Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Wanita Suci


__ADS_3

Sherina masih marah. Itulah yang berada di dalam pikirkan Vicky sekarang. Bukan tanpa sebab dia berpikir demikian, alasannya karena saat ini Sherina tak menampakkan diri ketika makan malam. Tentu saja hal ini disadari oleh Ariana dan Velix, mereka berdua merasa ada sesuatu yang berbeda pada suasana malam ini.


"Kak Vicky, kenapa kakak ipar tidak ikut makan malam bersama kita? Apakah dia masih sakit?" tanya Velix dengan nada sedikit khawatir.


"Eh? I-itu ... Sherina sudah tidak apa-apa, dia tidak ikut mungkin karena mau beristirahat di kamarnya. Jangan terlalu cemas, akan ada pelayan yang mengantarkan makan malam ke kamarnya," jawab Vicky yang wajah canggung.


"Oh, kalau begitu nanti aku akan melihat kondisi kakak ipar! Aku mau memastikan kalau dia baik-baik saja!"


"Jangan!" cegah Vicky dengan spontan. Sontak saja Velix dibuat kebingungan.


"Kenapa?"


"Ehmm ... begini, untuk sekarang jangan mengganggunya. Biarkan dia beristirahat dan memulihkan diri dengan tenang." Vicky mencari-cari alasan, tidak mungkin baginya untuk bilang pada adik kecilnya, kalau sebenarnya Sherina sedang marah padanya.


"Ishh ... Kak Vicky kenapa, sih? Aku janji tidak akan berisik, kok! Cuma melihat saja apa masalahnya?" protes Velix.


"Pokoknya jangan!" jawab Vicky yang kemudian memalingkan muka. Kembali melanjutkan menyantap hidangan makan malamnya tanpa meladeni pertanyaan dari adiknya.


Di satu sisi Ariana diam-diam merasa senang. Reaksi yang diperlihatkan oleh Vicky barusan membuatnya semakin yakin jika sesuatu yang buruk telah terjadi di antara putranya dengan menantunya. "Ehem! Velix, jangan bertanya macam-macam, oke?"


"Aku tidak bertanya macam-macam, aku cuma mau tahu alasan kenapa kakak ipar tidak ikut makan malam bersama kita! Memangnya ada yang salah dengan pertanyaanku yang sederhana itu?" bantah Velix yang sudah terlanjur kesal dengan jawaban Vicky yang berbelit-belit.


"Velix, untuk kali ini saja dengarkan ibu, oke? Kau itu masih kecil, masih belum mengerti bagaimana jalannya dunia orang dewasa. Terlebih lagi dunia pernikahan, wajar saja kalau ada suami istri yang bertengkar atau berselisih. Anggap saja seperti hubungan pertemananmu di sekolah, terkadang kau pasti juga akan berbeda pendapat atau berkelahi dengan temanmu. Dan pada akhirnya jika tak ada jalan penyelesaian, hubungan pertemanan kalian pupus. Hubungan pernikahan pun juga begitu. Kakakmu ini sudah menikah, mungkin saja hal itu segera terjadi padanya," ucap Ariana dengan entengnya tanpa memikirkan perasaan Vicky.


"Maksud Ibu? Kak Vicky dan Kak Sherina bisa berpisah karena bertengkar?" tanya Velix dengan tatapan melotot.


"Ya ... itu mungkin saja~" jawab Ariana tanpa beban.


"Apa?! Itu tidak boleh! Aku tidak mau kakak ipar lain selain kak Sherina! Ayolah, Kak Vicky! Jangan marahan dengan kakak ipar lagi! Ayo cepat baikan!" pinta Velix seraya menarik-narik tangan Vicky.


"Velix, cukup! Jangan berlebihan!" Vicky menyingkirkan tangan Velix darinya, lantas berganti menatap Ariana dengan tatapan tajam. "Bagaimana bisa Ibu berkata seperti itu? Terlebih lagi di depan Velix!"


