Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Sugar Baby


__ADS_3

"Aku pergi dulu, Kak Davi!" seru Sherina seraya melambaikan tangan pada Davi.


"Ya, hati-hati dan cepatlah kembali!" jawab Davi dengan senyuman.


Sherina lantas berjalan keluar dari Yayasan Sehat Mulia. Dia berjalan seorang diri karena hendak mengunjungi kedai ice cream yang jaraknya tak terlalu jauh dari yayasan.


"Hemm heemm ...." Sherina bersenandung di sepanjang perjalanan. Baginya, hari-hari seperti ini sungguh damai baginya.


Hari ini adalah tepat seminggu setelah pernikahan. Kejadian di mall dan artikel itu telah berlalu, tetapi sikap orang-orang pada Sherina tidak berubah. Misalnya saja Ariana, sejak kejadian itu, dia menjadi enggan untuk berbicara dengan Sherina. Bahkan sekalipun Sherina menyapanya dengan sopan, Ariana tetap tak menggubris sapaan itu.


Cleo pun juga sama. Walaupun semua ini akibat kesalahan dari rencana yang dia buat sendiri, dia justru bertingkah seperti yang paling tersakiti. Dan meskipun artikel yang menyesatkan itu sudah dihapus oleh Vicky, Cleo masih merasa kesal dan ingin terus menerus dihibur olehnya.


Sama halnya seperti hari ini, Vicky masih dibuat sibuk dengan urusannya untuk menghibur Cleo. Beberapa hari terakhir ini bahkan Vicky sering keluar malam demi jalan-jalan ataupun berkencan bersamanya. Sedangkan Sherina, dia tahu semuanya namun memilih diam. Sherina sama sekali tidak tersinggung, karena rasa cinta atau cemburu itu sama sekali tidak penting baginya.


Yang bisa Sherina lakukan untuk menghibur diri dari rasa bosan hanya mengunjungi yayasan dan menghibur anak-anak. Berkat black card yang diberikan oleh Vicky, Sherina menggunakannya untuk membeli barang-barang yang bermanfaat bagi anak-anak yang tinggal di yayasan.


Dan sekarang, Sherina berniat untuk membeli beberapa cup ice cream gelato dan memberikannya pada anak-anak. Dia melakukan ini atas dasar rasa simpati, bukan demi mendapatkan pujian dari orang lain. Karena sebelumnya Davi bercerita jika anak-anak itu sudah lama tidak memakan camilan yang enak, alhasil Sherina berinisiatif sendiri untuk membelikan ice cream bagi mereka.


"Eh?! Bukannya ini mobil pribadi milik ayah?" gumam Sherina yang merasa kaget saat melihat sebuah mobil dan plat nomor yang tidak asing pula. Mobil hitam mewah ini diparkirkan di tepi jalan.


"Apa ayah ada di sekitar ini? Tapi untuk apa? Daerah ini kan lumayan jauh dari rumah ataupun kantor. Lagi pula seharusnya saat ini dia ada di kantor! Sial, padahal dia jadi penanggung jawab utama perusahaan milik ibu! Tapi dia malah bekerja tidak jelas begini!"

__ADS_1


Sherina merasa ada sesuatu yang janggal. Dia menoleh ke kanan kiri, tetapi masih tak melihat adanya tanda-tanda keberadaan ayahnya. Sherina menghela napas, dia teringat pada tujuan utamanya. Pada akhirnya dia memilih untuk mengabaikan perihal soal ayahnya ini.


Namun, baru beberapa langkah yang Sherina ambil. Langkahnya mendadak terhenti ketika melihat sesuatu yang begitu mengejutkan. Dari trotoar dia bisa melihat dengan jelas, sesuatu di balik kaca bening milik sebuah kafe. Dia melihat jika ayahnya saat ini sedang duduk berdua saja dengan seorang gadis yang asing.


