
"Ayo masuk! Cepat akui semuanya!" bentak Oliver pada seseorang. Dia menyeret pria ini ke hadapan Vicky.
"Tuan, saya sudah membawa Billy kemari!" ucap Oliver lagi seraya mendorong tubuh Billy. Dia merupakan orang kepercayaan Ariana, yang juga salah seorang manajer yang bertugas di departemen administrasi.
"Bagus!" jawab Vicky dengan tatapan mematikan pada Billy. Dia merasa murka, karena memergoki seorang bawahan telah bertindak tanpa persetujuannya.
BRUGH!
Billy berlutut di lantai yang dingin itu. Dia teramat takut, suasana di ruangan CEO yang tegas ini terasa mencekam baginya. Pikirnya, bisa saja Vicky tidak akan menoleransi kesalahannya dan berujung mencabut jabatannya di kantor. Bahkan yang terburuk, bisa saja dia dipecat.
"M-maafkan saya, Tuan! Saya melakukan ini Semua atas perintah dari Nyonya Ariana ..." ucap Billy mencari pembelaan.
"Aku tahu! Kau memang bawahan ibuku! Beberapa hari lalu aku menyadari kalau ada mutasi bank yang mencurigakan di rekening ibuku. Aku tahu kalau ini berhubungan denganmu yang saat itu kebetulan sekali juga datang ke kediamanku! Sekarang jelaskan padaku semua yang kau tahu!" titah Vicky dengan nada tinggi..
"S-saya ... diminta oleh Nyonya Ariana untuk menyelidiki perusahaan Dream Glow Cosmetics. Dan saya menyerahkan hasil penyelidikan itu sendiri, karena itulah saya datang ke kediaman Tuan," jelas Billy dengan terbata-bata.
"Dream Glow Cosmetics?" gumam Vicky yang seketika keningnya mengerut. Mencoba memikirkan kemungkinan macam apa yang hendak ibunya lakukan pada perusahaan itu.
Perusahaan itu adalah perusahaan kosmetik milik keluarga Sherina. Untuk apa ibu menyuruh Billy mengumpulkan informasi dari perusahaan itu? Yang aku tahu, selama ini tidak pernah ada hubungan kerja sama ataupun permusuhan dengan perusahaan itu. Apa jangan-jangan, ibu merencanakan sesuatu yang merugikan Sherina?
"Hei, katakan dengan jelas apa tujuan ibuku menyuruhmu! Jangan mencoba berkelit ataupun menipuku! Jika tidak ... konsekuensinya tidak akan bisa kau bayangkan!" ancam Vicky sekali lagi. Tubuh Billy semakin gemetaran dibuatnya.
"N-Nyonya Ariana ... berencana untuk membeli saham Dream Glow Cosmetics. Beberapa hari yang lalu ... b-beliau juga telah datang ke rumah pemegang saham yang sahamnya hendak dia beli, yang tidak lain adalah besannya sendiri. T-tapi, sepertinya transaksi itu tidak berjalan mulus. Sampai hari ini, Nyonya Ariana belum memutuskan jadi atau tidaknya membeli saham tersebut." Billy masih menundukkan kepalanya, dia tak punya cukup keberanian untuk menatap wajah Vicky sekarang.
"Oh, begitukah? Jadi ... jika sekarang aku memintamu menyerahkan informasi yang sama dengan yang kau serahkan pada ibuku, apa kau sanggup melakukannya?" tanya Vicky yang nada bicaranya masih mengintimidasi.
"S-saya sanggup! Akan saya berikan!" Billy segera merogoh saku jasnya, dia hendak mengambil sebuah flash drive yang menyimpan data-data yang Vicky inginkan. Namun, penyerahan benda kecil ini tak terlalu mulus. Karena tangan Billy yang gemetar hebat akibat gugup, dia menjatuhkan flash drive tersebut.
__ADS_1
"Tetap di tempatmu!" titah Oliver penuh penekanan. Dia maju untuk mengambilkan flash drive yang berada di lantai itu, lantas menyerahkannya ke atas meja Vicky. "Ini, Tuan."
Vicky mengangguk, dia mengambil flash drive tersebut. Kini semua informasi yang ingin diketahui telah berada di genggaman tangannya. Kemudian dia beralih menatap Billy lagi, dengan tatapan yang menusuk, dia pun berkata, "Kau bisa pergi! Aku masih memberimu kesempatan berada di perusahaanku ini! Hanya saja, bonus dan gajimu untuk 3 bulan ke depan akan dipotong!"
