Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Keributan di Meja Makan


__ADS_3

"Hm? Kakak masih sibuk, ya?" gumam Velix yang saat ini mengintip diam-diam dari luar ruang baca Vicky. Dia melihat jika saat ini kakaknya itu masih tampak berbincang serius dengan asistennya, Oliver. Namun, tak lama kemudian perbincangan antara atasan dan bawahan itu berakhir.


Oliver pamit undur diri, dia pergi dari ruangan itu dengan membawa sebuah dokumen. Tapi begitu melewati pintu, dia kaget karena Velix ada di sana. "Tuan Muda Velix? Sejak kapan di sini? Bukannya seharusnya ada di asrama?"


"Eh?! Velix di sini?" Vicky yang juga kaget kemudian mendekat.


"Hai, Oliver! Aku beri tahu, ya! Mulai hari ini aku akan terus tinggal di rumah! Dan aku ke sini karena disuruh ibu untuk memanggil Kak Vicky, ini sudah waktunya makan malam. Apa kau juga mau ikut makan malam bersama kami?" tanya Velix dengan tatapan polos. Pikirnya, semakin banyak orang maka akan semakin seru dan menyenangkan.


"Ah, tidak perlu Tuan Muda. Saya harus segera pergi," ucap Oliver dengan senyum tipis, lantas berlalu dengan langkah kaki yang cepat.


"Humph! Kenapa tidak mau? Padahal kan dia bisa makan enak gratis!" keluh bocah kecil ini dengan bibir mengerucut. Sejurus kemudian dia beralih menatap kakaknya, lalu menggandeng tangan kekar itu. "Ayo Kak, kita turun! Aku sudah menyiapkan kejutan untukmu loh!"


"Haha, baiklah!" Vicky tertawa kecil sembari geleng-geleng kepala. Sebelum dia pergi, tak lupa juga untuk menutup pintu ruang baca pribadinya.


Dasar Velix ... bisa-biasanya bilang kalau ada kejutan, kalau begini namanya jadi bukan kejutan lagi. Entah apa yang kali ini dia siapkan.


Sesampainya kakak beradik itu di ruang makan, Velix dengan cepat langsung memilih kursi yang ada di sebelah Sherina. Memang sejak tadi dia terus menempel padanya, ke mana pun kakak iparnya ini pergi, dia terus mengikutinya.


"Nah, sekarang semuanya sudah lengkap! Ibu, bolehkah aku yang memimpin doa?" tanya Velix pada Ariana.


"Ya, terserah kau saja," jawab Ariana dengan wajah datar. Dia mengiyakan permintaan putra kecilnya ini karena sudah malas jika terus beradu mulut dengannya.


"Baiklah! Kalau begitu mari kita mulai!" seru Velix seraya merentangkan kedua tangannya. Sebelum berdoa, dia menggenggam tangan sang ibu dan tangannya Sherina. Sementara, Vicky yang saat ini duduk di sebelah Sherina juga mengulurkan tangan untuk meraih tangan istrinya itu supaya doa makan bisa segera dimulai.


Tepat sesaat sebelum Sherina meraih tangan Vicky, tiba-tiba saja terdengar sebuah suara nyaring. "Mama Ariana!" teriak Cleo yang mendadak muncul.


"Cleo, kau sudah datang?" tanya Ariana dengan senyum semringah. Dia melepaskan tangannya dari genggaman putra kecilnya, beralih menyambut kedatangan Cleo dengan memberikan ciuman di pipi kanan kiri, persis seperti yang sering kali mereka lakukan saat bertemu.


"Cih!" Velix berdecih kesal, suasana hatinya yang semula berbunga-bunga kini telah berubah. Raut wajahnya juga tampak masam, dia teramat kesal biarpun hanya dengan melihat wajah Cleo saja.


"Untuk apa kau kemari?" tanya Vicky dengan sorot mata dingin. Meskipun dia sudah tidak lagi marah dengan kebohongan yang terakhir kali Cleo perbuat, namun di hatinya masih tersimpan kekecewaan. Dia masih merajuk, belum siap untuk kembali berbaikan dengan kekasihnya ini.


