
Goda Rafka sambil berusaha menyentuh kening Lulu yang berusaha menghindar darinya.
Seketika Rafka langsung menghentikan tangannya karena sudah salah sasaran.
Apa itu tadi...? Itu sangat lembut...
Lulu lansung memalingkan tubuhnya membelakangi Rafka. Begitu juga Rafka yang langsung berdiri. Mereka sama sama salah tingkah.
Aduuh.. dia menyentuh area sensitif ku... Bagaimana ini. Apa aku akan hamil?
Lulu menepuk nepuk dadanya dengan sebelah tangannya. Wajah nya terasa panas dan terlihat memerah. Ia menarik nafas lalu melepaskannya pelan. Hal itu dilakukannya berulang kali. Sampai detak jantungnya kembali normal.
Rafka memukul mukul tangannya yang ia sadari telah menyentuh area sensitif Lulu. Ia berulang kali merilekskan kan tubuh dan pikiran yang sudah traveling kemana mana.
Bagaimana ini.. apa aku harus bertanggung jawab atas perbuatan ku tadi?
Lulu pasti marah padaku.. aku juga terlalu terbawa suasana yang sudah mencair..
Bercanda dengannya asyik juga. Ia nampak sopa n dan belum mau membalas. Mungkin masih canggung dengan perkenalan kita pertama dihari ini. Aku sudah merasa dekat saja dengan nya.
Aahhh... Rafka kau sungguh memalukan!!
Rafka asyik merutuki dirinya sendiri. Ia mencoba melirik Lulu yang masih membelakangi nya.
"Baksonya neng... Mas .. silahkan.."
__ADS_1
Mereka tak manyahuti panggilan bang Mail. Kemudian bang Mail mendekati Rafka dan menyuruhnya duduk.
"Eeh... Ada apa ini. Tadi bang Mail dengar keasyikan tu bercanda. Nah... Baksonya udah siap. Ayo silahkan dinikmati. Oh ya neng... Bang Mail titip bentar ya... Mau beli kecap... Udah habis soalnya.. ya mas ya..."
Celoteh bang Mail panjang lebar. Namun mereka berdua hanya mengangguk saja. Tinggallah Lulu dan Rafka disana bersama dua mangkok bakso yang sudah menunggu untuk disantap.
"Makanlah.. nanti baksonya dingin."
Wajah kedua nya memerah. Rafka bicara sangat pelan. Hampir tak terdengar oleh Lulu.
"Eh .. i iya kak."
Lulu menarik mangkok baksonya yang dekat dengan mangkok bakso Rafka. Kali ini ia memilih untuk duduk agak berjauhan dengan Rafka. Karna tak ingin tragedi tadi terulang lagi.
"Maaf... Aku ga sengaja tadi."
Rafka hanya memandangi baksonya sambil mengaduk aduk kuah bakso. Ia melirik Lulu sedikit yang berada disebelah kanannya. Lalu kembali melihat bakso bulat seperti bola pimpong. Membuat perut nya semakin lapar.
"Jangan dibahas lagi. Lupakan lah!"
Jawab Lulu sambil menuangkan tetesan terakhir kecap dalam botol. Ia mengaduk bakso yang sudah ia racik lagi setelah berpindah tangan dari bang Mail.
"Ya.. maaf .."
Apa dia marah ya? Atau mungkin dia malu ya?
__ADS_1
Aku jadi serba salah sendiri. Ga enak banget lihat dia diam aja.
Lulu berusaha terlihat tak terjadi apa apa. Ia memakan baksonya dengan lahap. Karna perutnya sudah sangat lapar.
"Nanti aku boleh berkirim pesan?"
Tanya Rafka yang sedang memakan baksonya. Ia sebenarnya merasa salah tingkah. Untuk mencairkan suasana saja. Juga untuk membuka percakapan agar terlihat lebih akrab.
"Untuk apa?"
Nada suara Lulu agak sedikit ketus. Membuat detak jantung Rafka berpacu lagi. Ia merasa jika Lulu sedang sangat marah padanya.
Astaga .. sekarang ia terlihat berbeda.
"Hanya ingin mengobrol dengan mu." Jawab Rafka berusaha santai.
"Untuk membahas perbuatan kak Rafka tadi ya? trus merasa bersalah, Minta maaf, Bertanggung jawab? Apa benar begitu?"
Tanya Lulu yang terlihat emosi. Suara nya sangat nyaring. Untung saja disekitar mereka masih sepi. Dan bang Mail belum kembali membeli kecap.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung