Pagi hari di kediaman keluarga Bashara. Hari ini libur telah usai, seperti biasanya maka Velix akan sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Namun, bocah kecil ini merasakan ada sebuah keanehan. Yaitu, dia merasa kalau kakaknya terkesan berbeda. Sejak tadi tidak ada percakapan di atas meja makan ini.


"Kak Vicky, nanti kakak yang akan mengantarku ke sekolah, kan?" tanya Velix yang memecahkan keheningan.


"Iya, hari ini aku yang akan mengantarmu," jawab Vicky sambil mengunyah makanannya.


"Kak Sherina juga ikut, kan?"


"Uhuk-uhuk ...!" Vicky langsung tersedak, dia sungguh belum siap untuk berinteraksi dengan istrinya, karena masih merasa malu dengan kejadian semalam. Bahkan untuk menatap mata Sherina saja, dia masih ragu.


"Astaga, makan pelan-pelan," ucap Ariana sambil menyodorkan segelas air pada putranya.


"Terima kasih, Ibu."


Sherina diam-diam tertawa kecil, dia paham kenapa Vicky bertingkah demikian. Lalu, dia beralih menatap Velix serta mengusap kepalanya dengan lembut. "Velix, hari ini aku tidak bisa ikut mengantarmu. Aku ada urusan yang harus aku lakukan hari ini."


"Heumm ... begitu, ya. Tidak apa-apa, kok."


"Lagi pula untuk apa kau minta diantar banyak orang? Kau itu cuma akan berangkat ke sekolah, bukan ke bandara. Sampai kapan kau akan bertingkah manja begini?" sahut Ariana yang semakin tidak suka melihat kedekatan Velix dengan menantunya yang dia benci ini.


Velix yang semula energik, sontak saja menundukkan pandangannya. Mendapat kritikan di pagi hari oleh ibunya, hati kecilnya merasa sakit mendengar ketidakpuasan ini. Hal ini disadari oleh Sherina, dia lantas berbicara untuk membela adik iparnya. "Tidak perlu mempermasalahkan itu, Ibu. Aku tidak keberatan setiap kali mengatar Velix ke sekolah, lagi pula aku juga senggang."


"Cih, tentu saja kau senggang! Memangnya apa yang bisa kau lakukan?" Ariana berdecih kesal, seakan-akan ingin merendahkan harga diri Sherina sebagai wanita yang tidak bisa melakukan apa-apa.


"Cukup, Ibu! Tolong jangan buat keributan!" sela Vicky yang mulai merasa kesal, karena ibunya ini selalu mencari gara-gara setiap kali ada kesempatan.


"Huh! Terserah kau saja! Kau terus membela orang asing ini dan malah mengabaikan ibumu!" hardik Ariana sambil menuding ke arah Sherina. Belum sempat Vicky menjawab, dia sudah lebih dulu berdiri dari kursi dan pergi meninggalkan ruang makan.


"Ibu semakin menyebalkan, aku selalu saja salah di matanya. Semoga saja ibu diculik alien dan menetap di planet Mars!" gerutu Velix dengan bibir yang mengerucut.


"Hei, film aneh apa lagi yang kau tonton? Bisa-bisanya kau bicara begitu pada ibu," ucap Vicky dengan tatapan tajam.


"Habisnya ibu semakin lama semakin menyebalkan. Padahal kan kak Sherina jelas-jelas jauh lebih baik daripada si ratu mesir, tapi ibu malah jahat ke kak Sherina. Kasihan kakak ipar kalau seperti ini terus. Bagaimana kalau kak Vicky beli rumah baru saja untuk ditinggali bersama kak Sherina?"


"Eh, i-ini ...." Seketika Vicky merasa kikuk, dia lantas menatap ke arah Sherina yang juga tidak berkomentar. Pemikiran untuk pisah rumah dari Ariana tak pernah terbesit di kepalanya, dia baru terpikirkan saat Velix bertanya barusan.


"...." Sherina merasa canggung. Selama ini dia tak pernah mengungkit hal tersebut pada Vicky, meskipun sebenarnya meminta pisah rumah dari mertua adalah haknya sebagai istri Vicky. Sah-sah saja jika Sherina ingin pisah rumah, namun sedari awal dia tidak pernah memusingkan hal itu. Karena di awal pernikahan, Vicky sudah memberikan satu unit apartemen penthouse sebagai mahar.


