
Lulu terasa seperti berjalan dikarpet merah penuh dengan sambutan dan lampu kamera yang mengambil gambarnya.
Dia membuka pintu sebuah ruangan dengan langkah tergesa gesa Lulu masuk. Suara Rafka masih terdengar ditelinga nya.
"Apa yang lo lakukan?"
Lulu membuka pintu ruangan itu dengan kasar. Nafasnya memburu seakan akan ingin menghajar Rafka yang susah mempermalukan nya.
Rafka langsung mendekati Lulu. Ia terdiam, dak ada kata yang keluar dari mulutnya.
"Kenapa diam?" Lulu menghardik Rafka.
"Maafin aku ya soal yang tadi..." Lagi lagi Rafka membahas yang sudah membuat Lulu murka.
"Jangan dibahas lagi!! Kamu ga ngerti? Aku bilang jangan dibahas... Ya jangan. Lupain!!"
Lulu berbalik dan berjalan meninggalkan Rafka. Sementara murid murid yang lain masih memperhatikan mereka. Karna Rafka terus mengikuti nya daei belakang seperti hantu👻.
Merasa diikuti Lulu menatap sinis kebelakang. Ia memberikan tatapan tajam penuh amarah yang tak bisa diartikan.
"Berhenti!! Jangan ikuti aku."
Kemudian ia kembali berjalan dengan cepat langsung ke gerbang sekolah. Lantas naik taxi yang kebetulan terparkir didepan sekolah mereka.
"Kemana neng?" Tanya supir taxi menoleh kebelakang.
"Jln. Mawar blok 3 pak." jawab nya setelah berada didalam mobil.
__ADS_1
"Tapi saya lagi ga jalan neng, lagi nung..." Jawab pak supir halus.
"Rumah saya dekat kok pak..." Jawab Lulu.
Lulu menghela nafasnya berulang kali. Ia meredam emosinya sebisa mungkin.
Lebih baik aku pulang. Hari ini begitu melelahkan. Aku benci sudah mengenal lelaki itu. Dasar tak tau malu...
Ia memukul sendiri kepalanya. Supir taxi pun menambah laju mobilnya. Ia berpikir jika penumpangnya sedang sakit dan sedang buru buru pulang. Sehingga Lulu pun terheran heran.
"Jangan terlalu kencang pak, nanti bisa kecelakaan." Ucapnya memberi arahan pada supir tersebut.
"Tadi saya lihat eneng nya lagi sakit makanya saya buru buru in."
Jawab pak supir yang membuat Lulu semakin bingung. Kemudian ia berpikir sendiri, atas dasar apa pak supir ini mengatakan bahwa ia sedang sakit.
"Itu ... Tadi saya lihat neng mukul mukul kepalanya. "
"Aahha.. hahaha .. haha.. bapak itu lucu ya .. rasa kesal saya jadi hilang karnanya .."
Lulu tertawa menanggapi sifat supir taxi yang langsung mengambil kesimpulan atas gerak geriknya didalam mobil.
"Kenapa tertawa neng?" Pak supir juga ikut tersenyum.
"Iya... Karna bapak mengira saya sakit karna pukulan itu.
Ga pak .. saya ga sakit. Hanya sedang kesal saja dengan teman. Tapi ga apa apa pak .. amarah saya jadi meredam."
__ADS_1
Lulu tersenyum sendiri mengingat kejadian yang menurut nya sangat lucu.
"Oh begitu rupanya. Maaf ya neng... Bapak jadi salah kira... Kira kira nya jadi lucu..." Imbuh pak supir tadi.
"Aman pak... Itu rumah saya pak.. yang pagar hitam."
Lulu menunjukan rumahnya pada supir taxi tersebut. Lalu memberikan ongkos serta tip buat pak supir yang sudah membuatnya tidak marah lagi.
"Makasi ya pak.."
"Sama sama neng.."
Lulu langsung berjalan kearah pagar rumahnya dan masuk kedalam rumah.
"Anak orang kaya ternyata. Syukur syukur anakku bisa sekolah disana juga. Alhamdulillah... Tahun ini lulus.endingan aku buru buru daripada nanti Jumi marah marah."
Pak supir melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Gantara. Kembali ke sekolah.
Lulu yang sedang terbaring diatas ranjang, menatap langit langit kamarnya yang dipenuhi dengan bintang bintang.
"Aneh... Aku sekarang ga marah lagi. Lebih baik ku hubungi ayah agar tak mencari ku disekolah. Karna Rafka aneh itu... Aku jadi melewatkan momen bersama orang tua yang lengkap pulang sekolah. Huuff.."
Lulu mengambil ponselnya disaku baju. Dan duduk ditepi ranjang.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung