
Gantara melepaskan pelukannya, mulai bicara dengan Meko dari hati kehati sebagai anak tertua dan putra satu satunya.
"Bu Sofie, juga seorang janda. Ia ditinggalkan suaminya diumur 22 tahun, karna tak bisa memberikan keturunan. Ia kembali mengabdikan dirinya dipanti asuhan mengasuh dan menjaga anak anak yang tak mempunyai ibu. Dan anak anak yang takan bisa ia harapkan lahir dari rahimnya. Baginya sekarang... kalian lah anak anak nya."
Meko mengangguk angguk mendengarkan penjelasan Gantara. Ia menatap ayahnya yang terlihat sedih saat mengingat istrinya yakni Ayudia ibu dari Meko dan Lulu.
"Ayah sadar..ayah telah salah. Tak membicarakan ini dulu dengan kalian. Seharusnya ayah berterus terang dan memberikan ini pada kalian sejak kemaren kemaren."
Gantara memberikan sebuah amplop putih berisi surat dari mendiang istrinya. Meko membaca surat itu dengan mata yang berkaca kaca.
Untuk suami dan anak anak ku yang sangat aku sayangi dan cintai.
Disaat kalian membaca surat ini, mungkin bunda sudah tak bersama kalian lagi. Mas Tara jaga baik baik putra putri kita. Didik mereka menjadi anak yang berbakti pada agama dan negara.
Aku sudah pilihkan seorang wanita yang sangat baik dan juga lembut, sahabat ku dari kecil. Dia Sofie Herlina.. dia tak bisa mempunyai seorang anak. Jadi dia akan fokus mengurusi kalian. Bunda harap Meko dan Lulu sayang pada nya seperti sayang pada bunda.
Sofie sahabat tempat bunda berbagi cerita suka maupun duka. Dia sudah mengetahui semua hal tentang bunda. Kalian pasti akan senang bersama nya anak anakku. Karna Sofie sangat menyayangi anak anak.
Sewaktu kalian kecil, bunda sering membawa kalian kepanti asuhan. Sehari hari ia menemani kalian. Kami putus kontak semenjak bunda mulai merasa penyakit ini sudah berkembang ditubuh bunda. Bunda tak menghubungi nya. Dan sekarang dia tentu telah tau bunda sudah tiada. Dan juga mengantarkan bunda ke tempat peristirahatan terakhir bunda.
__ADS_1
Meko, Lulu. Percayalah... ayah sangat menyayangi kalian. Jaga ayah kalian baik baik. Jangan biarkan ia larut dalam rasa kehilangan terlalu lama. Kalian semua saling menguatkan ya.. kesayangan bunda. Bujuk ayah untuk segera menikahi Ibu Sofie. Agar kalian tak Merasakan lama kehilangan sosok seorang ibu.
Dihari terakhir bunda ini, bunda doakan Meko kelak menjadi orang sukses. Dan Lulu bisa menjadi dokter sesuai cita citanya ingin menyembuhkan semua ibu yang sedang sakit.
Sampai bertemu lagi disyurga keluarga ku...
Salam sayang bunda Ayudia...
Tak terasa air Meko mengalir deras. Hingga membasahi surat yang ia pegang. Ia kembali memeluk ayahnya melepaskan semua tangisnya.
Lulu yang sedang mengambil minum didapur mendengar suara isakan dari ruang tamu.
Ada apa dengan mereka? Mas Meko menangis... apa ada yang meninggal?
Karna tak ingin mengganggu, Lulu kembali kekamarnya. Tapi ia masih sangat penasaran dengan pemandangan langka yang ia pergoki tadi.
Semoga semua baik baik saja.
Meko melepaskan pelukannya dari Gantara. Ia menyeka air mata yang membasahi pipinya.
__ADS_1
"Ayah... apa Lulu belum tau ini?"
"Ayah baru memberitahukan mu... semoga kamu bisa memberi pengertian pada Lulu."
Ayah menepuk bahu Meko dan beranjak dari sana. Dengan cepat Meko memegang lengan ayahnya. Gantara kembali duduk.
"Ada apa?"
"Besok ada pertemuan orang tua disekolah Lulu... aku harap ayah bisa hadir disana. Ku mohon Yah... luangkan sedikit waktu ayah untuknya. Agar ia tak merasa kehilangan orang tua sepenuhnya."
"Baiklah... ayah akan datang besok. Tapi jangan bilang dulu sama Lulu. Ini akan jadi kejutan baginya."
Gantara tersenyum menepuk nepuk lengan Meko. Ia kembali masuk kekamarnya. Meko melipat surat cinta daei Bunda nya untuk ia simpan. Suatu saat dikala waktu yang tepat, ia akan memberitahukan Lulu semuanya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung