Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
SEBUAH PERASAAN


__ADS_3

"Ini buku catatan umi kamu. Semenjak hamil kamu, semua aktifitas dan keluh kesahnya dituangkan di buku ini." Risma menyerahkan sebuah buku kepada Raya.


Raya menerima buku itu dengan tangan bergetar. Ia belum berani membukanya. Tangannya mengusap buku yang bersampul hitam dengan tulisan Arini.


Risma kemudian mengeluarkan sebuah kotak, lalu membukanya. Mengeluarkan isinya yang ternyata adalah sebuah kalung emas dengan bandul berbentuk hati. Diusapnya bandul tersebut, lalu memberikannya kepada Raya.


"Apa ini Mah?" tanya Raya setelah menerima kalung itu.


"Itu kalung milik umi kamu. Coba kamu buka bandulnya."


Raya kemudian menuruti perintah Risma dengan membuka bandul kalung yang ada di tangannya. Ternyata di dalam bandul tersebut terdapat foto seorang wanita berhijab sedang menggendong bayi cantik yang sedang tertawa memperlihatkan giginya yang baru tumbuh dua buah di depan.


Mata Raya mengembun. Ia menoleh pada mertuanya. Risma tau apa yang ingin Raya tanyakan.


"Itu foto Arini, dan yang sedang digendongnya itu kamu saat berusia delapan bulan," ucap Risma kemudian.


Raya menatap foto itu. Semakin lama pandangannya semakin mengabur karena banyaknya air yang menggenang di pelupuk matanya. Raya membawa bandul itu ke hadapan bibirnya untuk memberikan satu kecupan panjang, seiring dengan terpejamnya mata, maka jatuhlah air mata yang sedari tadi ia pertahankan supaya tidak terjatuh.


Dadanya begitu sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremasnya dengan kuat. Saking pedihnya sehingga Isak tangisnya tak bisa ia keluarkan sehingga tersangkut di dada dan kerongkongannya dan itu membuatnya semakin sesak dan pedih.


Risma meraih bahu menantunya yang bergetar. Dibawanya tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Mereka sama-sama menumpahkan rasa sedihnya di dalam tangisan dalam kurun waktu yang lumayan lama.


Raya sungguh menyesal mengapa dulu saat ia masih sering di ajak ke makam yang bertuliskan Arini Galuh, ia tidak bertanya semakin dalam dan mencoba ingin tau. Ia hanya bertanya siapa orang itu dan Mira menjawab dengan kata ia adalah wanita yang hebat. Namun, setelah mendapat jawaban dari Mira, Raya seperti tidak peduli lagi dan tidak bertanya lebih jauh.


Padahal kegiatan mengunjungi makam berlangsung sampai ia duduk di bangku SMP. Namun, saat masuk ke SMA Mira dan Budi tidak pernah membawanya lagi ke makam itu.


Alasannya adalah saat itu April sudah mengetahui bahwa Raya bukan anak kandung Mira dan Budi, sehingga ia sering mencemooh Raya bahwa ia anak haram, anak pungut yang tidak tau diri.


Semenjak itu Raya sakit panas sampai harus dirawat selama dua Minggu di rumah sakit. Hal itu membuat Mira dan Budi tidak pernah lagi membawa Raya mengunjungi makam Arini.


April pun kembali menjadi baik kepada Raya setelah mendapat gertakan dari Budi. Mungkin semenjak itulah, April menjadi sangat benci kepada Raya.


"Bodohnya aku, kenapa hal seperti ini saja sampai terlewatkan? Padahal saat itu baik Bunda maupun Ayah seperti memberi sinyal untuk ku supaya bertanya lebih jauh tentang Umi," sesal Raya dalam hati.


***

__ADS_1


Juna pulang lebih awal. Jam 5 sore ia sudah sampai rumah. Ia langsung menuju kamar karena tidak melihat keberadaan Raya dimana-mana.


Saat membuka pintu kamar, Juna langsung melihat Raya yang sedang meringkuk di atas kasur. Mendekat perlahan untuk memastikan sang istri sedang tidur. Mengecup kening mulus itu sekilas lalu meletakan tas kerjanya di meja. Kemudian ia beranjak ke kamar mandi untuk menyegarkan diri setelah beraktivitas seharian yang cukup membuat pikiran dan tubuhnya lelah.


Selesai mandi, Juna masih mendapati Raya yang masih pada posisi sama seperti saat dirinya baru pulang tadi. Juna naik ke ranjang lalu berbaring di belakang Raya. Menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik istrinya dengan tangannya yang besar dan dingin karena habis mandi.


Raya menggeliat saat merasakan sentuhan lembut dan dingin di pipinya. Membuka matanya dan ia mendapati suaminya sedang tersenyum ke arahnya. Jarak wajah mereka sangat dekat sehingga membuat jantung Raya berdetak dengan cepat seolah ingin lompat dari tempatnya.


