Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
KEIKHLASAN APRIL


__ADS_3

Raya merasa kecele dengan omongan suaminya beberapa hari yang lalu. Tadinya, ia sudah tidak bisa berfikir atas syarat yang Juna berikan padanya. Namun, nyatanya suaminya ini hanya bercanda.


"Enggak usah tegang gitu," ucap Juna sambil tertawa dan mengusap kening Raya yang sedikit berkerut karena sedang menimbang syarat yang Juna ajukan. "Aku hanya bercanda kok. Aku enggak akan meminta sampai kamu siap. Dan aku pun akan menuruti keinginan kamu asalkan kamu tetap berada di sampingku. Gimana? Deal?"


"Non, melamun?" tanya Nina, melihat majikannya hanya mengaduk-aduk sarapannya. "Makanannya enggak enak ya? Mau Mbak buatin yang lain?" tawarnya pada Raya.


"Eh, enak kok Mbak," jawabnya lalu segera memasukan satu sendok penuh ke dalam mulutnya.


"Enggak enak karena enggak ditemani Tuan Juna ya?" ledek Nina


Raya tersenyum lalu menggeleng. "Mbak Nina udah pinter godain Raya ya rupanya."


"Enggak godain Non. Beneran nanya kok."


"Enggak Mbak, memang Mas Juna jarang makan di rumah, jadi ya Raya udah terbiasa makan enggak bareng dia."


Raya segera menghabiskan sarapannya, karena ia harus pergi ke depot untuk mengecek kedatangan tanaman yang telah ia pesan.


***


Raya kini sedang disibukkan dengan kedatangan tanaman hias yang ia pesan. Ia dibantu dengan dua orang rekan kerjanya yaitu Iwan dan Eko untuk menempatkan tanaman sesuai dengan jenisnya. Depot bunga Srikandi ini menjual berbagai tanaman hias, tanaman buah, bibit bunga, bibit sayur mayur, beraneka macam pupuk, beberapa jenis bebatuan, berbagai macam, ukuran dan warna pot bunga, serta menerima pesanan buket bunga. Seperti bulan depan ia mendapat pesanan lima ratus buket bunga balon dari SMK Pelita Harapan yang akan diberikan kepada seluruh siswa kelas XII pada saat kelulusan nanti. Mereka memesan dengan warna biru dan ungu. Raya telah membuat contohnya masing-masing satu yang nantinya akan diteruskan oleh Ana, Maria dan Wita.


Contoh buket bunga plus balon




Meskipun Raya anak orang berada dan hidupnya selalu berkecukupan karena ayahnya yang memang seorang pemilik perusahaan percetakan terbesar di Indonesia, tetapi sudah dari kecil Raya terbiasa mandiri.


Raya tidak pernah memanfaatkan kekayaan orang tuanya, justru sedari kecil ia terbiasa membayar iuran sekolah, mentraktir teman-temannya atau memberi hadiah untuk orang tua juga kakaknya dengan uang hasil ia berjualan bunga di rumahnya. Jadi sewaktu Raya sudah terbiasa menanam berbagai macam bunga dalam pot, lalu dijejerkan di pinggiran rumah, nanti orang-orang akan datang untuk membeli tanamannya.


Saat masih berkutat dengan tanah dan juga pupuk yang dia campur untuk ditempatkan ke dalam polibag-polibag kecil, tiba-tiba ada yang menyeka keringat di dahinya. Ia pun berjengit dan menoleh yang ternyata disambut senyuman tampan dari suaminya.


"Mas Juna?"


"Serius banget, sampai suaminya datang dicuekin."


"Kok Mas Juna ada di sini? Enggak nemuin Mbak April?" tanya Raya, ia segera mencuci kedua tangannya.


"Inginnya bertemu istri," jawab Juna sambil menaikturunkan alisnya.


Raya memutar kedua bola matanya dengan malas. "Wita, nanti langsung dibereskan saja ya. Sebentar lagi sudah waktunya pulang," pesan Raya pada gadis bermata sipit itu.


"Iya Kak," jawab Wita.


