
"Ayolah, Sherina ... ayo angkat teleponku! Kau di mana?!" gerutu Vicky sambil terus fokus untuk memperhatikan jalanan. Dia sudah mencoba untuk menelepon Sherina berulang kali. Namun sayang, tak satu pun dari panggilan itu yang dijawab.
"Ck, tidak diangkat! Apa Sherina marah padaku?" Pikiran Vicky semakin memikirkan macam-macam. Sherina pergi dari kediaman adalah hal sangat mengejutkan baginya. Untuk saat ini dia hanya terpikirkan satu tempat. Yaitu, apartemen penthouse yang dia berikan para Sherina sebagai mahar.
Vicky menginjak gas lebih dalam lagi, dia melaju secepat yang dia bisa untuk segera sampai di apartemen tersebut. Bahkan, dia mengabaikan suara klakson dari para pengemudi lain yang memperingati caranya mengemudi yang berbahaya. Nasib baik Vicky tiba di gedung apartemen itu dalam keadaan baik-baik saja.
Vicky berlari masuk secepat mungkin, dia segera mencari lift dan menekan tombol untuk pergi ke lantai yang paling atas. Beruntung Vicky mempunyai kartu akses untuk masuk ke kamar apartemen penthouse ini, dia menggunakan kartu itu untuk langsung masuk ke dalam dan lagi-lagi berteriak memanggil nama Sherina.
"Sherina, Sherina! Apa kau di sini?!" teriak Vicky sambil memasuki ruangan satu per satu.
"Eh? Sepertinya aku dengar suara Vicky," gumam Sherina yang saat ini berada di kamar mandi. Dia seketika mematikan shower yang mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin. Lantas mengambil handuk kimono yang sudah dia siapkan sebelumnya dan memakainya.
Begitu Sherina keluar dari kamar mandi, dia langsung melihat keberadaan Vicky yang kebetulan sedang mencari di kamar yang sama. "Vicky ...?"
"Sherina?! Syukurlah aku menemukanmu!" teriak Vicky yang tanpa ragu mendekat dan memeluk Sherina dengan erat. Padahal rambutnya masih basah, dia juga cuma memakai sehelai handuk. Namun, Vicky tak memedulikan semua keadaan itu. Dia sangat bahagia ketika melihat Sherina dalam keadaan baik-baik saja.
"Kenapa kau tidak angkat teleponku? Apa kau juga marah padaku?!" protes Vicky yang suaranya gemetar. Dia benar-benar takut jika seandainya Sherina menghilang dari hidupnya.
"A-aku tidak tahu kalau kau meneleponku. Mungkin tadinya aku sudah masuk ke kamar mandi, jadi aku tidak tahu kalau ponselku berbunyi," jawab Sherina yang merasa gugup. Entah kenapa dia merasa aneh ketika dipeluk dalam keadaan seperti ini.
"Kalau kau sudah pergi sejak siang tadi, kenapa kau tidak bilang padaku? Aku kira kau juga tidak mau serumah denganku lagi!"
Sejenak Sherina tertegun, dia tak menyangka jika Vicky akan secemas ini kepadanya. "Maaf, aku tidak bermaksud untuk membuatmu khawatir."
Hening, tak ada yang mereka berdua katakan lagi. Dan sekarang, tiba-tiba saja Vicky menyadari betapa ambigu posisinya sekarang. Mendadak dia melepaskan pelukan dari Sherina, dan dengan canggung berkata, "Ehmm ... sepertinya lebih baik kita cari tempat untuk bicara lebih nyaman."
"Yaa, kau benar ..." jawab Sherina yang juga tersenyum canggung.
Karena sama-sama canggung, pikiran mereka menjadi buyar. Sherina langsung mengajak untuk duduk di sofa yang berada di dekat televisi tanpa memakai baju lebih dulu. Dia sungguh lupa kalau masih berbalutkan sehelai handuk.
"Ehmm ... Sherina, jadi bagaimana?" tanya Vicky memecah keheningan.
"B-bagaimana apanya?"
"Maksudku untuk selanjutnya kau mau bagaimana? Apa kau akan terus tinggal di sini?"
"Ohh... soal itu tentu saja, penthouse ini satu-satunya hunian yang aku punya. Kau sendiri yang sudah memberikannya padaku. Memang mau bagaimana lagi? Sederhana saja, aku diusir dari kediaman, lalu aku tinggal saja di rumahku sendiri. Lalu, bagaimana denganmu?" Sherina bertanya balik.
