Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Keajaiban


__ADS_3

"Uhmm ...." Sherina berkedip beberapa kali. Dia melihat langit-langit kamar bercat biru muda yang tampak asing. Dia lantas bangkit, melihat jam weker yang menunjukkan pukul setengah enam pagi.


"Aku masih hidup, sepertinya ... kutukan itu belum bekerja, ya? Haha, orang-orang yang percaya dengan kutukan pasti akan bilang begitu. Tapi aku berbeda, pagi ini adalah hari pertama aku resmi jadi menantu keluarga Bashara. Sebaiknya aku segera bersiap-siap dan turun ke bawah! Biarpun aku cuma pengganti, tetapi aku harus sadar diri jika aku menumpang di rumah ini!"


Sherina beranjak dari ranjang, tak lupa juga untuk melipat selimut. Dia bersiap-siap dan berdandan secepat mungkin, supaya dia bisa segera turun dan mengetahui apa saja yang bisa dia lakukan di rumah ini.


Begitu Sherina keluar dari kamar, tempat yang hendak dia tuju pertama kali adalah dapur. Dia ingin meminum teh chamomile yang sudah menjadi kebiasaannya di pagi hari. Dan selama perjalanan menuju dapur, Sherina hanya melihat pelayan rumah yang sudah sibuk bersih-bersih. Sesekali dia juga disapa dengan ramah oleh mereka.


"Ah, Nyonya Sherina ada perlu apa kemari?" tanya salah seorang koki. Bukan keluarga Bashara namanya jika tidak punya koki khusus di rumah mereka. Karena adanya koki-koki profesional yang diperkerjakan, hidangan di kediaman Bashara susah tidak diragukan lagi soal rasa dan kualitas gizinya.


"Ehmm ... aku hanya ingin membuat teh chamomile," jawab Sherina dengan nada canggung. Baru kali ini dia melihat jika suasana dapur di rumah bisa sama seperti suasana dapur di restoran. Ada banyak koki yang sibuk menyiapkan menu sarapan.


"Silakan Nyonya menunggu, teh chamomile akan segera saya siapkan!" ucap koki itu.


"Tidak perlu, aku ingin membuat tehku sendiri! Tolong tunjukkan saja padaku di mana tehnya disimpan!" pinta Sherina yang masih merasa sungkan.


"Baik, Nyonya. Mari ikuti saya."


Biarpun Sherina hanya membuat secangkir teh untuk diri sendiri, dia masih tak terhindarkan dari tatapan-tatapan orang lain. Ada yang menatap Sherina seakan merendahkan, menganggapnya kampungan karena bersikeras ingin membuat teh sendiri. Dan ada pula yang merasa salut, karena biasanya seorang nyonya hanya akan menyuruh dan tak melangkah masuk ke dapur.


Sherina tak merasa terganggu dengan tatapan-tatapan yang menilai dirinya bermacam-macam seperti itu. Dia tidak peduli karena sejak kecil memang sudah diajarkan untuk mandiri. Pikirnya, hal ini masih lebih baik daripada diganggu seperti yang selalu dia alami selama ini. Dia bisa menemukan sisi baik dari pernikahannya dengan Vicky, karena dengan menjadi istrinya, sekarang orang-orang harus berpikir dua kali jika ingin menyinggung dirinya.


Tiba-tiba saja perhatian Sherina teralihkan pada seorang koki yang tampak sedang menyeduh teh. Teh yang berbeda dengan yang diminum oleh Sherina. "Teh itu untuk siapa?" tanya Sherina yang penasaran.


"Teh ini untuk Tuan Vicky. Beliau setiap pagi selalu meminum teh herbal, karena beliau sensitif pada kafein," jawab koki itu.


"Ehmm ... berikan padaku! Biar aku saja yang mengantarkan teh itu!" ucap Sherina yang menawarkan diri.


"Nyonya tidak perlu repot-repot, biar saya saja yang antarkan."


"Tidak apa-apa, aku sekalian ingin bertemu dengannya. Sekarang Vicky ada di mana? Aku akan mengantarkan teh itu ke sana!"


"Beliau ada di ruang kerjanya."


