
Berpacaran dalam waktu yang lama, tidak akan menjamin bahwa akan membawa hubungan ini berlanjut ke jenjang pernikahan. Bersama dalam waktu lama, juga belum tentu menjamin bahwa itu adalah jodoh. Hati manusia mudah untuk berubah, dulunya mungkin mencintai, tapi cinta pun kian lama juga bisa luntur. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa hati seseorang selamanya tetap akan sama.
Hal itu terbukti pada hubungan asmara antara Vicky dan Cleo. Selama lima tahun mereka saling menemani, saling mendukung, dan saling memadu kasih. Namun, hubungan yang dibina tanpa adanya kepastian itu kini telah kandas. Tanpa penjelasan, tanpa alasan yang jelas, secara sepihak Vicky menegaskan bahwa hubungan di antara mereka telah berakhir.
Manik mata Cleo bergetar, menatap nanar kepada mata yang tegas dari pria yang sangat dicintainya ini. Putus, artinya jalinan kasih dan cinta mereka telah terputus. Sungguh sebuah hal yang begitu sulit untuk Cleo terima. Dia tidak paham, dia tidak mengerti dan dia tidak tahu kenapa ini semua harus terjadi.
"Putus ...? Apa maksudmu, Vicky? Kau bercanda, kan?" tanya Cleo yang masih menganggap bahwa ini semua sekadar gurauan belaka.
"Putus ya putus! Tidak ada hubungan apa-apa lagi di antara kita! Kau sekarang bukan kekasihku lagi, dan aku sekarang bukan kekasihmu lagi! Aku tidak bercanda, aku benar-benar mau mengakhiri segala hubunganku denganmu!" ucap Vicky tanpa sedikit pun keraguan yang terlihat di matanya. Keputusannya untuk mengakhiri cinta dengan Cleo sudah bulat.
"Tapi kenapa?! Kenapa kau tiba-tiba mau berpisah dariku? Aku mencintaimu, Vicky! Aku tak pernah berkhianat padamu! Apa salahku sampai kau memutuskan seperti ini?!" protes Cleo sambil mencengkeram erat kain jas Vicky.
"Ya, kau memang tidak pernah mengkhianatiku. Tapi, akulah yang menghianatimu. Maafkan aku, Cleo. Aku benar-benar tidak bisa melanjutkan hubungan tidak sehat ini denganmu lagi. Aku sudah punya istri, kau tahu itu. Kau sendiri yang sudah mengenalkan dan memberikan restumu saat aku menikah dengannya. Dan sekarang ... aku hanya ingin dia yang ada di hatiku. Aku tak sanggup jika harus ada dua wanita di hidupku," jawab Vicky seraya perlahan melepaskan cengkeraman tangan Cleo dari pakaiannya.
"Kalau begitu berpisah saja dengan Sherina?! Pilih saja aku! Kenapa kau justru mau berpisah dariku?! Aku yang lebih dulu mengenalmu, aku yang lebih dulu memahami segalanya yang ada padamu, dan aku yang lebih dulu mencintaimu! Sedangkan Sherina, dia orang asing yang belum lama kau kenal. Dia itu pendatang baru di hidupmu, Vicky! Dia belum mengenalmu sebaik aku memahamimu! Kenapa mesti dia yang kau pilih?! Kenapa bukan aku saja?!" tanya Cleo dengan nada tinggi. Dia benar-benar murka dengan keputusan yang Vicky ambil.
"Ini bukan tentang siapa yang lebih dulu atau pendatang baru. Hanya saja, aku merasa kalau Sherina adalah orang yang tepat untukku. Dan sebenarnya ... aku sudah merasakan ini cukup lama. Bahkan sebelum aku mengenal Sherina. Selama ini aku merasa kalau kau itu tidak cocok denganku. Jangan salahkan aku, Cleo. Aku hanya ingin seperti orang lain yang berhak menentukan pasangannya sendiri. Dan aku ingin hidup bersama orang yang cocok dan terbaik untukku," ucap Vicky yang bermaksud mencari pembenaran dalam keputusannya.
"Lantas? Kau pikir aku tidak cocok? Dan aku kurang baik?! Atas dasar apa kau menentukan itu?! Otakmu itu pasti sudah diracuni oleh Sherina! Lihat saja tanggapan semua orang, orang-orang menganggap kita ini pasangan yang sempurna! Kita sangat serasi, Vicky! Ke mana pun kita pergi, orang-orang pasti akan memuji kita! Kita sangat cocok!" keluh Cleo dengan tampang memelas. Dia sungguh berharap supaya Vicky mengubah pemikirannya.
"Maaf, Cleo. Hidupku adalah aku sendiri yang berhak untuk memutuskan, aku tidak mau hidup berdasarkan penilaian dari orang lain. Dan menurutku, kenapa aku lebih memilih berpisah darimu, itu karena kau tidak lebih baik dari Sherina."