"Ibu yang mengundang Cleo untuk makan malam di sini!" sahut Ariana, kali ini semua orang bisa tahu bahwa nyonya besar kediaman ini jelas-jelas memihak pada Cleo.


Sejenak Vicky terdiam, dia malas berdebat ataupun membantah perkataan ibunya. Sambil menghela napas untuk berusaha tetap sabar, dia berkata, "Ya sudah jika Cleo mau makan malam di sini. Silakan duduk saja dan nikmati hidangannya."


"Vicky ..." rengek Cleo dengan nada manja. Tiba-tiba saja dia mendekat, duduk tepat di kursi kosong yang berada sebelah sisi kanan Vicky. Dia menarik tangan pria ini dan juga mendempetkan tubuh padanya.


"Ck, apa-apaan kau ini?" tanya Vicky sedikit risi, dia merasa tindakan Cleo ini cukup memalukan. Bertingkah seperti ini di hadapan seluruh keluarganya.


"Jangan begini, Honey ... kenapa kau jadi dingin? Apa kau masih marah padaku?" tanya Cleo dengan nada mesra.


"Ya, aku akan marah jika kau masih tidak berhenti juga!" sungut Vicky yang makin terganggu.

__ADS_1


"Uhmm ... o-oke," ucap Cleo dengan canggung, dia juga langsung melepaskan pegangan tangannya dari Vicky.


"Menyebalkan," celetuk Velix dengan wajah cemberut. Dia semakin tidak suka dengan keberadaan Cleo di rumahnya.


"Ah, aku hampir saja lupa!" Cleo lantas merogoh tasnya untuk mengambil sesuatu. Dia mengeluarkan sebuah benda berupa amplop kecil, namun bukan sembarang amplop.


"Sebenarnya aku sudah diberitahu oleh Mama Ariana soal kepulanganmu, Velix. Karena itu, aku datang kemari tidak dengan tangan kosong. Aku bawa sesuatu yang menarik bagimu! Ini, ambillah!" ucap Cleo lagi seraya menyodorkan amplop kecil itu ke arah Velix.


"Apa ini?" tanya Velix sedikit penasaran. Meskipun dia tidak suka pada Cleo, dia merasa sedikit tertarik dengan benda yang dibawanya.


"Di dalam amplop ini ada tiket VIP untuk menonton konser pertunjukan musik H&H Band! Grup musik kesukaanmu! Kakak iparmu ini adalah seorang super model, mudah saja bagiku mendapatkan tiket ini!" ucapnya penuh kebanggaan, bahkan tanpa ragu menyebut diri sendiri sebagai kakak ipar, walaupun Velix belum mengakuinya.


Hehe, terimalah Velix! Bocah sepertimu tidak boleh jadi penghalang hubunganku dengan kakakmu! Aku yakin kalau kau pasti tidak akan menolak, tiket VIP ini sudah cukup menjadi sogokan bagimu!


"Ayo Velix, terima saja! Jangan sia-siakan kebaikan kakak iparmu, kalau bukan dia, siapa lagi yang akan memberikanmu tiket itu? Memangnya ada yang mampu?" celetuk Ariana dengan nada menyindir. Dia menatap sinis pada Sherina, sekaligus lagi-lagi menegaskan jika Cleo-lah kakak iparnya Velix yang sesungguhnya.


"Humph, aku tidak mau. Menghadiri konser itu sama saja buang-buang waktuku! Lagi pula aku sudah tidak suka musik rock lagi! Sekarang aku lebih suka bermain piano! Ratu Mesir jangan sok mengenalku, dan juga jangan mengaku-ngaku sebagai kakak iparku! Kakak iparku itu cuma Kak Sherina!" tegas Velix seraya menggandeng tangan Sherina.


"Velix ... tidak boleh bicara tidak sopan. Jangan diulangi lagi, oke?" bujuk Sherina dengan senyum kepalsuan. Diam-diam juga melirik ke arah Cleo dan Ariana dengan tatapan mengejek.


Ckck, ingin menginjak harga diriku lagi. Coba saja kalau kalian mampu! Sekarang aku punya Velix yang bisa aku andalkan, tak peduli kalian mau menggunakan trik apa pun. Anak kecil seperti Velix akan mampu melihat mana yang lebih tulus! Aku tak perlu turun tangan sendiri lagi untuk meladeni trik murahan kalian ini. Cukup meminjam tangan Velix saja untuk menampar wajah kalian yang tak tahu malu.


"Iya, tidak akan aku ulangi lagi. Kak Sherina yang terbaik!" puji Velix sambil meringis.


Sial, bisa-biasanya rencanaku gagal. Tidak boleh seperti ini terus, aku tidak boleh membiarkan Sherina tampak unggul dibandingkan aku. Apa lagi sekarang di hadapan Vicky. Aku harus membuktikan kalau aku jauh lebih baik dibanding calon tumbal ini!


"Haha, ya sudah kalau kau tidak mau. Kalau begitu, katakan padaku pianis mana yang jadi idolamu! Nanti akan aku usahakan meminta tanda tangannya untuk diberikan padamu," ucap Cleo lagi yang masih belum menyerah. Dia terus menampakkan senyuman palsunya, berpura-pura memiliki hati yang lapang dengan mengabaikan penghinaan Velix barusan.


"Idolaku itu sudah pernah berkunjung ke sekolah! Jadi, aku sudah mendapatkan tanda tangannya! Kau terlambat memahamiku, dan jangan pura-pura peduli padaku lagi! Jangan kira kalau aku anak yang gampang disogok!" cecar Velix yang blak-blakan menunjukkan rasa tidak sukanya pada Cleo.


"Velix, cukup! Tadi kau bilang ingin memimpin doa, kalau begitu cepat lakukan!" sela Vicky penuh penekanan. Bermaksud memperingati semua orang di meja makan ini supaya tidak membuat keributan lagi.


"Iya-iya ... baiklah, kalau begitu akan aku mulai!"


Berbeda halnya dengan tadi. Kali ini mereka tidak saling bergandengan tangan, tapi mereka menyatukan kedua tangan masing-masing untuk berdoa. Dan begitu doa makan yang dipimpin oleh Velix selesai, tiba-tiba saja bocah kecil ini kembali berkata, "Kak Vicky! Apa Kakak masih ingat dengan kejutan yang tadi aku katakan?"


"Ya? Apa itu?" tanya Vicky penasaran.


"Hehe, sebentar lagi Kakak akan tahu!" Velix tersenyum antusias, dia lalu memberikan isyarat tangan kepada salah seorang pelayan untuk mendekat.


Pelayan itu menerima isyarat tangan Velix, dia lantas mendekat dengan membawa sebuah tudung saji. Saat meletakkan tudung saji itu di atas meja makan, Velix dengan tangkas langsung membukanya. Lalu, tampaklah makanan berupa puding cokelat.


"Tadaaa! Ini adalah puding cokelat buatanku dan kakak ipar! Kak Vicky makanlah puding ini sebagai makanan penutup!"

__ADS_1


"Haha, kalian sungguh membuatnya bersama?" tanya Vicky sambil menatap kedua mata Sherina.


"Iya, kami membuatnya bersama. Awalnya, Velix bilang ingin makan camilan yang manis-manis. Jadi, aku buatkan puding cokelat untuknya. Dia bilang, dia sangat menyukainya, lalu dia ingin tahu bagaimana caraku membuatnya. Akhirnya dia berinisiatif memberikan puding itu untukmu," jelas Sherina dengan senyum lembut.


"Terima kasih, pasti akan aku makan." Vicky tersenyum, dia merasa senang karena ini pertama kalinya Velix membuatkan makanan untuknya. Sayangnya, di balik kebahagiaan yang dia rasakan, masih ada orang lain yang merasa tidak senang. Tentu saja Cleo dan Ariana, mereka berdua sama-sama tidak suka saat Sherina merebut perhatian Vicky.


"Huh, hanya puding. Aku juga bisa membuatnya, bahkan lebih baik! Kalau kau mau, besok akan aku antarkan untuk makan siangmu di kantor!" celetuk Cleo.


"Lagi pula untuk apa memasak? Keluarga Bashara tidak kekurangan koki profesional, buang-buang waktu saja. Lebih baik kau belajar daripada bermain tepung di dapur." Ariana menimpali.


"...." Velix terpaku, dia tak menyangka jika akan mendapatkan respons negatif dari ibunya. Raut wajahnya yang semula penuh senyum yang energik, kini tampak berubah murung.


"Sudahlah Ibu, jangan terlalu mengekang Velix. Dia sudah cukup besar, dia bisa mengatur waktunya sendiri untuk belajar. Lagi pula membuat puding juga tidak terlalu lama sampai menghabiskan waktu berjam-jam. Tidak ada salahnya dia melakukan hal itu," ucap Vicky seraya mengusap kepala Velix dengan lembut. Perlahan senyuman adiknya ini mengembang kembali, sepertinya dia suka saat dibela olehnya.


"Haiss ... terserah kau saja, Vicky. Ibu cuma bisa memberikan saran, ibu tidak ingin Velix jadi anak yang lemah karena kau terus memanjakan dirinya," balas Ariana yang masih teguh pada pendiriannya.


"Ya, Ibu benar. Tidak ada salahnya kalau Ibu mau memberikan nasihat atau saran, tapi lakukan saja nanti! Sekarang saatnya kita makan!"


Vicky mulai merasa jenuh, jika dibiarkan lebih lama lagi, maka perdebatan di meja makan ini tak akan kunjung usai. Namun, saat Vicky hendak mengambil lauk ke atas piringnya, tiba-tiba saja Cleo merebut sendoknya. Bahkan, dia mengambilkan lauk yang lain juga untuk kekasihnya yang tampan ini.


"Biar aku saja, Honey! Aku tahu mana yang jadi kesukaanmu! Jadi aku saja yang ambilkan untukmu, ini bentuk baktiku sebagai istri masa depanmu!" ucap Cleo dengan penuh percaya diri. Lagi-lagi dia bermaksud menunjukkan bahwa dia lebih unggul dari Sherina.


"Cleo, bisakah kau tolong aku?" tanya Ariana yang turut mendukung aksi Cleo.


"Tentu saja, apa pun untuk Mama Ariana!" Cleo lantas melakukan hal yang sama, dia mengambilkan lauk yang sudah menjadi kesukaan Ariana.


"Terima kasih, Cleo. Kau sungguh sosok menantu yang baik, tidak seperti seseorang yang ada di sini," sindir Ariana yang sekali lagi menargetkan Sherina.


"Kakak ipar! Aku mau nugget! Ambilkan itu untukku!" pinta Velix pada Sherina. Dia masih terang-terangan membela kakak ipar kesayangannya ini dari cercaan ibunya.


"Baiklah." Sherina tersenyum kecil, berkat adanya Velix, sekarang dia tak perlu lagi merasa terintimidasi.


"Ah, dan aku juga mau yang itu!" ucap Velix lagi, tampak jelas kalau dia lebih nyaman dengan Sherina daripada dengan Cleo.


"Velix! Lauk itu tidak berada jauh darimu! Kau bisa mengambilnya sendiri, jangan manja dan meminta orang lain mengambilkan!" hardik Ariana.


"Kenapa Ibu melarangku? Ibu sendiri juga manja! Meminta orang lain mengambilkan lauk untuk Ibu!" balas Velix tak mau kalah.


BRAKK!


Vicky menggebrak meja makan dengan keras, seketika membuat suasana menjadi hening. "Cukup! Yang aku inginkan itu makan malam dengan tenang! Bukan menyaksikan keributan konyol yang kalian lakukan!"


Vicky beranjak dari kursi, dia berjalan pergi dari ruang makan itu dengan langkah yang terburu-buru. Selera makannya benar-benar sudah hilang, dan tentu saja ini karena perseteruan Cleo yang berusaha menjelekkan Sherina.

__ADS_1


"Huh, sekarang aku tahu alasan Oliver enggan makan malam di sini!" gerutu Vicky yang makin menjauh.


__ADS_2