Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Dewa Cinta


__ADS_3

Sherina tersenyum tipis saat Vicky menyanggupi kata-katanya. Pikirnya, sekaranglah saatnya untuk dia memberikan sedikit pelajaran pada suaminya yang suka memerintah ini. "Jika apa saja permintaanku akan kau lakukan, maka ... aku harus pikirkan baik-baik! Aku akan katakan nanti kalau aku sudah tahu apa yang aku perlukan! Selamat malam!"


Sherina lantas berdiri dan hendak pergi. Namun, sekali lagi tangannya ditahan oleh Vicky. "Tunggu dulu!"


"Apa lagi?" tanya Sherina dengan wajah pura-pura kesal, ternyata rasanya menyenangkan juga mempermainkan suaminya ini.


"Ini artinya kau sudah tidak marah padaku lagi, kan?" tanya Vicky dengan tatapan berharap.


Sherina mengela napas, terpaksa dia kembali duduk di sofa lagi. Akan tetapi, kali ini dia tidak menepis tangan Vicky untuk kedua kalinya. "Merasa marah berlarut-larut itu tidak ada gunanya. Lagi pula, semuanya sudah terlanjur jadi begini. Aku marah karena kau mengakuisisi perusahaan peninggalan ibuku, lalu dengan seenaknya kau memberikan perusahaan itu padaku. Aku marah sebab tidak suka dengan cara yang kau pakai ini."


"Lalu ... apa kau ingin aku membuat sebuah konferensi pers? Nanti aku akan menjelaskan pada seluruh awak media tentang peralihan perusahaan ini, supaya tidak ada yang salah paham padamu! Dan kau sendiri juga dapat pengakuan dari mereka!"


Sherina menepuk jidatnya sendiri, dia tidak habis pikir dengan ide yang diberikan oleh Vicky. "Tidak perlu, bukan pengakuan lewat cara seperti itu yang aku inginkan."


"Lalu kau ingin aku pakai cara apa? Tidak mungkin kalau aku mengembalikan semuanya ke titik awal, membiarkan perusahaan itu jatuh ke tangan ayahmu, lalu kau yang akan merebutnya sendiri. Kau ingin aku bagaimana, Sherina?" tanya Vicky yang mulai frustrasi mencari jalan keluar.


"Astaga, sudahlah Vicky. Kau tak perlu terlalu buru-buru memikirkan caranya. Yang pasti, perusahaan itu sudah tidak berada di tangan ayahku lagi. Satu hal itu sudah cukup melegakan bagiku, biarpun aku marah, tapi aku juga berterima kasih atas apa yang kau lakukan."


Mulut Vicky terasa kelu, entah kenapa rasanya sulit untuk menjawab ucapan terima kasih dari Sherina. Berbeda dari yang dia bayangkan, pikirnya, dia harus melakukan banyak hal supaya kemarahan istrinya menghilang. Karena selama ini dia juga selalu melakukan bermacam-macam hal untuk membujuk kekasihnya ketika sedang marah. Lagi-lagi dia tersadar, supaya jangan pernah lagi menyamakan sosok Sherina dengan Cleo yang jelas-jelas sangat bertolak belakang.


"Sherina, aku minta maaf ... aku berjanji tidak akan berbuat seperti ini lagi. Jika di masa depan ada sesuatu yang penting, dan hal itu menyangkut tentang dirimu. Maka sebelum mengambil keputusan, aku pasti akan bertanya bagaimana pendapatmu lebih dulu," ucap Vicky dengan kepala tertunduk.


Seumur hidup, ini pertama kalinya Vicky belajar menghargai pendapat orang lain. Selama ini dia adalah seorang pemimpin, yang selalu berada di atas puncak piramida. Semua keputusan akan selalu dia pikirkan dan selesaikan seorang diri. Bagi dirinya yang sebelumnya, jika dia sudah merasa paling benar, maka mendengarkan pemikiran orang lain sama sekali tidaklah penting.