Raya menghampiri Juna lalu meraih tangan Juna untuk diciumnya. Sudah menjadi kebiasaan Raya selalu mencium tangan Juna saat berangkat atau pulang kerja. Juna tersenyum lalu mengusap kepala istrinya.


"Mas! berantakan jadinya," ucap Raya lalu merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan akibat perbuatan Juna.


"Sudah selesai? pulang yuk!"


"Mas Juna enggak ke rumah sakit dulu?"


"Sudah. Lagian April sudah sehat, besok juga dia sudah diperbolehkan pulang."

__ADS_1


"Syukurlah." Raya merasa lega ternyata kakaknya tidak sakit parah.


Juna lalu sedikit berjongkok di depan Raya. "Ngapain Mas?" tanya Raya.


"Ayok naik!" perintah Juna supaya Raya naik ke punggungnya.


"Ih! apaan kali, males!" Raya berjalan melewati Juna, tapi tak lama ia berteriak. "Mas! turunin!"


Rupanya Juna menggendong paksa Raya ala bridal style. Hal itu membuat orang yang melihatnya tertawa karena Raya yang terus meronta dalam gendongan Juna.


Raya sedang duduk bersandar di tempat tidur. Ia baru saja mendapat telepon dari bundanya yang mengatakan bahwa besok malam April ingin mengadakan acara makan-makan di rumah sekaligus ingin meminta maaf pada Juna dan keluarga atas tindakan yang telah ia lakukan pada saat hari yang seharusnya menjadi hari pernikahan April dan Juna.


Juna keluar dari kamar mandi, ia lalu bergabung dengan Raya.


"Mas, tadi bunda menelpon. Besok malam kita diundang makan-makan oleh mbak April begitu juga dengan mamah dan papah. Mbak April ingin meminta maaf atas kesalahannya," jelas Raya.


Juna membuang napasnya kasar. "Sudah aku maafkan, tapi kalau untuk melupakan, aku rasa akan sulit."


Raya hanya bisa memandang Juna dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Udahlah enggak perlu dipikirkan, lebih baik kita tidur. Besok joging yuk," ajak Juna.


"Enggak ah," tolak Raya.


"Kenapa? Mumpung besok aku libur."


"Besok kan kita disuruh ke tempat Bunda."


"Berangkat sore kan bisa. Lagi pula acaranya malam 'kan?"


Juna mendekat lalu memegang kedua pundak Raya. "Mau ngapain?" tanya Raya panik.


"Katanya pegel. Sini aku pijit." Juna berbaik hati menawarkan diri untuk memijit istrinya.


"Enggak! aku mau tidur saja," ungkap Raya yang lagsung berbaring memunggungi Juna dan berusaha menolak keinginan Juna yang menawarkan diri untuk memijitnya.


"Ok! kalau gitu aku kelonin," Juna langsung memeluk erat istrinya dari belakang.


"Mas Juna! mundur! sesak tau."


"Buka saja bajunya kalau sesak," ujar Juna yang langsung mendapat tendangan maut dari Raya.


***


Malam harinya, semua sudah berkumpul di rumah orang tua Raya, termasuk di dalamnya ada orang tua Juna.


Mereka makan malam dengan tenang, sesekali terdengar obrolan para ibu-ibu yang membahas tentang cucu, yang barang tentu membuat Raya tidak berkutik. Sebelum makan malam dimulai, April terlebih dahulu berbicara pada Juna dan kedua orang tua Juna dengan tujuan untuk meminta maaf atas kesalahannya tepat di hari pernikahan. Orang tua Juna dengan berbesar hati memaafkan mantan calon mantunya itu. Mereka berpesan pada April agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, karena sesungguhnya segala permasalahan dapat di atasi dan diselesaikan apabila ada keterbukaan. Orang tua Juna pun mendoakan semoga April mendapatkan jodoh yang baik.


April menghampiri Raya dan Juna yang sedang duduk di gazebo samping rumah. Ia membawakan dua gelas minuman untuk adik dan adik iparnya.


