PENGGANTI HATI

PENGGANTI HATI
Kebaikan Mbok En


__ADS_3

Sore itu kediaman El Gantara terlihat sepi. Karna penghuni rumah tengah merayakan kebersamaan mereka sekarang.


Mbok En nampak sedang duduk dikamar Lulu, menemani sahabat majikannya yang masih tidur. Sebelum Gantara berangkat ia sempat memanggil dokter pribadi keluarga itu untuk memeriksa keadaan Nadifa.


Karna mereka juga sudah menyayangi Nadifa yang selalu baik pada Lulu. Mereka tak ingin jika terjadi apa apa pada Nadifa. Walaupun berat meninggalkan Nadifa yang sedang sakit Lulu tak ingin melewati momen langka dalam keluarga nya.


Rupanya Nadifa masih lemas, ia tak tau jika tak ada Lulu didekatnya. Matanya perlahan terbuka melihat ke sekelilingnya.


"Mi... Papi.."


Suaranya terdengar lirih memanggil kedua orang tuanya. Mbok En yang sedang membaca buku keagamaan. Langsung berdiri kearah Nadifa dan melihat keadaannya.


"Sudah bangun non?"


Mbok En menyentuh kening Nadifa yang sudah tidak panas seperti tadi.


"Mbok..?"


"Ya..."


"Aku masih dirumah Lulu ya?" Nadifa sedikit menegakan tubuhnya.


"Iya non... Mbok jagain non Nadifa. Soalnya tuan dan anak anaknya pergi ziarah ke makam bunda mereka. Kamu udah ga apa apa toh?"


"Maaf mbok aku jadi merepotkan. Aku udah ga apa apa. Makasi mbok udah jagain aku ya .."

__ADS_1


Nadifa memberikan senyuman manisnya untuk Mbok En.


"Sebaiknya kamu makan ya .. Mbok panasin Bubur ya.. sebentar.."


Mbok En keluar kamar Lulu. Ia memanaskan makanan yang sudah dibuatnya untuk Nadifa. Tapi keburu dingin karena gadis itu belum bangun.


Nadifa menguat kan tubuhnya untuk duduk. Ia memegang kepalanya yang masih pusing. Memeriksa ponselnya berharap seseorang sedang mencemaskan keadaannya.


'Nad.. maaf ya aku tinggal dengan mbok En. Aku pergi ke makam bunda. Kamu istirahat aja. Aku udah telpon mami dan papi kamu. Katanya sore ini mereka usah nyampe rumah. Tadi pagi aku bilang ke mereka kalau kamu demam Nad. Cepat sembuh ya sahabat ku sayang...😘☺️'


Nadifa tersenyum melihat sebuah pesan dari Lulu kira kira pukul 10 pagi tadi. Kemudian ia memeriksa lagi. Rupanya mami Nadifa sudah menghubungi nya berkali kali.


Mmm... Banyak sekali panggilan tak terjawab. Mungkin Mbok En ga enak ya angkat telepon nya. Biar aku telepon balik aja.


"Halo mi..."


"Nadifa... Kamu sudah baikan sayang?"


"Ya mi.. kalian kapan pulang?"


"Mami udah diperjalanan sayang. Sebentar lagi akan sampai ke rumah Tuan Gantara. Kamu siap siap ya. Kita akan langsung pulang. "


"Ya mi... Aku akan tunggu mami."


Senyuman Nadifa mekar ketika ponsel ia matikan. Karna orang tuanya akan datang menjemputnya.

__ADS_1


Kan ga enak juga numpang sakit dirumah teman. Sementara rumah sendiri ada. Lulu makasi udah temani aku yamg lemah ini.


Perlahan Nadifa bangkit, ia mengemasi semua barang barangnya. Kemudian keluar kamar Lulu menemui mbok En.


"Lho non.. kok udah kesini aja. Ini mbok mau ngantar ke kamar buburnya." Mbok En mengangkat semangkok bubur kearah Nadifa duduk.


"Makasi ya mbok... Mbok memang yang terbaik."


Nadifa menyuapi bubur satu persatu. Sesekali menggelengkan kepala nya karna rasa lezat dari bubur itu.


"Kalo yang sakit makan bubur ini, dijamin langsung sembuh deh .. wenak tenan..."


"Kamu ada ada aja. Non ngapain udah kesini aja. Bukanya malah nungguin dikamar. Nah ini juga udah bawa tas segala. Lamu mau pulang? Apa karna ga ada Lulu ya? Sama mbok jangan sungkan sungkan."


Mbok memperhatikan barang bawaan Nadifa. Ia tersenyum melihat gadis itu makan dengan sangat lahap.


"Sebentar lagi mami aku mau jemput mbok, katanya mau langsung kesini dari bandara. Lagian ... Ga enak lah mbok numpang sakit disini. Aku jadi gangguin waktunya mbok buat santai. Maafin aku ya mbok."


"Sudah... Ga perlu sungkan. Nadifa kan temannya non Lulu. Jadi yaa... Mbok sama sama sayang seperti Lulu."


"Iya mbok... Makasi ya.."


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2