Sherina lantas meraih nampan yang berisi secangkir teh herbal tersebut. Dia membawanya dan bergegas pergi menuju ke ruang kerja Vicky. Setelah sampai di depan pintu kayu yang besar itu, Sherina merasa sedikit ragu untuk mengetuk pintu.


"Kira-kira apa yang harus aku ucapkan, ya? Apa Vicky akan kaget kalau aku yang membawa minumannya? Ah, sudahlah, nanti bicara seadanya saja!"


TOK TOK TOK!


"Ya?" sahut Vicky dari dalam.


"Ini aku, bolehkah aku masuk?"


"Ya, masuklah!"


Sherina langsung membuka pintu dan masuk ke ruangan pribadi Vicky. Dia melihat Vicky yang sepertinya sedang sibuk menyiapkan berkas-berkas yang akan dia bawa ke kantor.


"Itu untukku?" tanya Vicky begitu melihat secangkir teh yang dibawa oleh Sherina.


"Iya, ini teh herbal untukmu. Katanya setiap pagi kau meminum ini, jadi aku sekalian bawa ini."


"Ya sudah, taruh saja di sana!" pinta Vicky dengan nada bicaranya yang datar.


Setelah meletakkan teh herbal itu di atas meja. Sherina kembali berkata, "Vicky, aku ingin bertanya sesuatu. Kira-kira, apa saja yang bisa aku lakukan di rumah ini?"


"Kau bebas melakukan apa pun, anggap saja ini rumahmu sendiri. Seharian kau mau tiduran di kamar juga bebas, kau mau jalan-jalan di luar juga boleh. Yang penting kau harus selalu ingat kalau identitasmu sekarang adalah istriku, jadi jangan bertingkah sembarangan dan mencemari nama baik keluarga ini."


"Ehmm ... baiklah," jawab Sherina yang kemudian menunduk. Masih kebingungan dengan apa yang harus dia lakukan nanti.


"Apa hari ini kau senggang?" tanya Vicky tiba-tiba.

__ADS_1


Seketika Sherina mendongak. "Ya, tentu aku senggang!"


"Apa kau mau aku ajak ke rumah sakit?"


"Rumah sakit? Kenapa ke sana?" tanya Sherina penasaran.


"Aku ingin memeriksa kondisimu, kau bilang belum lama ini tertabrak truk, bisa jadi ada sesuatu yang salah pada organ dalammu. I-ini bukan karena aku peduli atau mencemaskanmu, aku cuma tidak ingin kau sakit lalu dikaitkan dengan kutukan!" jawab Vicky.


"Baiklah, aku mau," jawab Sherina dengan senyum lembut. Meskipun Vicky mengatakan jika dia tidak peduli ataupun cemas kepadanya, setidaknya dia tidak diabaikan.


Setelah Vicky selesai bersiap-siap, dia lantas mengajak Sherina untuk turun dan ke ruang makan. Ariana dan Velix telah berada di sana, mereka berdua kaget lantaran Sherina dan Vicky datang bersama-sama.


"Kalian habis dari mana? Kenapa bisa bersama?" tanya Ariana dengan tatapan heran. Yang dia tahu Vicky itu adalah sosok yang sulit dekat dengan orang asing, tetapi sekarang putranya ini tampak akrab dengan Sherina yang belum lama dia kenal.


"Tadi Sherina datang dan bawa teh di ruanganku, karena itu kami bersama-sama ke sini," jawab Vicky yang kemudian memilih tempat duduk. Dia juga mengajak Sherina supaya duduk di sebelahnya.


"Hehe, tadi malam apa saja yang Kakak Ipar lakukan?" tanya Velix dengan senyum usilnya.


"Velix! Itu tidak sopan!" bentak Ariana seraya mencubit lengan Velix. Dia kemudian beralih menatap ke arah Sherina dan berkata, "Maafkan Velix, ya. Dia memang nakal seperti ini."


"Haha, tidak apa-apa ... Velix masih kecil, tak perlu terlalu keras padanya," jawab Sherina dengan senyum canggung.


"Sekali lagi maaf, ya. Entah mengapa Velix sedikit berbeda dengan Vicky ..." ucap Ariana seolah merasa bersalah.