Jika Sherina mau, bisa saja dia tinggal di sana. Selama ini dia tidak punya gagasan untuk pindah, karena berpikir tinggal di kediaman ini jauh lebih efisien. Selama tinggal di sini, dia tak perlu membuang-buang waktu, tenaga ataupun biaya untuk perawatan rumah. Lagi pula dia juga menganggap hinaan Ariana sebatas angin lalu, dia tak akan terluka dengan hinaan semacam itu. Karena baginya, dia sudah pernah mengalami yang jauh lebih parah, yakni saat dia masih serumah dengan saudara dan ibu tirinya.


"Kenapa kalian diam? Kalau kalian pindah, aku juga akan ikut kalian! Pokoknya aku ikut ke mana pun kak Sherina pergi!" celetuk Velix yang langsung membuyarkan pikiran Sherina dan Vicky.


Sherina tertawa, lantas mengacak-acak rambut Velix saking lucunya perkataan bocah polos ini barusan. "Haha, kau ini .... Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Kalau kita semua pindah, kasihan ibumu jadi kesepian di rumah yang besar ini."


"Pelayan di rumah ini kan sudah sangat banyak, kenapa ibuku masih akan kesepian?"


"Kesepian karena tidak ada yang dimarahi! Dia akan bingung mau memarahi siapa saat kau tidak ada!"


"Ishh ... kakak ipar!!"


"Haha, maaf ..." Sherina terkekeh.

__ADS_1


Di sisi lain Vicky ikut tersenyum. Dia merasa lega karena ternyata Sherina memiliki mental yang lebih kuat dibanding dugaannya. Sebelumnya dia mengira kalau Sherina akan mendukung usulan Velix untuk pisah rumah, namun siapa sangka dia justru masih betah berada di kediaman ini.


Setelah sarapan selesai, Vicky berangkat ke kantor sekalian mengantarkan adiknya berangkat sekolah. Dan Sherina pun juga memiliki kesibukan sendiri yang harus dia lakukan. Dia menyuruh sopir di kediaman mengantar dirinya ke alun-alun, untuk bertemu dengan seseorang yang sudah membuat janji dengannya.


Orang itu tidak lain adalah Kayla, dia masih bingung dengan tujuan Sherina bertemu dengannya. "Ah, Kakak sudah datang ..." Kayla menyimpan ponselnya kembali dengan cepat. Sejak tadi dia menunggu kedatangan Sherina dengan duduk di bangku taman alun-alun, sambil memandangi para orang tua yang sedang melakukan senam.


"Ayo, ikut aku!" titah Sherina dengan nada tegas.


"Eh, Kakak mau mengajakku ke mana?" tanya Kayla sambil buru-buru mengikuti jalannya Sherina.


"Jangan banyak tanya, nanti aku jelaskan di dalam mobil!"


"O-oke," jawab Kayla dengan nada gugup.


Setelah mereka berdua berada di dalam mobil, dan sama-sama duduk di kursi belakang. Sherina lantas berkata, "Ayo jalan! Ke tempat yang aku bilang sebelumnya!"


"Baik, Nyonya ..." jawab sang sopir.


"Kak, kita mau pergi ke mana?" tanya Kayla sekali lagi. Dia sungguh takut saat memikirkan jika dia akan diajak pergi ke tempat yang tidak dia ketahui.


"Ke tempat ayahku!" jawab Sherina singkat.


"A-apa?! Ke rumah Om Panji? T-tapi kenapa?" tanya Kayla dengan tubuh gemetar. Dia tahu jika Panji memiliki seorang istri, karena dulunya Panji selalu bercerita kalau istrinya itu sangat galak, makanya dia mau mencari pelampiasan dengan menjadikan Kayla yang lemah lembut sebagai sugar baby.


"Kemarin kau sendiri yang bilang kalau kau ingin ayah dari bayimu itu tahu jika kau hamil. Kau memintaku untuk menyampaikan hal ini pada ayahku. Tapi maaf, aku tidak bisa. Kau harus bilang sendiri padanya. Aku akan menemanimu menagih pertanggung jawaban kepadanya!"


"T-tapi bagaimana dengan istri Om Panji? Aku takut kalau dia akan mengamuk padaku," tanya Kayla sekali lagi.


"Mengamuk itu sudah pasti. Kau juga harus menanggung konsekuensi karena sudah berani menggoda suami orang. Tapi, tetap ingat kalau kau ini sedang hamil. Jika ibu tiriku itu menamparmu, menjambak rambutmu atau menyiksamu dengan cara lain, balas saja dia!"


Sherina melirik sekilas dan menghela napas. Dia tidak habis pikir kalau Kayla akan menangis. "Tenanglah, kau tak perlu sampai seperti ini. Aku ikut denganmu, artinya aku akan memastikan supaya kau baik-baik saja. Jangan terlalu takut, oke? Lawan ketakutanmu demi bayimu!"


"Baiklah, terima kasih, Kak ..." ucap Kayla seraya mengusap air matanya sendiri. Setelah tahu jika Sherina akan menjamin dirinya, sekarang dia sudah agak tenang.


"Ya," jawab Sherina singkat. Dia lantas memalingkan muka ke samping, melihat ke arah luar kaca mobil.


Sebenarnya niatku untuk membantu Kayla tidak sepenuhnya tulus. Aku membantunya untuk memanfaatkan dirinya. Karena aku yakin kehadirannya akan membuat ibu tiriku tersiksa. Ini saat yang tepat untuk membalasnya! Biar dia tahu rasa, dia dulunya juga menggoda ayahku untuk menyelingkuhi ibuku! Sekarang tiba gilirannya untuk diselingkuhi juga! Dia pantas mendapatkannya, inilah bukti kalau karma itu nyata!


Tak lama kemudian mereka tiba rumah Panji. Mereka bisa memarkirkan mobil di halaman dengan mudah, karena satpam yang biasanya bertugas pastinya telah dipecat atau bisa jadi mengundurkan diri. Sudah tidak mengherankan kalau di rumah ini terjadi pengurangan pelayan, karena Panji sudah bangkrut, dia tidak akan punya cukup uang untuk membayar mereka semua.


"I-ini rumah Om Panji?" tanya Kayla dengan pandangan kagum. Rumah yang besar dan terbilang cukup mewah ini telah membuktikan bahwa sugar daddy-nya itu benar-benar orang kaya.


"Bukan, sebenarnya ini rumah ibuku! Ayahku yang bajing*n itulah yang merampasnya!" jawab Sherina blak-blakan. Dia tak mau membuat Kayla terlalu berharap banyak pada sesuatu yang semu.


"Ah ... begitu, ya." Sontak saja Kayla merasa canggung. Dan dia akhirnya paham betul sebesar apa kebencian yang Sherina punya pada ayahnya.


BRAK BRAK BRAK!!!


Sherina menggedor pintu dengan keras, lalu datanglah seorang pembantu yang sudah agak tua membukakan pintu untuknya.


"N-Nona Sherina ...?" Pembantu ini tergagap, dia sungguh kaget dengan kedatangan Sherina. Terlebih lagi dia sangat tahu akan segera terjadi keributan, dia sudah hafal kalau kedatangan Sherina berarti bukan pertanda yang baik.

__ADS_1


"Apa ayah ada di rumah?" tanya Sherina dengan nada ketus.


"Tuan Panji ada di rumah. Silakan masuk, Nona ..." ucap pembantu itu sambil mempersilakan Sherina dan Kayla untuk masuk.


Kayla terus terpukau, seumur hidup baru pertama kali ini dia melangkahkan kaki di dalam rumah yang megah. Semua hiasan, furnitur dan dekorasi yang mengagumkan. Pikirnya, apakah mungkin baginya untuk ikut tinggal di rumah semacam ini?


Berbeda halnya dengan Sherina, dia sungguh muak dan malas melangkahkan kaki di rumah ini. Pengalaman terakhir yang terjadi sungguh meninggalkan kesan buruk baginya, disekap, disiksa dan diracuni. Nasib baik baginya masih mampu bertahan dari semua cobaan yang kejam ini.


"Silakan duduk, saya akan panggilkan Tuan Panji," ucap pembantu yang kemudian segera meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.


Hanya berselang kurang dari 2 menit, datanglah Panji dan Fina bersama-sama. Panji begitu syok saat melihat bahwa Sherina telah membawa Kayla, yang merupakan sugar baby kesayangannya.


"Kayla," ucap Panji dengan suara lirih, tak ada seorang pun yang mendengarnya.


"Untuk apa kau ke sini?! Apa belum puas kau menghancurkan kami, hah?!" bentak Fina pada Sherina dengan keras, bahkan urat lehernya sampai terlihat.


"Astaga, aku datang ke sini baik-baik. Terserah kau mau mendengarkan aku dengan baik atau tidak. Karena aku datang ke sini untuk bertemu dengan ayahku, aku mau membicarakan hal penting dengannya, tidak ada hubungannya denganmu. Dan aku sarankan, kau jangan banyak bertingkah, apa kau masih merasa kurang dengan pelajaran sebelumnya?" tanya Sherina dengan alis terangkat sebelah.


"K-kau ...!" Fina kehabisan kata-kata, dia teramat kesal sampai tubuhnya ikut gemetaran.


"Sudahlah, jangan gegabah," bujuk Panji seraya menahan tangan Fina. Dia lantas duduk, berusaha meladeni Sherina dengan kepala dingin. "Kau bilang ingin bicara hal penting denganku, apa itu?"


"Apa Ayah kenal gadis ini?" tanya Sherina sambil menunjuk ke arah Kayla. Tampak jelas kalau saat ini Kayla sangat tegang, dia tidak berani bicara sembarangan, terus mengepalkan kedua tangan di atas lututnya.


"Dia ...." Panji terdiam sejenak, sekilas dia bertatap mata dengan Kayla. Namun, entah kenapa dia mulai merasakan firasat buruk. "Aku ... tidak mengenalnya."


"A-apa yang Om Panji katakan?! Bagaimana bisa Om tidak kenal aku?! Aku ini kan—"


"Cukup!" potong Panji yang menghentikan protes Kayla. Dan sekarang, Kayla pun hanya bisa tertunduk dan menangis. Dia sungguh tak menyangka jika Panji justru akan berpura-pura tidak mengenalinya.


"Tidak kenal? Benarkah? Apa Ayah bisa menjamin kata-katamu ini?" tanya Sherina.


"Ya, aku tidak tahu apa maksudmu kemari. Tapi yang jelas, aku tidak mengenal gadis yang kau bawa ini!" tegas Panji sekali lagi.


Sial, bagaimana bisa mereka berdua saling mengenal? Aku yakin betul kalau aku sudah putus hubungan dengan Kayla. Lalu bagaimana bisa dia mengenal Sherina? Pokoknya aku harus mengelak, aku tidak mau masuk ke perangkap Sherina.


"Baiklah, ternyata Ayah tidak kenal. Kalau begitu aku akan melaporkan Ayah ke polisi!" ancam Sherina.


"Lapor polisi? Apa maksudmu?!" tanya Fina yang sudah tak tahan dibuat bingung lagi.


"Haha, rupanya ibu tiriku ini penasaran. Baiklah, kalau begitu akan aku jelaskan bagaimana kronologinya. Gadis yang aku bawa ini namanya Kayla, usianya saat ini 18 tahun. Dia mantan sugar baby-nya ayah! Dan sekarang, dia sedang hamil anaknya ayah!"


"A-apa?!" Panji dan Fina sama-sama terperangah. Terlebih lagi Fina, dia sungguh syok dan tidak mau mempercayai apa yang baru saja dia dengar.


"Kau bohong! Ini pasti cuma tipuan darimu!" bantah Fina.


"Tipuan atau tidak, silakan kau putuskan sendiri setelah melihat bukti!" Sherina lalu mengeluarkan senjata tersembunyi miliknya. Dia mengeluarkan beberapa lembar foto yang pernah dia ambil saat masih dalam masa penyelidikan ayahnya. Dia melemparkan foto-foto mesra Panji dengan para sugar baby-nya ke arah Fina.


Fina mengambil foto-foto itu. Dia sungguh dibuat syok saat melihat kelakuan suaminya yang mengencani beberapa gadis muda sekaligus. Panji juga sama kagetnya, dia tak percaya kalau Sherina mempunyai bukti tentang perselingkuhannya.


"I-ini semua ..." ucap Fina gemetaran, bahkan kertas foto itu sampai kusut. Kedua bola matanya memerah, emosi kemarahan dan kecewa yang besar berkecamuk di dalam dirinya.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa kau puas dengan bukti yang aku berikan?" tanya Sherina, namun Fina tak menjawab. Tentu saja hal ini semakin menyenangkan untuk dilihat Sherina.


"Haha, jangan terlalu dramatis seperti itu~ kau dulunya juga sama. Menjadi selingkuhan demi uang. Kau merebut ayahku dan suami ibuku! Dan sekarang saat kejadian ini berbalik padamu, harusnya kau tak perlu terlalu kaget. Pria itu sekali selingkuh, ke depannya tetap berpeluang selingkuh! Ini karma yang pantas kau dapatkan!"


__ADS_2