"A-aku? Karena kau diusir oleh ibu, jadinya aku marah padanya. Lalu aku bilang kalau kau tidak pantas berada di kediaman, maka aku juga sama. Jadi ... keadaanku sekarang juga angkat kaki dari kediaman."
"Apa? Kau juga pergi? Pfftt ... hahaha, aku tak habis pikir kalau CEO kaya raya sepertimu jadi gelandangan. Tapi tenang saja, aku tidak keberatan kalau kau tinggal di sini." Sherina terkekeh, dia merasa lucu dengan keputusan yang Vicky ambil. Pikirnya, sekarang Ariana akan benar-benar sendirian di kediaman.
Vicky tersenyum kecil saat melihat Sherina menertawakan dirinya. Sungguh heran di saat seperti ini istrinya justru masih bisa tertawa riang. Namun, sejurus kemudian tiba-tiba dia kembali merasa bersalah dan menundukkan kepala. "Maaf, Sherina ... ibuku sudah berlaku buruk padamu. Maaf, aku tidak bisa selalu berada di sampingmu dan membelamu. Di kediaman itu, kau selalu saja menerima perlakuan buruk. Ini salahku yang tidak bisa melindungimu ...."
Tiba-tiba saja Sherina menggenggam sebelah tangan suaminya ini. "Vicky, jangan salahkan dirimu sendiri. Ini bukan salahmu. Memang sulit untuk mengubah pemikiran seseorang. Aku tak apa, aku tidak masalah karena diusir. Lagi pula penthouse pemberianmu ini tak kalah nyaman untuk ditinggali," ucap Sherina dengan senyuman.
Bukannya merasa terhibur, Vicky justru semakin merasa bersalah. "Tapi Sherina ... tetap saja ini salahku! Jika saja aku ada di sana, aku bisa membelamu!"
Sherina mendengus kesal, tiba-tiba saja dia beranjak dari kursi dan berdiri di hadapan Vicky. Lalu mengulurkan kedua tangannya, meraih wajah Vicky supaya mendongak dan menghadap padanya. "Aku bilang jangan salahkan dirimu sendiri! Ini bukan salahmu! Yang diusir itu aku, tapi kenapa justru kau yang sedih?! Aku harus bagaimana untuk menghiburmu?"
"Aku juga tidak ta— Uhmmm?!" Vicky terkesiap, dia sungguh kaget karena tiba-tiba bibirnya dibungkam dengan ciuman oleh Sherina. Pikirannya seketika menjadi buyar, berpikir konyol dan menghitung bahwa ini ciuman ke berapa.
Ciuman yang mendadak ini tak berlangsung lama. Sherina menarik dirinya lagi. Lalu, dia menatap wajah suaminya ini yang sudah merah padam karena tersipu. "Apa sekarang kau masih akan menyalahkan dirimu sendiri?"
"Tidak ...." jawab Vicky sambil melongo. Dia tampak sedikit tidak rela karena ciuman ini sudah berakhir.
"Baguslah, kalau begitu aku mau ganti baju dulu!"
__ADS_1
"Tunggu sebentar!" teriak Vicky yang dengan spontan menahan pergelangan tangan Sherina.
"Ya? Kenapa?" tanya Sherina kebingungan.
"Bisakah kau melakukan ciuman ini sekali lagi?"
"Eh?" Sejenak Sherina terdiam. Lalu, dia tersenyum kecil dan mengangguk. Kembali duduk di sebelah Vicky serta menutup kedua matanya rapat-rapat. "Silakan saja," ucap Sherina seakan-akan dia sudah siap menerima ciuman yang akan Vicky lontarkan.
Vicky tak berkata-kata. Dia cukup senang karena momen romantis yang Sherina ciptakan belum berakhir. Dia lantas bergeser lebih dekat. Sebelah tangannya maju dan membelai pipi istrinya. Lalu, dengan sebuah keberanian, akhirnya Vicky menempelkan bibirnya dengan lembut. Jika dipikir-pikir, sepertinya ini ciuman pertama yang dilakukan oleh Vicky. Karena sebelumnya, selalu saja Sherina yang lebih dulu berinisiatif menciumnya.
Ciuman kali ini tak berbeda jauh dari yang tadi, hanya waktunya saja yang sedikit lebih lama. Dan setelah tautan bibir mereka terlepas, Sherina membuka kedua matanya. "Sudah selesai?" tanya Sherina yang malah membuat Vicky memalingkan wajahnya.
"Iya, sudah selesai." Bohong, memang ciuman ini sudah selesai. Namun, Vicky masih belum rela jika momen ini hanya berakhir sampai di sini.
"...." Sherina membisu, dia sadar kalau saat ini suaminya bertingkah aneh.
Vicky ini ... apa jangan-jangan dia masih sungkan padaku? Tapi, jika seperti ini terus. Hubunganku dengan dia sama saja tidak ada peningkatan. Kalau begitu, biarkan saja aku yang ambil langkah pertama.
"Vicky, apa kau mau aku ajari sesuatu?"
"Hah?" Vicky terperangah dengan tatapan heran. Pikirnya, kenapa Sherina mau mengajari sesuatu padanya, memangnya apa yang belum pernah dia pelajari.
"Aku akan mengajarimu cara ciuman yang lain!" ungkap Sherina yang sungguh blak-blakan.
"Eh? A-apa?" Mulut Vicky seketika terkunci, apakah Sherina ini sedang menganggap bahwa dirinya payah.
"Iya, biar aku tunjukkan!" Tiba-tiba saja Sherina mendekatkan wajahnya. Kedua tangannya dengan lembut membelai wajah tegas suaminya ini. Dia menatap lekat-lekat sosok yang selalu membuatnya terpana. Wajah yang rupawan, manik mata berwarna coklat yang menatap tajam bagaikan elang, serta bibir seksi yang menggoda untuk disentuh.
Tatapan keduanya bertemu, perlahan Sherina menempelkan bibirnya ke bibir milik Vicky yang siap menerima. Ciuman yang semula lembut itu, perlahan namun pasti berubah menjadi lebih agresif. Sherina membuka sedikit mulutnya, lidahnya turut andil untuk menikmati betapa manisnya itu.
"Uhmm?!" Vicky membelalak, dia cukup kaget dengan ciuman yang dilakukan oleh Sherina kepadanya. Namun, sensasi aneh apa ini yang dia rasakan sehingga dia tidak mampu menolaknya. Dia tak keberatan untuk menyambut ciuman ini. Pandangan mata keduanya perlahan-lahan meredup, mereka hanyut dalam kenikmatan yang lebih sensual jika dibandingkan dengan sebelumnya.
Hingga ciuman itu diakhiri secara sepihak oleh Sherina. Napas keduanya terengah-engah, ada sisa benang saliva yang menjembatani bibir keduanya. Sebelah tangan Sherina kembali bergerak, dengan senyumannya, dia lantas menggeser ibu jarinya untuk mengusap bibir milik suaminya yang pemalu ini.
"Bagaimana? Yang satu ini berbeda, kan?" tanya Sherina dengan seringai menggoda.
"...." Vicky termangu, dia baru sadar kalau saat ini dia seperti pria yang resesif, dikalahkan oleh wanita di hadapannya ini yang begitu dominan. Vicky balas menyeringai, dia sudah terpikirkan cara untuk membalas Sherina. "Ya, kau benar. Yang satu ini memang berbeda, kalau begitu ... bagaimana kalau aku tunjukkan hasil yang kau ajarkan barusan padaku?"
"Silakan saja," jawab Sherina dengan senyum lembut.
Begitu kesempatan datang, Vicky segera beraksi. Dia menahan kedua tangan Sherina dan berbalik memojokkan dirinya. Ciuman yang menggairahkan itu kembali terjadi. Tapi, kali ini Vicky cenderung lebih aktif. Dia menciumi bibir Sherina yang ranum itu penuh kelembutan. Serta dengan jari-jemari tangannya, perlahan menyelusup di antara telinga dan rambut yang masih basah itu.
"Ehmm?!" Sherina membelalak, dia terkejut karena merasakan di bawah sana ada sesuatu yang menabraknya. Vicky pun juga sama, dia segera menghentikan ciuman itu sebelum lebih jauh lagi.
"M-maafkan aku!" Wajah Vicky semerah tomat. Dia malu sekali karena adik kecilnya ini rupanya sudah terangsang. Terlihat jelas ada menyembul di balik celananya. Benar-benar malu, sangat malu sampai-sampai dia ingin segara bersembunyi di lubang semut.
"Vicky," panggil Sherina dengan suara lirih.
"Jangan ajak aku bicara!" bentak Vicky karena malu setengah mati. Batinnya terus memaki dirinya bodoh karena tidak mampu mengendalikan diri.
"Lakukan saja, tidak apa-apa."
"Eh?! Maksudmu?" Vicky menatap tidak percaya.
"Kau itu pria normal, wajar saja ini terjadi. Lakukan saja, aku tidak keberatan. Lagi pula ... kita ini suami istri. Kau tidak perlu sungkan padaku," ucap Sherina yang juga malu-malu. Dia tidak percaya kalau pada akhirnya dia mengatakan hal ini juga.
"Sungguh tidak apa-apa?" tanya Vicky sekali lagi. Dia benar-benar ingin memastikan bahwa yang dia dengar tidak salah.
__ADS_1
"Iya," jawab Sherina dengan anggukan kepala.
Tiba-tiba saja Vicky berdiri, lantas tanpa peringatan apa pun membopong Sherina dan berjalan ke arah ranjang. Dia menurunkan Sherina dengan hati-hati, kemudian dia memosisikan dirinya di atas tubuh istrinya yang lebih kecil ini.
"Terus apa?" tanya Vicky yang sontak saja membuat Sherina tertawa.
"Hahaha, kau ini ... ya sudah! Biar aku yang tunjukkan caranya!" Sherina mendorong tubuh Vicky hingga dia yang berganti berada di atas. Lalu, dengan senyuman yang nakal dia pun kembali berkata, "Simak baik-baik, ya, Sayang~"
"I-iya!" jawab Vicky yang kemudian memalingkan wajahnya ke samping. Benar-benar bodoh, di saat seperti ini dia seperti kehilangan akal. Entah karena rasa gugup atau karena malu, dia jadi seperti orang yang kebingungan.
Sherina lebih merapatkan dirinya lagi. Dengan penuh kelembutan, tangannya membelai wajah Vicky. "Kau lihat ke mana, Vicky? Ayo lihat aku ...."
Sekali lagi mata mereka bertatapan. Benar-benar jarak yang teramat dekat, bergeser se inchi saja, mereka akan benar-benar berciuman. Namun, mendadak Sherina menjauhkan wajahnya lagi. Dia memainkan trik tarik ulur. Perlahan-lahan tangannya bergerak turun, membuka kancing kemeja yang Vicky pakai satu per satu.
Tampak dada bidang yang terpampang jelas, munafik jika Sherina tidak tergoda. Sebelah tangannya meraih dan membelai otot yang bidang itu. Dan tangan yang satunya lagi semakin menjalar turun untuk merasai yang ada di perut. Dia meninggalkan jejak kehangatan di mana-mana.
Sherina menunduk, menempelkan pipinya di dada yang bidang itu. Dia bisa mendengar dengan jelas suara debaran jantung Vicky yang begitu cepat. Lalu, tiba-tiba saja Sherina memberikan sebuah kecupan di sana.
"She-Sherina ..." ucap Vicky dengan suara parau. Pikirannya saat ini sudah membayangkan hal yang liar, bahkan sesuatu di dalam dirinya terasa semakin bergejolak.
"Hm?" Sherina mengangkat kepalanya, lalu menatap Vicky lekat-lekat. Kemudian, tiba-tiba saja dia menunduk, mendekat ke telinga dan berbisik, "Sebenarnya sederhana saja, kau hanya perlu bertindak mengikuti instingmu. Aku sudah bilang padamu, kalau kau tidak perlu bersikap sungkan padaku. Tidak apa-apa, Vicky. Lepaskan saja semuanya."
Insting, saat ini insting yang dirasakan Vicky seperti binatang buas. Dia ingin menjadi pemangsa yang menerkam Sherina. Vicky benar-benar tak menahan dirinya lagi. Dia yang sejak tadi diam, tiba-tiba saja tangannya bergerak meraih pinggang ramping Sherina. Lalu langsung berganti posisi di atas tubuh semampai itu lagi.
Vicky menunduk, tanpa basa basi dia menikmati bibir ranum itu lagi yang sudah menjadi candu baginya. Diam-diam tangannya juga beraksi, membelai paha Sherina yang mulus itu dan perlahan merayap ke atas, menyelipkan tangannya di antara kedua kaki Sherina.