Heh, lagi pula kau juga akan malu kalau menjawab pertanyaan putraku. Semalam sudah pasti kau diabaikan dan ditinggalkan. Sungguh disayangkan, orang sepolos kau akan segera mati sia-sia.


"Velix, cepat habiskan sarapanmu! Nanti akan kakak antar kau kembali ke asrama!" pinta Vicky pada adiknya.


"Baiklah ..." jawab Velix dengan tampang cemberut.


"...." Sherina yang merupakan orang baru hanya bisa diam. Tak pernah menyangka jika suasana di rumah barunya akan seperti ini.


"Velix," panggil Sherina yang memecah keheningan.


"Ya?" tanya Velix.


"Anu ... aku rasa keberadaanmu cukup disembunyikan dari publik. Kira-kira, bolehkah aku tahu alasannya?"


"Ibu bilang itu demi keselamatanku. Usiaku terpaut jauh dari Kak Vicky, ibu melahirkanku dengan susah payah, lalu ayah meninggal ketika aku berusia 2 tahun. Ibu bilang keberadaanku lebih baik dirahasiakan, karena sebagai seorang tuan muda keluarga Bashara, aku akan diincar oleh banyak orang. Tak peduli niat mereka baik atau buruk."


"Aku mengerti alasan ibu, mengurusku tanpa ada ayah itu lebih sulit. Aku paham kalau ini semua demi pencegahan sesuatu yang buruk. Misalnya saja ... penculikan, bahkan ibu juga pernah bercerita kalau semasa kak Vicky masih kecil, kakak juga berkali-kali mengalami ancaman seperti itu."


"Ehmm ... aku perhatikan sejak tadi kau murung, apa kau tidak suka berada di asrama sekolah?" tanya Sherina lagi.


"Tentu saja tidak suka. Semua dibatasi, aku tidak bisa pergi ke mana pun sebebas yang aku mau!"


"Velix, jangan manja! Ibu memutuskan semua ini juga demi melatih kemandirianmu!" sahut Vicky penuh penekanan.


"Iya-iya ... aku paham!" balas Velix dengan nada ketus. Dia memalingkan muka menghadap ke arah kaca.


"...." Lagi-lagi Sherina terdiam. Tidak mengira jika Velix yang baru berusia 7 tahun akan bersikap semacam ini. Dia akhirnya tersadar akan sesuatu hal, meskipun keluarga Bashara bergelimang harta dan punya status sosial terpandang, rupanya sedikit sekali kebahagiaan di dalamnya.


Sekitar 15 menit kemudian Vicky akhirnya tiba di sekolah internasional tempat Velix disekolahkan. Dia meminta Sherina tetap menunggunya di dalam mobil, ketika dia mengatar Velix kembali ke masuk ke sekolah.


Dan tak berselang lama Vicky kembali, dia tak berkata apa-apa lagi dan segera melaju ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Vicky juga mendapatkan perlakuan yang berbeda. Dia lebih didahulukan dan tak mengantre seperti yang lain.


Setelah bertemu dengan seorang dokter yang menjadi kenalan Vicky, Sherina diminta untuk menjalani serangkaian jenis pemeriksaan kesehatan. Mulai dari pemeriksaan organ-organ dalam, pemeriksaan kesehatan mental, pemeriksaan laboratorium hingga pemeriksaan khusus untuk wanita. Semuanya cukup memakan waktu hingga 2 jam, memang melelahkan bagi Sherina, tetapi dia tetap sabar karena juga merasa penasaran pada kondisi tubuhnya.


"Jadi bagaimana, As? Apakah ada masalah serius?" tanya Vicky pada Aslan, sang dokter yang sudah lama menjadi temannya.


"Sebentar," ucap Aslan yang kemudian duduk. Dia juga memberikan lembaran-lembaran kertas laporan hasil pemeriksaan untuk dilihat oleh Vicky dan Sherina.

__ADS_1


"Semua ini adalah hasil dari pemeriksaan, dan aku jamin hasilnya sangat akurat. Istrimu ini, dia sepenuhnya sehat," lanjut Aslan.


