
Seketika ia mengingat tentang Nadifa yang juga penyuka sesama perempuan.
"Kamu kenapa?" Rafka malah balik bertanya.
"Eem... Kalau cewek suka cewek disebut apa an ya kak?" Tanya Lulu dengan suara pelan.
"Kenapa kamu nanyain hal itu?" Jawab Rafka yang juga berbalik bertanya.
"Kan tadi kamu bilang laki laki itu homo. Jika mereka perempuan namanya apa? Aku hanya penasaran saja." Jawab Lulu sedikit mengelak, memberi alasan agar Rafka tak curiga padanya.
Rafka berpikir sejenak. Ia memperhatikan Lulu yang terlihat gugup. Namun tetap menjawab pertanyaan pacarnya.
"Kalau perempuan suka sesamanya. Bisa disebut dengan lesbian." Jawab Rafka.
"Lesbian?? Menjijikan." Tanggap Lulu dengan menaikan kedua bahunya.
"Benar benar menjijikan. Tuhan sudah menciptakan manusia itu berpasang pasangan. Mereka sendiri yang mengubah ketentuan Tuhan. Dan itu sangat berdosa, apapun alasannya." Jelas Rafka lagi.
Lulu menanggapi dengan serius. Ia mendengarkan perkataan Rafka dengan baik.
"Kadang sebagian dari perempuan menganggap sahabat nya seperti belahan jiwanya. Yang dia tak terbiasa tanpa sahabatnya.. merasa cemburu jika sahabatnya dekat dengan seorang lelaki. Padahal itu sangat wajar. Tapi ada rasa cemburu dihatinya. Dan dia bisa berbuat nekat.
Bisa disebut jika dia sudah penyuka sesama jenis. Baik bagi lelaki ataupun perempuan." Imbuh Rafka.
Lulu kembali terlihat pucat. Ia sangat takut jika apa yang diucapkan Rafka akan menjadi kenyataan.
"Apa dia bisa melukai lelaki itu kak?" Tanya Lulu serius pada Rafka.
Ada sebenarnya dengan Lulu? Semenjak kedatangan Nadifa tadi, ia terlihat berbeda. Apa yang sedang terjadi?
"Lu... Aku boleh nanya ga?"
"Apa kak?" Jawab Lulu.
"Kamu sebenarnya sedang bicara soal Lesbian? Atau Nadifa? Sikap mu langsung berubah sejak dijumpai Nadifa. Aku jadi heran..."
Mendengar pertanyaan Rafka, Lulu menegakan tubuhnya agar terlihat tenang. Dia berpikir akan bercerita atau tetap diam seperti ini.
Tapi ... Jika Nadifa nekat. Orang orang takan percaya pada pengaduanku..
Sebaiknya aku cerita pada Rafka, tapi bukan disini.
"Aku akan cerita.. tapi bukan disini. Lebih kita pulang.." jawab Lulu.
Rafka semakin penasaran. Ia berdiri langsung kekasir dan membayar makanan mereka.
"Ayo... "
__ADS_1
Tangan nya menggenggam lagi tangan Lulu, kali ini bergantian. Wajah Lulu terlihat malu malu.
Begini ternyata rasanya berpegangan tangan. Pantas saja kak Rafka tadi bersikap aneh seperti itu.
Dada ku jadi deg deg an karnanya ..
Melihat tangannya yang dipegang Rafka. Lulu tak menghiraukan ada tiang didepannya.
"Hati hati .."
Rafka meletakan telapak tangannya dikening Lulu. Jika tidak begitu, kening Lulu pasti sudah benjol.
"M makasih..." Ucap Lulu gugup.
"Jangan terlalu dipikirkan..." Kata Rafka yang tetap berjalan dengan serius.
"Tidak .. hanya saja...
Tangan ku sedikit sakit.." jawab Lulu.
Dengan begitu Rafka langsung berhenti, ia melihat tangannya dan tangan Lulu bergandengan. Dan langsung melepaskan nya.
"Maaf... Aku terlalu bersemangat ingin mendengar cerita mu." Rafka melihat Lulu dalam lirikan.
"Ya ya ... Ga apa apa..." Jawab Lulu yang berjalan kearah mobil Rafka terparkir.
Kemudian ia mengejar Lulu yang sudah naik kedalam mobil.
"Mana Hani dan mas Meko ya?? Mereka kok ga keliatan. Udah malam juga." Gumam Lulu.
Tentu saja terdengar oleh Rafka. Ia juga mencari kekiri dan kekanan nya.
"Apa kita tinggal aja ya?" Tanya Rafka memastikan pada Lulu.
"Astaga .. kenapa bisa lupa sih? Kita kan bisa menelpon mereka..."
Lulu mengambil ponsel dari dalam tasnya. Mendial nomor Hani. Dan langsung tersambung. Tak berapa lama Hani mengangkat panggilan telepon Lulu.
"Hani... Kamu dimana?" Tanya Lulu sedikit kesal.
"Aku lagi dirumah sakit..." Jawab Hani dengan nada cemas.
"Siapa yang sakit? Mas Meko mana?" Tanya Lulu mulai cemas.
"Itu dia... Lu... Mas Meko disini. Sedang diperiksa Dokter."
Jawab Hani membuat Lulu benar benar cemas.
__ADS_1
"Kenapa ga ngasih tau aku sih Han?" Tanya Lulu kembali dengan wajah lebih kesal lagi.
"Udah kok. Kamu nya aja yang ga angkat. Lalu aku kirim pesan. Pasti baru baca ya...?" Jelas Hani.
"Ya udah deh.. maaf. Aku langsung kesana ya? Rumah sakit mana?"
"Buruan ya... Dirumah sakit Medical White."
Lulu mematikan sambungan teleponnya dengan Hani. Langsung mengajak Rafka kerumah sakit Medical White.
"Kenapa bisa masuk rumah sakit ya mas Meko?" Tanya Rafka iseng.
"Ga tau... Nanti kita coba cari tau. Biar kita tau..."
Rafka terkekeh mendengar jawaban Lulu. Ia masih tegang. Ingin menghubungi kedua orang tua mereka. Nanti malah membuat mereka cemas dan pulang terburu buru. Itu sangat bahaya.
Lagian Lulu juga belum tau apa yang sedang diderita Meko.
.
.
.
Maafkan untuk dua hari sebelumnya Author tak menyuguhkan cerita untuk kalian pembaca setiakuh..
Author sempat sakit, tubuh terasa sangat lemah. Bahkan untuk melihat ponsel saja membuat kepala Author jadi sakit.
Dan sekarang walaupun belum sembuh total, Author ingin memberikan kalian beberapa bab untuk menutupi kekurangan hari sebelumnya. Tapi kondisi belum memungkinkan, jadi 1 bab saja ya... untuk mengurangi rindu kalian dengan Lulu dan Rafka.
Dan sekarang suara Author hilang hilang timbul. untungnya menulis hanya pakai jari saja... ga pake suara 🤭✌️**.
Jangan tinggalkan cerita ini ya... biar kalian tau endingnya. Jika dalam keadaan sehat Author janji akan terus update paling minim 1 bab perharinya.
Karna ada 3 novel yang Author tulis dalam sehari. Semoga ceritanya makin bagus ya...
Dukungan dan Saran kalian Author harapkan...
Author bukan apa apa tanpa kalian... ,😘😘😘
Salam cintooh...
Calisa Ardi
17 januari 2022
__ADS_1