"Enhh ...." Sherina melenguh, tubuhnya gemetar, sedangkan mulutnya masih dibungkam oleh ciuman Vicky yang seakan tiada hentinya.
Vicky tak hanya berhenti sampai di situ. Diam-diam tangannya membuka simpul ikatan handuk yang dipakai oleh Sherina. Dan ketika ciuman itu berakhir, Vicky terdiam sejenak. Dia memandangi tubuh yang polos itu, wajahnya merona, seumur hidup inilah pertama kalinya dia melihat tubuh wanita dengan teramat jelas seperti sekarang.
Sherina mendadak juga malu, entah kenapa dia merasa aneh ditatap seperti ini oleh suaminya. Secara refleks dia menyilangkan tangan di depan dada serta menekuk kedua kakinya. "Kau lihat apa?" tanya Sherina dengan suara lirih.
"Heh!" Vicky menyeringai, nalurinya sebagai pria benar-benar terpanggil. Dengan cepat dia segera melucuti pakaiannya sendiri. Lalu kembali mengurung Sherina dengan kedua tangan yang bertumpu pada kasur. Seakan tidak ingin wanita ini lari ke mana pun.
Sherina menelan ludahnya sendiri. Dia sungguh dibuat terkejut oleh penampakan tubuh suaminya ketika telanjang bulat. Benar-benar sesuatu yang tak pernah dia bayangkan. Meskipun ini bukan pertama kalinya dia melihat tubuh seorang pria. Namun, sekali lagi dia dibuat kagum dengan apa yang dimiliki oleh suaminya ini.
"Vicky, pelan-pelan, ya?" pinta Sherina yang hanya dibalas dengan senyuman oleh Vicky.
Vicky masih belum puas untuk segera menerkam mangsanya ini. Dia masih ingin bermain-main lebih lama lagi. Dia semakin merapatkan dirinya lagi, menyusuri dan menjamah setiap lekuk tubuh Sherina tanpa satu pun yang terlewat.
"Vi-Vicky ..." ucap Sherina dengan napas tersengal-sengal. Sungguh aneh, bukan pertama kalinya dia mengalami ini. Namun, kali ini rasanya benar-benar berbeda. Setiap kelembutan dari sentuhan yang Vicky berikan seakan-akan hampir membuatnya jadi gila.
Tubuh Sherina kembali bergetar ketika embusan napas hangat dan belaian lembut yang menyapu seluruh kulitnya. Secara spontan dia merangkul punggung Vicky yang kokoh, membuat tubuh mereka kian tak berjarak. Tatapan keduanya bertemu, kabut gairah yang pekat menjerat keduanya.
"Sherina, apakah boleh?"
"Emm ...." Sherina mengangguk, menutup kedua matanya. Dia mempersiapkan diri dan juga menahan napas. "Akhh ...!" pekiknya saat Vicky berhasil memasukinya.
Mendadak Vicky terdiam, sungguh tidak menyangka bahwa dirinya benar-benar telah melakukan ini. Pikirnya, apakah posisinya salah, kenapa Sherina tampak kesakitan.
"Sshh ... lanjutkan saja," pinta Sherina sambil membelai wajah Vicky. Ingin meyakinkan suaminya ini untuk jangan setengah-setengah.
"Sherina, aku ...."
"Hm?"
"Aku mencintaimu," ucap Vicky yang setelahnya kembali membungkam mulut Sherina dengan ciuman. Saling memagut, memalun dan bermain lidah. Begitu rakus hingga terdengar suara decapan erotis yang keluar dari kedua bibir yang haus akan sentuhan itu.
__ADS_1
Vicky kembali menggerakkan tubuh bagian bawahnya dengan perlahan, berusaha selembut mungkin supaya mereka berdua bisa sama-sama menikmati percintaan ini. Namun, semakin lama, Vicky semakin kehilangan kendali. Untuk pertama kalinya dia merasakan kenikmatan yang sulit untuk diungkapkan lewat kata-kata. Vicky terus bergerak, semakin cepat dan semakin dalam. Suara-suara kenikmatan terus tak henti-hentinya keluar dari mulut mereka, terus menggema memenuhi kamar sepanjang malam.
🌹🌹🌹🌹🌹