"Sungguh?" tanya Sherina seakan tidak percaya.


"Iya, semua organ dalammu berfungsi dengan baik. Gula darah dan kolesterol juga normal. Dan hasil dari psikiater yang melakukan konsultasi denganmu tadi, dia juga bilang kalau semua tingkah lakumu normal," jawab Aslan yang kemudian beralih menatap Vicky.


"Hei, yang aku tahu selama ini kau berpacaran dengan Cleo, kenapa kau justru menikahi wanita ini?" tanya Aslan yang tanpa memikirkan perasaan Sherina. Dia memang selalu menggunakan bahasa santai dan blak-blakan pada setiap orang yang dia kenal.


"Haiss ... kau sendiri sudah tahu seperti apa rumor tentang keluargaku. Ini semua karena kutukan itu, dan istriku ini ... aku membawanya ke sini untuk memastikan jika dia baik-baik saja. Kalaupun dia sakit, aku tak ingin hal itu disangkut pautkan dengan kutukan," jawab Vicky seraya melirik ke arah Sherina.


"Dokter, apakah ada penjelasan medis soal orang yang hidup kembali?" tanya Sherina. Dia benar-benar penasaran dengan pandangan medis soal kejadian yang dia alami.


"Hidup kembali? Tentu saja ada, kasus mati suri sudah tidak asing lagi dalam dunia medis. Kami menyebut ini sebagai Lazarus Syndrome atau Near Death Experience. Napas dan detak jantung sudah berhenti, sudah dianggap mati tetapi sebenarnya masih hidup. Biasanya orang yang mati suri akan hidup kembali setelah 10 hingga 30 menit. Meskipun terkadang ada kasus langka, sudah lewat beberapa jam dan hidup kembali."


"Dan biasanya ... kasus mati suri kerap dihubungkan dengan hal-hal mistik. Menurut penelitian yang aku tahu, kesaksian orang yang mengalami mati suri itu berbeda-beda. Ada yang mengaku benar-benar merasakan kematian, mengaku jiwa meninggalkan raga, mengaku berjalan melewati terowongan, bahkan ada yang mengaku sempat berinteraksi dengan seseorang yang sudah lama meninggal. Apa kau pernah mengalami salah satu dari hal itu?" tanya Aslan.


"Ya, aku pernah. Saat itu aku jelas-jelas merasakan sakit yang luar biasa hingga lama-kelamaan hanya ada kegelapan. Tetapi, aku tiba-tiba merasakan seperti tersetrum, dan saat aku membuka mataku, aku menyadari kalau aku berasa di kamar mayat. Aku tidak merasakan sakit lagi, padahal aku ingat betul kalau aku habis ditabrak truk," jawab Sherina yang sontak saja membuat Aslan kaget.


"Ditabrak truk?! Kau tidak sedang bercanda, kan?! Kalau ditabrak truk, paling tidak seharusnya ada tulangmu yang retak. Dan jika kau benar-benar sempat mati, seharusnya lukamu itu parah! Tapi kau sekarang sehat-sehat saja! Apa jangan-jangan kau ini punya kembaran lain yang berpura-pura jadi kau?"


"Maaf, tetapi aku ini anak tunggal. Aku sama sekali tak punya niatan untuk menipu. Jika Dokter tidak percaya, silakan cek saja rekaman CCTV yang terpasang di jalan Merak Emas. Aku kecelakaan di sana," jawab Sherina dengan wajah santai.


"...." Aslan kehabisan kata-kata, masih sulit mempercayai apa yang baru saja dia dengar. Tiba-tiba saja dia justru berpaling menatap ke arah Vicky. "Syukurlah kau bertemu denganku. Jika saja kau bertemu dengan dokter lain, mungkin saja istrimu ini akan jadi bahan penelitian."


"Eh? Bahan penelitian apa?" tanya Vicky terheran-heran.


"Begini, sebagian dokter itu paling menjunjung tinggi sains dalam hidup mereka. Tetapi, aku ini berbeda. Meskipun aku percaya sains, aku tetap percaya pada Tuhan. Bagi orang yang hanya percaya pada sains, mereka akan berusaha mencari celah sekecil apa pun untuk membantah yang namanya keajaiban. Dan untuk kasus istrimu ini, hidup kembali dan semua lukanya juga pulih, ini benar-benar termasuk sebuah keajaiban."


