
Waktu terus berlalu, dan hari pun berganti. Selama beberapa hari terakhir, Sherina terus melakukan penyelidikan diam-diam pada sugar baby yang jadi simpanan ayahnya. Dia menemui mereka dan mengatakan hal yang sama seperti saat melabrak Kayla.
Namun, ada satu hal yang berbeda. Saat malam hari sesudah makan malam, Vicky selalu meminta Sherina untuk mengunjungi ruang bacanya. Dia meminta bantuan-bantuan kecil dari Sherina, alih-alih demi berbincang lebih banyak dan menghabiskan waktu lebih lama bersamanya.
Hingga hari Rabu yang istimewa pun tiba. Sesuai kesepakatan yang telah terjadi di antara Vicky dan Sherina, hari ini mereka berdua akan menghadiri acara pesta pernikahan Satya dan Sofia. Mereka berdua merencanakan segalanya dengan cermat. Bahkan, untuk pakaian yang mereka kenakan, adalah pakaian serasi untuk pasangan. Vicky yang telah mengatur hal ini, dia sengaja meminta desainer kenalannya untuk merancang dan membuatkan sepasang baju yang spesial.
"Apa kau sudah siap?" tanya Vicky dengan senyuman tipis di bibirnya. Siang sampai sore hari ini dia telah mengosongkan semua jadwal, khusus untuk menemani Sherina.
"Iya, aku siap. Ayo berangkat!" ajak Sherina dengan antusias.
"Tunggu sebentar!"
Seketika Sherina mematung, dia kebingungan kenapa Vicky menyuruhnya untuk menunggu. Dan tiba-tiba saja Vicky mendekat padanya, sebelah tangannya perlahan meraih rambut yang ada di dekat telinga Sherina.
"A-ada apa, Vicky?" tanya Sherina sedikit gugup. Karena wajah Vicky yang tampak tegas ini begitu dekat dengannya.
"Eh, aku cuma mau mengambil ini. Ada sehelai benang yang menempel di rambutmu." Vicky melangkah mundur, lalu membuang kotoran kecil itu ke lantai.
"Ohh ... t-terima kasih." Sherina memalingkan wajahnya. Dia salah tingkah sekaligus merasa malu sendiri, dia salah paham karena mengira jika tadi Vicky akan memberikan ciuman padanya.
Mereka berdua bergegas untuk turun, hendak memberitahu Ariana soal keberangkatan mereka. Karena sekarang, Ariana sedang berada di bawah dan membaca majalahnya seperti biasa.
__ADS_1
"Ibu, aku dan Sherina mau berangkat," ucap Vicky pada Ariana.
"Hm?" Ariana melirik sekilas, dia kaget dengan pakaian yang dikenakan oleh Sherina dan Vicky. Pikirnya, kenapa harus pakaian yang serasi? Bukannya Vicky selalu enggan untuk melakukan hal-hal konyol semacam ini? Dengan Cleo saja tidak pernah, kenapa sekarang dia mau jika itu dengan Sherina?
"Ya, pergilah!" jawab Ariana dengan nada ketus. Dia tidak menyembunyikan ekspresi ketusnya. Karena dia benar-benar tidak suka pada Sherina yang kini bisa tersenyum dan memakai barang-barang mewah itu. Dia bersikap acuh tak acuh, mendengus kesal dan kembali melanjutkan membaca majalahnya.
"Ayo, kita berangkat sekarang!" ajak Vicky seraya menggandeng tangan Sherina.
Namun, baru beberapa langkah yang mereka ambil. Tiba-tiba saja ponsel Vicky berdering. Vicky segera mengambil ponselnya dari dalam saku, ekspresinya langsung berubah masam begitu mengetahui yang meneleponnya adalah asistennya, yaitu Oliver.
"Ck, ada urusan macam apa Oliver meneleponku? Padahal aku sudah bilang padanya untuk mengosongkan jadwalku," gerutu Vicky yang sepertinya enggan untuk mengangkat telepon.
"Tidak apa-apa, angkat saja, mungkin Oliver ingin mengabari sesuatu yang penting. Aku bisa menunggu sebentar," bujuk Sherina.
