Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
TERBALAS


__ADS_3

Raya berjalan gontai menuju halte bus. Padahal tadi Bima sempat menawarkan diri untuk mengantarnya sampai rumah, namun ia tolak. Ia ingin menyendiri. Setelah apa yang baru saja dikatakan oleh kakak perempuannya, membuat hatinya semakin sedih. Mengapa kakaknya harus mengalami semua ini.


"Maafin Mbak, ya Dek. Mbak sangat jahat sama kamu," ucap April sambil mengusap air matanya yang terus menerus membanjiri pipinya.


Mereka kini tengah duduk di atas brankar tempat April dirawat. Saling memeluk. Yang satu mengutarakan rasa bersalah dan penyesalannya, sedangkan yang satunya mencoba memberi kekuatan.


"Kata dokter, bisa disembuhkan 'kan Mbak?" tanya Raya sambil mengusap air mata April.


"Dokter bilang ada kemungkinan untuk sembuh, lebih besar malah peluangnya karena terdeteksi sejak dini. Tapi, kalau Mbak tetap mempertahankan kandungan Mbak, katanya sangat beresiko pada janin nantinya."


"Tapi sampai sekarang dia baik-baik saja 'kan?" tanya Raya sambil mengelus perut April yang sudah terlihat sedikit membuncit di kehamilannya yang memasuki sepuluh minggu.


April tersenyum lalu menunduk melihat ke arah perutnya yang sedang dielus dengan sayang oleh adiknya.


"Alhamdulillah, dia kuat. Mbak beruntung karena mengetahuinya sejak awal. Jadi, bisa lebih menjaga nya."


"Keponakan Onty ini emang kuat dan hebat," ucap Raya sambil mencium perut April dan memeluknya.


Lama Raya memeluk perut kakaknya. Ia jadi teringat akan peristiwa beberapa minggu lalu yang harus membawanya ke meja operasi.


April merasakan bahu adiknya bergetar. Ia tau mungkin adiknya sedang teringat dengan kegagalan kehamilannya. April mengetahuinya dari sang bunda. Ia mengusap kepala Raya dan memeluk bahu adiknya.


"Jangan bersedih Dek, Insya Allah nanti akan ada gantinya," ucap April seolah tau apa yang Raya rasakan.


"Iya Mbak, terima kasih. Semoga Mbak April nggak mengalami seperti Raya. Semoga keponakan Onty ini tumbuh dengan sehat sampai lahiran ya," ucapnya di depan perut April.


TIIINNN


Bunyi klakson taksi online yang ia pesan membuyarkan lamunannya. Ia segera masuk ke dalam taksi tersebut untuk pulang ke rumah. Padahal hari masih siang, tapi ia sudah tidak ingin kembali ke depot. Ia butuh istirahat. Hari ini ia merasa mendapatkan kebahagiaan dan kesedihan secara bersama.


Ia bahagia karena hubungan dengan kakaknya sudah membaik. Ia berharap semoga selamanya seperti ini, tidak ada kesalahpahaman lagi atau apalah itu yang menimbulkan dua bersaudara harus berjauhan dan membenci.


Kabar sedihnya, kakaknya perempuan yang sedang mengandung itu ternyata sakit kanker rahim atau serviks. Raya berharap semoga kakaknya bisa sembuh dan melahirkan bayi yang sehat meskipun nantinya rahimnya harus diangkat. Ia tidak bisa membayangkan kalau ia yang mengalami itu semua.


Saat sampai di rumah, Raya segera membayar ongkos taksi lalu keluar dan menutup pintunya. Tanpa menunggu mobil bergerak, Raya sudah berjalan menuju pintu rumah mertuanya yang sudah terbuka lebar.


"Assalamu'alaikum." Raya mengucap salam yang segera dijawab oleh wanita paruh baya dari arah dapur.


Raya segera menuju dapur untuk menemui mertuanya yang sangat cantik, baik dan sedikit kocak meski di usia yang tidak lagi muda.

__ADS_1


Risma segera menghampiri Raya ketika ia baru saja muncul di dapur.


"Kamu sakit, Sayang?" tanya Risma dengan cemas karena menantu kesayangannya itu sudah pulang padahal masih siang.


"Enggak kok Mah. Tadi dari rumah sakit, terus langsung pulang aja."


"Siapa yang sakit?" tanya Risma membawa menantunya untuk duduk di kursi yang ada di dapur.


"Mbak April Mah. Dia terkena kanker serviks."


"Astagfirullah. Stadium berapa?"


"Alhamdulillah masih stadium awal Mah. Tapi tetap saja berbahaya untuk baby nya dan Mbak April juga."


Risma mengusap pundak menantunya. "Kita bantu dengan doa dan dukungan. Allah menciptakan penyakit sudah pasti satu paket dengan obatnya. Hanya saja, kadang manusia inginnya serba instan. Jadi, butuh usaha juga doa menyertainya."


Raya mengangguk. "Iya, Mah. Raya pasti bantu doa dan support untuk Mbak April."


"Di rawat di mana Sayang?"


"Royal Hospital, Mah."


"Tapi nanti Raya bantu buat masak makan malam ya, Mah."


"Iya, sudah cepat ke kamar. Mama yakin sampai makan malam tiba, kamu pasti belum keluar kamar," ucap Risma sambil mengedipkan sebelah matanya.


Raya tidak terlalu menanggapi ucapan mertuanya. Ya, memang ia harus segera ke kamar. Ia butuh istirahat. Sudah beberapa malam ini waktu tidurnya sangatlah kacau gara-gara seorang pria yang tiba-tiba bersikap dingin kepadanya.


Saat membuka pintu kamarnya, Raya melebarkan mata, untuk beberapa detik, ia diam terpaku menatap sosok yang sangat dirindukan sekaligus membuatnya marah dan takut dalam beberapa hari ini sedang berdiri memunggunginya menatap ke arah jendela.


Dadanya bergemuruh, sungguh rasa rindunya tidak dapat terbendung lagi. Ia melemparkan tasnya ke sembarang. Berlari lalu menubruk punggung tegap yang aromanya selalu ia sukai.


Juna merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Ia tersenyum. Tak dipungkiri, ia pun sangat merindukan istrinya. Dielusnya tangan Raya yang melingkar di perutnya.


Entah kenapa, Raya menangis kencang sambil terus memeluk Juna dengan erat. Juna yang sedari tadi hanya diam pun tidak tega. Ia melepaskan tangan Raya yang membelit pinggangnya. Ia lalu membalikan badan menghadap istrinya yang masih menangis tersedu sambil sesekali mengusap air matanya dengan punggung tangannya.


Juna hanya berdiam diri memperhatikan istrinya yang tengah menangis tanpa berniat memeluknya. Ia mencoba mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Raya, namun segera ditepis oleh Raya karena Raya segera masuk ke dalam pelukannya.


Raya masih menangis sambil memukuli dada Juna.

__ADS_1


"Mas Juna jahat," ucapnya disela Isak tangisnya.


"Kenapa?" tanya Juna namun tidak dijawab oleh Raya. Raya masih setia memukuli dada Juna sambil terus menangis seperti anak yang sedang meminta dibelikan mainan oleh orang tuanya.


"Kangen?" tanya Juna.


Raya lalu menganggukkan kepalanya di dada Juna.


"Sayang?" tanya Juna lagi.


Raya pun kembali mengangguk.


"Sudah cinta?"


Raya diam. Seketika ia berhenti menangis. Ia menghapus air matanya lalu mendongak menatap Juna.


Juna tersenyum getir. Raya tak langsung menjawab pertanyaan terakhirnya. Apakah sesulit itu bagi Raya untuk dapat mencintainya? Masih larut dalam pikirannya sendiri, tiba-tiba Juna merasakan tengkuknya diraih oleh Raya sehingga badannya condong ke depan, dan tiba-tiba ia merasakan benda kenyal dan manis bertengger di bibirnya.


Masih dalam keterkejutannya, bibir bawahnya tiba-tiba disesap dengan lembut. Ia merasakan aliran listrik berada di tubuhnya. Awalnya Raya hanya *****@* dengan lembut bibirnya lalu mencoba menerobos kan lidahnya ke dalam rongga mulutnya. Saling membelitkan lidah. Rupanya semakin lama ciuman itu semakin dalam serta Juna tidak dapat lagi hanya tinggal diam, ia pun membalasnya dengan lebih kasar dan memicu sesuatu pada tubuhnya. Juna tidak menyangka bahwa istrinya dapat seliar ini dalam hal berciuman.


Raya melepaskan tautan bibir mereka untuk mengambil udara sebanyak-banyaknya. Juna mengusap bibir Raya yang membengkak akibat ulahnya.


Nafas mereka masih ngos-ngosan. Raya lalu berjinjit dan mengecup tipis bibir Juna.


"Aku mencintaimu Mas," bisiknya di bibir Juna.


Merasa cintanya bersambut, Juna lalu mengangkat pinggang Raya. Raya melingkarkan kedua kakinya di pinggang Juna, dengan tangan mengalung di leher Juna.


"Raya cinta Mas Juna dari dulu sampai kapan pun," ucapnya lagi.


TBC


Bagaimana untuk part kali ini? senang? Mohon maaf karena hanya bisa update satu part sehari karena aku sedang mengerjakan novel on going juga di PF lain.


Aku mencoba membuat cerita sebisa mungkin yah seperti kehidupan kita sehari-hari meskipun masih banyak sekali kekurangannya, karena memang masih newbie. Untuk yang nggak suka jika masalah terus datang, nggak apa-apa kok di skip aja hehehe karena di kehidupan nyata pun hidup orang nggak selalu mulus atau bahagia. Dan aku rasa masalah yang aku beri di novel ini tidak terlalu pelik, masih tergolong ringan.


Oh iya, aku juga lagi merencanakan nulis spin off novel ini. Aku ingin buat kisah tentang Jani adiknya Juna tau kan? 🤭 Tapi masih belum tau mau aku publish di mana.


Ya sudah sekian cuap-cuap dari saya, salam sayang selalu untuk kalian para reader's setiaku.

__ADS_1


Terima kasih 😘 😍


__ADS_2