"Hemm ... ya, baiklah. Dan sebenarnya kau tak perlu terlalu merasa bersalah," ucap Sherina dengan senyuman tipis yang tersungging di ujung bibirnya. Dia kaget karena sosok Vicky yang selalu tegas dan tak kenal takut, rupanya bisa menundukkan kepala dan menyalahkan diri sendiri juga.


Haha, lucu juga. Saat Vicky bersikap seperti ini, dia sungguh mirip dengan Velix. Memang ya, adik kakak meskipun memiliki banyak perbedaan, tetap saja pasti ada sedikit kemiripan. Tidak membantah fakta kalau mereka memiliki darah yang sama.


"Hm?" Diam-diam dari luar pintu yang tak tertutup. Velix mengintip bagaimana situasi terkini di dalam ruang baca milik kakaknya. Dia bisa lolos dari pengawasan, karena memanfaatkan celah saat paman Will mengantarkan tamu pergi. Setelah menyadari bahwa situasi ini cukup aman, dia langsung memberanikan diri untuk masuk tanpa permisi.


"Kakak ipar!!!" teriak Velix yang berlari ke arah Sherina. Lalu, dengan tatapan polosnya berkata, "Kakak ipar sudah berbaikan dengan kak Vicky, kan?"


"Eh? Kenapa kau bilang begitu?" tanya Sherina, dan Velix tak menjawab. Dia lantas beralih menatap curiga ke arah Vicky. "Apa kau yang memberi tahu Velix kalau kita sedang bertengkar?"


"Tidak, kok! Mana mungkin aku berkata seperti itu padanya. Velix bisa tahu karena dia menyadari kalau kau tidak ada saat makan malam," bantah Vicky.

__ADS_1


"Iya! Aku tahu karena Kak Sherina tidak ikut makan malam bersama!" sahut Velix.


"Haha, begitu ya ...." Sherina tersenyum canggung. Dia malu karena sikapnya mengekspresikan emosi marah rupanya terkesan kekanak-kanakan. Bahkan Velix yang anak kecil pun mampu menyadarinya.


"Humph! Kalian jangan marah-marahan lagi, ya!" pinta Velix dengan pipi yang menggembung. Sejurus kemudian dia kembali berkata, "Kakak ipar bisa marah pada kak Vicky karena apa?"


"Ehmm ... itu, karena Vicky menyebalkan!" jawab Sherina asal, tak mungkin baginya untuk menceritakan kisah sesungguhnya pada Velix.


"Ishh ... sudah aku duga! Kakakku itu sejak dulu memang menyebalkan!" Velix mendesis kesal, bahkan juga menatap Vicky dengan tatapan garang. "Pokoknya Kak Vicky harus minta maaf! Minta maaf pada kakak ipar sekarang juga!"


"Sudah tuh," jawab Vicky yang seketika membuat adiknya menjadi kikuk.


"Emm ... po-pokoknya aku harus memastikan! Ayo minta maaf sekali lagi! Intinya kalian harus berbaikan sekarang juga!" pinta Velix dengan wajah yang memerah karena bercampur malu.


"Velix, kakakmu memang benar sudah minta maaf. Tapi, kenapa kau terus memaksanya?" tanya Sherina yang bermaksud mengubah topik pembicaraan. Dia tak ingin Vicky meminta maaf padanya berkali-kali, dia tahu hal itu akan melukai harga diri suaminya yang tinggi ini.


"Karena aku tidak ingin ada pertengkaran di antara kalian berdua, soalnya ... aku takut kalau nantinya kalian harus bercerai. Aku tidak mau kakak ipar selain Kak Sherina," jawab Velix dengan mata yang berkaca-kaca. Dia merasa sedih saat membayangkan jika yang dia takutkan akan terjadi.


