
"Kamu kenapa ga hubungi mas aja tadi pulang sekolah .. kegiatan mas bisa ditinggal kok sebentar." Tegur Meko berdiri disampingnya Lulu yang sedang duduk.
"Ponsel sama dompetku ketinggalan tadi .." jawab Lulu lirih.
"Apa?" Tanya Meko heran.
"Maaf.... " Lulu melihat sendu kearah keluarganya.
"Beruntung ada Nadhifa, jika tidak kamu akan tergeletak dijalanan" ucap Gantara membelai rambut putrinya.
"Sudahlah mas .. jangan dibahas itu dulu. Yang penting Lulu sehat dulu." Sofie menengahi.
"Iya Bund... Beruntung aku bertemu dengan Nadhifa, meski tidak suka lagi dengan nya..." Suara Lulu berangsur pelan dan kini ia kembali memejamkan matanya. Untuk mengusir rasa lelah yang tersisa.
Meskipun Nadhifa sangat menyukai nya dalam arti kata yang lain. Saat melihat Lulu ia sangat cemas melihat sahabatnya kesusahan. Dan bersikeras ingin membantunya.
Saat ini perasaan bersalah begitu besar dihati Lulu. Ia pun sudah berhutang budi pasa Nadhifa. Lantas, setelah sehat nanti apa dia akan menghubungi Nadhifa dan mengucapkan terimakasih pada mantan sahabatnya itu?
Pikiran itu berkecamuk dikepala Lulu. Ia memikirkan hal hal yang bisa terjadi jika ia kembali berbaikan dengan Nadhifa.
Mereka yang mengetahui siapa Nadhifa, akan menyangka jika Lulu adalah salah satu darinya. Karna ia bukan seseorang yang tak bisa berterimakasih setelah orang lain menolongnya.
Kenangan pertemanan mereka dulu menari nari dipikiran Lulu. Ia seperti mendapatkan sahabat yang sangat baik dan sangat ia sayangi. Sungguh ia merasa bahwa hubungan persahabatan mereka akan bertahan lama, hingga mereka dewasa nanti.
__ADS_1
Tapi, sebuah pertanyaan menyentakan lamunannya kali ini. Ia menatap seseorang yang bertanya dihadapannya.
"Kenapa kamu tidak suka Nadhifa lagi Lu?" Meko penasaran. Dan sedikit berbisik.
Karna saat Lulu bicara dengan Sofie. Kedua orang tuanya itu seakan tidak mempermasalahkan hubungan antara Lulu dan Nadhifa.
"Mas .. kemarilah!" Lulu menyuruh Meko untuk mendekat padanya.
Dengan patuh Meko mendekatkan telinganya kemulut Lulu. Gantara dan Sofie hanya melihat interaksi kedua anaknya. Kadang pun mereka tersenyum.
"Nadhifa... Seorang lesbian" jawab Lulu dengan berbisik.
"Apa?" Meko heran membelalak kan matanya menatap Lulu yang sedang mengangguk cepat. Meyakinkan lagi ucapannya barusan.
"LGBT... aku tak percaya." Ujar Meko lagi.
LGBT... Lesbian... Kenapa Nadhifa bisa seperti itu? Selama ini aku melihatnya normal saja.
Dan dia benar benar menyukai Lulu? Aku takan biarkan Lulu berteman dengan orang orang dijaman Nabi Luth. Menjijikan.
Nanti dia bisa terpengaruh juga.
Ayah dan bunda harus mengetahui ini ...
__ADS_1
Meko melihat kedua orang tuanya yang sedang duduk disofa. Dan sekarang Lulu sudah diruang perawatan inap.
Mencoba berpikir dengan perkataan yang akan ia ucapkan pasa kedua orang tuanya. Karna hal ini tentu tida main main. Kedua orang tua mereka harus mengetahui. Agar mereka dapat mengawasi Lulu. Adik perempuan Meko satu satu nya.
"Ayah... Aku mau bicara sebentar." Bisik Meko pada Gantara.
Gantara hanya melihat aneh pasa putranya itu. Lalu melirik kearah Sofie yang mengangguk.
"Ada apa?" Tanya Gantara penasaran.
"Ayah bicara saja sama Meko. Biar Lulu bunda yang jaga." Sofie pun ikut berbisik.
"Bukan itu maksudku... Aku ingin bicara dengan ayah dan Bunda juga... Ini sangat penting." Jelas Meko lagi masih dengan berbisik.
"Bicaralah..!" Gantara mulai penasaran.
"Tidak... Sebaiknya kita keluar sebentar. Lulu juga mau tidur sepertinya."
Meko melihat Lulu yang masih bergerak gerak. Mungkin sebentar lagi benar ia akan tertidur. Karna pengaruh obat yang ia minum saat pindah keruangan ini.
.
.
__ADS_1
.