
Benar saja dugaan Raya. Juna bilang hanya sepuluh menit, nyatanya sampai hampir jam makan siang Raya masih setia menemani Juna, tentu saja posisinya masih sama tidak berubah. Hanya saja, Raya yang kini bersandar di kepala ranjang karena merasa pegal juga memangku kepala bayi besar yang tidak mau melepaskan pelukannya padahal sudah tertidur.
Pintu kamar terbuka. Muncullah sosok wanita paruh baya dan gadis cantik yang tak lain adalah mertua dan adik ipar Raya.
"Astagfirullah. Itu si Juna belum bangun juga? Dia tidur apa pingsan?" ucap Risma bersama Jani mendekati Raya dan Juna.
"Paling juga pura-pura tidur Mah, biar bisa seharian meluk Raya," ucap Jani menimpali.
Raya hanya meringis mendengar ucapan mertua dan adik iparnya itu. Namun kalau di lihat Juna sepertinya benar-benar tidur karena tadi saat Raya mencolek-colek hidungnya, meraba alisnya serta mencubit ringan bibirnya Juna diam saja tidak terusik sama sekali. Bahkan saat novel yang tengah Raya baca tanpa sengaja jatuh karena Raya mengantuk dan mengenai wajah Juna, ia tetap bergeming.
"Kayanya Mas Juna memang benar-benar tidur Mah," ucap Raya membela suaminya.
"Masih panas?" tanya Risma langsung saja tangannya ditempelkan di kening Juna. "Udah gak panas kok, pura-pura kamu Jun?" tanya Risma lalu menyentil kening Juna yang membuat siempunya mengaduh kesakitan.
"Awhss! Mamah ini enggak bisa ngeliat anaknya seneng dikit aja," keluh Juna yang masih mengusap keningnya. "Sakit Ray," adunya pada Raya.
"Ih, najong deh manja banget," ucap Jani kesal sekaligus jijik melihat tingkah laku kakaknya.
Raya hanya meringis. Ia lalu melepaskan pelukan Juna.
"Kamu itu tega banget Jun, istri nya dibiarin kelaparan. Ayo Raya kamu makan dulu Sayang. Tadi pagi belum sarapan 'kan? ini sudah mau makan siang lho."
"Juna juga belum sarapan Mah. Sehati kita Ray."
"Salah siapa, Mamah sudah buatkan bubur malah dianggurin."
Risma tadi memang sudah membuatkan bubur dan meletakkannya di atas nakas dan meminta Raya untuk menyuapi Juna sebelum Raya turun untuk sarapan. Namun, saat Raya membangunkan Juna untuk memakan buburnya, ia tidak bangun-bangun. Akhirnya kini buburnya telah dingin dan Raya pun belum sarapan karena tidak bisa bergerak ataupun melepaskan pelukan Juna.
"Ayo Raya makan dulu," ucap Risma menarik tangan anak menantunya. "Ngomel-ngomel ke suami juga butuh tenaga," imbuhnya sambil berjalan keluar kamar.
Raya menuruti Risma dan mengikutinya keluar kamar. Kini di dalam kamar tinggallah Juna dengan sang adik yang sedang menggendong kucing berhidung pesek dengan bulu yang tebal berwarna putih.
"Apa?!" tanya Juna pada sang adik karena masih di kamarnya.
"Jani cuma mo mintain izin Raya ke Mas. Ya, walau bagaimanapun Mas kan suaminya."
"Izin apaan?"
"Raya belum bilang 'kan kalau mau muncak bareng Jani Jumat depan?"
__ADS_1
"Kemana?" tanya Juna pada sang adik yang kini sedang memangku Molly si kucing yang tukang kawin. Padahal kucing lain butuh waktu dua sampai tiga bulan untuk masa bir@hi setelah melahirkan. Namun tidak dengan Molly ini. Dia hanya butuh waktu dua minggu atau paling lama satu bulan setelah melahirkan untuk kawin lagi. Risma sering mengomeli Jani karena terlalu banyak anak kucing di rumahnya. Molly tidak hanya kawin dengan kucing sejenisnya yang Jani miliki seperti Chiko dan Miko. Namun ia juga kerap kawin dengan kucing kampung yang tak sengaja mampir ke rumah untuk mencari seekor ikan di meja makan. Maka dari itu sekarang Molly sudah di steril karena Jani sudah memiliki lima belas ekor kucing baik itu kucing persia maupun kucing hasil perkawinan antara kucing Persia dengan kucing kampung.
"Ke gunung dong Mas, masa ke monas," jawab Jani kesal.
Juna melemparkan satu bantal ke arah adiknya dan tepat mengenai kepala Jani, tentu saja Molly yang berada di pangkuan gadis cantik itu mengeong tidak terima majikannya disakiti.
"Percuma sekolah tapi enggak langsung tanggap pertanyaan orang." Juna balik kesal.
"Ke gunung Papandayan. Kenapa? mau ikut?"