"Apa?! Dari sisi mana Sherina lebih baik daripada aku?! Dia itu janda yang dicampakkan mantan suaminya demi wanita lain! Dia itu bekas orang lain, Vicky! Jelas-jelas dia itu banyak kekurangan! Aku tidak menyangka kau bisa menganggap bahwa aku lebih buruk daripada seorang sampah yang dibuang!" cerca Cleo yang semakin kalap.
"Jaga kata-katamu! Sherina bukan barang bekas ataupun sampah! Mantan suaminya saja yang bodoh, dia yang tidak mampu melihat kebaikan di dalam diri Sherina! Jika dibandingkan denganmu, kau tidak ada apa-apanya dibanding sepucuk kuku Sherina!" balas Vicky yang tidak terima jika istrinya direndahkan.
"A-apa?! Kenapa kau justru menghinaku?! Memangnya apa yang Sherina punya sedangkan aku tidak?! Jelaskan, Vicky! Jelaskan semuanya!" tantang Cleo dengan penuh percaya diri. Dia sangat yakin kalau dia adalah wanita terbaik untuk Vicky.
"Baik, kalau kau mau tahu maka akan aku jelaskan satu per satu! Pertama, Sherina adalah orang yang perhatian, dia selalu memperhatikan aku, apa yang aku perlukan, apa yang aku mau, dan bahkan yang tidak aku sadari sekali pun juga dia perhatikan! Berbeda jika denganmu, kau selalu lebih mementingkan dirimu sendiri! Asal kau sendiri bahagia, kau tak pernah memikirkan orang lain, kau egois!"
"Kedua, Sherina itu rendah hati dan ramah. Berbeda sekali denganmu yang selalu bersikap angkuh dan merasa kalau diri sendiri yang terhebat! Sherina mau bergaul dengan siapa saja, bahkan dengan anak-anak penderita kanker di yayasan milikku, dia mau bermain dan menghibur mereka. Tapi kau, jangankan bermain, dekat-dekat dengan mereka saja kau merasa jijik! Padahal sama-sama manusia! Tapi kau menganggap dirimu paling baik seperti dewi!"
"Dan yang ketiga, Sherina itu jujur. Dia tidak munafik sepertimu! Bukti nyatanya sudah jelas! Velix sendiri yang bilang padaku kalau kau dekat dengannya karena ada maunya! Kau bersikap baik pada adikku hanya saat ada aku saja. Berbeda sekali dengan Sherina yang dengan hati tulus mau meluangkan waktu bersamanya!"
"I-itu kan Velix! Memang pada dasarnya saja dia tidak suka denganku!" bantah Cleo yang berusaha membela diri.
"Terserah kau mau mengelak bagaimana. Tapi yang jelas, yang membuat rasa cintaku padamu hilang, itu karena sifat lupa dirimu! Selama ini aku selalu baik padamu, tapi kau malah memanfaatkan kebaikan hatiku! Kau selalu berbuat semena-mena, tak mau meminta maaf sekalipun kau yang salah! Kau sungguh lupa diri, pikirmu aku akan memaafkan semua kesalahanmu karena aku punya perasaan padamu?!"
"Salah besar! Kau salah besar, Cleo! Dan hari ini kau sudah melewati batas kesabaranku! Kesabaranku padamu sudah habis! Kau sungguh jahat, jangan kira aku bisa tertipu! Aku tahu bahwa pasti kaulah otak di balik kasus air keras ini! Siapa lagi jika bukan kau yang mempunyai niat untuk mencelakai Sherina? Aku tahu betul saat di kantor polisi tadi kalau semua kesaksian manajermu itu palsu! Kau pasti juga sudah mengancamnya! Mungkin kau bisa menipu orang lain, tapi tidak denganku!"
"Keputusanku untuk berpisah denganmu sudah bulat! Jadi, jangan coba-coba untuk muncul di hadapanku lagi! Mulai sekarang, kita ini orang asing!" tegas Vicky yang kemudian segera berbalik dan berjalan menjauh dengan langkah yang cepat.
__ADS_1
"Vi-Vicky ... jangan pergi! Kau tidak boleh seperti ini padaku! Kaulah yang jahat! Kau yang jahat!" teriak Cleo yang telah berurai air mata. Tak peduli sekeras apa pun dia berteriak, Vicky tetap tak berbalik ataupun peduli padanya.
BRUGH ...
Cleo terjatuh, kini dia bersimpuh di lantai teras yang dingin itu. Kakinya terasa sangat lemas hingga tak mampu untuk menopang tubuh. Dia tak pernah menyangka, jika perbuatannya kali ini akan benar-benar membuat Vicky pergi dari hidupnya.