"Huh, memangnya ibu salah? Yang ibu katakan semuanya adalah kebenaran." Ariana melengos, dia sungguh tak merasa bersalah. Kemudian dengan santainya melanjutkan menikmati menu makan malamnya. Baginya, rasa hidangan kali ini jadi jauh lebih nikmat dibandingkan hari-hari sebelumnya.


Ckck, senang sekali hatiku. Ternyata Vicky dan Sherina sudah berselisih dengan sendirinya, tak perlu campur tangan dariku untuk membuat masalah di antara mereka. Ini justru memudahkan aku, aku hanya tinggal mengipasi api yang sudah menyala supaya kobaran apinya makin membesar.


Tiba-tiba saja di tengah situasi yang tegang ini muncullah paman Will. Dia memberanikan diri untuk mendekat pada Vicky, lalu berbisik sesuatu padanya, "Tuan, ada tamu!"


"Tamu? Kalau begitu suruh dia untuk menunggu di ruang tamu. Nanti aku akan menemuinya," jawab Vicky sedikit ketus. Suasana hatinya masih belum sepenuhnya dalam keadaan baik, apalagi tadi sudah dikompori oleh ibunya sendiri.


"Tapi Tuan ... tamu kali ini sepertinya sangat penting. Ada dua orang yang datang, salah satu di antara mereka mengaku sebagai dokter. Beliau bilang, ingin bertemu dengan Tuan untuk membahas soal hasil tes laboratorium," bisik Paman Will lagi.

__ADS_1


"A-apa?!" Vicky terkesiap.


Tidak salah lagi, itu pasti Aslan! Sebelumnya karena dugaan racun, darah Sherina diambil sebagai sampel, dia bilang ingin memberitahuku jika hasil tes laboratorium sudah keluar. Akan tetapi, sekarang Aslan malah datang sendiri ke kediaman. Jangan-jangan memang ada sesuatu yang genting.


Tanpa pikir panjang lagi, Vicky seketika bangkit dari kursi. "Maaf, aku harus menyambut tamu yang penting! Ibu dan Velix lanjutkan saja makan malamnya!"


Vicky bersama dengan paman Will bergegas pergi ke ruang tamu. Dan benar seperti yang Vicky duga, seseorang yang bertamu adalah Aslan. Namun, dengan orang yang satunya, dia merasa ragu apakah sebelumnya pernah bertemu dengannya atau tidak.


"Baguslah kau sudah di sini! Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu! Dan ehmm ... ini rahasia, jika bisa sebaiknya kita bicara di tempat yang sepi saja!" pinta Aslan.


"Oke, kalau begitu mari ke ruanganku!" Vicky langsung mengiyakan, entah kenapa dia mulai merasa sedikit gugup lantaran gerak-gerik Aslan yang berbeda dari biasanya.


Vicky mengajak Aslan bersama seorang pria yang belum dikenalkan itu untuk memasuki dan berbincang di dalam ruang bacanya. Selaku tuan rumah, Vicky juga mempersilakan kedua tamu dadakan ini untuk duduk di sofa panjang yang empuk dan nyaman.


"Jadi, hal serius macam apa yang membuatmu sampai kemari?" tanya Vicky pada Aslan.


Aslan menarik napas panjang, dia sendiri juga merasa gugup. "Pertama-tama, aku kenalkan dulu kau dengan orang yang ada di sampingku ini. Ardian Ricky Pamungkas, dia dokter spesialis bedah sama sepertiku, dan dia menjabat sebagai Ketua Asosiasi Kedokteran saat ini."


"Ah, pantas saja aku merasa seperti tidak asing! Aku pernah melihatmu muncul di berita. Senang bertemu denganmu, Dokter Ricky!" ucap Vicky seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan sang Ketua Asosiasi Kedokteran.


"Senang bertemu denganmu juga, Tuan Vicky. Tak perlu terlalu sungkan, aku juga temannya Aslan, sama sepertimu," ucap Ricky dengan nada hormat. Dia bersikap seperti ini karena merasa jika Vicky memang orang yang pantas untuk dihormati.


