
"Jangan marah sama mas Meko. Aku yang nanya kok." Ujar Rafka mendapati Lulu melotot pada Meko.
"Eh.. iya... " Lulu kembali melihat kearah Rafka.
Ia memperhatikan wajah Rafka yang menanti jawabannya. Sesekali melirik pada boneka kelinci ditangan Rafka.
Boneka itu sangat menggemaskan...
Masa iya hanya karna boneka aku menerimanya...
Lulu berjibaku dengan pikirannya, untuk sekarang ia lebih memilih diam, jika itu bisa.
Jadi aku pacaran diakhir SMP. Apa itu tak apa apa... Aku masih terlalu awam memahaminya. Tapi perasaan suka ini memang telah lama dihati..
Setelah 6 bulan menjalani status teman tapi mesra mereka. Nyatanya belum memantapkan hati Lulu untuk menerima Rafka.
Walaupun banyak orang berpikir jika diumur aktif dan labil sepertinya. Cinta tak diartikan dalam kata yang sesungguhnya. Hanya sebuah cinta cintaan anak remaja.
Tapi bagi Lulu, kehilangan orang yang di sayang sangat membuat hatinya pedih, sakit dan menderita kesedihan yang berlarut.
Ia belum siap untuk merasakan kecewa atas luka yang akan dirasakan nya nanti.
Apakah Rafka benar benar pilihan yang tepat untuk Lulu melabuhkan hati. Itu membuat Lulu ragu.
Saat ini ia masih terdiam, saling menatap satu sama lain. Disatu sisi Rafka sangat berharap Lulu dapat menerimanya sebagai seorang pacar.
Perasaan nya yang mula mula ragu, akhirnya memantapkan untuk menembak Lulu. Dan semua itu tak luput dari dukungan Meko. Kakak lelaki dari gadis yang sangat ia sukai.
Lulu... Ayolah..
Jangan membuatku menunggu lama..
"Kak Rafka..." Ucap Lulu terputus.
"Ya...?" Jawab Rafka deg deg an.
"Aku..."
"Katakanlah..." Desak Rafka yang sangat ingin tau.
__ADS_1
"Aku .."
Kali ini Rafka diam. Dia menyentuh jemari Lulu dan memberikan boneka kepelukan gadis manis ini.
"Lulu.. jujur saja... Aku benar mengharapkan jawaban ya dari mulutmu.
Tapi aku ingin jawaban yang berdasarkan hati mu. Tanpa rasa segan atau kasihan.
Jawablah .. aku akan menerima apapun itu..."
Jelas Rafka dengan berusaha untuk tetap tegar sekuat mungkin. Ia memberikan Lulu senyuman yang sangat mendominan perubahan hati seorang gadis. Senyuman itu begitu membuat wajahnya sangat tampan.
"Aku malu..."
Jawab Lulu malu malu, wajahnya sudah memerah dan jantung yang berdetak tak karuan dari tadi.
"Malu?" Tanya Rafka dengan sedikit menundukkan kepalanya menatap Lulu.
"Kemarilah..."
Lulu berbisik pada Rafka. Mengatakan sesuatu yang membuat bola mata Rafka membulat. Wajahnya berbinar.
"Kau senang?"
Tanya Lulu kemudian melirik kearah Meko dan Hani yang sejak tadi melihat tingkah mereka berdua.
Mereka juga sangat penasaran dengan jawaban yang akan diberikan Lulu pada Rafka.
"Terimakasih..." Bisik Rafka yang juga berbisik.
"Hei... Kenapa kalian berbisik bisik?" Ucap Meko dengan nada yang tinggi.
"Kami kan mau dengar juga jawaban kalian..." Tambah Hani.
"Jangan curang dong...." Timpa Meko.
"Iya.. ga asik iih..." Imbuh Hani sambil saling mengangguk dengan Meko.
"Ini urusan kami .. kalian uang belum jadian jangan kepo deh..." Jawab Lulu.
__ADS_1
Rafka juga tertawa melihat Meko dan Hani. Mereka sangat penasaran dengan apa yang dibisikan Lulu pada Rafka.
"Ya udah deh... Jawabannya pasti diterima kan? Kita mah udah tau ... Huuuuu"
Ucap Meko lagi sambil mendekati Rafka dan mengambil sebjngkus coklat ditulisan ungkapan cinta yang terletak disamping Lulu.
"Hmmmm.... Pake bisik bisik segala .. songong kalian..."
Meko berjalan masuk kerumah lagi. Hani mengikutinya dari belakang.
"Pacar masa depan... Tunggu dong." Teriak Hani pada Meko.
"Ya udah ayo.. pacar masa Depan. " Meko berhenti menoleh kearah Hani yang berlari kecil menyamai nya.
"Makasi ya... Aku senang banget Lu..." Kata Meko membawa ungkapan hati nya kedalam rumah.
"Ya.. aku juga senang... Kak Rafka ingat kata kata ku tadi... Awas kalau begitu...!"
Lulu berjalan disamping Rafka dengan perasaan yang bahagia. Entah apa yang ia katakan ditelinga Rafka. Yang jelas status mereka sekarang jelas.
"Kak Rafka mau ikut ga? Kami berencana buat beli es krim durian. Bareng aja .." pinta Lulu.
"Ya Ka... Aku ada temannya... Untung kamu Dateng. Klo ga pasti aku dikirain supir sama dunia..." Meko ber hiperbola.
"Boleh... Pake mobil aku aja .. ada didepan. Sekalian sama supirnya." Jawab Rafka.
"Boleh boleh... Hani... Suruh mang Dayat ngobrol ma pak Kum aja.." kata Meko memberi jalan keluar. Karna mang Dayat sudah jauh jauh kesini.
"Udah yuk berangkat... Sebelum benar benar gelap.." ajak Lulu.
Mereka berempat naik mobil Rafka. Dan mencari dimana keberadaan penjual es krim Durian.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1