Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
MEREKA MENGETAHUI


__ADS_3

"Lu udah cinta?" tanya Diana penuh dengan rasa penasaran.


Raya menghembuskan nafasnya dengan pelan. "Gue belum tau Di. Tapi, saat Mbak April bilang kalau dia hamil anak Mas Juna, hatiku rasanya sakit banget, timbul rasa enggak rela kalau Mas Juna nantinya kembali ke Mbak April." Raya mengambil nafas sejenak lalu mengeluarkan melalui mulutnya dengan perlahan. "Maka dari itu, semalam aku serahin sesuatu yang berharga untuknya."


"Kira-kira benar enggak sih, kalau itu anak Juna?"


Raya menggeleng. "Gue sendiri juga bingung Di. Mas Juna enggak mungkin berbuat seperti itu, tapi Mbak April juga enggak mungkin berbohong."


Raya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tidak tahu siapa yang harus ia percaya. Seharusnya ia menolak saat diminta bunda untuk menggantikan kakaknya untuk menikahi calon kakak iparnya, sehingga tidak terjebak dalam kebimbangan seperti ini.


Namun, apabila ia menolaknya, bukankah akan membuat malu keluarganya karena pesta yang telah dirancang harus dibatalkan karena putrinya kabur. Tamu dan penghulu sudah datang untuk menyaksikan akad nikah yang seharusnya April sebagai mempelai wanita.


Raya tidak ingin membuat orangtuanya terutama bundanya harus sedih karena menanggung malu.


Diana agak mencondongkan badannya pada Raya. "Kalau misalnya anak yang April kandung itu beneran anak Juna gimana?" tanya Diana penasaran.


"Ya ... mungkin aku sama Mas Juna harus berpisah. Karena enggak mungkin kan kalau Mas Juna mempunyai dua istri yang merupakan adik kakak."


"Mungkin aja sih menurut gue," ucap Diana lalu ia mengambil minuman dingin berwarna kuning di depannya kemudian meminumnya.


"Tapi gue enggak mau," tukas Raya cepat. Raya juga mengambil mengambil minumannya lalu meminumnya.


Mereka kini sedang berada di sebuah cafe tak jauh dari kantor Juna. Raya meminta bertemu dengan sahabatnya karena merasa ingin berbagi dan mengeluarkan apa yang dirasakan olehnya.


Juna tadi meminta Raya untuk membawakan makan siang ke kantornya. Raya pun menuruti permintaan Juna, meskipun ia sebenarnya canggung kalau harus datang ke kantor suaminya. Terlebih di sana banyak sekali foto kakaknya terdisplay dimana-mana, karena memang kakaknya merupakan brand ambasador dari produk sepatu yang dibuat oleh perusahaan Juna.


Saat tiba di kantor Juna, Raya langsung menuju ke ruangan suaminya, namun rupanya Juna sedang makan siang dengan beberapa orang yang mungkin rekan bisnisnya, dan Raya juga melihat April sedang berada di sana. Karena tidak ingin mengganggu Raya akhirnya memilih pulang dan menitipkan pada sekretaris Juna bekal makan siang yang sudah ia siapkan.


"Ya itu terserah lu si. Itu artinya nanti lu bakalan jadi janda bolong dong bukan janda kembang," ucap Diana lalu tertawa lebar.


"Sialan." Raya melempar sedotan bekas minumannya pada sahabatnya yang masih menertawakannya.


"Loh, bener kan apa yang gue bilang. Tapi Janda bolong itu lagi naik daun Ray, banyak yang nyari. Nyokap gue aja sayang banget tuh sama si janda bolong."


Raya mendengus kesal karena ledekan sahabatnya.

__ADS_1


***


"Bagaimana ini Mbak, kalau benar itu anak Juna?" tanya Mira pada Risma. Mira menyerahkan hasil test pack April tadi pagi dan juga menyerahkan beberapa foto Juna yang sedang tidur bersama dengan April, yang ia dapatkan dari April tentunya.


Kedua wanita paruh baya yang mempunyai hubungan sebagai besan, kini tengah duduk kursi yang berada di taman belakang rumah orang tua Juna.


Mira yang merupakan ibu dari April mendatangi Risma, setelah ia mendapatkan fakta bahwa April sedang hamil anak Juna.


Sudah tiga hari ini, setiap pagi April selalu muntah-muntah. Tidak ada satu makanan pun yang bisa masuk ke dalam perutnya. Mira akhirnya memanggil dokter untuk memeriksa anaknya, karena ia khawatir anaknya masuk rumah sakit lagi, seperti saat April baru saja pulang dari Paris.