"Mas."


Suara Raya yang serak karena bangun tidur, membuat sisi lain dari Juna terbangun.


"Hem." Juna hanya bisa menjawab dengan bergumam.


Raya meletakan buku diary uminya di atas nakas. Kemudian ia langsung memeluk Juna dengan erat, seolah ia akan ditinggal pergi oleh Juna dalam waktu yang lama. Tak hanya memeluk Juna dengan erat, Raya pun menangis, terbukti Juna merasakan tubuh istrinya bergetar karena isak tangisnya.


"Sssttt. Ada apa?" tanya Juna. Meskipun bingung dengan kelakuan Raya sore hari ini, namun Juna tetap bersikap tenang dan mencoba menenangkan istrinya dengan mengelus punggungnya.


Juna mengurai pelukannya, menangkup wajah Raya yang terlihat sembab dengan hidung yang memerah. Juna membantu Raya menghapus air mata yang mengalir di pipi.


Raya mencoba menghentikan tangisnya. Setelah berhasil, kemudian ia menggenggam bandul kalung yang telah melingkar di lehernya. Menghela nafas sejenak lalu menghembuskannya dengan pelan.


"Mas Juna sudah tau tentang aku?" tanyanya dengan menatap mata tajam Juna.


Dahi Juna tampak berkerut, pertanda ia tak mengerti dengan pertanyaan Raya.


"Bahwa aku bukan anak kandung ayah dan bunda?" sambung Raya kemudian.


"Ehem." Juna berdeham untuk memulai bersuara. "Iya," jawabnya singkat sambil mengangguk.


"Lalu apa pendapat Mas Juna? Beri aku alasan mengapa Mas Juna tetap bertahan selama ini."


"Apa alasannya Mas harus meninggalkan kamu?" Juna bertanya balik pada Raya.


Raya mengerjap. "Apa Mas Juna enggak malu memiliki istri seperti aku?"

__ADS_1


"Kenapa harus malu?"


"Aku anak di luar pernikahan. Bahkan aku tidak mengetahui siapa ayah kandungku," ucap Raya dengan tertunduk.


Juna mengangkat dagu Raya sehingga kedua netra mereka bertemu.


"Dengar, semua anak yang terlahir di dunia itu suci, terlepas bagaimana ia dihasilkan apakah dalam ikatan atau di luar ikatan yang sah. Sedangkan yang berdosa itu perilaku kedua orang tuanya."


"Apa dosa itu bisa diampuni?" tanya Raya lagi.


"Kita sebagai manusia tidak akan tau apakah dosa kita diampuni atau tidak oleh Allah. Kita hanya bisa berusaha untuk bertaubat yang sebenernya. Dan yang Mas dengar, Umi telah bertaubat yang sebenar-benarnya taubat. Insya Allah, Umi mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya."


Air mata yang hampir mengering itu basah kembali.


"Apa karena Mas Juna merasa kasihan dengan ku sehingga Mas Juna mempertahankan pernikahan ini?" tanya Raya dengan jantung berdebar.


Juna menggeleng lalu mendekap kepala Raya di dadanya.


"Karena dari awal Mas telah memilihmu," ucapnya dengan lirih.


Raya merasa tidak puas dengan jawaban yang Juna berikan. Namun, setidaknya ia bisa sedikit lega karena Juan mempertahankan pernikahannya. Sehingga ia tidak perlu khawatir atau takut untuk hidup sendirian.


Memang, Mira dan Budi tentu saja masih dianggapnya sebagai orang tua, tapi saat mengetahui fakta yang ada bahwa ia bukanlah anak kandung mereka, ada sekelumit rasa was-was kalau-kalau mereka meninggalkannya sendiri.


Ia sebenarnya sudah merasakan nyaman di dekat Juna. Namun, ia masih ragu kalau perasaan nyaman itu adalah perasaan cinta. Ia masih perlu memastikannya.


"Ah untuk saat ini, aku tidak perlu mencemaskan Mas Juna akan meninggalkanku. Lagi pula, pernikahan ini baru berjalan beberapa bulan, sedangkan di awal menikah, kita sepakat menjalani pernikahan selama satu tahun," gumam Raya dalam hati.


Raya berharap sebelum pernikahannya menginjak usia satu tahun, ia sudah bisa bertemu dengan ayah kandungnya.


TBC


Maaf updatenya sore banget, dari pagi ada acara dan baru selesai sore ini.


Semoga suka. Jangan lupa dukungannya berupa like, komen, vote, serta bintang limanya, jangan lupa hadiah dan tekan favoritnya 🥰😍😘

__ADS_1


Terima kasih 😍


__ADS_2