"Ehem! Kalian sudah saling mengenal, jadi sekarang bisa kita mulai perbincangan serius kita! Dan sebelumnya ... Vicky, aku ingin meminta maaf padamu lebih dulu," ucap Aslan dengan senyum canggungnya.


"Begini, sebelumnya aku sudah bilang padamu kalau darah istrimu diambil sebagai sampel untuk dites di laboratorium. Hanya saja, hasil tes ini bocor pada temanku ... hehe," jawab Aslan seraya melirik ke arah Ricky.


"Bocor? Apakah hasilnya sebegitu menakjubkan sampai-sampai memperoleh perhatian dari seorang Ketua Asosiasi Kedokteran?" tanya Vicky dengan tatapan tajam pada Ricky, dia merasa jika mungkin ada sebuah tujuan terselubung di balik kemunculan Ricky hari ini.


Ricky dengan santainya mengambil napas. Lalu membalas tatapan tajam dari Vicky seraya berkata, "Maaf, tapi aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu sekarang. Karena hal ini sangat penting, maka aku perlu bertemu langsung dengan orang yang bersangkutan. Tuan Vicky, aku minta panggilkan istrimu kemari!"


"...." Sejenak Vicky terdiam, dia berpikir mungkin ini masalah yang memang benar-benar serius. Akan tetapi, saat ini Sherina masih merajuk padanya, dia ragu untuk memanggil ataupun bertemu dengan Sherina.


"Baiklah, aku akan minta pelayanku untuk memanggil istriku kemari." Vicky langsung beranjak dari sofa, dia kemudian mencari paman Will untuk menjemput Sherina di kamarnya.


Tak berselang lama kemudian paman Will kembali bersama dengan Sherina, dia juga membawa beberapa cangkir teh untuk disajikan pada tamu. Tak lupa juga, Vicky meminta paman Will untuk berjaga di luar pintu, karena dia tak ingin ada seorang pun yang menguping perbincangan mereka.


"Aku sudah di sini, silakan Dokter jelaskan bagaimana hasil tes laboratorium milikku. Apakah aku benar-benar keracunan?" tanya Sherina tanpa basa-basi pada Aslan. Dia juga masih tak menatap ataupun tersenyum pada Vicky, kemarahan di hatinya belum sepenuhnya hilang.


"Ah, sebentar!" Aslan lalu menyerahkan beberapa lembar kertas laporan hasil pemeriksaan tersebut pada Sherina. Laporannya terhitung banyak karena memang sampel yang diberikan juga ada beberapa macam, antara lain baju yang terkena tumpahan racun, darah serta urine. "Sherina, apa kau ini wanita suci?"


"A-apa?!" tanya Sherina dan Vicky serempak. Mereka berdua sama-sama kaget dengan perkataan Aslan barusan. Sungguh sebuah pertanyaan yang konyol, tapi mereka tidak tertawa karena menganggap jika seorang dokter mustahil akan bercanda pada hasil tes laboratorium.

__ADS_1


"Apa maksud Anda, dokter? Kenapa tiba-tiba menyebutku wanita suci?" tanya Sherina dengan wajah bingung.


"Begini, aku akan mengatakan langsung supaya kau tak perlu membaca dan memahami hasil tes itu sendiri. Meskipun terdengar konyol, tapi aku tidak sembarangan mengatakannya. Pertama, karena hasil tesmu yang sangat mengejutkan, bahkan bisa dibilang ajaib! Nah, aku akan jelaskan soal hasil tes sisa cairan yang menempel di bajumu." Aslan lalu menuding ke sebuah kertas laporan yang dibuka di atas meja, supaya Sherina maupun Vicky bisa membacanya bersama-sama.


"Perhatikan ini, cairan yang tertinggal di bajumu saat itu ternyata benar-benar racun! Dan setelah diteliti, racun ini mengandung zat yang sangat berbahaya. Zat itu adalah bisa dari ular, dan dari hampir 3.000 jenis ular, hanya sekitar 200 spesies saja yang memiliki bisa yang mampu melumpuhkan manusia."


"A-apa? Racun ular ... bagaimana bisa ada racun seperti itu, dari mana ibu tiriku bisa mendapatkannya?" tanya Sherina yang lumayan syok dengan penjelasan Aslan.


"Itu mudah, racun yang berbahaya seperti itu bisa di dapatkan di pasar gelap. Di dunia undergroud, hal seperti ini sudah wajar, bahkan ada hal yang lebih gila lagi. Barang-barang berbahaya, tak cuma racun, jika barang tersebut dilarang oleh pemerintah, maka masih bisa didapatkan di pasar gelap. Kemungkinan besar racun yang berikan padamu dibeli dari sana," sahut Ricky yang lagi-lagi membuat Sherina terperangah.


"Ehem! Aku akan melanjutkan penjelasanku lagi!" ucap Aslan. "Secara spesifik, bisa ular yang terkandung di racun ini berasal dari spesies ular Russel Viper. Pada umumnya, orang yang telah digigit ular ini, hanya dalam beberapa saat saja darahnya akan jadi kental. Otomatis jantung tidak akan bisa memompa darah ke seluruh tubuh, maka terjadilah serangan jantung."


"Bisa ular itu sifatnya hemotoxic, yaitu racun bagi darah. Sel-sel darah merah akan mati, lalu mencegah pembekuan darah, yang nantinya akan berakibat pada pendarahan internal dan eksternal. Jika tidak segera mendapatkan pertolongan, maka akibatnya akan sangat fatal. Tapi, ini sungguh berbanding terbalik dengan kasusmu, Sherina. Kau sama sekali tidak menunjukkan adanya gejala keracunan, dan bahkan masih sehat sampai sekarang."


"A-aku ... juga tidak tahu," jawab Sherina dengan kepala tertunduk.


"Tak apa, kami sudah mendapatkan jawabannya. Hasil laboratorium dari sampel urine tidak menunjukkan adanya masalah. Kondisi kesehatanmu sepenuhnya normal, tidak ada infeksi, tidak ada masalah pada ginjal, dan kadar gula darah juga terkendali. Akan tetapi, pada sampel darahmu, kami menemukan sesuatu yang spesial!"


"Apa itu?!" tanya Sherina yang seketika mendongak.


"Hehe, kau penasaran ya, jawabannya ... jeng-jeng-jeng ... adalah ...."


PLAK!


"Jangan bercanda! Jelaskan yang benar!" gertak Ricky seraya memukul bahu Aslan.


"Ck, kau ini sungguh membosankan," keluh Aslan sambil mengusap-usap bekas pukulan Ricky.


"Cepat katakan!" pinta Vicky yang juga sudah dibuat penasaran setengah mati.


"Iya-iya ...." Aslan mendengus kesal, kemudian kembali membalik kertas laporan hasil tes, serta menunjuk pada bagian yang berbeda. "Di sini tertulis, kalau di dalam sampel darah tersebut, Sherina memiliki antibodi yang berkali-kali lipat lebih kuat dari manusia pada umumnya! Bisa dipastikan kalau antibodi yang kuat inilah penyebab dari racun yang tidak berefek pada tubuh Sherina! Singkatnya, Sherina adalah manusia yang kebal pada racun! Inilah alasan mengapa tadi aku menyebutnya sebagai wanita suci!"


"Sherina kebal pada racun?" tanya Vicky yang masih sulit untuk mempercayai semuanya. Sherina pun juga sama, dia baru mengetahui bahwa di tubuhnya ada hal yang istimewa seperti ini.


"Benar, jika kau belum percaya, bacalah laporan ini! Tes laboratorium tidak pernah salah!" ungkap Aslan dengan tatapan penuh keyakinan.


"Nyonya Sherina!" panggil Ricky tiba-tiba.


"Ya?" Sherina beralih menatap ke arah Ricky.


"Perkenalkan, aku adalah Ketua Asosiasi Kedokteran saat ini. Karena kondisi tubuhmu yang spesial, secara khusus aku mengundangmu untuk bekerja sama dengan kami!" ungkap Ricky dengan nada ramah.

__ADS_1


"A-apa?!" Sherina ternganga.


__ADS_2