Setelah diperiksa, ternyata dokter menyarankan untuk diperiksa ke dokter kandungan karena ia menduga bahwa April tidak sakit, hanya mengalami gejala morning sick. Tentu saja setelah mendengar penuturan dokter yang memeriksa anaknya, Mira bagaikan tersambar petir di siang bolong, bagaimana mungkin anaknya hamil sebelum menikah.


April keluar dari kamar mandi, lalu menyerahkan benda pipih yang menjadi alat test kehamilan pada sang bunda.


"Apa hasilnya?" tanya sang bunda pada April yang terlihat menunduk dan tetap diam.


Mira pun melihat sendiri hasilnya. Seketika bahunya bergetar bersamaan dengan mengalirnya air mata melihat dua garis merah yang terdapat pada test pack yang April berikan. Satu tangannya dibawa untuk menutupi mulutnya yang masih tak percaya bahwa anaknya telah hamil.


April menghampiri bundanya dan memeluknya. "Maafin April Bunda. April sudah sering mengecewakan Bunda dan Ayah," ucapnya sambil terisak.


"Siapa?" tanya Bunda Mira dengan pelan, nyaris tak terdengar.


Tubuh Mira langsung melemas, ia jatuh terduduk di lantai sambil terisak. Bagaimana mungkin Juna menghamili April. Apa yang harus ia lakukan, keduanya merupakan anaknya ia tidak bisa mengambil kebahagiaan anaknya untuk anak yang lainnya.


"Aku sudah menelpon Juna untuk segera ke sini. Kita tunggu sampai Juna datang," ucap Risma yang membuyarkan lamunan Mira.


Mira mengangguk lalu memijat pelipisnya dengan pelan.


"Apa Mas Budi sudah tau?" tanya Risma, lalu dijawab gelengan kepala oleh Mira.


Mereka sama-sama membuang nafasnya dengan pelan.


"Lalu di mana April? kenapa tidak ikut ke sini?"


"April sedang ada pemotretan. Tadi dia yang mengantar aku ke sini, tapi langsung berangkat lagi ke tempat pemotretan."

__ADS_1


"Apa enggak akan kenapa-napa? Tadi pagi katanya muntah-muntah."


"Mual sama muntahnya cuma saat pagi saja Mbak. Kalau dilihat dari tanggal yang tertera di foto itu, kandungan April setidaknya sudah memasuki usia tiga bulan ya?"


Risma mengangguk. "Tapi kenapa mual muntahnya baru sekarang?" ucap Risma dalam hati.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam," jawab kedua wanita paruh baya itu dengan kompak.


"Loh, ada Bunda, udah lama Bunda di sini?" tanya Juna sambil mencium tangan kedua wanita yang ia hormati.


Mira tersenyum. "Belum lama," jawabnya dengan lembut.


"Bawa apa itu? tanya Risma pada anaknya yang terlihat membawa tentengan.


"Oh, ini bekal makan siang. Tadi Raya anterin ke kantor tapi Juna udah makan sama klien, makanya Juna bawa aja ke sini, buat ronde kedua."


"Ya sudah habiskan dulu bekalmu," ucap Risma pada anaknya.


"Memangnya Mamah mau bicara apa sama Juna?"


"Habiskan dulu bekalmu."


Juna langsung menuruti apa kata ibunya. Kalau ibunya sudah irit bicara, biasanya ada sesuatu yang serius. Pantas saja, semenjak masuk ke dalam rumah, Juna sudah merasakan aura yang berbeda. Lebih menakutkan dibanding dengan hawa mistis.


Setelah menghabiskan bekalnya, Juna menemui ibu dan mertuanya di halaman belakang. Ia kemudian duduk di hadapan dua wanita yang sedari tadi menunggunya. Juna mengambil jeruk yang terletak di meja, kemudian mengupasnya.


"Apa benar kamu menghamili April Juna?" tanya Risma yang membuat Juna tersedak saat ia akan menelan jeruk yang baru saja dikunyahnya.


TBC


Minum dulu Jun, baru jawab pertanyaan Mamah Risma.


Maaf ya gaes, kemarin gak up 2 hari, setelah ini aku mau lanjut ngetik lagi. Aku tau kok ini nanggung banget bab nya 🤭

__ADS_1


Sampai jumpa di part selanjutnya 👉


Mohon maaf atas segala kekurangan 🙏 🙏


__ADS_2