
"Maaf." Hanya satu kata yang bisa terucap dari mulut Vicky. Dia merasa harus meminta maaf atas tindakan Velix yang berlari keluar dari ruangan begitu saja.
"Ehmm ... a-aku akan menyusul Velix," ucap Sherina dengan nada canggung.
"Baiklah," jawab Vicky dengan anggukan kepala.
Setelah mengucapkan permisi pada yang lain, Sherina segera keluar dari ruangan itu. Ketika dia berada di luar, dia sudah kehilangan jejak Velix. Lalu dia memutuskan untuk bertanya pada setiap murid lain yang lewat, apakah mereka melihat ke arah mana Velix berlari atau tidak.
Lingkungan sekolah yang besar ini cukup membuat Sherina kebingungan. Berkali-kali dia bertanya pada siapa saja yang lewat supaya tidak salah jalan. Hingga, setelah belasan kali bertanya pada orang lain, akhirnya Sherina menemukan Velix.
"Ternyata di sini ..." gumam Sherina dengan napas lega.
Perlahan Sherina melangkah mendekat. Dia memperhatikan Velix yang sedang berjongkok di tepi danau buatan yang ada di halaman belakang sekolah. Bocah kecil ini juga terlihat melemparkan batu-batu kerikil ke arah danau, sepertinya ini bentuk dari pelampiasan rasa kesalnya.
"Sedang apa, Velix?" tanya Sherina yang tiba-tiba ikut berjongkok di sebelah Velix.
"Eh?! K-kakak ipar?!" Velix terkejut, dan sejurus kemudian raut wajahnya berubah masam kembali. "Ada urusan apa Kakak ipar kemari? Apa karena mau menyuruhku untuk meminta maaf pada Mario?"
"Haha, kau salah. Aku kemari bukan karena alasan itu. Aku mencarimu karena khawatir padamu."
"Khawatir? Untuk apa khawatir padaku? Kakak ipar bahkan belum lama mengenalku."
"Astaga, kau ini!" Sherina merasa gemas, dia langsung merangkul Velix hingga membuatnya bersandar padanya.
"Hei! Apa yang Kakak ipar lakukan?!" protes Velix sambil memberontak.
"Diamlah! Anak kecil sepertimu tak perlu terlalu banyak berpikir! Aku ini kakak iparmu, jadi wajar saja kalau aku peduli dan khawatir padamu!" Sherina tertawa keras sembari mengacak-acak rambut Velix.
"Humph!" Velix hanya menggembungkan pipinya, baru pertama kali ini ada orang yang memperlakukan dirinya seperti ini.
"Oh ya, omong-omong ... Mario berkelahi denganmu sampai memar seperti itu, dan bahkan giginya copot. Sedangkan kau terlihat baik-baik saja, benarkah hanya kau sendiri yang membuat Mario sampai seperti itu?" tanya Sherina yang bermaksud untuk melakukan pendekatan pada Velix.
"Tentu saja! Aku ini anak jantan, tentu saja aku tidak akan main keroyokan!" jawab Velix dengan nada ketus. Dia merasa kesal karena diingatkan soal Mario.
"Wahh ... tapi tetap saja ini sedikit janggal, apa kau memakai senjata atau benda lain untuk memukulnya?" tanya Sherina lagi.
"Cih, untuk apa pakai senjata? Aku cuma pakai tangan kosong. Dengar ya, Kakak Ipar ... aku beri tahu satu hal. Aku ini atlet taekwondo, warna sabukku sudah biru! Menghajar anak manja seperti Mario sialan itu mudah saja bagiku!" ucap Velix dengan nada angkuh.
"Hei, tidak boleh bicara kasar! Anak kecil harus belajar mengendalikan perkataan!"
"Ck, lagi-lagi seperti ini ..." keluh Velix yang kemudian membuang muka. Entah kenapa dia merasa jika Sherina semakin tidak menarik, dia menganggap bahwa Sherina sama seperti orang dewasa lainnya yang menyebalkan. Selalu memberikan nasihat-nasihat yang membatasi dan melarangnya berbuat sesuatu yang dia mau.
"Velix ..." gumam Sherina dengan kedua alis yang saling mengait. Dia merasa jika Velix ini merupakan anak yang perasaannya sangat mudah tersinggung.
__ADS_1
Untuk beberapa saat mereka berdua sama-sama diam. Hanya terdengar suara riak air dari danau yang timbul dari ikan-ikan yang berenang. Hingga, tiba-tiba saja Sherina memecah keheningan dengan kembali berkata, "Velix, kalau boleh tahu ... apa sebabnya kau berkelahi dengan Mario? Aku percaya kalau kau tidak akan memukul orang tanpa alasan. Jadi, bisakah kau ceritakan padaku?"
"Hm?" Velix mendelik, dia cukup kaget karena Sherina bertanya soal alasan di balik ini semua. Lalu setelahnya dia malah berekspresi murung dan menundukkan pandangan. "Aku diejek," ucapnya dengan suara lirih.
"Diejek? Memangnya dia mengejekmu bagaimana?" tanya Sherina terheran-heran. Dia tidak habis pikir jika anak yang terlahir dari golongan konglomerat, seperti keluarga Bashara yang punya segalanya masih akan mendapat ejekan.
"Dia mengejekku dan bilang kalau aku anak yatim. Aku tidak marah, karena itu benar, ayahku memang sudah meninggal. Tapi, dia mengejek lagi dengan berkata kalau aku anak buangan. Dia mengejekku tinggal di asrama karena ibu tidak mau merawatku. Padahal, itu tidak benar, kan?"
"A-apa?! Dia serius bilang begitu?!" Sherina terperangah. Dia tidak menyangka jika Velix mendapatkan ejekan semacam itu. Pikirnya, semua kata-kata itu sudah kelewatan jika diucapkan untuk anak sekecil ini.
"Iya, dia mengatakan itu semua. Hanya karena saat acara pementasan minggu lalu, ibu tidak datang sebagai perwakilan wali muridku. Aku marah, jadi aku menghajar Mario. Tapi, wali kelas cuma menyuruhku yang meminta maaf. Dia tidak menyuruh Mario minta maaf padaku, padahal yang salah kan Mario lebih dulu ..." jelas Velix dengan kedua matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Kak Vicky juga sama, dia seenaknya menyimpulkan kalau ini kesalahanku tanpa bertanya dulu padaku. Aku sadar kalau aku memang nakal, terkadang aku memang sengaja melanggar beberapa aturan sekolah dan aturan asrama supaya wali kelas menelepon rumah. Aku cuma ingin sesekali ibu atau kak Vicky datang menemuiku. Tapi, kak Vicky sangat sibuk dengan pekerjaannya sebagai penanggung jawab perusahaan. Ibu pun juga sama sibuknya ...."
Velix tak lagi bicara, dia lalu duduk meringkuk dan menyembunyikan wajahnya. Karena dia tak mau ekspresinya yang menyedihkan dilihat oleh Sherina. Biarpun dia hanya seorang anak kecil, dia punya harga diri yang tinggi. Sedangkan Sherina, dia turut merasa prihatin dengan apa yang dialami oleh Velix. Akan tetapi, untuk saat ini dia hanya bisa membiarkan Velix bertingkah semaunya saja. Dia tak akan melarang ataupun mencegah jika seandainya Velix ingin menangis.
"...."
Kasihan sekali, anak yang usianya baru 7 tahun sudah mengalami hal semacam ini, hidup tanpa didampingi oleh kedua orang tua yang lengkap. Dan sekarang akhirnya aku menyadari satu hal, walaupun Velix hidup dengan segala hal yang berkecukupan, tetapi dia tak mendapatkan kasih sayang yang cukup.
Bahkan, dia sendiri bilang kalau dia sengaja membuat masalah untuk mendapatkan perhatian dari ibunya. Selama ini, aku juga telah sering kali melihat ibu mertua memuji Vicky, tapi tak pernah sekalipun dia membanggakan sesuatu soal Velix. Padahal, aku sudah bertanya pada Vicky kalau sebenarnya Velix punya kecerdasan di atas rata-rata, dan juga memiliki bakat lain di bidang olahraga maupun seni.
Meskipun aku belum lama menjadi menantu keluarga Bashara, aku tidak boleh tinggal diam. Aku harus membuat Velix mendapatkan apa yang pantas dia dapatkan. Dan mungkin saja, aku juga akan mendapatkan hati Velix. Supaya dia bisa menjadi pendukungku di kediaman Bashara yang mencekam itu. Tapi, entah keuntungan itu akan aku dapatkan atau tidak, aku tidak peduli. Niatku untuk membantu Velix itu tulus.
Velix mendongak, seketika tampak kedua matanya yang sembab dan merah, seperti ketika menahan tangis. Bocah ini lalu mengucek mata, dengan ekspresi yang sendu dia berucap, "Kak Vicky cemas? Jika aku kembali, yang ada dia akan menyuruhku untuk meminta maaf pada Mario lagi."
"Tidak akan, percaya padaku. Aku akan menjelaskan yang sebenarnya pada Vicky, aku yakin dia akan memahami alasanmu bertingkah begini. Lagi pula, aku setuju dengan tindakanmu. Orang yang jahat memang harus mendapatkan balasan, tapi ... balasan itu tak harus lewat cara kekerasan. Jika di lain waktu Mario masih mengganggumu, kau tinggal laporkan saja pada guru. Biar dia mendapatkan sanksi yang pantas sesuai aturan," ucap Sherina dengan senyuman.
"Tapi ... bagaimana jika wali kelas tidak percaya padaku? Soalnya, Mario itu licik, dia punya banyak teman yang selalu berada di pihaknya."
"Hemm ... itu mudah! Aku punya sebuah cara! Besok aku akan datang ke sekolah ini lagi, aku akan memberikanmu sebuah alat. Aku punya beberapa buah pulpen perekam suara, besok akan aku berikan satu padamu!"
"Benarkah?! Kakak ipar tidak bohong, kan?!" tanya Velix dengan tatapan berharap.
"Tentu saja, mana mungkin aku berbohong pada anak semanis dirimu!" jawab Sherina seraya mencubit pipi Velix.
"Aku tidak manis! Tapi aku keren!" bantah Velix dengan kedua pipi yang merona.
"Hahaha, jadi kau sudah mau kembali, kan?"
"Baiklah, aku mau!"
Velix akhirnya luluh, dia berjalan dan terus menggandeng tangan Sherina untuk kembali ke ruangan wali kelasnya tadi. Di satu sisi Sherina juga senang, karena usahanya membujuk dan menghibur Velix tidak sia-sia. Hatinya puas ketika melihat ada sebuah senyuman yang mengembang di bibir anak kecil ini.
__ADS_1
Namun, begitu mereka kembali ke sana, rupanya Mario beserta ayahnya sudah tidak ada. Yang masih tersisa hanya Vicky dan wali kelas yang menunggu kedatangan Sherina dan Velix.
"Oh, aku tak menyangka kau berhasil membawa Velix kembali," ucap Vicky yang kemudian beranjak dari sofa untuk mendekati Sherina.
"Emm ... di mana anak itu, kenapa dia sudah pergi?" tanya Sherina yang masih tak begitu paham dengan keadaan.
"Mario dan ayahnya menganggap masalah ini sudah selesai. Mereka akan membiarkan hal ini berlalu, asal di masa depan nanti Velix tidak berkelahi dengannya lagi," sahut wali kelas.
"Rupanya begitu," ucap Sherina.
"Nah, sekarang jelaskan! Ke mana saja kau pergi!" bentak Vicky sambil memelototi adiknya.
"Kakak ..." lirih Velix yang kemudian bersembunyi di belakang punggung Sherina.
"Ah, jadi begini. Biar aku saja yang jelaskan!"
Sherina pun menjelaskan segala sesuatu tentang masalah ini dengan rinci. Dan benar saja, hal itu berhasil meredam kemarahan Vicky. Vicky tak lagi menyalahkan Velix, dia akhirnya paham mengapa adik kecilnya ini bertingkah demikian. Lalu, guru wali kelas yang juga mendengarkan cerita Sherina pada akhirnya meminta maaf pada Velix karena telah salah paham. Berkat Sherina, hari ini Velix mendapatkan keadilan yang pantas dia dapatkan.
Kesan baik Velix pada Sherina semakin bertambah, ingin sekali rasanya dia menghabiskan waktu lebih banyak lagi bersama dengan kakak iparnya. Namun, sekarang sudah saatnya dia kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran. Mau tidak mau dia harus berpisah dan berharap Sherina akan datang besok lagi, seperti yang telah dia janjikan di tepi danau tadi.
***
Malam harinya di kediaman Bashara, Sherina berjalan mondar-mandir di kamarnya dan berpikir keras. Berpikir tentang masalah yang dialami oleh Velix.
"Jika aku amati, sepertinya yang paling membuat Velix tidak nyaman adalah tinggal di asrama. Tapi, aku ini bukan wali muridnya Velix, aku tak punya hak untuk memutuskan hal ini. Wali murid yang sah itu ibu mertua, tapi ... mustahil bagiku untuk membujuknya."
"Ah, Vicky! Dia bisa membantuku! Aku yakin dia mau mendengarkan aku! Aku harus menemuinya sekarang juga!"
Sherina bergegas keluar dari kamarnya untuk menemui Vicky. Dia mencarinya di ruang baca, tetapi tumben sekali Vicky tak ada di sana. Sherina pikir, saat ini Vicky pasti ada di kamarnya. Jadi dia beralih untuk mendatangi kamar Vicky.
Namun, di depan pintu kayu yang besar itu Sherina tampak ragu. Baru pertama kali ini dia akan mengetuk pintu dan melihat seperti apa kamar pribadi milik suaminya.
"Aku ini kenapa sih? Tinggal mengetuk pintu saja apa susahnya!" maki Sherina pada diri sendiri yang merasa bodoh.
TOK TOK TOK!
"Masuklah!" terdengar suara Vicky yang langsung mempersilakan. Sherina lantas membuka pintu tak terkunci itu tanpa pikir panjang.
KLAK!
Kedua mata Sherina membulat seketika. Dia tidak menyangka jika Vicky akan menyambutnya dengan bertelanjang dada. Hanya terdapat sebuah handuk kecil yang melilit dan menutupi bagian bawahnya. Tampaklah otot-otot atletis miliknya, lengan yang kekar, dada yang bidang, serta perutnya yang six pack. Ditambah dengan titik-titik air yang berada di atasnya, yang membuat tubuh itu semakin tampak menggoda.
"S-Sherina?!" Vicky tergagap.
__ADS_1