Hening, baik Vicky ataupun Sherina sama-sama terdiam dengan jawaban Velix. Terlebih lagi Sherina, dia sungguh tidak menyangka akan mendapatkan jawaban yang menyentuh seperti ini. Pikirnya, di saat semua orang tidak suka keberadaannya di keluarga Bashara, Velix justru jadi satu-satunya orang yang menganggapnya berharga dan akan bersedih jika dia pergi.


"...." Velix juga diam, dia sedikit kebingungan lantaran kedua orang ini sama-sama tak menjawab perkataannya lagi. Lalu, tiba-tiba saja terbesit sebuah ide yang menarik di kepala Velix. "Kak, ayo kita buat janji!" ucapnya dengan lantang.


"Iya, janji! Kalian berdua diam saja, ya!" Tiba-tiba saja Velix menarik sebelah tangan Vicky, lantas menyuruhnya untuk membentangkan telapak tangannya. Kemudian, dia menarik tangan Sherina dengan cara yang sama, hanya saja tangan Sherina berada di atas telapak tangan Vicky. Dan sentuhan terakhir, Velix menaruh telapak tangannya sendiri di atas keduanya.


"Oke, sekarang kepalkan tangan kalian!" pinta Velix sekali lagi. Kini, tangan mereka semua menjadi saling menggenggam satu sama lain.


"Apa yang akan kau lakukan, Velix?" tanya Sherina dengan tawa kecil.


"Ssttt ... diam!" titah Velix seraya menyatukan jari telunjuk di bibirnya. Kemudian dia beralih menatap ke arah Vicky. "Kak Vicky, nanti ikuti kata-kataku, ya!"


"Iya," jawab Vicky dengan nada pasrah. Meskipun merasa kalau adik kecilnya ini terlalu rumit, mau tidak mau dia harus menurutinya supaya dia tidak mengamuk ataupun menangis.


"Hari ini aku berjanji! Mulai hari ini dan seterusnya, aku akan selalu memperlakukan kakak ip- ... maksudku Sherina dengan baik! Akan langsung meminta maaf setelah berbuat salah, atau akan memaafkan kalau Sherina yang salah! Dan tidak akan berpisah dengannya untuk selamanya!" seru Velix penuh antusias.


"Velix, a-apa yang kau katakan?" tanya Sherina dengan kedua pipi yang merona. Baginya, kata-kata yang diucapkan Velix sangat indah meskipun sebenarnya hanya kalimat sederhana.

__ADS_1


"No-no-no! Tidak ada yang boleh membantah!" jawab Velix seraya menggelengkan kepala dengan angkuh.


Vicky tersenyum kecil, dia merasa tertarik untuk mengatakan apa yang Velix minta. "Hari ini aku berjanji! Mulai hari ini dan seterusnya ... aku akan selalu memperlakukan istriku, Sherina dengan baik. Jika aku berbuat salah, akan langsung meminta maaf. Atau jika istriku yang membuat kesalahan, aku akan berlapang dada untuk memaafkannya. Dan aku ingin hidup bersamanya, selamanya!"


"Woahhh ... kali ini aku merasa kalau kakakku benar-benar seorang pria yang keren!" Ucap Velix penuh kekaguman. Dia salut pada kakaknya karena bersedia mengulangi kalimatnya, terlebih lagi dalam versinya sendiri yang lebih baik.


"Ayo, sekarang giliran Kak Sherina!" pinta Velix seakan tidak sabar.


"Oke," jawab Sherina malu-malu. Dia kemudian mengambil napas dalam-dalam dan berkata, "Hari ini aku berjanji! Dimulai saat ini dan seterusnya ... aku akan selalu memperlakukan suamiku, Vicky dengan baik dan dengan rasa hormat. Aku akan segera meminta maaf jika aku berbuat salah, atau akan dengan rendah hati memaafkan jika suamiku yang salah. Dan aku akan terus menemaninya, untuk selamanya!"


"Horee! Sekarang giliranku!" teriak Velix kegirangan. "Ehem! Hari ini aku berjanji sebagai saksi! Aku akan menjaga kedua kakak ini untuk menepati janjinya! Jika janji mereka dilanggar, maka suatu saat jika aku sudah besar nanti, aku akan menggantikan Kak Vicky untuk menikahi Kak Sherina!"


"Sembarangan! Apa yang kau katakan?! Cepat cabut janjimu!" sahut Vicky yang begitu syok oleh kata-kata adiknya.


"Haha, aku tidak sabar Velix ... aku penasaran kau akan setampan apa setelah besar nanti." Sherina justru terkekeh, dia menganggap jika adik iparnya ini sungguh menggemaskan.


"Bwlee ... Kak Sherina mendukungku!" ejek Velix sambil menjulurkan lidahnya.


"Kau! Cari saja istri sendiri! Apa kau begitu payah?" tanya Vicky masih tak terima.


"Pffttt ...lihatlah Kakak ipar! Ada yang sedang cemburu~"


"Hahaha ...." Sherina semakin tertawa lebar.


"Humph!" Vicky memalingkan muka karena kedua pipinya sudah merona, dia merasa sangat malu saat istrinya justru tertawa. "Pokoknya jangan harap! Aku ini orang yang selalu menepati janji! Janji kali ini juga pasti akan aku tepati! Kau bisa pegang kata-kataku!"


Genggaman tangan itu masih belum terlepas ataupun renggang. Vicky yang tangannya berada paling bawah masih memegang erat, begitu pula dengan Velix dan Sherina. Mereka berdua sama-sama tak ada niatan untuk menarik tangan mereka. Namun, ada satu hal yang tidak mereka sadari. Yaitu kesan yang ada di balik momen ini.


Bukan pertama kalinya Vicky dan Sherina saling membuat janji. Mereka sudah pernah mengikrarkan janji suci sewaktu upacara pemberkatan pernikahan mereka. Namun, janji yang dibuat kala itu sungguh berbeda dengan janji yang baru saja dibuat.


Jika dulunya Vicky meneguhkan janji dengan tidak sungguh-sungguh, karena berpikir jika pernikahan ini hanya akan bertahan sementara. Akan tetapi, kali ini dia mempunyai harapan untuk bertahan selamanya.


Sama halnya dengan Sherina. Dia dulunya mengucapkan janji tanpa keseriusan, karena mengira jika pernikahan keduanya ini akan berakhir sama saja seperti pernikahannya yang pertama. Namun, sekarang dia benar-benar berharap jika pernikahannya kali ini tidak akan pernah berakhir.


Mereka berdua sama-sama belum menyadari. Meskipun tujuan awal mereka berjanji hanya agar Velix tak bersedih, janji yang mereka ucapkan adalah janji yang berasal dari lubuk hati. Sebuah perbedaan besar terletak pada ketulusan mereka, janji kali ini yang hanya ada Velix sebagai saksi, justru lebih tulus dibanding saat berjanji di hadapan pendeta dan segala saksi.

__ADS_1


Hati manusia sama sekali tidak bisa ditebak. Kemarin masih membenci, bisa saja hari ini saling mencintai. Sama seperti perumpamaan nasib dan takdir, dua kata yang hampir sama namun mempunyai makna yang berbeda. Kita bisa merencanakan dan memilih untuk menikah dengan siapa, tetapi kita tidak bisa mengatur hati untuk jatuh cinta kepada siapa.


Di antara Vicky dan Sherina, cinta adalah sebuah hal yang mustahil. Akan tetapi, hati mereka yang semula sudah ada pemilik, yang semula sudah tertutup karena rasa trauma, perlahan-lahan mencair dengan sendirinya. Meskipun tidak mudah, dan kerap ada masalah. Kehadiran Velix seperti sosok dewa cinta yang dengan mudah menyatukan mereka.


__ADS_2