Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Rencana Terselubung


__ADS_3

"Selamat datang di kediaman Bashara, Nona. Mari ikuti saya ..." ucap Paman Will dengan nada sopan. Dia sendiri yang secara khusus dipercaya untuk menyambut kedatangan Violet.


"Baik," jawab Violet singkat. Dia lantas mengikuti jalannya Paman Will. Akan tetapi, sejak dia memasuki kediaman Bashara, pandangan matanya terus melirik ke segala sudut. Lalu, tanpa sebab yang jelas dia tiba-tiba tertunduk dan tersenyum getir.


Rumah ini seperti tidak pernah berubah. Semua hiasan dan letaknya sama persis seperti yang di ingatanku. Bahkan, kepala pelayan di kediaman ini masih Paman Will. Dia semakin menua, sepertinya dia sudah melupakan aku. Yahh ... lagi pula itu sudah sangat lama, hampir 23 tahun aku tidak menginjakkan kaki di rumah ini. Sudah sewajarnya dia lupa siapa aku.


"Nona, kita sudah sampai," ucap Paman Will yang langsung menyadarkan Violet dari lamunan.


"Eh?! Terima kasih, Paman Will!" jawab Violet yang langsung melesat memasuki ruang makan lebih dulu. Dia langsung menghampiri Sherina yang sudah menunggu kedatangan dirinya dengan senyum penuh keramahan.


"...." Sejenak Paman Will terdiam, tapi sesaat setelahnya dia menggeleng kepala dengan pelan dan lekas pergi.


Aneh, padahal aku belum memberitahu siapa namaku. Bagaimana bisa dia tahu? Apa mungkin Nyonya Sherina sudah memberitahunya soal aku? Ah, sudahlah, tidak ada gunanya berpikir berlebihan, lebih baik aku ke dapur untuk memberitahu para koki jika tamu telah tiba.


Hingga saat ini, bisa dibilang bahwa perjamuan yang diadakan untuk mengungkapkan rasa terima kasih ini berjalan dengan cukup baik. Violet sang tamu kehormatan tampak menikmati hidangan, serta percakapan yang terjadi di antara mereka juga berlangsung tanpa rasa canggung.


Namun, ada seseorang yang sejak tadi tak henti-hentinya memperhatikan Violet. Dia tidak lain adalah Ariana.


"...."


Violet ini ... kalau aku perhatikan, dia orang yang anggun dan cantik. Dilihat dari tingkah lakunya juga seperti orang yang berbudaya. Dan lagi, dia seorang jurnalis, kecerdasannya sudah tidak perlu diragukan lagi. Dia cukup pantas untuk menjadi nyonya Keluarga Bashara di masa depan. Mungkin saja dia cocok untuk jadi boneka baruku.


Cleo sudah tidak bisa aku andalkan lagi. Pokoknya sebisa mungkin aku harus mendekati dan mencuci otaknya. Supaya dia mau untuk menjadi alatku dalam menyingkirkan Sherina! Lalu, kutukan itu tetap akan menjadi nyata dan tanganku tetap akan bersih! Heh, ini rencana yang sempurna! Lagi pula aku sudah cukup muak terus berpura-pura baik pada Sherina!

__ADS_1


"Violet!" panggil Ariana dengan senyuman ramah-tamah.


"Ya, Nyonya Ariana?" tanya Violet.


"Aku dengar kau itu seorang jurnalis, dan kau kerap menulis berita yang cukup kontroversial. Aku berterima kasih padamu karena kau tidak mengunggah berita tentang penyerangan Sherina semalam. Soalnya jika sampai orang lain tahu, itu akan menimbulkan spekulasi buruk pada Keluarga Bashara."


"Ah, soal itu Nyonya tenang saja. Biarpun berita-berita yang saya tulis cukup kontroversial, tapi saya tetap mematuhi undang-undang yang berlaku. Saya hanya akan menulis berita yang berkaitan dengan seseorang apabila orang yang bersangkutan memberikan izin pada saya. Lagi pula ... berita yang saya tulis lebih banyak berita yang mengarah pada politik. Saya jarang menulis berita tentang infotainment, karena saya bukan jurnalis yang suka membuntuti para artis maupun pesohor," jawab Violet dengan senyum santun.


"Haha, baguslah. Tadinya aku agak khawatir soal hal ini. Syukurlah kekhawatiranku tidak benar. Itu saja yang ingin aku tanyakan, kau bisa lanjutkan menyantap makananmu," balas Ariana dengan tawa canggung.


"...." Violet mengangguk pelan dan kemudian melanjutkan memakan makanannya. Biarpun ekspresinya tenang seperti air, batin Violet merasa sinis setelah menanggapi Ariana.


Heh, mudah sekali terpancing. Ariana mulai tertarik padaku. Entah apa yang dia rencanakan, ini bisa jadi kesempatan buatku. Sayangnya, aku tidak tertarik untuk jadi dekat dengannya. Karena aku lebih tertarik pada Sherina yang hatinya bersih. Tapi ... tidak ada salahnya kalau aku juga pura-pura suka terhadap Ariana.


Perjamuan makan malam berakhir dengan mengesankan. Siapa sangka Sherina justru jadi yang paling antusias. Bukan tanpa sebab dia bertingkah seperti itu, alasannya karena dia dengan Violet telah saling bertukar nomor telepon. Maka dengan begini, dia sangat berharap akan menjadi teman akrab dan lebih sering bertemu lagi nantinya.


***


Penyelidikan selama waktu yang cukup singkat ini telah membuahkan hasil. Kepolisian berhasil mengungkap organisasi kriminal yang menaungi para pembunuh bayaran yang telah tertangkap. Namun, tak seluruhnya proses penangkapan berjalan mulus, karena bos utama dari kelompok gangster ini berhasil melarikan diri. Alhasil pihak kepolisian masih kesulitan untuk mengetahui sumber dana maupun dalang yang sebenarnya.


Berita penangkapan ini tentu saja tidak bisa ditutup-tutupi, meskipun soal penyerangan terhadap Sherina tetap dirahasiakan. Media massa telah dibuat heboh lantaran kasus ini cukup membuat mereka merinding dan takjub pada pencapaian para polisi.


PRANGGG!

__ADS_1


"Sial! Gagal lagi, gagal lagi!" teriak Cleo penuh frustrasi. Bahkan dia tak ragu untuk melempar dan membanting barang-barang yang berada di dekatnya. Berita soal kegagalan pembunuh bayaran yang telah dia bayar mahal membuatnya seakan-akan ingin gila.


"Sherina ... si jal*ng itu sebenarnya punya berapa banyak nyawa?! Kenapa susah sekali menyingkirkan dia?!"


"Sekarang aku harus apa?! Aku harus berbuat apa lagi?!  Vicky sudah mencampakkan aku! Mama Ariana juga sudah tidak peduli padaku!"


"Tidak bisa ... tidak bisa begini terus! Pokoknya aku harus memikirkan cara! Aku mencintai Vicky dengan sepenuh hatiku! Di dunia ini cuma aku yang berhak untuk jadi istrinya!"


Cleo terus menggerutu dan memaki Sherina tiada habisnya. Bahkan, tangannya sampai ikut gemetar, mondar-mandir tidak jelas sambil mencengkeram lengan bajunya sendiri hingga kainnya jadi kusut.


Beginilah hari-hari yang saat ini Cleo jalani. Dia terus terobsesi pada Vicky sampai-sampai mengabaikan dirinya sendiri. Bahkan, para pelayan yang bekerja di rumahnya sudah putus harapan. Mereka sesekali menyarankan Cleo untuk pergi ke psikiater atau berlibur untuk menenangkan diri. Namun, semua saran dan usulan mereka ditolak mentah-mentah. Sekarang mereka hanya bisa berdoa yang terbaik bagi majikan mereka yang arogan.


***


Waktu dengan cepat terasa berlalu, tanpa terasa sudah setengah bulan sejak Sherina dan Violet berhubungan. Masa-masa yang mereka lewati tidaklah sia-sia, kini mereka berdua semakin akrab. Sering kali membuat janji temu, berbelanja bersama maupun saling berbagi keluh kesah. Hal ini cukup membuat Sherina merasa bahagia. Karena inilah pertama kalinya dia punya teman yang bisa mengerti sekaligus satu frekuensi dengannya.


Hari ini Violet secara khusus datang ke kantor Dream Glow Cosmetics untuk menemui Sherina pada jam makan siang. Seperti biasa kedua wanita ini mengobrol dengan santai penuh canda tawa. Namun, di tengah kesenangan itu tiba-tiba saja ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan dengan keras.


"Bu Direktur!" teriaknya dengan suara yang terdengar panik.


"Ya, masuklah!" jawab Sherina.


Lantas masuklah Ruby yang merupakan sekretarisnya. Akan tetapi, kondisinya seperti tidak baik. Wajahnya pucat, entah kabar buruk macam apa yang dia bawa.

__ADS_1


"S-saya menerima kabar bahwa Tuan Panji mengalami kecelakaan!"


"A-apa?! Ayah kecelakaan?!" Sherina terperangah.


__ADS_2