"Ikutlah. Cewek kalau pergi kemana-mana itu harus didampingi mahramnya."
"Cieee, mentang-mentang udah nikah ngomongnya segala mahram dibawa-bawa. Trus apa kabar waktu Mas Juna masih pacaran sama April? Bukan mahram tapi pergi kemana-mana berdua," sindir Jani yang langsung membuat Juna bungkam.
***
Juna dan Raya baru saja sampai di unit setelah sebelumnya mampir ke depot bunga srikandi. Raya ingin memastikan pesanan buket bunga untuk SMK pelita harapan masih terus dikerjakan karena pihak pembeli ingin dikirim dua minggu sebelum acara kelulusan.
Tadinya raya ingin pergi mengunjungi depot bunga seorang diri, tetapi memang suaminya ini seperti lintah yang sukanya menempel dan merugikan. Bagaimana tidak dibilang merugikan, baru saja sampai di depot, ia dengan percaya dirinya menawarkan diri membantu membuat buket. Dibantu oleh Juna bukannya meringankan justru merepotkan, karena banyak balon yang pecah akibat kecerobohannya, begitu juga dengan hiasan pita yang ia potong terlalu pendek sehingga tidak dapat digunakan.
"Kamu masih marah Ray?" ucap Juna saat mereka telah berada di dalam kamar.
"Ray ...."
"Apa sih Mas Junaaaa."
"Marah beneran yah? kartu yang aku berikan waktu itu, isinya lebih dari cukup 'kan untuk mengganti kerugian yang sudah aku perbuat di depot bunga tadi."
Raya menghembuskan napasnya panjang. "Siapa juga yang minta ganti rugi," gerutunya sambil terus menggosokkan kapas pada pipinya.
"Beneran kamu enggak marah?"
"Enggak Mas Juna," jawab Raya yang semakin kesal karena Juna kembali menanyakan apakah ia marah atau tidak atas perbuatannya tadi.
"Syukurlah kalau kamu enggak marah. Harusnya memang aku yang marah sama kamu," ucap Juna yang sedang duduk di pinggiran tempat tidur, kini berdiri dan melangkah mendekati Raya.
Raya menatap Juna lewat cermin. Dahinya tampak berlipat yang menandakan ada sebuah pertanyaan yang harus jawab. Juna telah berdiri tepat dibelakang Raya. Ia meletakan kedua tangganya di pinggang.
"Kenapa mau pergi naik gunung enggak izin dulu hem?" tanya Juna menatap tajam Raya.
__ADS_1
"Memangnya perlu ya izin ke Mas Juna?"
"Ya perlu dong Raya. Aku ini suami kamu. Istri kalau mau keluar rumah walaupun hanya sejengkal itu harus mendapatkan izin dari suaminya. Ridho suami itu ridho-nya Allah," jelas Juna.
Raya hanya mencebikan bibirnya saja. "Tuh kan kalau dikasih tau malah ngeledek."
"Bukannya ngeledek Mas. Waktu itu siapa ya, yang bilang kalau kita tidak perlu mencampuri urusan pribadi kita masing-masing? Lupa? udah aku ingetin tuh."
"Terus kenapa tadi pagi kamu mau repot-repot mengompres aku biar cepet sembuh, dan juga kamu mau aku peluk beberapa jam lamanya padahal kamu belum kelaparan."
"I---itu karena terpaksa, dan lagi pula Mas Juna memaksa aku supaya nurut, kalau enggak katanya dosa."
"Oh, jadi kamu maunya dipaksa? iya?" Juna melangkah tanpa memberi jarak pada Raya. Raya berdiri dan berbalik ke arah Juna. Niatnya ingin menghindar, tetapi kenapa kaki nya terasa sulit untuk digerakkan.
"Mas Juna mau apa? tanya Raya gemetar.
Juna diam. Ia mencondongkan badannya ke depan. Wajahnya tepat berada di depan wajah Raya. Raya reflek memejamkan matanya. Selag beberapa detik Raya mengaduh karena keningnya merasakan perih karena sentilan dari jari Juna.
"Ketagihan ya, mau cobain yang kenyal-kenyal lagi," ledek Juna pada sang istri.
Raya memalingkan wajahnya karena wajahnya yang telah memerah seperti tomat.
"Enggak usah kepedean. Siapa juga yang mau nyium kamu. Bikinin aku mie, aku lapar!" perintah Juna.
"Bikin aja sendiri," jawab Raya sambil menjulurkan lidahnya ia berlari masuk ke kamar mandi lalu mengunci pintunya.
TBC
Semoga suka dengan part ini
Dukung terus novel ini dengan cara like, komen, vote, dan beri hadiah sebanyak-banyaknya 😉🤭😂
Klik favorit supaya kalian tau kalau novel ini update 🙏👍
Mohon maaf atas segala kekurangan 🙏 🙏 🙏 🙏
Sampai jumpa di part selanjutnya
Terima kasih 😍 😍 😍 😘 😘
__ADS_1