"T-terima kasih atas kesempatan yang Tuan berikan. Saya akan mengintrospeksi diri dan menjadikan hal ini sebagai pelajaran berharga. Saya permisi ...." Billy bangkit dari lantai, dia berjalan terseok-seok meninggalkan ruangan CEO itu. Setiap langkah yang dia ambil terasa tak bertenaga, mau tidak mau dia harus menerima konsekuensi atas tindakannya yang menjalankan perintah dari orang yang salah.
Vicky yang telah mendapatkan flash drive milik Billy segera menggunakannya. Dia lalu menghubungkan flash drive tersebut ke laptopnya melalui port USB. Perhatiannya seketika tertuju pada sebuah berkas yang sangat mencolok. Begitu dia membukanya, dia melihat kalau di dalam berkas ini memuat segala informasi tentang perusahaan Dream Glow Cosmetics yang telah Billy kumpulkan.
Setiap poin-poin penting, paragraf demi paragraf, Vicky membaca semuanya dengan cepat namun tepat. Dari berkas ini, akhirnya dia tahu seluk-beluk mengenai perusahaan Dream Glow Cosmetics. Dan terlebih lagi, dia akhirnya tahu apa yang selama ini menjadi beban dan masalah yang selalu mengusik istrinya.
"Apakah ada masalah, Tuan?" tanya Oliver. Dia berinisiatif bertanya karena Vicky terlihat cemas setelah mengetahui isi dari flash drive tersebut.
"Ya, tapi ini bukan masalahku. Lebih tepatnya ... ini adalah masalah Sherina, rupanya ini yang menjadi salah satu alasan mengapa dia sangat membenci ayahnya. Pada dasarnya, perusahaan Dream Glow Cosmetics ini tidak stabil. Pengelolaan perusahaan terpecah menjadi dua kelompok. Yang satu berada di bawah kekuasaan Panji, dan yang satunya lagi kelompok yang memihak pada Sherina. Kelompok pihak Sherina menjadi oposisi, mereka menentang kebijakan yang Panji buat, alhasil kedudukan mereka cukup lemah di perusahaan."
"Eh? Mengapa bisa begitu, Tuan? Bukannya mereka adalah ayah dan anak?" tanya Oliver kebingungan.
"Di sini tertulis, kalau perusahaan ini awalnya adalah milik ibunya Sherina. Dan setelah ibunya Sherina meninggal, dia meninggalkan wasiat dan memberikan saham pada anak dan suaminya. Hanya saja saham yang dimiliki Panji lebih besar. Lalu, kau tahu sendiri kalau Panji memiliki istri lagi dan bahkan anak yang usianya tak terpaut jauh dari Sherina. Mungkin ini sebabnya Sherina membenci ayahnya. Rupanya benar kata orang, yang namanya harta itu tidak mengenal saudara."
"Di satu sisi Sherina berusaha merebut kembali perusahaan peninggalan ibunya. Akan tetapi, di sisi lain ibuku mencoba mendapatkan informasi dan membeli saham untuk menghalangi tujuan Sherina. Oliver, menurutmu apa yang harus aku lakukan?" tanya Vicky dengan tatapan kosong. Dia benar-benar bingung sekarang, haruskah dia memilih memihak pada ibunya? Mendukung usaha istrinya? Atau sebaiknya pura-pura tak tahu dan diam saja?
"Eh?!" Oliver tersentak, dia tidak menyangka bahwa orang seperti Vicky akan mengalami kebingungan di situasi semacam ini. "Ehmm ... jika Tuan meminta pendapat saya, saya rasa sebaiknya Tuan menolong Nyonya Sherina," ucapnya sedikit ragu.
"Kenapa?" tanya Vicky seraya menatap Oliver lekat-lekat.
"Karena menurut saya, orang yang pantas dibela adalah Nyonya Sherina. Jika seperti yang Tuan katakan tadi, saat ini Nyonya pasti sedang berusaha untuk bangkit. Melawan ayahnya sendiri, dan bahkan harus bertahan jika Nyonya Ariana berusaha menghalangi atau menyerangnya diam-diam. Saya rasa ... Nyonya Sherina memerlukan bantuan dari Anda, Tuan." jawab Oliver dengan suara pelan.
