PENGGANTI HATI

PENGGANTI HATI
Sebuah amanat


__ADS_3

"Iya... mbok juga sayang kalian... kalian udah seperti cucu mbok sendiri, walaupun mbok ga punya anak dan cucu. Tapi kalian mengisi kekurangan mbok.."


Mbok En juga membalas pelukan Lulu. Nadifa yang sudah mulai berkaca kaca memeluk Lulu dari belakang.


"Bagaimana dengan mas Meko mbok...?" Tanya Lulu menatap Nadifa dan mbok En secara bergantian.


"Aku.. udah dengar..."


Tiba tiba Meko masuk kekamar Lulu. Rupanya ia mendengar semua pembicaraan Lulu dan Mbok en. Dia duduk didepan Lulu menarik kursi belajar Lulu.


"Tapi... aku ada ide... kita harus melihat kesungguhan istri baru ayah dulu. Jangan langsung percaya dengan semua ucapan ayah dan Sofie. Tadi aku mendengar semua, ayah minta tolong pada mbok En. Jadi kita semua harus.............."


Mereka berbisik bisik,Nadifa juga ikut mendengarkan rencana Meko. Ia akhirnya masuk kepermainan keluarga sahabatnya.


"Bagaimana?"


"Kalau simbok terserah kalian saja. Mbok takut nanti dipecat tuan kalau ketahuan."


"Mbok jangan ngalah sebelum berperang donk mbok... yang semangat. Kalau aku setuju Mas... mas Meko memang pintar. Pantes saja kakaknya Aila tergila gila... xixixix"


Lulu dan Nadifa saling colek menggoda Meko yang mulai memerah.


"Mas Meko temanan sama orang gila juga toh?" Tanya mbok En heran.

__ADS_1


"Iya mbok... hahahaa. Yang disebelah mbok ini lebih gila lagi..." Meko keluar kamar Lulu.


"Lhaa... langsung kabur dia.. malu niyeee..." Lulu menyoraki Meko dari dalam kamarnya.


"Bodo..." Meko menjawab dengan berteriak saat membuka pintu kamarnya.


"Ada ada saja anak muda jaman kenow..." mbok En berdiri dan berjalan keluar kamar Lulu. Tawa Lulu dan Nadifa pecah lagi saat mendengar mbok En bicara.


"Mbok kamu lucu banget Lu, jaman kenow... ahahahhaa...." Nadifa memegang perutnya tertawa saking gelinya.


"Iya... dan aku menyayangi mbok En. Dia baik banget... betah kalo didekatnya." Lulu menghapus air mata nya yang keluar karna terlalu lama tertawa.


"Sayang... ayo kita tidur... aku kedinginan.." Nadifa menatap Lulu manja dan memonyong monyongkan mulutnya kearah Lulu.


"Iiihhh... aku jijik mas... aahahahaha" dia langsung menepuk lengan nadifa.


"Udah ah.. tidur..."


Mereka mematikan lampu dan menyisakan lampu remang remang dari lampu lampu kecil bergambar member Bangtan.


...***...


Sementara diruang tamu. Meko duduk mengerjakan tugas kuliahnya. Gantara mendekati putra nya. Ia duduk disamping Meko.

__ADS_1


"Meko... ayah minta maaf sudah menghardik kalian tadi.."


Gantara membuka obrolan. Ia mengalah pada anaknya untuk mendapatkan hubungan yang baik lagi. Sementara Meko terdiam mendengar permintaan maaf ayahnya.


"Yah..." Meko menoleh kesamping tempat Gantara duduk menatapnya hangat.


"Maafkan aku juga... aku sudah bersikap kurang ajar pada ayah didepan Lulu."


Gantara merangkul tubuh Meko dan membawa kedalam dekapan nya. Air mata nya berjatuhan. Merasa bersalah karna baru sekali ini ia memarahi anak anak nya. Dan itu semua juga karna kesalahan nya.


Meko membalas pelukan Gantara. Ia melepaskan kerinduannya. Matanya yang berkaca kaca jatuh dengan bulir bulir bening dibahu sang ayah.


"Meko... ayah sangat mencintai bunda kalian. Kau tau nak? Tiap malam bunda mendatangi ayah dalam mimpi memaksa untuk menikahi Sofie temannya dipanti asuhan.


Ia tak tega melihat Lulu tiap malam bersedih karna selalu merindukannya. Makanya ayah sering menahan kantuk dan mencegah untuk tidur.


Seandainya bisa ayah memilih untuk tetap sendiri sampai mati. Tapi amanat bunda kalian membuat ayah tidak tenang."


Gantara melepaskan pelukannya, mulai bicara dengan Meko dari hati kehati sebagai anak tertuanya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2