Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Kerja Sama


__ADS_3

Sherina masih tak berkata apa-apa. Kedua matanya masih menatap nanar pada tulisan di surat undangan tersebut. Tangannya gemetar dan mencengkeram dengan erat, bahkan kertas undangan itu sampai dibuat kusut.


Di satu sisi, Vicky yang menyadari reaksi Sherina itu bisa tahu jika istrinya ini enggan untuk datang. "Jangan paksakan dirimu, kalau kau tidak suka maka tak perlu datang," ucap Vicky yang hendak menenangkan emosi Sherina.


"Tidak, aku harus datang! Kedua orang brengs*k ini menantangku, tentu saja aku harus datang dan meladeni mereka! Akan aku tunjukkan pada mereka seperti apa batas kesabaranku! Mereka salah jika mengira aku akan sakit hati dan menangis menyedihkan!" ucap Sherina dengan tatapan yang berapi-api. Seolah-olah dia benar-benar terbakar oleh api dendam.


"Ehmm ... oke, jika itu maumu." Vicky menjawab canggung, baru kali ini dia melihat sisi lain dari Sherina. Dan entah mengapa, tanpa alasan yang jelas lagi-lagi Vicky merasa simpati.


"Sherina, apa kau sungguh berniat membalas dendam pada mereka berdua?" tanya Vicky dengan nada serius.


"Tentu saja, aku sangat ingin membalas setiap rasa sakit yang aku terima! Aku tidak bisa membiarkan mereka hidup tenang setelah apa yang mereka perbuat padaku!" jawab Sherina tanpa keraguan yang terpancar.


Vicky tersenyum tipis. Lalu, dengan sebuah senyuman yang sulit diartikan ini, dia berkata, "Sebenarnya ... cara terbaik untuk membalas dendam, itu bukan dengan membalas ataupun menyakiti lawan dengan perbuatan yang sama buruknya. Mereka ingin membuatmu menderita. Kalau begitu, buktikan pada mereka bahwa kau jauh lebih baik dari mereka."

__ADS_1


"Hm? Lebih baik? Caranya?" tanya Sherina yang seketika api amarahnya padam. Dia mulai tertarik untuk mendengarkan saran dari Vicky lebih jauh lagi.


"Mudah saja, kau bisa memakai sebuah cara. Kau dijual untuk menikah denganku sebagai pengganti kutukan. Mereka berharap kau menderita di dalam pernikahan ini. Tetapi, jika mereka melihat bahwa kau hidup tenang dan nyaman setelah menikah denganku. Maka mereka pasti akan kesal sendiri. Intinya, kau hanya perlu berakting mesra bersamaku!"


"Berakting mesra?" Sherina ternganga, masih mencoba memahami apa maksud dari tawaran Vicky. Namun, bukannya setuju atau apa, dia malah tertawa cekikikan. "Hahaha, apakah kau sungguhan? Berakting mesra denganku? Kau tidak takut kekasihmu itu salah paham lagi? Hahaha ... aku tidak menyangka bahwa seorang seperti Vicky Bashara mempunyai pemikiran semacam ini."


"Hei, memang apa salahnya?! Lagi pula di acara itu mana mungkin ada yang berani bergosip buruk tentangku! Dan jangan terlalu memikirkan soal Cleo, aku memang berencana membuatnya kesal! Dia pikir cuma dia yang punya perasaan! Selalu mengaturku berbuat ini-itu sesuai yang dia mau! Memangnya dia pikir aku ini apa? Aku ingin dia belajar, supaya dia sadar kalau sikapnya itu salah! Toh bertingkah mesra denganmu di depan umum juga hal wajar, kau itu kan istriku."


"...." Sherina diam seribu bahasa. Dia benar-benar tidak menyangka jika semua kata-kata yang dia dengar telah keluar dari sosok seperti Vicky.


"Oke, kalau kau sudah bilang begitu. Aku mau bekerja sama denganmu. Pesta pernikahan mantan suamiku dengan adik tiriku berlangsung di hari Rabu minggu depan. Aku menantikan pertunjukkan yang bagus darimu Tuan Vicky!" ucap Sherina seraya mengulurkan sebelah tangan.


Vicky juga tersenyum, lalu meraih tangan Sherina dan berjabat tangan dengannya. "Baik, aku juga menantikan hal yang sama sepertimu! Jangan berikan aku akting yang menyedihkan!"

__ADS_1


"Haha, tidak akan."


Kini suasana hati Sherina maupun Vicky telah banyak berubah. Berkat sebuah kerja sama yang mereka sepakati, kini mereka berdua mempunyai sebuah jalan untuk keluar dari masalah masing-masing.


"Oh ya, ini sudah larut, tapi ... sepertinya dokumen yang harus kau kerjakan masih banyak. Apa kau mau bantuanku? Aku bisa membantumu mempermudah pekerjaanmu, aku bisa mengelompokkan dokumen berdasarkan kategori yang kau inginkan!"


"...." Vicky terdiam, dia memperhatikan tatapan mata Sherina yang polos. Dia yakin jika Sherina menawarkan bantuan dengan tulus, tampak tak ada keinginan terselubung seperti mengharapkan sesuatu sebagai imbalan. "Oke, silakan jika kau mau membantuku. Ambil kursi dan duduk di sebelahku!"


"Baiklah!" Sherina lantas mengambil dan menggeser sebuah kursi yang berada tak jauh dari sana. Dia duduk di sebelah Vicky, lalu dengan telaten memberikan bantuan seperti arahan yang diberikan oleh Vicky.


"...." Diam-diam Vicky tersenyum kecil, sekarang perasaan kesalnya telah sepenuhnya menghilang.


Baru kali ini aku menemui orang setulus Sherina. Dia mau membantuku melakukan pekerjaanku tanpa meminta imbalan. Biarpun cuma hal kecil, tetap saja aku merasa terbantu. Sherina rupanya juga bukan orang yang boros, sudah 2 minggu lebih aku mempercayakan kartu black card milikku padanya. Tapi, aku cuma menerima tagihan dalam jumlah yang kecil.

__ADS_1


Sebelumnya aku mengira kalau Sherina akan menggunakan black card itu untuk membeli barang-barang yang mewah, seperti yang dibeli oleh ibu dan Cleo. Namun, saat melihat rincian tagihan, rupanya barang yang dia beli cenderung untuk kebutuhan yayasan. Jika bukan karena Sherina, maka aku tak akan pernah tahu kalau ada anak yang tidak cocok dengan susu sapi.


Sekarang aku sadar, keberadaan Sherina benar-benar sangat membantuku. Sepertinya aku harus memberikan perhatian lebih padanya. Aku ingin mengenalnya lebih dekat, aku penasaran Sherina itu orang seperti apa.


__ADS_2