
Hampir menjelang sore, Lulu berjalan sendirian ditepi jalan. Hari ini dia sungguh apes. Karna terlambat tadi pagi. Ia tak membawa dompet juga ponselnya. Bahkan ia pun tak jajan disekolah.
Dan tak ada yang menjemputnya hari ini. Karna Rafka sedang sakit. Sementara untuk menghubungi Meko ia tak mengingat nomor Meko pastinya. Karna saudara nya itu selalu berganti ganti nomor.
Hari ini ia berjalan sendirian ditaman. Hari semakin sore dan kakinya mulai lelah. Jarak sekolah dan rumah cukup membuat kaki nya mati rasa. Atau karna Lulu yang sudah tak pernah berjalan jauh seperti ini.
"Aduuh... Kaki... Bersabarlah. Sedikit lagi. Kita akan sampai dirumah. Ayolah... Terus melangkah." Lulu bergumam pada kakinya dan memukul mukul kakinya pelan bersandar pada sebuah pohon besar.
Sebuah mobil putih berhenti dihadapannya. Ia menegakan kembali tubuhnya. Dan seseorang yang sangat ia kenal dan benci tengah tersenyum padanya.
"Kamu kenapa Lu?" Tanya Nadhifa keluar dari mobilnya.
"Aku hanya berdiri..." Jawab Lulu jengah. Ia memalingkan pandangannya dari wajah Nadhifa.
"Naiklah... Akan aku antar." Ajak Nadhifa mendekatinya.
Seketika Lulu menghindar kan tubuhnya dengan berjalan mundur menahan kakinya yang terasa semakin sakit.
"Kamu kenapa?" Tanya Nadhifa memegang kaki Lulu. Karna ia terlihat menahan sakit pada kakinya.
"Tidak apa apa... Kamu pergilah. Aku bisa pulang sendiri." ketus Lulu pada mantan sahabatnya itu.
"Aku akan membantumu." Teriak Nadhifa pasa Lulu. Lalu memanggil sopirnya untuk membantu Lulu segera naik keatas mobil.
__ADS_1
Dengan terpaksa Lulu membiarkan dirinya digopong oleh sang sopir. Dan duduk didalam mobil. Ia sedikit lega. Tapi sangat membenci, kenapa harus Nadhifa yang membantunya.
"Kita kerumah Gantara ya pak." Perintah Nadhifa menepuk pundak sopirnya.
"Ya non.."
Mobil melaju dengan kencang. Lulu memejamkan matanya sebentar, ia merasa lelahnya sedikit berkurang. Tapi kaki nya terasa semakin sakit.
"Apa kita kedokter saja Lu? Aku khawatir kamu kenapa napa." Nadhifa terlihat cemas.
Ia memegang kepala Lulu yang terasa panas. Bahkan Lulu tak menghiraukan perkataan Nadhifa. Mata nya masih terpejam.
"Panas sekali..." Nadhifa merasa cemas. Ia segera menyuruh sopirnya untuk langsung kerumah sakit.
" Cepatan pak..." Perintah Nadhifa pada sopirnya, setelah melihat Lulu mulai menggigil.
Setiba dirumah sakit, Nadhifa segera turun dan memanggil perawat untuk segera memeriksa temannya itu.
"Silahkan tunggu disana ya dek. Kami akan tangani temannya." Seorang dokter cantik masuk keruangan periksa Lulu.
Tak berapa lama dokter itu keluar. Ia tersenyum menemui Nadhifa yang terlihat sangat cemas.
"Bagaimana teman saya dok?" Tanya Nadhifa gelisah.
__ADS_1
"Mungkin teman adek kelelahan. Ia memaksakan tubuhnya. Dan mungkin saja sebelumnya ia habis makan makanan yang pedas? Itu bisa memicu demam tinggi. Tapi demam tinggi nya akan segera turun. Saya sudah suntikan obat. Silahkan temani temannya." Ucap Dokter.
"Makasi ya Dokter..."
Bergegas Nadhifa masuk keruangan Lulu. Ia membawa temannya ke UGD. Dan dokter akan meninjau kesehatan Lulu selama dua jam.
Nadhifa melihat Lulu yang masih tertidur. Nafasnya cepat tak beraturan. Ia segera mengambil ponsel untuk menghubungi Gantara, ayah Lulu.
25 menit Nadhifa menemani Lulu. Ia tersadar, melirik kekiri dan kanan. Disana ada Nadhifa menatapnya penuh cemas. Ia bahkan membawa kursi agar lebih dekat keranjang perawatan Lulu.
"Nad..." Lulu memanggil temannya lirih.
"Aku disini..." Jawab Nadhifa sedih.
.
.
.
Maaf ya... up nya telat, karna Author sedang tidak sehat. Dan ini masih menyempatkan menulis dengan menahan sakit kepala. Agar kalian tidak kecewa...
__ADS_1
Jangan kecewa ya bebs... 😘✌️