"Hai, terima kasih ya, kalian sudah mau datang memenuhi undangan dariku," ucap April lalu ia menyerahkan satu gelas jus jeruk dingin untuk Raya dan satu gelas jeruk peras hangat untuk Juna. "Silahkan diminum."


"Terima kasih Mbak. Mbak enggak minum?" tanya Raya pada sang kakak.


"Ah, perutku rasanya begah. Kalau ingin nanti aku buat sendiri."

__ADS_1


"Oh iya, aku juga ingin meminta maaf pada kalian, karena perbuatan ku kalian jadinya terpaksa menikah tanpa cinta. Oh iya, tenang saja aku sudah mengikhlaskan Juna untukmu Ray, kalau memang kamu tidak ingin melepaskan mantan calon kakak iparmu ini," ujar April yang membuat Raya semakin tidak nyaman.


"Aku ingin ke toilet sebentar," pamit Juna.


"Aku masuk dulu ya, ingin segera istirahat supaya cepat pulih," ucap April pada Raya.


Raya hanya bisa menghela napasnya denga pelan setelah kepergian kakaknya itu.


Di dalam kamar mandi. Juna merasakan sekujur tubuhnya panas. Padahal cuaca di luar cukup dingin mengingat tadi siang matahari tidak menampakan sinarnya alias mendung.


Juna mencuci muka berkali-kali untuk menghilangkan hawa panas pada tubuhnya. Saat keluar dari kamar mandi yang terletak tak jauh dari dapur, tiba-tiba April berdiri menghadang di depannya.


"Mau apa kamu?! tanya Juna curiga.


"Kamu butuh bantuan bukan? aku siap membantumu," ucap April sambil membelai rahang Juna, sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk membuka kancing baju yang ia kenakan.


Juna segera menepis tangan April. "Apa ini ulahmu?" tanya Juna yang wajahnya semakin memerah karena menahan sesuatu di dalam tubuhnya.


April tersenyum manis. "Ayolah, aku tahu. Meskipun sudah menikah kamu belum mendapatkannya bukan? dengan senang hati aku akan memberimu kenikmatan itu," bisik April di telinga Juna.


April berusaha mendorong Juna untuk masuk ke kamar mandi, tetapi Juna dengan kekuatan yang mulai memudar berusaha mendorong wanita di hadapannya ini.


Juna akhirnya bisa membebaskan diri dari rengkuhan dan pelukan April. Ia lalu berjalan ke samping rumah untuk mencari keberadaan Raya. Tampak di sana Raya tengah berbicara dengan kedua orang tuanya dan juga mertuanya.


Juna berjalan setengah berlari menghampiri Raya. "Juna pinjam Raya sebentar ya," ucapnya pada kedua orang tuanya dan juga mertuanya.


Ia lalu menggendong Raya dan membawanya masuk ke rumah.


"Ya ampun Juna ini masih sore, sudah mau enak-enak saja itu anak. Bener-bener enggak punya sopan santun!" Risma mengomel pada anak laki-lakinya.


"Aduh maaf nih besan, Juna memang begitu, maklum masih pengantin baru jadi masih semangat-semangatnya bikin cucu buat kita," ucap Risma pada kedua orang tua Raya.


Mira dan suami tersenyum mendengar ucapan besannya itu. "Bagus dong Mbak, kita jadi cepet punya cucu," jawab Mira lalu mereka tergelak bersama.


Sedangkan dibalik pintu ada seseorang yang sedari tadi mengawasi sambil mengepalkan tangannya dengan erat.


TBC


RayJun kembali ....


Mas Juna itu kenapa sih gaes?


Mencurigakan enggak sih?


Semoga suka ya dengan part ini


Mohon dukungannya dengan cara like, komen, vote, dan beri hadiah sebanyak-banyaknya


Jangan lupa klik favorit supaya kalian tau kalau novel ini update


Mohon maaf atas segala kekurangan 🙏 🙏 🙏


Sampai jumpa di part selanjutnya


Terima kasih 😍 😘 😘

__ADS_1


__ADS_2