
Sherina masih tak bicara sepatah kata pun, dia amat bingung bagaimana harus menjawab ajakan kerja sama dari seorang Ketua Asosiasi Kedokteran. Dia ragu, apakah tubuhnya benar-benar sebegitu spesial hingga mampu menarik perhatian dari orang sepenting ini.
"Ehmm ... maaf Pak Ketua, sebelum aku menjawab ajakanmu, aku ingin tahu apakah kondisiku ini lain? M-maksudku, aku pernah dengar di berita kalau ada manusia yang juga kebal dari gigitan ular berbisa. Apakah kondisiku sama dengan mereka?" tanya Sherina
Ricky menghela napas panjang, dia sudah tahu jika ajakannya ini memang sulit untuk meyakinkan orang untuk langsung memberi persetujuan. "Aku rasa ada sebuah perbedaan besar. Orang-orang yang mengaku kebal pada bisa ular itu, mereka adalah orang-orang yang nekat menggunakan cara ekstrim untuk mendapatkan predikat sebagai manusia kebal tersebut."
"Cara nekat yang aku maksud, biasanya mereka melakukan eksperimen sendiri dengan hewan reptil layaknya ular. Beberapa jenis bisa ular disuntikkan dalam dosis kecil ke dalam tubuh secara rutin, dan bahkan ada yang berani mengambil risiko lebih besar dengan membiarkan ular berbisa itu menggigit mereka langsung. Menurut pengakuan salah satu dari mereka, awalnya setelah melakukan itu akan terjadi pembengkakan. Setelah itu dalam beberapa hari kemudian mereka akan tumbang, dilihat dari tingkat parahnya efek samping, mereka mengira-ngira sendiri jumlah bisa ular yang efektif untuk percobaan berikutnya."
"Biarpun cara itu memang terbukti mampu memperkuat antibodi tubuh, tapi risikonya terlalu besar, dan hasilnya pun juga tak terlalu signifikan. Paling besar hanya mampu memperkuat antibodi sampai 2 atau 3 kali lipat dari rata-rata antibodi manusia biasa. Masih tidak menjamin akan mampu melawan semua jenis ular berbisa. Dan kami para dokter, sangat tidak menganjurkan untuk melakukan hal berbahaya yang penuh risiko ini."
"Sebenarnya, cara seperti ini sudah ada sejak abad yang lalu. Orang dulu menggunakan cara yang hampir sama untuk memproduksi penawar racun. Racun dalam dosis kecil disuntikkan ke hewan ternak, seperti domba atau kuda, dan kemudian mereka memanen antibodi hewan tersebut dengan mengumpulkan darah hewan. Akan tetapi, Nyonya Sherina, apakah kau pernah menggunakan cara yang aku sebutkan tadi?" tanya Ricky dengan tatapan serius.
"Tidak, aku tidak pernah melakukan keduanya," jawab Sherina sambil menggeleng pelan.
"Kan ... apa yang aku bilang! Tidak salah bila aku menyebutmu wanita suci!" celetuk Aslan penuh semangat. Karena dia tahu Sherina adalah seseorang yang bangkit dari kematian, hal ini tidak diceritakan pada kawannya yang lain ataupun Ricky sekali pun. Dan sekarang, satu fakta lagi yang istimewa yang dia tahu, rupanya Sherina juga kebal terhadap racun.
"Maaf, tapi aku harus membantah ungkapanmu yang menyebutku wanita suci! Aku masih bisa merasakan sakit, sering berbicara kotor, menyimpan rasa benci pada orang, dan aku juga punya tekad untuk balas dendam. Aku cuma manusia biasa, mungkin mempunyai antibodi yang lebih kuat dari orang lain itu cuma sesuatu yang spesial di tubuhku. Tidak lebih dari itu!" ucap Sherina penuh penekanan. Dia menegaskan pada Aslan supaya tak lagi memanggilnya sebagai wanita suci, karena hal ini sangat mengganggu baginya.
"Ah, aku minta maaf ... aku tidak akan berkata begitu lagi," ucap Aslan dengan nada canggung. Seketika membuat suasana menjadi hening, tak ada satu pun yang berbicara lagi.
"Bagaimana hasil tes laboratorium bisa diketahui olehmu, Dokter Ricky? Tadi kau belum menjawab pertanyaanku ini," tanya Vicky yang memecah suasana canggung.
"Itu—"
"Biar aku saja yang jawab!" potong Aslan, dan Ricky meresponsnya dengan anggukan kepala. "Dia bisa tahu karena aku sendiri yang memberitahunya. Tapi, ini bukan karena aku yang tidak bisa menjaga kode etik sebagai dokter yang menjaga privasi pasien. Justru aku melakukannya supaya meminimalisir jumlah orang yang tahu."
"Maksudmu?" tanya Vicky lagi yang kurang puas dengan jawaban Aslan yang setengah-setengah.
"Aku ini hanya seorang dokter spesialis bedah, Vicky! Hanya itu jabatanku, sedangkan di laboratorium ada petugas khusus yang lain. Hasil tes laboratorium milik istrimu sungguh seperti penemuan yang baru. Aku tak punya kekuasaan untuk memerintah para ahli patologi supaya tidak membeberkan hal ini ke dunia luar. Lalu aku memberitahu Ricky, dia adalah Ketua Asosiasi Kedokteran. Jadi, dia punya kekuasaan dan bisa mengontrol jumlah orang yang tahu tentang hal ini."
__ADS_1
"Oh, begitu ..." ucap Vicky mengangguk-angguk. Dia sudah paham alasan mengapa Aslan mengambil keputusan demikian.
"Aku penasaran dengan kerja sama yang ditawarkan oleh Dokter Ricky tadi. Tolong jelaskan apa maksud dari kerja sama itu!" pinta Vicky dengan tatapan menusuk. Dia bersikap hati-hati dan waspada, supaya Sherina tidak dimanfaatkan untuk tujuan yang tidak jelas.
Lagi-lagi Ricky menghela napas panjang. Dia merasa jika berhadapan dengan Vicky itu sungguh sulit. "Kerja sama dengan Asosiasi Kedokteran tidak seburuk yang Anda pikirkan. Kami bukan seperti ilmuwan yang gila pada penelitian, karena kami menghargai hak asasi manusia. Aku ingin Sherina bekerja sama dengan kami, supaya kami bisa melakukan penelitian lebih lanjut. Jika penelitian ini berhasil membuahkan hasil yang memuaskan, mungkin kami bisa mengembangkan sebuah obat jenis baru. Yang nantinya akan memiliki efek melawan racun seperti antibodi yang dimiliki oleh Sherina. Silakan bayangkan saja sendiri, jika ini berhasil, maka kita akan mampu untuk menolong nyawa orang lebih banyak lagi."
"Tidak bisa! Aku tidak setu—" Mendadak perkataan Vicky terhenti, dia teringat pada suatu hal sehingga tak menyelesaikan kalimat penolakannya.
Sial, aku hampir saja memutuskan seenaknya lagi. Kali ini aku tidak berhak untuk menolak, yang ditawari adalah Sherina. Biarpun statusku adalah suaminya, aku tidak boleh mengambil keputusan tanpa mendengarkan pendapatnya. Sherina marah padaku juga karena hal ini, aku tidak boleh membuat kesalahan yang sama lagi.
Tiba-tiba Vicky menoleh ke arah Sherina. Lalu dengan senyuman tipis, dia berkata, "Bagaimana keputusanmu, Sherina? Jika kau mau menerima tawarannya, aku tidak akan menghalangimu. Kau bebas menentukan pilihanmu sendiri."
"Benar Nyonya Sherina, silakan katakan apa keputusanmu. Jika kau setuju, kita bisa membahas tentang beberapa prosedur serta perjanjian tambahan," imbuh Ricky.
"Ehmm ...." Sherina masih ragu untuk mengambil keputusan. Kemudian dia menunduk, supaya dia tak lagi merasa gugup karena menatap Ricky yang membuat situasi menjadi tegang.
"Tujuan Ketua menawariku kerja sama sungguh mulia, niat ingin menolong orang lain itu perbuatan yang sangat baik. Aku merasa terhormat karena Ketua mengundangku secara khusus. Hanya saja ... sepertinya aku tidak bisa. Tapi, tolong jangan salah paham dulu dengan keputusanku!" Mendadak Sherina mendongak, juga menatap kedua mata Ricky dengan penuh ketegasan.
Ricky menghela napas, lalu setelahnya tersenyum tipis. "Ya, tidak apa-apa. Aku mengerti, aku tidak akan memaksamu untuk menyetujui kerja sama ini. Karena mau bagaimanapun, kaulah yang menjadi alasan utama rencana penelitian ini."
Tiba-tiba saja Ricky merogoh saku jasnya, lantas menaruh sebuah kertas kecil ke atas meja. "Ini adalah kartu namaku, silakan hubungi aku kapan pun kau sudah merasa siap dengan tawaranku tadi. Aku permisi, ayo Aslan, kita pergi!"
"Sebentar, aku mau minum tehku dulu!" ucap Aslan yang kelabakan mengambil cangkir teh di atas meja.
"Haishh, kau ini ... cepat habiskan!"