"Hemm ...." Vicky mengernyit, memikirkan masak-masak saran yang asistennya ini berikan.
__ADS_1
Mungkin Oliver ada benarnya juga, sebaiknya aku membantu Sherina. Tapi, bagaimana jika nanti Sherina menolak? Saat itu saja, dia seperti menjaga jarak denganku, seolah membatasi dirinya supaya tak terlalu dekat denganku.
Tunggu sebentar ... bukannya dia begini juga gara-gara aku? Mungkin saja Sherina enggan minta tolong karena aku yang membuat kesepakatan untuk tidak saling ikut campur. Sial, pokoknya lain kali aku harus membahas ulang soal kesepakatan ini! Aku mau menghapus semuanya, supaya tidak ada batasan lagi antara aku dengan Sherina!
BRAKK!!
Tiba-tiba saja pintu ruangan Vicky dibanting dengan keras. Pikir mereka, mana mungkin seseorang di kantor ini berani bertindak tidak sopan seperti ini. Namun, rupanya yang baru saja mendobrak pintu itu adalah Velix. Dia datang dengan napas yang tersengal-sengal, penampilannya juga tampak berantakan karena dia berlarian amat cepat.
"Kak Vicky! Gawat!!!" teriak Velix yang langsung menghampiri Vicky, dia juga menarik tangan kakaknya ini sekuat tenaga.
"Velix, tenanglah! Ada apa? Apa yang terjadi sampai kau begini?!" tanya Vicky harap-harap cemas, baru pertama kali ini dia melihat adik kecilnya panik hingga seperti ini.
"Gawat, Kak! Kakak ipar ... dia ... dia diculik!" teriak Velix dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia sangat khawatir dengan Sherina hingga mau menangis.
"Diculik?! Diculik bagaimana?! Oleh siapa?! Apa orang itu minta tebusan?!" Vicky langsung membombardir pertanyaan karena kaget, tapi dia hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Velix.
"Velix ... tenanglah, oke? Ceritakan padaku bagaimana kejadiannya, supaya aku juga bisa mengambil tindakan yang tepat!" bujuk Vicky.
Velix mengangguk, setelah dia menenangkan dirinya dengan menarik napas dalam-dalam beberapa kali, dia sudah tak terlalu panik seperti sebelumya. "Tadi pagi ... saat aku mau mengajak kakak ipar jalan-jalan ke taman, dia menolak karena hari ini dia punya urusan penting. Katanya, jika dia tidak kembali ke kediaman dalam waktu 4 jam, aku disuruh mengabari polisi, atau orang lain yang bisa dipercaya untuk menjemputnya! Aku ke sini karena mau meminta bantuan padamu, Kak!"
"Sherina bilang akan pergi ke mana? Dia pergi dari kediaman jam berapa?" tanya Vicky.
"Kakak ipar bilang dia ada urusan di rumah orang tuanya. Dan kakak ipar sudah pergi sekitar jam 10 pagi tadi. Sekarang sudah lebih dari jam 2 siang! Tapi, sampai sekarang dia belum kembali! Pasti terjadi sesuatu pada kakak ipar! Ayo Kak, kita selamatkan kak Sherina!"
"Baiklah! Tapi kau tetap di sini saja bersama Oliver! Percayakan saja Sherina padaku!" Vicky menepuk-nepuk bahu adiknya. Dia segera mengambil kunci mobil dan bergegas pergi. Saat hendak melewati Oliver, dia pun berkata, "Aku terima saran darimu tadi! Kau sudah mengerti apa tugasmu, kan?"
"Baik, Tuan! Saya mengerti!" jawab Oliver seraya sedikit membungkuk. Dia sudah lama bekerja untuk Vicky, jadi dia tahu betul apa yang Vicky inginkan. Tampak sebuah senyuman kecil yang tersungging di ujung bibirnya, dia merasa senang lantaran saran yang dia berikan rupanya diterima dengan baik.
__ADS_1
"Bagus, aku mengandalkanmu Oliver!" ucap Vicky yang semakin menjauh.
Sial, berani-beraninya kalian mengabaikan kata-kataku saat itu! Aku sudah bilang kalau Sherina adalah orangku! Mengusiknya artinya sama saja menantangku! Dan orang yang berani menantangku, akan aku pastikan dia hancur tak bersisa!