PENGGANTI HATI

PENGGANTI HATI
Tidak melewatkan kesempatan ini


__ADS_3

"Lulu.. ayah hari ini tidak kerja. Kamu mau pergi kemana? Kita akan pergi bersama." Tawaran Gantara untuk Lulu.


Ooo.. pantas saja ayah berpakaian santai begitu. Aku akan gunakan waktu ini dengan baik...


"Hhmmm... Pertama aku mau ke makam bunda.." Lulu membulatkan matanya melihat pada Gantara.


"Baiklah... Lalu?" Gantara tetap menikmati sarapan paginya.


"Lalu? Hmmm .. aku ingin berlibur dipantai .." Meko tertawa menoleh pada ayahnya.


"Kenapa mas tertawa?" Lulu mengerucutkan bibirnya melihat kearah Meko.


"Kamu mau ngapain kepantai? kan panas Lu... Kamu nisa item tau..." Meko kembali terkekeh.


"Biarin... Yang penting aku berlibur dengan ayah dan ibu... Kalo mas ga ikut ga apa... Wee.."


Lulu menjulurkan lidahnya mencibir pada Meko. Keduanya sama-sama tertawa. Gantara menatap Sofie yang nampak sangat bahagia mendengar jawaban Lulu.


Ibu... Dia sudah mengakui ku sebagai ibunya .. terimakasih Tuhan ...


"Baiklah... Setelah sarapan kalian bersiaplah.. dan bagaimana dengan nadifa apakah dia kan ikut juga?" Gantara tetap menyuapi sarapan paginya.


Ke mana Nadifa? kenapa dia belum turun juga? padahal setelah aku berpakaian... dia langsung masuk ke kamar mandi. Apa yang diperbuat anak itu? dasar aneh ..


"Nanti aku akan tanyakan dulu sama Nadifa ayah. Baiklah... sarapan ku sudah habis. Dan ini enak sekali. Aku akan bersiap-siap sekarang.."

__ADS_1


Lulu berjalan menuju kamarnya, maksud hati ingin memberitahukan sahabatnya nya. Namun setelah membuka kamar tidurnya Lulu mendapati Nadifa terjatuh di depan pintu kamar mandi.


"Nadifa...."


Teriakan Lulu terdengar sampai ke meja makan. Meko segera berlari ke arah kamar Lulu. Ia mendapati Lulu sedang membangunkan Nadifa yang jatuh pingsan.


"Ada apa Lu? kenapa dengan Nadifa?" Meko segera mengangkat Nadifa ke atas tempat tidur.


"Nggak tahu kak, tadi Lulu masuk kamar.. Nadifa udah begini." Jawab Lulu cemas.


"Kamu jaga Nadifa di sini... mas akan panggil mbok En untuk membangunkan Nadifa.


"Iya mas .. cepatan ya..."


Meko menghilang buru buru keluar kamar Lulu. Ia menyelimuti sahabatnya itu.


Lulu bicara pada temannya yang masih belum sadar. Ia mengusapkan minyak kayu putih kedekat hidung Nadifa. Berharap temannya segera sadar.


"Kenapa dia non?"


Mbok En masuk dengan membawa panci kecil berisi air ditangannya. Ia mendekati Nadifa menyentuh kening gadis itu.


"Panas sekali. Dia demam non .."


"Benaran mbok?"

__ADS_1


Lulu juga ikut meletakan tangannya ke kening Nadifa.


"Benaran ternyata. Panas Mbok... Gimana ini?"


Lulu berdiri, ia nampak panik. Nadifa tiba tiba panas setelah menginap dirumahnya.


Apa karna semalam turun mobil hujan hujan ya .. anak ini lemah sekali. Bisa bisa rencana dengan ayah batal nih .. kan ga enak ninggalin dia sendirian. Mana orang tua nya belum balik lagi.


"Non jangan cemas... Nanti pergi saja dengan tuan dan semua. Biar Nadifa mbok yang jagain."


Mbok En seperti nya tau kegelisahan Lulu. Karna asisten mereka itu tau, keluarga ini sangat jarang pergi bersama semenjak kepergian Ayudia.


"Tapi mbok ..."


"Udaah.. jangan dipikirkan. Kalau Nadifa nanya biar mbok yang selesaikan jawabnya. Ga mungkin kan batal perginya. Jarang jarang lho tuan Gantara ngajakin anak anaknya liburan. Lagian juga mau sekalian ziarah kemakam bunda bukan?"


Kata kata mbok En asa benarnya juga. Lulu tak mungkin melewatkan kesempatan langka ini. Tapi jika sahabatnya menjauhinya hanya karna ini, itu sangat kekanak-kanakan.


Semoga saja Nadifa bisa mengerti. Maaf Nad... Aku ga bisa melewati kesempatan ini ...


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2