Begitu dibentak oleh Ricky, Aslan meneguk tehnya yang sudah agak dingin dengan cepat. Mereka pergi tanpa membawa apa pun, serta meninggalkan hasil tes laboratorium yang penting itu untuk disimpan baik-baik oleh Sherina sendiri.
Di satu sisi Sherina merasa agak tidak enak hati karena sudah menolak tawaran dari sang Ketua Asosiasi Kedokteran barusan. Dia hanya termenung sembari menatap kartu nama yang Ricky tinggalkan padanya. "...."
__ADS_1
Ternyata darahku memiliki antibodi yang bisa melawan racun. Aku baru tahu tentang hal ini, dan sepertinya ini juga berkaitan dengan kehidupan keduaku. Aku yakin pasti karena itu, soalnya dulu saja aku bisa sakit karena makanan basi yang diberikan oleh ibu tiriku. Akan tetapi, setelah kebangkitan, aku justru biasa saja walaupun sudah meminum racun yang mematikan. Harusnya aku bersyukur, sepertinya anugerah ini benar-benar membantuku.
Di sisi lain Vicky hanya diam dan terus memperhatikan Sherina. Dia ingin sekali bicara, tapi ingat bahwa kemarahan Sherina masih belum reda. Situasi ini hampir membuatnya gila, keheningan yang teramat canggung, rasanya ingin sekali dia menghilang dari muka bumi sekarang juga.
Sherina menoleh, dia menyadari jika saat ini sedang diperhatikan oleh Vicky. "Hm? Kenapa kau terus menatapku? Apa kau berpikir kalau aku orang aneh?"
"Eh, apa?! T-tidak! Aku sama sekali tidak berpikir seperti itu tentangmu!" sanggah Vicky secara spontan.
"Lalu kenapa kau terus melihat ke arahku?"
"Emm ... itu, aku perhatikan dari tadi kau terus memegangi kartu nama itu. Apa kau tertarik? Maksudku, jika kau memang tertarik, aku tidak akan menghalangimu," ucap Vicky yang kelabakan mencari alasan untuk menjawab..
"Sebenarnya aku tidak tertarik. Meskipun si Ketua Asosiasi Kedokteran itu tadi bilang kalau penelitian ini tidak buruk, tetap saja akulah yang jadi bahan eksperimen. Aku tidak mau jadi kelinci percobaan. Lagi pula jika aku setuju, hidupku pasti akan diatur, tidak boleh makan ini, dilarang melakukan itu, atau bahkan sampai mengatur jam tidurku. Tadi aku bilang seperti itu, karena aku cuma tidak enak hati kalau menolaknya langsung. Jika saja suatu saat nanti, di saat semuanya sudah tenang dan aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Mungkin aku akan mempertimbangkannya."
"Ah, begitu ya ... aku kira kau memang ada rasa sedikit berminat. Soalnya tujuan dari penelitian ini cukup baik," ucap Vicky.
"Entah, aku hanya menyadari posisiku saja. Meskipun menolong orang lain itu hal baik, tapi akan jadi tidak baik kalau aku nantinya malah mengabaikan urusan pribadiku sendiri. Sebelum kita menolong orang yang terjatuh, kita harus memastikan kalau kita sendiri punya kemampuan untuk berlari."
"Kira-kira seperti itu!" pungkas Sherina yang tiba-tiba meraih semua laporan hasil tes. Saat dia hendak beranjak dari sofa dan kembali ke kamarnya, mendadak tangannya ditahan oleh Vicky.
"Tunggu sebentar!" teriaknya.
"Ada apa?" tanya Sherina dengan nada agak malas. Dia terpaksa duduk kembali dan menarik tangannya yang dipegang oleh Vicky.
Sejenak Vicky terdiam, kepercayaan dirinya seketika menurun saat pegangan tangannya ditepis oleh Sherina. "Aku hanya ingin bertanya ... apa kau masih marah padaku?"
"Hm?" Sherina mendelik, dia tak menyangka jika suaminya ini akan menanyakan hal itu. Akan tetapi, tiba-tiba dia terpikirkan sebuah cara untuk sedikit mempermainkannya. "Ya, aku masih marah. Soalnya tindakanmu ini memang tidak bisa dimaafkan."
"S-Sherina ... tolong berikan aku kesempatan! Berikan aku sekali saja kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku! Aku akan melakukan apa saja asalkan kau tidak marah lagi padaku!" ungkap Vicky penuh kesungguhan.
__ADS_1
"Melakukan apa saja?" tanya Sherina seakan tertarik, agar membuat Vicky merasa berharap.
"Iya, apa saja!" Vicky bersungguh-sungguh.