"Kasus ini benar-benar rumit. Untuk jaga-jaga, jangan biarkan orang lain tahu mengenai keajaiban ini. Soalnya ini bisa menimbulkan pertentangan. Misalnya saja, awal penciptaan dari alam semesta. Para ilmuwan yang hanya benar-benar percaya pada sains, mereka tak henti-hentinya melakukan penelitian untuk membuktikan teori mereka. Jadi, saranku sebaiknya sembunyikan tentang hal ini. Aku yakin dengan pengaruh yang kau punya, Vicky. Kau bisa cari rekaman CCTV yang memuat kecelakaan istrimu, lalu hapuslah rekaman itu tanpa sisa!" pinta Aslan dengan tatapan sungguh-sungguh.


"Ehmm ... oke," jawab Vicky dengan canggung. Baru kali ini dia melihat Aslan yang biasanya selalu cengengesan, sekarang tampak begitu serius.


"Dokter, jika kau percaya pada keajaiban, apa kau percaya pada kutukan?" tanya Sherina penasaran.


"Tidak, aku tidak percaya pada kutukan. Keduanya sama-sama berada di luar logika, tetapi sebenarnya berbeda. Keajaiban itu hanya sesuatu yang hanya berhak untuk Tuhan berikan. Sedangkan kutukan, itu biasanya muncul karena rasa benci yang mendoakan supaya nasib sial terjadi. Jika yang kau maksud soal kutukan menantu pertama keluarga Bashara akan segera tiada. Kau tak perlu mencemaskan itu, suamimu sendiri saja tidak percaya pada kutukan itu."


"Yaa ... Dokter benar, selama kutukan itu tidak dipercaya maka juga tidak akan terlaksana," ucap Sherina dengan kepala tertunduk.


"Haha, jangan terlalu pesimis. Berusahalah tetap hidup, buktikan pada orang-orang jika mereka salah! Dan satu hal yang terpenting, jadilah istri Vicky selamanya, jangan biarkan dia direbut darimu!"


"H-hei! Kau ini bicara apa?!" bentak Vicky yang pipinya sedikit merona.


"Bukan apa-apa. Urusan kalian berdua sudah selesai, jadi cepatlah keluar, pasien lain sudah menunggu!" Aslan melambaikan tangannya, bermaksud mengusir Vicky dengan senyumannya yang ramah.


"Humph!" Vicky mendengus kesal, lalu menarik tangan Sherina untuk segara pergi dari ruangan Aslan si dokter menyebalkan.


Begitu berada di luar, Vicky segera menelepon asistennya. Dia menyuruh agar menelusuri rekaman CCTV yang merekam kejadian Sherina kecelakaan, serta menghapus semua jejak rekaman itu seperti yang disarankan oleh Aslan.


"Vicky, apa setelah ini kita akan pulang?" tanya Sherina.


"Ya, apa kau keberatan?" Vicky bertanya balik. Pikirnya, Sherina akan sama seperti Cleo, yang akan memintanya untuk menemani berbelanja atau makan bersama di restoran yang mewah.


"Keberatan sih tidak ... hanya saja, di rumah itu sudah ada puluhan pelayan yang mengerjakan segalanya. Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang berguna," jawab Sherina yang kemudian memalingkan wajahnya.


"Hmm ...." Sejenak Vicky tertegun, dia berpikir tentang hal apa yang bisa Sherina lakukan. "Sebentar, aku akan periksa jadwalku!"


Vicky lalu memeriksa ponselnya. Dia tersenyum begitu menyadari jika hari ini diam tidak punya jadwal rapat yang mendesak. Tiba-tiba saja dia menggandeng tangan Sherina dan menyeretnya dengan langkah kaki yang cepat.


"Ayo, ikut aku jika kau ingin melakukan sesuatu yang berguna! Kita akan mengumpulkan banyak pahala!"


"Pahala ...?" Sherina melongo.

__ADS_1


__ADS_2