Vicky adalah kekasih yang selama ini dia kagumi, tak pernah sekalipun Cleo punya pemikiran pada pria lain kecuali Vicky. Baginya, Vicky adalah segala-galanya. Semua kehormatan ini, semua kekayaan ini dan semua ketenaran ini, rasanya benar-benar hampa ketika Vicky tak lagi menjadi miliknya.
***
"Huftt ... akhirnya selesai," ucap Sherina dengan napas lega. Dia menata beberapa lembar dokumen yang masih tergeletak di meja rapat. Meskipun para dewan direksi juga sempat dibuat heboh karena insiden air keras yang hampir melukai Sherina, tapi untungnya Sherina mampu menenangkan mereka. Syukurlah rapat sore hari ini berjalan dengan baik, dan sekarang hanya tinggal Sherina seorang yang berada di ruangan rapat ini.
"Rapat kali ini juga berjalan lancar, aku beruntung karena para dewan direksi semuanya mau bekerja sama dengan baik. Tidak seperti sebelumnya yang kadang tidak sepaham denganku atau sengaja mempersulitku," gumam Sherina dengan senyuman kecil.
Saat melihat ke arah jam dinding, dia teringat pada sesuatu. "Eh, sudah sore. Tadi pagi aku sudah membuat janji dengan Velix untuk menjemputnya sekolah. Sekarang aku harus segera menjemputnya! Aku akan ambil tasku dulu!"
Sambil membawa kertas hasil rapat, Sherina berlari tergesa-gesa menuju ke ruangan Direktur yang jaraknya tak terlalu jauh dari ruang rapat. Akan tetapi, begitu dia membuka pintu, lagi-lagi dia mendapatkan kejutan tak terduga. Vicky yang entah kapan datang ke sini, tiba-tiba saja memeluknya dengan erat.
"Vicky ... kau di sini?" tanya Sherina sedikit canggung. Pikirnya, Vicky memeluknya erat seperti ini mungkin karena masih mengkhawatirkan dirinya setelah kejadian pagi tadi. "Aku kan sudah bilang kalau aku tidak apa-apa, kau tak perlu mengkhawatirkan aku sampai seperti ini," lanjut Sherina.
"Sherina, aku sudah putus dengan Cleo. Sekarang cuma kau wanita satu-satunya di hatiku. Aku sejak tadi di sini menunggumu selesai rapat. Hanya untuk memberitahumu soal ini," ucap Vicky dengan nada lembut, lebih tepatnya seperti tidak bertenaga.
"A-apa?" Sherina ternganga, dia sungguh tak percaya akan mendengar kabar seperti ini.
"Sherina, bolehkah sekarang aku menciummu?"
"Eh? A-apa?!" Sherina terkejut, seketika dia mendorong Vicky menjauh hingga pelukannya terlepas. Dia salah tingkah, wajahnya ikut memerah, sungguh tidak siap ketika Vicky meminta ciuman secara tiba-tiba.
"Kenapa, apa kau tidak mau?" tanya Vicky dengan tatapan polosnya. Benar-benar perjaka yang polos, dia tidak akan mencium jika istrinya tidak memberikan izin.
"A-aku bukannya tidak mau. Tapi kenapa kau tiba-tiba minta ciuman? Dan ini bukan saat yang tepat untuk melakukan itu. I-ini ... saatnya menjemput Velix! Aku sudah berjanji padanya tadi pagi!" jawab Sherina dengan senyum canggung.
"Oke, kalau begitu ayo jemput Velix bersama-sama," jawab Vicky dengan pasrah. Dia jadi sedikit kurang bersemangat ketika ciuman yang dia inginkan tidak dipenuhi.
"...." Sherina sedikit merasa tidak enak hati ketika mengetahui reaksi suaminya. Sambil terus melirik ke arah Vicky, dia menyimpan dokumen itu ke dalam salah satu laci lemari. Dan setelah mengambil tasnya, tiba-tiba saja dia mendekat ke arah Vicky dan memberikan sebuah ciuman di pipi kanannya.
CUP!
"EH?!" Seketika Vicky terperanjat.
"Hehe, sudah kucium. Terima kasih karena sudah bersikap tegas. Aku senang dengan kejelasanmu ini," ungkap Sherina malu-malu. Dia sangat senang karena akhirnya mendapatkan kepastian tentang siapa pemilik hati Vicky sebenarnya.
__ADS_1
Vicky tersenyum semringah, sebuah kecupan itu seolah-olah berhasil mengisi energinya hingga penuh. Dia menggandeng erat tangan Sherina lalu menariknya agar bisa jalan bersama-sama. "Ayo, cepat! Jangan biarkan Velix menunggu lama!"