"Syukurlah Tuan menjawab! Sebelumnya saya ingin meminta maaf karena mengganggu waktu, Tuan. Hanya saja yang akan saya sampaikan sangat penting. Nona Cleopatra mengalami kecelakaan di lokasi syuting!" ucap Oliver yang suaranya terdengar panik.
Kedua mata Vicky membulat seketika. "Kecelakaan?! Apakah itu parah? Bagaimana kondisi Cleo sekarang?"
"Emm ... sebenarnya saya tidak tahu pasti. Soalnya saya menerima kabar dari manajernya Nona Cleopatra, dia bilang jika Nona Cleopatra saat ini terluka dan masih tidak sadarkan diri. Karena itu Nona Cleopatra tidak bisa mengabari Tuan Vicky sendiri, saya tidak dapat memastikan karena saya masih berada di kantor. Tetapi, jika Tuan mau ... saya bisa pergi ke rumah sakit sekarang untuk memastikan kebenaran kabarnya," jawab Oliver lagi.
"Tidak usah! Aku akan ke sana sendiri! Kau tetap di kantor dan urus pekerjaanmu!"
__ADS_1
"Baik, Tuan ...."
TUT TUT ...
Panggilan telepon itu berakhir. Vicky yang saat ini merasa khawatir langsung menoleh ke arah Sherina dan menatapnya lekat-lekat. "Sherina, maafkan aku .... Kau bisa berangkat ke acara sendiri, kan? Jika aku sudah memastikan kondisi Cleo kalau dia tidak terluka parah, aku akan segera menyusulmu!"
"Iya, aku bisa berangkat sendiri. Tidak apa-apa," ucap Sherina dengan senyuman yang dipaksakan.
"Baiklah, terima kasih banyak atas pengertianmu!" Tanpa basa-basi lagi Vicky bergegas dengan berlari pergi secepat yang dia bisa.
Sedangkan Sherina, dia masih berdiam diri di tempat tanpa berkata apa-apa. Dia juga sekilas melirik ke arah Ariana yang masih nyaman membaca majalahnya. "...."
Yahh ... pada akhirnya begini. Vicky tidak jadi datang ke acara bersamaku. Dia lebih mementingkan Cleo, biarpun saat ini aku tahu kalau Vicky sedang merajuk, tetap saja Vicky lebih memedulikan kekasihnya dibanding aku.
Hanya saja ... aku merasa sedikit kasihan pada Vicky, miris sekali jika orang sebaik dia hanya dipermainkan. Walaupun berprasangka buruk pada orang yang terkena musibah itu salah, tetap saja aku tidak bisa tidak curiga. Soalnya, waktu kejadiannya bertepatan sekali saat Vicky hendak pergi bersamaku.
Tapi, apa pula ibu mertuaku ini? Dia masih membaca majalah, berlagak tidak mendengar percakapan Vicky dengan Oliver. Padahal Vicky berbicara dengan keras, orang yang punya pendengaran normal harusnya bisa mendengarnya. Cleo itu kan menantu kesayangannya. Harusnya dia juga panik jika mengetahui kabar ini. Tapi, sekarang dia masih bisa bersantai. Aku justru makin curiga kalau ini adalah permainan lain dari ibu mertua.
"Huh!" Sherina mendengus kesal, lalu berjalan pergi supaya dia tidak terlambat menghadiri acara. Dia tidak mau dicibir dan kesalahannya dicari-cari oleh Sofia yang menyebalkan.
Sedangkan Ariana, dia masih duduk di sofa empuk itu. Namun, di balik buku majalah itu, diam-diam dia tersenyum sinis sambil mengintip Sherina yang kian menjauh.
__ADS_1
"Hahaha, kasihan sekali kau." Bukannya merasa prihatin, Ariana justru tertawa dengan keadaan sekarang.
"Bagus, rencanaku berhasil. Cleo pura-pura mengalami kecelakaan, persis seperti apa yang aku suruh. Aku tahu jika putraku itu masih akan memprioritaskan Cleo. Dan sekarang, tinggal menikmati pertunjukkan di mana Sherina akan direndahkan! Orang-orang pasti akan menghina dirinya karena dia tidak datang bersama dengan Vicky!"