"Bukannya itu ayah?!" Sherina mendekat lagi, dia memperhatikan dengan saksama untuk memastikan jika pria itu benar-benar ayahnya atau bukan.


"Sial, itu memang ayah! Kenapa dia bicara dengan gadis muda? Bahkan sepertinya masih SMA, mereka juga bergandengan tangan di atas meja. Apa jangan-jangan ... ayah punya sugar baby!"


"Ini tidak bisa dibiarkan!" Sherina dibuat emosi dengan kelakuan ayahnya yang melanggar moral. Namun, sekali lagi langkah Sherina kembali terhenti. Dia terpikirkan cara yang bisa mendatangkan keuntungan di saat seperti ini.


Tunggu sebentar, jika aku masuk sekarang dan melabrak ayah. Kemungkinan besar masalah ini akan berhenti sampai di sini saja, atau bahkan mereka tidak akan kapok dan malah berganti tempat. Tapi jika aku melakukan sesuatu, aku bisa menggunakan kesempatan ini untuk membalaskan dendamku pada ayah!


Sedangkan Panji, karena letak mejanya yang berjarak lumayan jauh dari kaca, dia masih tidak menyadari keberadaan Sherina. Dia masih berbincang dengan simpanannya yang muda dan manis.


"Kayla, apa kau suka hadiah yang terakhir kali aku berikan?" tanya Panji dengan tatapan mesum. Karena hadiah yang dia maksud adalah sebuah kalung yang saat ini dipakai oleh sugar baby-nya yang bernama Kayla. Dia terus melihat ke arah liontin kalung itu yang tepat berada di atas dada Kayla.


"Suka, aku sangat suka hadiah dari Om Panji~" jawabnya dengan nada manja. Tetapi, mendadak Kayla mengubah ekspresi wajahnya menjadi sendu. "Ehmm ... belakangan ini, hari-hariku di sekolah jadi buruk. Aku diejek oleh teman-temanku."


"Diejek? Diejek bagaimana?" tanya Panji yang seolah merasa marah dengan apa yang terjadi pada Kayla.


"Aku diejek, kata teman-temanku model ponselku sudah ketinggalan tren. Sedangkan, mereka semua punya ponsel keluaran terbaru," ucap Kayla lagi dengan wajah cemberut.

__ADS_1


"Rupanya soal itu. Sudah, jangan sedih lagi, oke? Nanti akan om belikan ponsel yang paling terbaru!"


"Terima kasih! Om Panji memang yang terbaik!" ucap Kayla dengan senyuman.


"Tapi, seperti biasa ...."


"Ah, iya ... Kayla paham, kok. Tapi, tolong lebih hati-hati, ya. Soalnya, besok aku ada pelajaran olahraga," ucap Kayla dengan wajah malu-malu.


"Tentu, om pasti akan berlaku lembut."


Tak lama kemudian Panji dan Kayla keluar bersama-sama dari kafe tersebut. Mereka berdua menaiki mobil milik Panji dan menuju ke suatu tempat. Sherina yang masih mengintai akhirnya keluar dari persembunyian. Dia juga memberhentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat.


"Ikuti mobil warna hitam itu!" pinta Sherina begitu naik ke dalam taksi.


"Baik," jawab Sopir taksi tersebut.


Sherina mengikuti ke mana ayahnya dan gadis itu pergi. Dan tak lama kemudian, dia akhirnya tahu jika ayahnya berbelok dan berhenti di sebuah hotel. Sherina yang saat ini masih di dalam taksi hanya ternganga, dia masih sedikit syok jika ayahnya akan mengajak gadis kecil pergi ke hotel saat siang hari.


"Pak, tolong putar balik!"


Sial, rupanya aku benar-benar punya seorang ayah yang bajing*n. Aku kira dia hanya akan selingkuh dengan si ****** Fina itu. Tapi, bukannya bertobat, dia malah semakin parah. Sepertinya aku memang harus memberi pelajaran pada ayah.

__ADS_1


__ADS_2