"Haha, baiklah!" jawab Sherina yang juga membalas genggaman tangan Vicky dengan erat.
Sungguh sebuah hari yang lengkap. Ada kejadian buruk dan ada kejadian manis yang terjadi dalam satu hari. Satu hal paling membuat pasangan suami istri ini merasa bahagia. Yaitu soal kejelasan hubungan mereka. Tak peduli pada mulanya mereka menikah karena alasan apa. Yang jelas, sekarang mereka bisa hidup dengan normal seperti hubungan antara suami istri yang saling mencintai pada umumnya.
"Hm? Kenapa dari tadi kak Vicky senyum-senyum terus?" tanya Velix penasaran. Biasanya dia akan disambut dengan wajah lelah dan lesu kakaknya, namun kali ini dia melihat wajah kakaknya yang berseri-seri.
"Haha, rahasia! Oh ya, kebetulan sekarang sudah senja. Bagaimana kalau hari ini kita bertiga makan malam di luar saja?"
"Oke, aku setuju!" jawab Sherina dengan senyuman.
"Aku juga setuju! Sepertinya seru!" jawab Velix yang turut merasa antusias. Dia sungguh penasaran kenapa kedua kakaknya ini tumben sekali tampak bahagia.
Vicky lalu beralih menuju ke sebuah restoran mewah yang sudah menjadi tempat langganannya. Dia memesan sebuah meja khusus VIP. Meja yang besar dan terpisah dari para pengunjung yang lain. Hidangan yang disajikan pun sangat beragam dan menggugah selera makan. Terlebih lagi bagi Velix, dia yang baru saja pulang sekolah merasa perutnya sangat keroncongan.
"Oh ya, kenapa Kak Vicky tumben sekali mengajak kita makan di luar? Sebenarnya ada hal baik apa yang terjadi?" tanya Velix yang meletakkan sendoknya kembali. Dia menegaskan tidak akan makan sebelum Vicky memberi tahu alasan yang sebenarnya.
"Begini, aku dan kakak iparmu merasa senang hari ini karena ... aku sudah resmi putus hubungan dengan Cleo," jawab Vicky sambil bertatap mata dengan Sherina.
"Wahh ... harusnya Kak Vicky melakukan ini sejak dulu! Biar si ratu mesir itu menyesal sekarang! Pantas saja kalian berdua terlihat bahagia, rupanya pengganggu kalian sudah tidak ada!" sahut Velix yang turut merasa senang.
Tiba-tiba saja Velix beralih menatap ke arah Sherina. "Kakak ipar, selamat ya! Sekarang saingan cinta kakak ipar sudah tidak ada! Jangan lupakan bantuanku, ya! Aku juga berperan penting, loh! Aku sudah mendukung kakak ipar dan melawan ibu!"
"Astaga, kau ini ada-ada saja. Baiklah, sekarang katakan. Kau mau apa sebagai imbalan?" Sherina terkekeh.
"Hehe, kalau begitu ... aku ingin kakak ipar mengantarku 3 hari lagi. Aku ingin mengikuti acara summer camp yang diadakan oleh sekolah. Sebenarnya tidak wajib, dan ini dilakukan saat masa jeda setelah ujian, kalau ada yang berminat ikut, katanya akan mendapatkan nilai tambahan. Aku sudah sepakat dengan temanku, dia bilang juga akan mengikuti acara ini! Jadi, aku mau Kak Sherina yang antar aku ke lokasi! Nantinya aku akan berada jauh dari kakak dan melakukan pelatihan selama 2 minggu. Nanti kakak ipar juga yang jemput aku, ya!"
"Haha, baiklah. Hanya mengantar dan menjemputmu saja. Itu mudah." Sherina menyanggupi.
"Summer camp selama 2 minggu?" tanya Vicky.
"Iya, aku akan pergi selama 2 minggu. Harusnya kalian berdua senang, kan?" tanya Velix dengan senyum nakal.
"Eh, senang kenapa?" sahut Sherina.
"Tentu saja senang, aku tidak ada, artinya aku tidak bisa mengganggu waktu kalian berduaan. Sekalian saja kalian manfaatkan ini dan berangkat bulan madu!"
"Velix!!" teriak Sherina dengan wajah memerah. Seketika dia juga membungkam mulut Velix yang berbicara sembarangan.
"Kau ini, berhenti menonton film yang aneh-aneh!" ucap Vicky yang kemudian membuang muka. Dia benar-benar salah tingkah saat Velix menyebutkan soal bulan madu. Pikirannya langsung membayangkan hingga ke mana-mana.
__ADS_1
"Hum hum huummm ...."Velix masih bisa tertawa walaupun mulutnya sudah dibungkam oleh Sherina. Benar-benar bocah yang usil, puas sekali ketika dia berhasil menggoda kakak-kakaknya.